Renungan Pagi Ini

Ketika alasan tidak diterima

Ketika semua argumen telah ditolak mentah-mentah

Apa yang akan dilakukan?

Hanya bisa berbuat yang terbaik dan sesuai kemampuan

Selebihnya adalah kekurangan

Yang  tidak ada dan bukan untuk dimaklumi

Juga bukan untuk dihakimi

Sebagian yang kecil tidak bisa menjadi besar

Setiap koruptor pun punya hati

Bisa berubah dan bisa dibersihkan

Setiap yang berhati punya yang membolak-balikkan hati

Meminta hanya pada-Nya

Memohon, berharap, dan berlindung pun hanya pada-Nya

Tiada daya upaya tanpa Kuasa-Nya

Dalam bangun dan tidurku

Dalam gerak dan diamku

Dalam lengah dan ingatku

Aku berlindung kepada-Mu dari sak wasangka

Dari tiupan setan dan tipu dayanya

Dari kelemahan dan kekurangan diri

Dari semua yang buruk untuk menjadi baik

Seperti doa suamiku di setiap harinya

Ditulis pada isi hati | Tinggalkan Komentar

Anakku Nggak Mau Kursus,Bu (Konsultasi ke-3)

Beberapa waktu aku tidak mendengar cerita si Ibu, akhirnya aku mendapatkan sms dari Ibu itu. Ibu itu menceritakan bahwa anak tertuanya yang sudah SMP tidak mau kursus bahasa Inggris lagi. Alasannya karena di tempat kursus dia tidak ada teman dan teman-teman yang ada disana kaya-kaya. Anak itu menjadi minder. Setelah Ibu itu sms, lalu Ibu itu meneleponku. Disana Ibu itu menjelaskan kembali dengan detail permasalahan yang dihadapi anaknya. Aku dengarkan apa yang diceritakannya dengan baik hingga akhirnya dia memanggil anaknya untuk berbicara denganku secara langsung.

Ibu itu takut nanti nilai anaknya jelek dan ayahnya akan marah ketika tahu hal itu, apalagi jika si anak sampai berhenti karenanya. Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam diri si anak.

Lanjut membaca

Ditulis pada Artikel Psikologi | 3 Komentar

Aku Memutuskan Cerai,Bu (Konsultasi ke-2)

Lama juga aku tidak mendengar keluhan dari Ibu yang kuposting sebelum postingan ini. Akhirnya, Ahad/Minggu pagi, ketika aku sedang mencuci baju, nyaringnya bunyi sms membuatku harus segera membacanya. Sms itu berasal dari Ibu itu. Aku baca sms yang panjang di HP-ku, mungkin sekitar 3/4 sms. Kubaca perlahan dan aku coba untuk memahaminya. Intinya dia ingin cerai dengan suaminya karena watak suaminya yang kasar. Bukan bermaksud su’udzon, tetapi aku mencoba untuk menyelami akar permasalahan itu. Kukilas balik kejadian beberapa minggu yang lalu ketika si Ibu meneleponku dengan emosi kesal, marah, dan kondisi jiwa yang tidak tenang serta penuh ketakutan. Kuingat dia siap cerai kalau ketahuan selingkuh oleh suaminya.

Aku hanya bertanya,” Ibu benar mau cerai? Apakah cerai yang Ibu inginkan ini akibat dari peristiwa yang lalu?”

Lanjut membaca

Ditulis pada Artikel Psikologi | 1 Komentar

Konsultasi Pertama (Selingkuh)

Tiba-tiba HP-ku berbunyi, nomor tak kukenal sudah dua kali ini memanggil ketika aku mengajar. Pada dering yang kedua, aku segera menyambar HP-ku. Terdengar suara wanita dari balik HP-ku. Ini kisah nyata, yang benar-benar membuatku takut. Serius, ketika mendengar dan berbicara dengan wanita itu jantungku berdetak kencang.

Konsultasi ini merupakan rangkaian konsultasi yang akan aku bagi menjadi beberapa sesi. Nomorku ternyata diberikan oleh teman akrabku ketika kuliah S1. Temanku itu adalah guru privat anaknya. Kita panggil dia dengan sebutan Ibu ya karena usianya baru 34 tahun. Ibu ini sudah memiliki 3 orang anak, yang tertua SMP dan terkecil usia 2 bulan. Sebenarnya kaget juga dengan kisah Ibu ini, yang terus terang saja baru kutahu artinya setelah dia bercerita,’ Aku selingkuh’.

Ibu ini datang dengan ketakutannya. Terdengar dari suaranya yang bergetar dari speker HP-ku. Ibu ini meminta untuk bertemu langsung denganku, tetapi sungguh bukannya aku tidak mau karena aku harus mengajar pada hari itu. Ketika aku menyelesaikan kegiatan mengajarku, aku sms Ibu itu bahwa aku sudah bisa ditelepon. Ibu itu langsung meneleponku. Napasnya tertengar memburu-buru dan ucapan yang dikatakan begitu cepat.

Setelah memperkenalkan dirinya dan maksud si Ibu meneleponku, dia mulai berkisah. Ibu itu sebenarnya istri ke-2 dari seorang laki-laki yang usianya sudah 60 tahun. Suaminya adalah orang Jawa dan tidak tinggal bersamanya. Ibu ini hanya tinggal dengan ke-3 anak dan pembantunya. Suaminya adalah keturunan ningrat dan mempunyai bisnis di Jawa. Usia pernikahan mereka sudah 14 tahun. Mereka menikah karena dijodohkan. Si Ibu sudah hamil sebelum menikah dengan suaminya ini. Laki-laki yang menghamilinya tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan haram itu. Untung saja ada laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Namun, nasibnya hanya sebagai istri ke-2.

Permasalahan mulai terjadi baru beberapa bulan ini ketika sang suami mengalami pembengkakan kelenjar prostat sehingga si Ibu tidak merasakan kepuasan menjadi istrinya. Pertengkaran mulai terjadi. Ibu yang masih mudah dan suami yang sudah tua ini mulai sering ribut. Tentu saja pribadi Ibu yang labil membuat dia mengikuti ajakan teman laki-lakinya, yang sebelumnya dia pun tidak merasa senang dengan lelaki itu. Setan berada di antara mereka.

Ketika suaminya pulang ke Jawa, dimulailah hubungan Ibu itu dengan teman lelakinya. Kali pertama, mereka hanya berjalan-jalan dan lama-kelamaan lelaki itu meluncurkan bujuk mautnya sehingga Ibu itu mengikutinya. Kejadian seperti itu bukan terjadi sekali atau dua kali. Aku tanyakan berapa kali si Ibu melakukan perbuatan haram itu? Dengan penuh ketakutan, dia hanya bisa berkata,’ sering’. Aku sedih sekaligus kesal.

Kedatangannya kepadaku adalah untuk menjadikan dirinya tenang karena lelaki yang telah menjadi kekasih gelapnya itu mengancam akan menyebarkan foto seronok mereka dengan suaminya dan di facebook atau di jejaring sosial lainnya. Hanya itu. Kutanyakan kepadanya,” Apakah Ibu menyesal dengan perbuatan Ibu?” Terdengar sesegukan dari HP-ku,” Menyesal,Bu.” Tak habis pikir bisa dilakukan wanita itu, tapi itulah kenyataan yang aku dengar.

“Dia ngancam akan menyebarkan foto-foto kami sama suamiku, Bu. Sedangkan seminggu lagi suamiku balik,” katanya penuh ketakutan.

“Ibu tahu apa yang Ibu lakukan salah? Apakah Ibu takut kalau ketahuan suami Ibu?” Dia benar-benar takut perbuatan haramnya ketahuan suaminya.

“Bu, setiap perbuatan itu ada resikonya. Kalau pun suami Ibu tahu apa yang Ibu lakukan, Ibu harus siap dengan konsekuensinya. Mungkin saja suami Ibu akan menceraikan dan yang paling penting, Ibu akan dibenci oleh anak-anak Ibu.”

Makanya aku datang pada Ibu, aku ingin tenang,” katanya.

” Oke, Bu, sekarang coba Ibu tenangkan diri dulu. Tariklah napas panjang, tahan, keluarkan. Permasalahan Ibu ini akan selesai kalau Ibu tenang.” Hening sesaat.

Bersambung……Ngantuk….

Nyambung ya…

“Trus apa yang bisa aku lakukan?” Tanyanya kembali.

“Ibu muslim?” Aku belum menjawab pertanyaannya.

“Iya, tapi banyak ibadah yang tidak dijalani,Bu,” katanya.

“Ibu tahu perbuatan yang Ibu lakukan salah?”

“Iya, tapi aku tidak habis pikir bisa melakukan perbuatan itu.”

“Oke, syukur Ibu sadar kalau perbuatan yang Ibu lakukan adalah salah. Kalau Ibu muslim, Segeralah memohon ampunan Allah. Banyaklah beristighfar dan jangan pergi dari masalah. Beri waktu untuk diri Ibu agar tidak dulu berhubungan dulu dengan lelaki itu. Fokus Ibu adalah menyiapkan mental jika ketakutan yang Ibu khawatirkan itu terjadi ketika suami Ibu pulang.”

“Apa perlu aku blokir dia dari facebook,Bu?”Tanyanya.

“Kalau menurut Ibu itu bisa menenangkan Ibu, silahkan, tapi bukan untuk menghindari apa yang bakal terjadi. Kalau memang suami Ibu akhirnya tahu dengan perbuatan itu, Ibu harus terima dan tak ada alasan mengapa Ibu berbuat seperti itu. “

Lanjut membaca

Ditulis pada Konsultasi, Narasi Psikologi, Nilai2 Islami, Syair Hati | 4 Komentar

Pertengkaran Bisa Menguatkan

Lho kok bisa ya? Ah, masak sih, pertengkaran itu bisa menguatkan? Ayo, adakah yang bertanya seperti itu?

Banyak orang yang berkata, ‘Pertengkaran memicu keretakan’ atau ‘Pertengkaran bisa memisahkan’. Apakah kedua anggapan itu benar? Ya, anggapan itu memang ada benarnya. Di dalam Al Qur’an pun tidak ada anjuran untuk bercerai berai, yang ada hanya bersatu, merapatkan barisan, dan mengokohkan. Ketika Pertengkaran dianggap suatu pertengkaran yang bisa menyulut kemarahan, namun tidak bisa diredamkan, maka pertengkaran itu akan menjadi keretakan dalam sebuah hubungan.

Pertengkaran biasanya dimulai dari hal yang kecil dan dianggap sepele. Satu orang menganggap itu masalah, namun orang yang lain tidak menganggap itu masalah. Muncullah konflik di antara keduanya. Siapa yang menang setelahnya? Tidak ada. Hasil dari pertengkaran itu apa? Survei membuktikan….Badan lemas, pikiran kacau, dan selera makan hilang. Betul?

Hidup tanpa bertengkar, apa bisa? Tanyakan pada diri kita berapa banyak kita bertengkar ketika kecil, remaja, dan dewasa. Pertengkaran hanya karena rebutan mainan dengan saudara, pertengkaran dengan sahabat, atau pertengkaran dengan suami-istri. Yang dicari hanya satu, yaitu aku-lah yang menang dan benar, betul :?:

Jika dalam bertengkaran itu yang dicari adalah kemenangan atau merasa diri benar, maka kepuasan seperti itu berasal dari setan. Adakah pertengkaran yang tidak berasal dari setan? Tentu saja ada, misalnya, ketidaksukaan dengan argumen orang lain, tetapi tidak menyepelekan argumen orang itu dan bisa menerimanya jika benar meskipun diwarnai perbedaan yang sangat jelas terlihat. Ujung-ujungnya adalah kesepakatan.

Pertengkaran jangan dilihat dari sisi negatifnya saja. Yang harus dilakukan jika terjadi pertengkaran dengan diri kita, berusahalah untuk memahami masalah dari sudut pandangan orang lain, terimalah nasihat orang itu meskipun ada rasa tidak suka, meminta maaflah setelah merenungi pertengkaran yang telah terjadi, minta ampunlah pada Allah karena meskipun kita benar pada ada kesalahan kita sehingga pertengkaran itu terjadi, dan carilah suasana yang ceria dengan berusaha membuat suasana cair seperti sebelum bertengkar. Biasanya setelah pertengkaran itu kita akan tahu cara menghadapi orang yang bertengkar dengan kita tadi. Tak ada gunanya bertengkar dan banyak ruginya jika dilakukan tiap hari.

Ditulis pada Artikel Psikologi | 3 Komentar