Pribadi Untuk Semua

Pagi itu udara di Palembang mulai terasa panas. Aku bersegera pergi meninggalkan rumah. Hari ini adalah perjalananku yang pertama bersama-sama rekan kerjaku, para guru TK dan SD tempatku mengajar. Aku diantar oleh adikku yang baru datang dari Yogjakarta dengan mengendarai motor. Suasana sekolah, tempat kami berkumpul masih terlihat sepi. Yang pertama kulihat adalah bapak dan ibu K3 (bagian yang melayani sekolah kami dalam kebersihan). Orang kedua yang kulihat adalah ustadz Iim dan selanjutnya ustadz Fikri Oslami (Fios, singkatan salah satu bunda. Dia ikut rombongan kami dan laki-laki satu-satunya dalam perjalanan kami menuju Yogja-Bandung meskipun sekarang beliau sudah berada pada instansi yang berbeda, beliau masih sering nonggol dalam kegiatan di sekolah ini).

Perkiraan berangkat jam 09.00, ternyata molor karena menunggu seseorang bunda, bunda yang mempelopori kegiatan ini datang terlambat. Sebel juga sih, tapi mau apa lagi. Protes, kayaknya aku deh yang bakal diprotes abis-abisan. Ya, sudah, mau diapakan lagi.

Perjalanan ini dibuka dengan kata-kata yang diuraikan oleh Direktur sekolah ini dan disertai doa dari ustadz Iim. Jadi, terlihat semiformal. Coba, sebelum berangkat ada acara makan-makan juga.

Udara panas Palembang berganti sejuk ketika aku memasuki bus pariwisata Trans dengan flat Z, bermuatan 20 orang, Bus sederhana inilah yang akan membawa rombongan kami menelusuri dari Jawa, khususnya Yogjakarta dan Bandung. Sayangnya, bus ini tidak dilengkapi bantal untuk duduk (biasanya di bus-bus lain, bantal dan selimut merupakan fasilitas yang didapat oleh penumpang meskipun selimut jarang diberikan).

Bus melaju dengan lambat, gerah rasanya duduk berjam-jam menunggu kapan tiba di tempat tujuan, tapi aku mencoba menikmati perjalanan ini. Dari awal aku mengira tidak akan jadi berangkat karena setelah aku bertanya kepada beberapa peserta lain, mereka juga tidak begitu jelas dengan keberangkatan ini karena tidak ada konfirmasi dari pelopor perjalanan sehingga sms dan telepon sering menghampiriku.

Setelah memasuki bus, peserta diberikan lembar rute perjalanan kami dari 30 Juni s.d. 6 Juli 2009 (sudah sampai di Palembang). Aku tidak sreg dengan pengaturan jadual itu. Ada rasa kecewa. Tidak seperti yang aku bayangkan dan ternyata bukan aku saja yang merasakan kekecewaan itu, beberapa teman juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Ya, sudahlah….artinya banyak waktu yang terbuang dalam perjalanan.

Melaju…melaju…lambat dan membosankan. Kira-kira itulah yang aku pikirkan tentang laju bus kami. Lambat sekali padahal jalan di depan kami masih lenggang. Kru bus terdiri dari 4 orang, Pak Rizal (uwaknya siswaku, yang punya travel tour), Kang Dadang (yang nyupir, sering pake kaca mata hitam, agak kurus, orang Bandung), Kang Boim (yang nyupir, bertubuh kecil, orang Bandung), dan satu bapak lagi yang juga orang Bandung. Mereka terlihat dingin pertamanya, sampai hari keempat perjalanan kami, aku masih merasakan kedinginan itu.

Perjalanan kami berisi canda dan tawa, itulah yang menghidupkan perjalanan ini. Ada penjodohan antara ustadz Fikri dan bunda Siti. Aku berpikir kenapa ustadz Fikri mau ikut dalam rombongan kami padahal hanya dia sendiri yang laki-laki. Biasanya, orang akan malu jika dia sendiri yang berbeda. Salut juga dengan si ustadz, atau jangan-jangan…ada yang diincarnya ? He…he…maaf…maaf, semoga ini bukan su’udzon. Ada untungnya juga si ustadz ikut, beliau bisa jadi body guard kami. Rombongan kami seringkali menghubung-hubungankan si ustadz dan si bunda. Si ustadznya cegegesan saja, si bundanya terlihat memerah. Duh….

Yang ikut dalam rombongan kami ada B’Tia dan Fifi (keponakannya), B’Berta, B’Donna dan ibunya, B’Yanti dan Dinda (anaknya, usia 1,5 tahun), B’Fitrah, B’Dian L, B’Ika,B’Nora,B’Ina, B’Nurul, B’Sati, Mb Masynun, U’Fikri, B’Rahma, B’Siti Q, dan aku. Ada juga yang ikut serta dari SMP, yang nanti berpisah di Bandung, 3 orang. Bus yang kami tempati cukup untuk menampung penumpang yang ada. Aku duduk di bangku sebelah kiri, baris kedua dengan B’Nurul. Sebelum pergi, aku sms kepada teman dekatku. Ada yang sedih karena isi smsku itu seperti sms terakhir untuknya dan Rian pun (temanku) menyertaiku dengan doa tulusnya.
“Semoga Allah menambahkan ketakwaan kepadamu, mengampuni dosamu, memudahkan kebaikan untukmu dimana pun engkau berada. Saya titipkan kepada Allah agama, amanat, dan penutup amalmu.” (Imam Malik) Take care, Sis….

Waktu makan siang tiba, rombongan kami berhenti di RM. Pagi Sore Teluk Gelam sekalian sholat. Aku sedikit sebel karena sholat terasa tergesa-gesa, jika terlambat wajah peserta lain terlihat kurang mengenakkan. Ada yang nyindir, ada yang merenggut. Aku mencoba untuk secepatnya, tapi kadang tidak bisa aku lakukan. Maafkan ya teman-teman….

Ketika Maghrib, kami sholat di Islamic Center Lampung. Masjidnya dua tingkat, luas dan kesannya adem. Kami sempat berfoto-foto di depan pintu masuk, tapi sayang, foto yang dihasilkan tidak jelas terlihat. Perjalanan dilanjutan kembali, kami stop di RM Danau Kembar 1 Lampung. Setelahnya kami menyembrang dari Pelabuhan Bakahueni ke Pelabuhan Merak, namun bus kami harus antri selama 3 jam, maklum ini kan musim liburan. Kami serombongan akhirnya subuh di kapal. Sampailah kami di pelabuhan Merak.

Perjalanan masih berisi celetukan nakal dari bibir bunda-bunda, sesekali aku ikut nyeletuk, ya ala kadarnya. Tertawa mereka sungguh renyah, tapi aku tidak begitu suka. Aku sesekali bosan lalu aku buka IM3-ku. Aku buka facebook dan menulis sebuah catatan. Inilah isinya :

Perjalanan
30 Juni 2009 jam 19:38

Inikah perjalanan terakhirku ?
Alhamdulillah Allah masih memberi nikmat sehat, iman, dan kesempatan padaku. Betapa besar nikmat Allah hingga untuk mentafakurinya tak cukup 24 jam, namun sebanyak waktu yang kita miliki tak bisa kita gunakan untuk tafakur. Kita pelit melakukannya padahal ‘Nikmat manalagi yang kamu dustakan?’ Kita habiskan waktu dengan percuma. Kalau ditanya, pasti jawabannya,’Itulah manusia’. Jadi, manusia seperti apakah kita ? Apakah seperti kacang yang lupa kulit ?
________________________________

Perjalanan ini membuatku berpikir tentang arti hidup, tentang arti kuasa Allah dan segala kebesaran-Nya di alam ini. Aku mencoba menikmati setiap perjalanan dan suguhan nikmat Allah dalam bentuk keindahan alam yang nyata di depan mata. Hamparan hijau daun padi. Pohon-pohon besar rindang di pinggir jalan. Kadang inilah yang aku rindukan. Berdiri di tengah sawah, makan di pondok kecil disana ditemani kicau burung yang berebut mencari bulir-bulir padi lalu terbang karena orang-orangan sawah yang tertiup angin. Duh, nikmatnya walau makan hanya sambal terasi, lalapan, dan ikan goring. Aku jadi ingat ketika akau liburan di Muara Dua. Aku diajak ke sawah, yang di kanan-kirinya ada aliran air. Sebelah aliran air itu ada pohon mangga yang sedang berbuah. Mancing ikan, ngerebus daun singkong, memanggang ikan, dan membuat sambal, uh maknyus….

Rasanya ingin menulis lagi. Aku aktifkan lagi IM3, ya aku ingin menulis sebuah catatan perjalanan. Beberapa teman memanfaatkan facebook untuk mengisi status dan memberi komentar. Aku termasuk jarang sekali melakukannya. Bagiku, menulis sebuah catatan itu menyenangkan, hitung-hitung sebagai alat penginggat jitu yang aku punyai, maklum aku ini orangnya sangat pelupa. Malah kalau ada alat yang bisa merekam seluruh aktivitas sehari-hariku, aku ingin sekali memilikinya.

Mereka sedang apa ya ?
30 Juni 2009 jam 19:59

Dulu, ketika aku masih muda, maksudnya remaja sampai masuk masa dewasa, di saat berpergian walaupun hanya satu malam, aku selalu teringat rumah. Siapa yang nyuci piring? Siapa yang ngasih makan kucing? Semuanya kupikirkan..Aku teringat wajah orang orang tuaku. Hari ini aku jalan-jalan ke Yogja-Bandung sama teman-teman guru, pikiran itu nyaris hilang…Entahlahapa karena aku merasa emak/ortuku ada yang menemani, adik dan ayukku ? Mungkin karena ortuku juga liburan ke dusun? Atau juga karena aku merasa ini tahun terakhir aku bisa jalan-jalan bersama teman? Memikirkannya membuat aku sedih…. Masihkah ada waktu untukku ya, Rabbi?

Komentar :
Diana Bae jam 22:08 tgl 30 Juni 2009

“Insya Allah masih ada waktu,buktinya sekarang lagi jalan2 kan ?hehe…”

Meita Ranika jam08:40 tgl 01 Juli 2009
“ Hiks…hiks…hiks…ayuk…there’s always a time for us…Miss you, jadi pengen disana bareng ayuk….Slamet jalan-jalan ya….”

Perjalanan terus berlanjut, perut sudah lapar hingga kami disuguhi donat yang dibeli dari Tol Cipularang. Bus langsung melaju ke penginapan. Kami menginap di hotel Kanira Bandung, letaknya di Jln. Pelajar Perjuangan Bandung. Aku sekamar dengan B’Yanti, dan B’Nurul. Di kamar mandinya ada air hangat dengan kloset duduk. Setelah meletakkan tas dan sholat, kami mencari makan. Kami makan di RM. Ampera. Aku sangat menikmati makan kali ini, sambalnya uenak. Nuansa sundanya terlihat nyata. Penikmat makanan disuguhi dengan bermacam-macam lauk. Mau makan, tinggal ambil, lalu dihitung.

Habis makan, kami langsung jalan-jalan ke Pasar Baru, disana kami diberi waktu belanja, yaitu 2 jam. Aku hanya membeli kaos kaki, takut nanti kaos kakiku kotor semua. Setalah dirasa cukup dan waktu sholat tiba, kami sholat Maghrib di Pusdai Bandung. Subhanallah, tidak seperti di masjid Agung. Pusdai ini sangat ramai. Ada anak yang bermain sepak bola. Ada keluarga yang memanfaatkan senja hari untuk ngabuburit sambil menunggu azan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk berfoto-foto. Masjidnya besar, bersih, dan tentu saja nyaman. Rasanya aku ingin berbaring merasakan kenyamanan itu hanya sebentar saja, tapi tidak akan bisa karena perjalanan ini harus dilanjutkan kembali. Kami diajak ke factory outlet yang ada di Jln. Riau. Bangunan di Bandung unik-unik. Outlet yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga masih terlihat asli bangunan peninggalan Belanda namun bisa dijadikan sebagai pusat perbelanjaan. Hampir seluruh outlet di Jln. Riau menyediakan barang yang mahal sehingga tak satupun dari kami yang membeli barang. Aku membeli ole-ole di toko ole-ole Ojolali. Aku beli batagor goreng dan sale pisang, untuk adikku dan di rumah. Setelah itu kami kembali ke penginapan. Tidur.

Paginya kami langsung check out hotel dan menuju Daarut Tauhid (DT). Waktu turun dari bus, aku merasa hawa dingin. Kami langsung naik angkutan yang khusus membawa ke DT. Di pinggir Jln. Geger Kalong, banyak sekali orang yang berjualan. Ada yang berjualan jilbab, buku, bros, baju,dll. Kebetulan sekali hari ini ada pesantren untuk anak SMA, jadi DT terlihat ramai. Aku berpisah dari rombongan, aku membeli 2 ciput untuk emak. Rencananya mau beli jilbab, tapi jilbabnya pendek-pendek dan coraknya tidak aku sukai, terlalu rame.

Kami menuju kediaman Aa Gym, tapi sayang beliau sedang umroh, jadi kami hanya bisa foto-foto sendiri di belakang rumahnya Aa, di saungnya Aa. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami menuju ke Takuban Perahu. Jalan disana tidak begitu baik, berkelok-kelok membuat perut terguncang-guncang. Nikmati saja. Alhamdulillah kami sampai juga. Kawah gunungnya terlihat kering, tak berair. Di celah-celah tanah, bagian bawah kawah terlihat asap yang mengepul. Kami berfoto-foto disana. Naik dan naik. Disana banyak orang-orang menawarkan barang dagangannya. Aku, B’Nora, dan B’Ina membeli jaket tebal, harganya lumayan, 50 ribu. Aku dan B’Ina berjalan berdua karena yang lain sibuk berbelanja. Kami berdua mampir di warung gorengan. Kami makan tahu goring dan tempe goring. Lumayan menghangatkan perut.

Saat berjalan pulang, kami bertemu dengan rombongan Daksos Furqon dengan salah satu wali siswa. Kami berfoto bersama. Setelah berpamitan, kami menuju rumah makan di kawasan Cikole. Ada dua meja yang sudah disediakan untuk rombongan kami. Menunya lagi-lagi ayam. Ada menu lain, ikan tepung dengan saus sambel, mie tumis, sayur sop, sate ayam, jus jeruk, dan lalapan. Makannya terasa hambar karena tidak disertai sambal. Selah makan aku berfoto di depan rumah makan itu. Lanjutkan perjalanan ke tempat outbond. Pengen sih ikut outbond, bergantung di atas tali, tapi aku takut nanti kalau aku takut biasanya keluar suara jeritan. Akhirnya nggak jadi B’Yanti dan anaknya malah ikut main. Aku berfoto dengan monyet yang tinggal sendiri di kandang. Coba kalau dia punya teman di dalam kandangnya, mungkin hidupnya akan terasa lebih hidup dan ceria.

Kebun stroberi adalah temapat yang ingin aku masuki. Tiketnya hanya 5 ribu dan kalau mau memetiknya, kita tinggal mengkilokannya, harga 1 kg = 50 ribu. Aku berfoto dan memetik stroberi dan plusnya, kita diberi jus stroberi yang segar.

Kami balik lagi ke Bandung dan makan malam di RM. Bancakan. Untuk makan, kami harus gantri panjang karena rumah makan ini sangat ramai oleh pengunjung. Rumah makan ini dicirikan dengan piring dan gelas yang terlihat seperti peralatan makan zaman dahulu, seng semua. Menunya bermacam-macam, tapi rasanya tidak ada yang pas dengan lidahku. Nikmati saja.

Bandung tidak seperti yang aku bayangkan. Bandung lebih kecil dari Palembang. Jalan-jalannya berkelok-kelok. Sedikit sekali jalan yang lurus sehingga bisa dibayangkan jika tersesat dijalan ? Jangan sampai deh, mana angkutan umum tidak seramai Palembang. Namu aku salut dengan pemerintah kota Bandung yang rela menghabiskan dana untuk pembangunan Bandung dengan membuat taman-taman. Tak jarang ketika melihat dari kaca, di sebelah kanan-kiri jalan terdapat taman-taman bermain alami, yang ditumbuhi pohon rindang dan rumput Jepang yang ditata dengan apik. Inilah akhir perjalanan kami di Bandung.

Malamnya terakhir di Bandung, kami berfoto-foto di Gedung Sate. Satang gedungnya tidak terlihat jelas….

Koq aku merasa…….
01 Juli 2009 jam 19:58

Jalan-jalan ke Bandung….Semua semangat belanja, aku…Aku ingin cepat ke Yogja…Aku ingin borong buku…Tak apalah uang habis, asal buku yang aku inginkan didapat. Ingin juga beli tas dan sepatu, tapi tidak ada yang pas di hati. Tapi kalau ada yang pas, Insya Allahaku beli karena memang itu yang dibutuhkan. Bosen melihat outlet-outlet yang harganya melambung, uangnya nggak ada…

Komentar dalam catatan itu :
Meita Ranika jam 20:17 tgl 01 Juli 2009
“Hi..hi…hi…hi…ayuk…ayuk…lum biso nian caknyo ni jadi ibu-ibu, mumpung di Bandung, belilah sepatu samo tas, banyak jugo yang murah dan bagus yuk….”

Rizqie Fajriyani Jurnaliska jam 23 :06 tgl 01 Juli 2009
“Kenapa ga borong buku di Palasari aja ???”

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Yogja. Kami tidak langsung ke penginapan karena waktu sampai di Yogja, jam masih menunjukkan sekitar pukul 07.00. Kami langsung sarapan di RM. Grafika daerah Kalasan, Yogja. Yang mau mandi, ya mandi yang tidak mau, nggak apa-apa. Aku sih ngeri mandi di sana sebab kamar mandinya tidak terkunci rapat. Aku, B’Nurul,B’Nora, B’Sati, Mb Masynun, dan B’Yanti tidak mandi. Duh, siapa sih yang nggak risih dengan keadaan seperti ini ?

Lanjut…Lanjut…Kami langsung ke Prambanan karena jaraknya tidak jauh dari Kalasan. Guide kami diganti sementara waktu dengan Mas Aal (berkaca mata, bertubuh tinggi dan agak berisi, aku ingat sekali kalau dia menyebut ‘batik’). Sebenarnya, kalau boleh milih, aku tidak ingin ke Prambanan, tapi aku kan ngikut rombongan. Egois sekali rasanya jika orang lain mengikuti kehendakku. Setelah puas berfoto-foto, kami pulang. Beberapa bunda belanja ole-ole gantungan kunci Prambanan. Aku hanya membeli miniatur Prambanan untuk P’Joko, yang selalu baik kepadaku. Meski harganya tak seberapa aku rasa beliau akan menerimanya. Aku juga membeli tas rajut dengan harga murah.

Prambanan sudah, kami melanjutkan lagi perjalanan ke Kota Geda, kota pengrajin perak di Yogja. Kami ke H.S. Silver. Banyak sekali koleksi yang ditawarkan toko itu. Kami juga melihat pembuatan perak dari awal sampai terjadi perak yang berbentuk unik dan bagus-bagus. Aku ingin membeli pin tusuk, tapi setelah dicari dan ditanya pada mbak dan mas yang disana, mereka mengatakan tidak ada untuk pin tusuk. Padahal aku ingin sekali membelinya, lagi-lagi karena butuh, kebutuhan. Setelah melihat-lihat, aku menemukan sebuah cincin yang unik, sederhana. Pahatannya tidak begitu jelas, ada yang bilang itu ikan, tapi aku rasa itu rusa. Tak usah dipikirkan, cincin itu sebagai pengganti cincin yang dberi oleh adikku, yang sudah patah. Sayang sekali mengganti cincin, tak pakai cincin….Ciri khas wanita, cincin.

Kami menyempatkan diri menyelusuri tempat kerajinan kulit di Manding, Yogjakarta. Tepatnya di toko Edward. Disini aku membeli tas untuk kondangan ayuk, sepatu dan tas untuk ngajar, dan tas khusus untuk buku-buku yang akan aku beli nanti.

Setelah puas menjelajahi perak, kami mencari rumah makan di kawasan Parang Tritis. Aku mencicipi undur-undur goreng. Sayangnya, undur-undur goreng itu terlalu asin sehingga aku hanya mencicip satu.. Disana kami bermain di laut. Kami melepaskan sandal. Di perjalananlah terlihat mana yang istiqomah dengan ajaran dan aturan Islam, mana pula yang tidak. Aku tidak menyebutkan diriku yang paling baik, mereka salah. Tidak. Itu semua adalah prinsip. Prinsip bagiku harus dijalankan bukan hanya ditulis di dalam hati. Satu persatu kaos kaki ditanggalkan. Yang semula kuyakin bisa menjaga, ternyata tidak sama dengan yang aku pikirkan. Mereka berteriak. Berlari. Maju ke bibir pantai lalu berlari sambil berteriak. Ya, bukan aku tak mau bermain-main di bibir pantai. Hanya saja pengalamanku di Pantai Kukup dan Baron dulu telah membuat aku jera bahwa jangan sombong bermain dengan ombak. Aku dulu menantang, ternyata akulah yang kalah. Aku terbawa ombak. Untung saja Allah masih mengingatkanku, jika tidak mungkin aku tidak bisa ke Yogja lagi seperti sekarang ini.

Aku diajak menaiki Bendi. Sebenarnya aku kasihan, tidak mau naik Bendi. Coba saja lihat mata si kuda. Aku tidak tahu, mungkin perasaanku saja yang peka. Aku sedih memikirkan kuda itu. Dapat makan nggak si kuda ini ? Koq tahan sekali dinaiki dari pagi sampai sore. Aku sangat tidak mau naik, tapi aku merasa kasihan dengan B’Yanti yang ingin sekali menaikinya. Aku rasa aku telah salah, coba aku tolak ajakan itu. Kalau aku tolak, si bapak dapat uang nggak hari ini. Ya, bismillah. Aku berdoa semoga kuda itu tidak merasa keberatan saat aku menaikinya.

Jika ada orang yang kesepian di tengah keramaian, ya itulah aku saat itu. Aku tidak menikmati perjalanan ini. Aku memikirkan jika saja di sampingku ada orang-orang yang aku sayangi. Mungkin tahun depan aku sudah pergi dengan pasanganku. Aamiin ya Allah.

Perjalanan pulang dari pantai diiringi ngambeknya ustadz Fikri dengan apa yang aku ucapkan. Ngambeknya koq seperti anak-anak. Maaf ya….Hari sudah menunjukkan pukul lima.

Kami belum pulang, kami makan malam di RM. Firdaus dan langsung check ini di LPMP Kalasan, Km. 14. Untuk sampai di penginapan, kita harus masuk sekitar 2 km dari jalan raya. Waktu sampai ada bapak-bapak yang bertanya, “Mbak, koq rame-rame, ini dari mana?” Aku menjawab,” Kita dari Palembang, nggak hanya untuk jalan-jalan.” Terdengar setelah bapak itu berlalu,” Eh, kirain…” Ternyata tempat itu adalah tempat para guru mengikuti pelatihan. Setelah meletakkan barang, aku inginnya malam ini digunakan untuk jalan, tapi jarak untuk ke pusat kota itu jauh. Adikku saja tidak tahu tempatnya. Ya, kami terdampar di tempat yang mengerikan, sepi. Aku sekamar lagi dengan B’Yanti dan B’Nurul.

Paginya, kami bergegas menuju tempat pariwisata lainnya, tapi aku tidak ikut serta karena aku sudah janji dengan adik mencari pakaian batik pesanan emak dan buku. Aku berpisah dari rombongan, aku minta distopkan di Ring Road (kentungan) dan janjian dengan adikku. Tidak berapa lama, adikku dating. Aku membeli sarapan dulu, nasi kuning dengan daun (entah namanya apa, tapi bentuknya mirip daun seledri). Aku bawa ke kos-an adikki. Makan sedikit sudah kenyang. Rombonganku sudah berada di Borobudur dan aku masih di kos adik, tidur-tiduran sambil menunggu adikku mandi. Kami langsung ke Bering Harjo dan mencari batik. Alhamdulillah, aku mendapatkan batik. Aku beli Yangko untuk ole-ole teman dekatku, MR, dan teman-teman ngajiku, dan rumah tentunya. Setelah selesai beberbelanja batik, kami mampir beli minuman dogan. Sembari menunggu, aku membeli baju batik kecil untuk sepupu kecilku (1 tahun), sepupuku yang sudah kelas 3 SD, dan balita MR-ku. Setelah puas, aku ke Mirota batik. Disana aku membeli gantungan kunci untuk teman-teman terbaikku. Aku juga membeli ole-ole untuk awak bus, gantungan kunci juga sih. Nggak mahal koq, tapi barangnya beda dari yang lain.

Puas belanja, aku dan adikku mencari makan siang. Kami membeli steak kakap mushroom dan jus jeruk. Lama sekali menunggu masakan siap disantap karena perutku dan adikku sudah memanggil berkali-kali untuk diisi. Nikmatnya, makanannya masih hangat. Kenyang. Kami pulang dan sholat zuhur (aku jamak ashar). Aku mengajak adikku ke toko buku ‘Shopping’, tapi yang kucari tidak ketemu. Akhirnya aku putuskan pergi ke took buku Mizan, dekat kos adikku. Subhanallah, uangku habis 400 ribu untuk buku. Aku puas, belum. Ada satu buku yang ingin sekali aku beli, yaitu novel nonfiksi ‘Jadie’ karya Torey Hayden. Kapan ya aku bisa memilikinya ?

Setelah kontak dengan temanku, aku minta diantar adikku ke Malioboro, menyusun rombongan. Rombongan itu baru sampai di Malioboro setelah sebelumnya ke Kraton. Alhamdulillah aku menemukan parkiran bus di Jln. Abu Bakar Ali, dekat Innai Garuda/ Hotel Garuda. Aku disana sendiri. Disana hanya ada bus-bus beserta sopir yang sedang istirahat. Aku ikut ngobrol. Aku kenalan dengan sopir dari travel yang sama dengan travelku. Si bapak-bapak ngasih lagu Sunda kepadaku, suling-kecapi. Para sopir kami, Kang Dadang dan Kang Boim ikut nimbrung. Usia mereka berdua masih muda, kelahiran tahun 1980. Disanalah semua kedinginan mencair. Ternyata Kang Boim telah menikah dan rindu sama anaknya yang usianya baru 1,5 tahun. Kang Boim bercerita tentang pernikahannya yang ditolak orang tua istrinya karena profesinya supir. Kang Dadang juga ikut nimbrung. Kang Boim berkhotbah, Kang Dadang mencela. Pelajaran tersirat aku dapatkan dari mereka berdua bahwa jangan pernah menganggap orang nggak mau berteman dengan kita karena bisa jadi kita sendirilah yang menyebabkan anggapan itu ada. Satu lagi nasihat Kang Boim, bahwa pekerjaan apapun yang kita geluti, cintai dan nikmatilah.

Setelah teman-teman berbelanja di Malioboro, kami sholat maghrib di dekat parkiran bus dan perjalanan dilanjutkan makan bebek panggang di lesehan Cak Klinting, sambelnya enak, pedes, nikmat, tapi makannya nggak bareng karena sebagian sudah makan dan sebagian lagi masih menunggu pesanan. Tempat ini memang ramai.

Kami berjalan lagi menuju tempat penjualan ole-ole Bakpia Djava. Memang enak rasanya, tapi harga satu kotak bakpia lumayan, yang kacang hijau Rp. 17.500,00. Aku hanya membeli satu kotak, untuk papaku karena papa suka dengan bakpia. Setelahnya, kami pulang dan mempacking barang. Paginya harus check out dan menuju Palembang.

Perjalanan menuju Palembang melewati beberapa tempat Kebumen, di rumah makan Candi Sari inilah kami makan siang dan sholat zuhur-ashar Hampir di tempat kami makan, buah-buahan jarang disuguhkan termasuk di Candi Sari ini. Malamnya kami berhenti untuk sholat maghrib dan isya dan makan di Tasik, ada lauk cumi-cumi goreng yang besar, sayangnya lauk itu tidak bisa kami habiskan karena rasanya sudah tidak segar lagi. Aku membeli kacang untuk awak bus agar tidak terasa ngantuk saat menyetir. Kami hanya melewati Jakarta dan kami memasuki kapal. Kami berada di kapal sekitar 2 jam. Kapal kali ini tidak sebesar kapal pertama, ketika kami berangkat. Tepat subuh, kami sedah sampai di kapal. Setelah sholat kami ke geladak kapal dan melihat pelan-pelan langit mulai membuka mata dan matahari menyemburatkan sinar jingganya yang tertutup langit yang masih biru kelam. Berfoto-fotolah kami disana. Jalanan sepi, tidak seperti yang kami alami saat pergi dari Palembang. Tidak banyak kendaraan yang turun dari kapal. Pelabuhan Bakahueni telah terlihat. Lanjut lagi, berjalan lagi….Kami beli tape goreng panas, cukup untuk menghangatkan tubuh. Siangnya, kami makan di rumah makan (lupa deh). Setelah selesai sholat, kami berangkat lagi, tanpa berhenti. Sampailah di Palembang setelah lewat azan maghrib sekitar 15 menitan. Alhamdulillah. Perjalanan usai.

Sepertinya perjalanan kali ini adalah shopping tour. Setiap kali kami singgah di pusat perbelanjaan, disana pula uang dikeluarkan. Habis uang disaku, tarik ATM. Berfoya-foya, sampai seberapa besar uang yang dihabiskan. Devisa daerah dalam satu hari bisa naik karena rombongan kami yang terus-terusan belanja. Mungkin, akulah yang tidak banyak membeli barang, tapi cukup menguras dana bulan ini. Pergi 2 tas, pulang jadi 3 tas.

Penyesalan, perjalanan kali ini semoga tidak menjadikan sebuah penyesalan di hatiku. Yang aku sesalkan, semestinya aku mengajak orang-orang yang aku sayangi. Aku ingin sekali tahun depan aku sudah bisa mengajak orang yang aku sayangi dan menyayangiku ke suatu tempat yang belum pernah aku singgahi. Aku ingin ke Mekar Sari, semoga.

Berhikmahkah perjalanan kali ini ? Tentu saja. Betapa sempitnya dunia ini dan betapa banyaknya manusia yang menempatinya. Allah-lah yang mengatur sesempit-sempit dunia akan mampu menampung manusia yang banyak karena ada yang meninggal dan ada yang lahir. Pengaturan yang sempurna. Dalam perjalanan singkat ini terlihat sekali nafsu yang didahulukan, tanpa memikirkan manfaat dalam membeli sesuatu. Beli…beli…dan beli…sampai ATM ludes dan uang di dompet lenyap.

Jika berada dalam komunitas yang minor, pendapat atau saran tidak akan didengar. Begitulah hendaknya para minoritas lainnya, dalam segmen apa pun bahwa yang minoritas akan segera tersingkirkan. Bahwa tak ada yang kita harapkan dari perjalanan ini selain kebahagiaan, adalah benar. Bahagia itu lahir dari hati. Lambat sedikit dimarah, disindir, dikatain, ya…aku sih nggak pernah komentar. Pokoknya berusaha cepat, itu saja.

Tidak terasa sekali rasa kekeluargaan dalam perjalanan kali ini, mungkin aku saja ya, tapi yang jelas semuanya maunya sendiri-sendiri. Apa aku saja yang merasakan hal itu ? Semoga saja yang lain tidak merasakannya.

Menjadi seseorang yang berbeda kadang terasa indah karena orang akan tahu bahwa dia punya prinsip. Menjaga prinsip itu tetap dijalankan pada suatu perjalanan bukanlah hal yang mudah, tapi jika sudah dijalankan maka yang dirasakan adalah kepuasan yang lahir dari hati.

Kamarku, 6 Juli 2009
Pukul 22.00

Outbond Sungai Dua

Posted by: melianaaryuni on: 23 Juni 2009

Inilah kisah yang bisa disingkap dari perjalanan outbond guru SDIT Al Furqon Palembang pada tanggal 21 Juni 2009….

Pagi itu masih sunyi dan mataku masih meninggalkan rasa kantuk yang harus disingkirkan. Aku bergegas untuk pergi. Ya, hari itu outbond guru dan karyawan tempat aku mengajar, SDIT Al Furqon.

Pada jam ini, biasanya sekolah ini telah ramai dengan suara anak-anak dan lari-lari mereka yang terlihat tak beraturan. Pagi ini sepi, anak-anak libur, termasuk anak-TK dan Play Group. Guru dan karyawannya hari ini akan mengadakan outbond di Sungai Dua, daerah Banyuasin.

Outbond di Sungai Dua termasuk outbond yang ketiga kalinya aku ikuti, tapi lokasi outbond ke-1 dan 2 itu di perkebunan PUSRI Indralaya. Lokasi yang sama sehingga di outbond ke-2 tidak begitu terasa nuansa outbond.

Beberapa teman mengatakan bahwa outbond kali ini dan outbond sebelumnya bukanlah refreshing, tapi bagiku outbond adalah salah satu bentuk refreshing namun juga pengenalan dengan sesama rekan kerja di suatu lembaga. Aku mencoba menikmati saja apa yang ada di dalam setiap acara, termasuk outbond kali ini.

Masih menunggu, seperti baris sebuah lagu. Kami menunggu pemberangkatan awal. Aku sih ingin ikut dipemberangkatan awal karena aku malas jalan kaki…he…Iya, aku malas sekali karena kata ketua outbond nanti yang berangkat sore akan berjalan kaki sejauh 7 meter. Aku sudah memikirkannya. Berjalan dengan jarak yang tidak begitu jauh saja aku sudah keblinger apalagi jaraknya 7 meter, ih…mana tahan.

Iya, rombongan pertama pemberangkatan ternyata lumayan banyak sehingga barang dan orang sama banyaknya. Duduknya, seperti susunan ikan sardine di dalam kaleng, tapi nikmati saja.

Perjalanan ke Sungai Dua lumayan menyita waktu, kira-kira 2 jam (ditambah menunggu satu mobil yang tahu lokasi). Ketua outbond mengatakan bahwa nanti di lokasi, air sangat sulit didapat, airnya masam sehingga untuk cuci muka akan menyebabkan gatal-gatal. Aku sih nggak percaya karena aku tahu ketua outbondnya punya sifat yang suka membesar-besarkan omongan…temanku bilang, lebay….Maaf…maaf…just kidding.

Sebelum sampai di lokasi, kaki ditraktir oleh ketua, makan model/tekwan dan bakwan (pokoknya yang ujungnya ‘wan’, enak dan menghangatkan tubuh) di warung sederhana sambil menunggu satu mobil belum datang. Baik juga ya pak ketua, B’Berta berhasil merayu pak ketua.

Setelah satu mobil yang ditunggu tiba, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang kami lalui tidak mulus, jalan-jalan tanah banyak yang berlubang sehingga dikhawatirkan jika terjadi hujan di tengah perjalanan, maka mobil yang kami kendarai tidak bisa melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah Allah menolong perjalanan kami. Perjalanan dilanjutkan kembali, kami melewati jembatan kayu. Ada ¾ jembatan yang harus kami lalui sebelum sampai ke lokasi. Rumah penduduk masih langka. Hanya ada beberapa rumah di pinggir hutan. Rumah-rumah itu hanyalah rumah para pekerja kebun disana. Suasananya sepi. Tak bisa kuduga, ternyata perjalanan yang harus dilalui memang tidak dekat, B’Nila pun sudah mulai merasakan dampak jauhnya perjalanan kali ini. Dia mulai mual dan badannya terasa dingin serta ingin muntah. Alhamdulillah dia tidak jadi muntah. Dia kuat.

Kami membayangkan nanti kami tidur di tenda dan buang air di bong (biasa orang dusun mengatakannya, petak kecil yang ditutupi kain, yang diletakkan di atas sungai dan digunakan untuk tempat membuang air/kotoran), dan tidak mandi. Pokoknya bayangan yang tidak enak. Sesampai di lokasi, subhanallah bayangan itu hilang. Kami telah disediakan tempat, satu rumah sederhana sebagai base camp guru wanita. Air di bak kamar mandinya dingin, sejuk sekali. Di kanan kirinya ada kebun kopi, tanaman jambu monyet, alvokad, rambutan, durian, dan jambu biji. Kami disambut dengan senyuman oleh Pak Ali, beliau begitu ramah. Aku segan padanya, dengan penampilan sederhana beliau dan teman-temannya membantu kami. Mungkin itu salah satu penghormatan yang beliau berikan kepada tamunya.

Aku dan beberapa teman beristirahat sebentar di saung, pondok yang biasanya tempat orang berkumpul. Saung itu sangat nyaman dan sejuk karena ditutupi oleh rindangnya daun pohon rambuta dan kopi. Pengen tidur, tapi suasana tidak memungkinkan. Guru TK yang tergabung dalam tim konsumsi mulai bersiap-siap masak kerena hari sudah siang. Para guru pria belum bisa makan setelah sholat Jum’at karena hanya sayur yang belum masak. Perut mereka pasti sudah berdendang, nggak tahu lagu apa yang mereka dendangkan, tapi dari jendela aku mengintip mereka yang ada di saung selalu melihat ke
arah daun pintu. Untung saja mereka sabar sampai beberapa menit sayuran masak.. Mereka makan dengan lahapnya. Guru-guru TK puas dengan hasil masakan mereka.

Setelah sholat, kami berjalan-jalan menuju tempat jurit malam. Lumayan jauh, tapi aku senang dengan semua pemandangan yang hijau. Bagiku, pohon yang hijau membuat hati bertambah sejuk dan sejenak melepaskan kepenatan. Pos 1 tempat ku berjaga nanti malam untungnya tidak jauh sehingga aku tidak mungkin tersesat jika pulang sendirian. He…tapi nggak mungkin pulang sendirian malam-malam. Kami melajutkan ke pos berikutnya. Kami menyeberangi aliran sungai kecil, yang dijembatani hanya dengan dua kayu gelam. Aku mencoba, sepertinya sangat mudah untuk dilewati, tapi aku salah. Begitu aku naik di atasnya, kayu bergoyang, aku takut dan segera kembali. Aku mencoba lagi dengan dada yang bergemuruh, alhamdulillah aku berhasil, tapi dadaku masih bergemuruh. Ternyata kami harus kembali melewati jembatan itu. Mungkin karena sudah tahu medan, aku bisa melewati jembatan itu dengan sukses. Pelajaran : Mengetahui apa yang ada di depan kita akan lebih memantapkan kaki kita untuk melangkah.

Pos 2 ditemukan, tapi lokasinya sangat tidak bagus dibandingkan pos 1 tempat aku bersiaga malam nanti. Pos 2 masih penuh dengat rumput yang tinggi. Setelah dibabat, ada jalan setapak. Jalan itulah yang akan dilewati peserta. Beberapa guru tersandung oleh lobang yang tidak terlihat karena tertutup oleh rumput.
Jarak antara pos 3 dan pos 2 tidak begitu jauh sehingga untuk melaluinya tidak susah. Jarak antara pos 3 dan pos 4 pun begitu. Setelah survey tempat, kami pulang dan membawa ranting sebagai bahan baker untuk api unggun nanti malam. Setiap guru membawa beberapa ranting yang bisa dipegang. Kami melewati kandang sapi dan tanaman cungkediro (tomat kecil) yang sudah mulai masak. Banyak sekali tanaman itu sehingga rasanya ingin sekali memetik tanaman itu, sayangnya tanaman itu tidak dijual padahal kalau dibudidayakan bisa menghasilkan uang yang lumayan untuk digunakan di kehidupan penduduk disana.

Malam pun tiba, acara yang pertama dilakukan adalah berkumpul mengelilingi api unggun di depan masjid. Hebat sekali, meskipun listrik PLN belum masuk, penduduk disana memanfaatkan tenaga surya untuk menerangi rumah mereka. Subhanallah, Allah sangat penyayang kepada umat-Nya yang mau berusaha. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya kedinginan di tengah kebun. Atraksi yang dibuat bisa kuprediksi. Aku yakin bahwa apa pun yang diintruksikan adalah simulasi bagi jiwa. Simulasi berjalan di atas tali, yang seolah-olah manusia bisa berjalan di atas tali yang dipegang padahal aku sudah bisa menebak maksudnya…Berjalan di atas tali yang diletakkan di tanah. Suasana dibuat sehening mungkin dan sedramatis. Ada adegan kesurupan ala karyawan, persis kesurupan yang pernah aku lihat, tapi aku bingung. Aku menduga memang kesurupan, aku bingung kenapa juga telah dipersiapkan air dan bla bla yang lainnya. Eh, kenapa pula kelinci percobaannya tidak boleh dimasukkan ke masjid dan kenapa pula dia mudah sekali sadar ? Ah, ternyata itu rekayasa.

Kurang lebih pukul 22.00 semua peserta berkumpul untuk bersiap-siap jurit malam begitu pun kami sebagai panitianya bersiap-siap menuju pos penjagaan masing-masing. Peserta mulai berdatangan di pos 1, tempatku berjaga. Sampai suatu ketika, sorang guru meminta aku dan B’Lidya untuk melakukan misi. Misinya hanya sekedar simulasi juga dan jika peserta simulasi ini mengetahui bahwa serangkaian acara outbond adalah simulasi, mereka pasti mempunyai mekanisme pertahanan diri untuk menghadapinya. B’Lidya ditugaskan untuk memberi lotion Autan kepada dua bunda dan aku ditugaskan kepala sekolah untuk meminta Autan itu kembali di pos 3/ 4. Aku tidak berhasil. Aku malah menikmati prosesi meminta Autan dengan B’Dian, yang berkali-kali jatuh di pos 2, yang dengan terkejutnya B’Dian memeluk pundakku ketika melihat tampilan pocong ala U’Adi. Ih, kalau ingat, nggak ada serem-seremnya main malam-malam. Malah suasana seram bisa jadi menyenangkan. Menakuti orang juga menyenangkan…he…ngejahilin pun kulakukan.

Peserta kali ini tidak ada yang tersesat karena panitia memberi tahu jika jalan mereka salah. Mengapa kemarin aku bisa tersesat ? Apakah panitia di tahunku tidak peduli denganku ? Ah, kalau ingat outbondku dulu….

Solobivauk berlangsung setelah jurit malam, namun kejadian yang mengejutkan membuka mataku bahwa ada bunda yang bertingkah aneh. Entahlah saat melihat beliau, aku jadi ingat dengan temanku yang dirukiyah. Aku merasa bahwa memang ada yang menganggunya sehingga aku berinisiatif untuk meminta teman-teman yang ada MP3 bacaan Al Qur’an untuk menghidupkannya. Alhamdulillah ada yang punya dan MP3 langsung dihidupkan. Ada ketenangan sebentar, tapi reaksi aneh pun muncul lagi, napasnya terengah-engah, satu-satu, wajahnya pucat, ah sulit dibayangkan sampai beliau bisa sadar dan tertawa kembali.

Aku ikut melihat peserta yang berdiam di lokasi pengasingan, untung malam itu bintang bertaburan di langit. Ada 4 peserta yang sakit, keluhan mereka adalah sakit radang pencernaan dan asma. Di tahun inilah peristiwa ini terjadi, sebelumnya tidak pernah ada kejadian peserta sakit. Tim UKS dengan sigapnya membantu yang sakit. Aku menyelesaikan malam ini dengan tidur di masjid. Amanah kepala sekolah aku serahkan kepada B’Aisy untuk meminta Autan kepada dua bunda. Kira-kira jam 04.00, aku terbangun setelah mendengar suara orang mengaji padahal di dalam masjid itu tidak ada orang yang membaca Al Qur’an. Aku berlari ke rumah kami dan mengambil air wudhu. Mataku belum terbuka benar dan rasanya ingin tertutup kembali namun udara dingin tidak bisa diajak kompromi. Aku mengigil sambil menunggu azan Subuh. Tausiyah dari kepala sekolah tidak aku dengarkan sambil duduk. Aku berbaring dengan beberapa teman. Orang ngantuk disuruh denger ceramah….
Paginya permainan dimulai. Ada berjalan di atas satu tali dengan pegangan satu tali, spider web, memasukkan orang dari spider web, dan berjalan menyusuri terowongan air. Seru sih, tapi hanya satu permainan yang aku coba, yaitu menaiki spider web dengan berhasil turun kembali.

Aku ingin meniti satu tali, tapi waktunya terbatas. Aku hanya membantu temanku untuk memassang alat bantunya, alhamdulillah aku tahu sedikit. Aku juga ingin mencoba menyeberangi terowongan air, pasti seru !

Perjalanan pulang. Awalnya kami berjalan kaki, tapi ada kendaraan guru disana yang mengangkut kami. Alhamdulillah, aku dan beberapa teman naik mobil. Sesampai di mobil rasanya ingin segera pulang. Seluruh persendian serasa remuk.

Outbond kemarin menyebabkan aku tidur selama 2 hari.

Kamarku, 21 Juni 2009
Pukul 22.47

Ada Apa dengan 3 Tahun ?

Posted by: melianaaryuni on: 14 Juni 2009

“ Tiga tahun di SMP rasanya bosen, pengen cepat-cepat ke SMA,” kataku dulu.
“ Tahun ketiga di SMA membosankan ya, pengen cepat-cepat kuliah.” Aku ingat dulu.
“ Tiga tahun bekerja koq bosen ya ?” Aku bertanya kepada rekan kerjaku. Meraka menjawab, “ Sama, aku juga merasakan kebosanan, sama koq,” katanya.

Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi mengapa SMP, SMA, DIII itu hanya ditempuh dengan waktu 3 tahun, untuk mengatasi kebosanan. Mengapa pada tingkat SD tidak bisa diselesaikan dalam 3 tahun ?

Aku berpikir lagi, mungkin bagi anak SD, 3 tahun pertama mereka masih masuk masa bermain dan pengenalan belajar. Mereka belum ditempa untuk belajar dengan serius sehingga mereka tidak terlihat bosan dengan segala aktivitas sekolah. Tugas-tugas yang diberikan guru pun tidak seberat tugas-tugas kelas 4,5, dan 6 SD. Bagaimana jika di kelas 1,2, dan 3 guru selalu memberikan tugas-tugas yang rumit dan memusingkan ? Bisa jadi mereka akan merasakan bosan, hal yang sama aku rasakan sekarang.

Jika saja di kelas 4, anak SD sudah merasakan kebosanan dalam belajar, maka apakah yang akan terjadi selanjutnya di kelas 5 dan 6 ? Masihkah mereka bosan? Ataukah mereka bisa mengatasi masalah tersebut ?

Dari tingkat SMP ke SMA, kebosanan di SMP teratasi ketika melihat suasana baru di SMA. Begitu pun ketika bosan di SMA, kuliah bisa mengatasinya. Perpindahan dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya menjadikan rasa bosan itu tidak sekedar bosan, yang akhirnya menyebabkan diri terpuruk dalam ketidakefektifan diri. Dengan pengalihan ke tingkatan yang lain, rasa bosan sedikit teratasi. Ada pencerahan jiwa yang menyadarkan bahwa ada lingkungan lain yang bisa mengubah diri menjadi ceria kembali.

Penat dengan semua rutinitas menjadikan orang enggan bergerak lalu stagnan dan kadang berhenti. Jenuh. Jenuh dengan sekolah, jenuh dengan kerja. Setiap orang yang pernah aku tanyai tentang kejenuhan layaknya memberikan masukan yang berarti sehingga ada beberapa masukan itu yang berarti untuk mengatasi kebosanan.

Ada beberapa masukan yang bagus untuk dijadikan alat untuk mengatasi kebosanan :
1. Anak SD, siswaku, jika ditanya,”Bosen nggak belajar ?” Mereka menjawab bosen, tapi “Main yang membuat kita tidak bosen lagi.” Wajah-wajah anak didik akan menjadi pemecah kebosanan jika Anda seorang pendidik.
2. Jika kita sudah berkeluarga, sesampai digunakan kesempatan di rumah dengan sebaik mungkin, jangan sampai pikiran atau pekerjaan kantor membawa kebosanan berada di rumah. Lihatlah wajah anak atau suami ataupun orang yang Anda sayangi. Renungi apakah rasa bosan itu memberikan manfaat bagi kita ? Apakah kita harus mengikuti rasa bosan itu sehingga kita terus mengerutu dengan kebosanan itu ?
3. Jika Anda seorang ibu, apakah karena Anda bosan mengurus anak, Anda tega membiarkan anak Anda menangis karena tidak diberi makan dan Anda berkata,” Sudah, diam. Ibu sudah bosan mengurusmu !” Begitukah ? Jika Anda seorang ayah, “ Cukup, Ayah bosan mencari nafkah !” Apa yang terjadi dengan keluarga Anda ? Kehancuran, yang akhrinya menjadi tangis penyesalan. Lakukan sebaik mungkin sebelum penyesalan datang.
4. Carilah aktivitas sampingan (ngenet,ngeblog, dll.) untuk mengatasi kebosanan Anda karena diharapkan dengan adanya aktivitas alternatif, yang tentunya kita sukai, kebosanan itu bisa di atasi, setidaknya berkurang untuk sementara waktu sembari mencari alternatif yang lain.
5. Carilah tempat yang menyenangkan atau larilah sejenak dengan semua rutinitas yang setiap harinya kita kerjakan. Larilah ke tempat yang bisa membuat kita bahagia.
6. Lihatlah di sekeliling Anda bahwa tidak semua orang mampu melakukan apa yang kita bisa lakukan. Hargailah diri Anda bahwa sesungguhnya Anda adalah orang yang beruntung, yang telah diberikan segala kelebihan sehingga hal ini patut Anda syukuri.
7. Banyak dari orang di sekeliling Anda tidak mengalami kejadi seperti yang Anda hadapi. Yakinilah bahwa,” Beserta kesukaran itu ada kemudahan!” Begitu pun, “Seiring adanya kebosanan, insya Allah akan ada penyegaran.”
8. Bersilaturrahmilah kepada teman karena terkadang silaturrahmi bisa mengatasi kebosanan dan memperpanjang usia. Jelas bukan, jika kita terpuruk dengan kata bosan, mungkin kita bisa terus dan terus memikirkan kebosanan tanpa banyak berbuat untuk mengatasinya sehingga apa yang terjadi ? Kita habiskan waktu dengan sia-sia padahal masih banyak kegiatan positif yang bisa kita berikan untuk banyak orang.

9. Berceritalah kepada sohib Anda tentang masalah kebosanan Anda, mungkin dia pernah mengalami hal yang serupa dengan Anda dan Anda bisa mengambil pelajaran dari apa yang sohib kita sampaikan.
10. Jangan pernah menyesali melakukan atau melewati tahapan yang mesti Anda lalui, misalnya dengan berkata,” Cobalah dulu aku nggak kuliah disini ?” Jangan sangkal takdir Allah yang diberikan pada kita karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, jadi segala yang Dia berikan/ditakdirkan kepada kita adalah wujud kasih dan sayang-Nya.
“Allah tidak menjadikan manusia itu tersesat, tapi manusia itu sendiri yang ingin menyesatkan dirinya.”
11. Lakukan yang menjadi takdir Anda dengan keikhlasan dan kemampuan Anda karena Anda bisa melakukannya.

Tulisan ini lahir dari sebuah perenungan dan ternyata berlaku juga sebagai nasihat untuk diri sendiri dan orang yang sedang dilanda kebosanan. Kebosanan itu pernah dihadapi setiap orang, aku dan Anda semoga bisa menyikapinya dengan sikap yang sebaik mungkin.

Salam….

Kenapa dengan 3 Tahun ?

Posted by: melianaaryuni on: 14 Juni 2009

Kenapa dengan 3 Tahun ?

“ Tiga tahun di SMP rasanya bosen, pengen cepat-cepat ke SMA,” kataku dulu.
“ Tahun ketiga di SMA membosankan ya, pengen cepat-cepat kuliah.” Aku ingat dulu.
“ Tiga tahun bekerja koq bosen ya ?” Aku bertanya kepada rekan kerjaku. Meraka menjawab, “ Sama, aku juga merasakan kebosanan, sama koq,” katanya.

Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi mengapa SMP, SMA, DIII itu hanya ditempuh dengan waktu 3 tahun, untuk mengatasi kebosanan. Mengapa pada tingkat SD tidak bisa diselesaikan dalam 3 tahun ?

Aku berpikir lagi, mungkin bagi anak SD, 3 tahun pertama mereka masih masuk masa bermain dan pengenalan belajar. Mereka belum ditempa untuk belajar dengan serius sehingga mereka tidak terlihat bosan dengan segala aktivitas sekolah. Tugas-tugas yang diberikan guru pun tidak seberat tugas-tugas kelas 4,5, dan 6 SD. Bagaimana jika di kelas 1,2, dan 3 guru selalu memberikan tugas-tugas yang rumit dan memusingkan ? Bisa jadi mereka akan merasakan bosan, hal yang sama aku rasakan sekarang.

Jika saja di kelas 4, anak SD sudah merasakan kebosanan dalam belajar, maka apakah yang akan terjadi selanjutnya di kelas 5 dan 6 ? Masihkah mereka bosan? Ataukah mereka bisa mengatasi masalah tersebut ?

Dari tingkat SMP ke SMA, kebosanan di SMP teratasi ketika melihat suasana baru di SMA. Begitu pun ketika bosan di SMA, kuliah bisa mengatasinya. Perpindahan dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya menjadikan rasa bosan itu tidak sekedar bosan, yang akhirnya menyebabkan diri terpuruk dalam ketidakefektifan diri. Dengan pengalihan ke tingkatan yang lain, rasa bosan sedikit teratasi. Ada pencerahan jiwa yang menyadarkan bahwa ada lingkungan lain yang bisa mengubah diri menjadi ceria kembali.

Penat dengan semua rutinitas menjadikan orang enggan bergerak lalu stagnan dan kadang berhenti. Jenuh. Jenuh dengan sekolah, jenuh dengan kerja. Setiap orang yang pernah aku tanyai tentang kejenuhan layaknya memberikan masukan yang berarti sehingga ada beberapa masukan itu yang berarti untuk mengatasi kebosanan.

Ada beberapa masukan yang bagus untuk dijadikan alat untuk mengatasi kebosanan :
1. Anak SD, siswaku, jika ditanya,”Bosen nggak belajar ?” Mereka menjawab bosen, tapi “Main yang membuat kita tidak bosen lagi.” Wajah-wajah anak didik akan menjadi pemecah kebosanan jika Anda seorang pendidik.
2. Jika kita sudah berkeluarga, sesampai digunakan kesempatan di rumah dengan sebaik mungkin, jangan sampai pikiran atau pekerjaan kantor membawa kebosanan berada di rumah. Lihatlah wajah anak atau suami ataupun orang yang Anda sayangi. Renungi apakah rasa bosan itu memberikan manfaat bagi kita ? Apakah kita harus mengikuti rasa bosan itu sehingga kita terus mengerutu dengan kebosanan itu ?
3. Jika Anda seorang ibu, apakah karena Anda bosan mengurus anak, Anda tega membiarkan anak Anda menangis karena tidak diberi makan dan Anda berkata,” Sudah, diam. Ibu sudah bosan mengurusmu !” Begitukah ? Jika Anda seorang ayah, “ Cukup, Ayah bosan mencari nafkah !” Apa yang terjadi dengan keluarga Anda ? Kehancuran, yang akhrinya menjadi tangis penyesalan. Lakukan sebaik mungkin sebelum penyesalan datang.
4. Carilah aktivitas sampingan (ngenet,ngeblog, dll.) untuk mengatasi kebosanan Anda karena diharapkan dengan adanya aktivitas alternatif, yang tentunya kita sukai, kebosanan itu bisa di atasi, setidaknya berkurang untuk sementara waktu sembari mencari alternatif yang lain.
5. Carilah tempat yang menyenangkan atau larilah sejenak dengan semua rutinitas yang setiap harinya kita kerjakan. Larilah ke tempat yang bisa membuat kita bahagia.
6. Lihatlah di sekeliling Anda bahwa tidak semua orang mampu melakukan apa yang kita bisa lakukan. Hargailah diri Anda bahwa sesungguhnya Anda adalah orang yang beruntung, yang telah diberikan segala kelebihan sehingga hal ini patut Anda syukuri.
7. Banyak dari orang di sekeliling Anda tidak mengalami kejadi seperti yang Anda hadapi. Yakinilah bahwa,” Beserta kesukaran itu ada kemudahan!” Begitu pun, “Seiring adanya kebosanan, insya Allah akan ada penyegaran.”
8. Bersilaturrahmilah kepada teman karena terkadang silaturrahmi bisa mengatasi kebosanan dan memperpanjang usia. Jelas bukan, jika kita terpuruk dengan kata bosan, mungkin kita bisa terus dan terus memikirkan kebosanan tanpa banyak berbuat untuk mengatasinya sehingga apa yang terjadi ? Kita habiskan waktu dengan sia-sia padahal masih banyak kegiatan positif yang bisa kita berikan untuk banyak orang.

9. Berceritalah kepada sohib Anda tentang masalah kebosanan Anda, mungkin dia pernah mengalami hal yang serupa dengan Anda dan Anda bisa mengambil pelajaran dari apa yang sohib kita sampaikan.
10. Jangan pernah menyesali melakukan atau melewati tahapan yang mesti Anda lalui, misalnya dengan berkata,” Cobalah dulu aku nggak kuliah disini ?” Jangan sangkal takdir Allah yang diberikan pada kita karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, jadi segala yang Dia berikan/ditakdirkan kepada kita adalah wujud kasih dan sayang-Nya.
“Allah tidak menjadikan manusia itu tersesat, tapi manusia itu sendiri yang ingin menyesatkan dirinya.”
11. Lakukan yang menjadi takdir Anda dengan keikhlasan dan kemampuan Anda karena Anda bisa melakukannya.

Tulisan ini lahir dari sebuah perenungan dan ternyata berlaku juga sebagai nasihat untuk diri sendiri dan orang yang sedang dilanda kebosanan. Kebosanan itu pernah dihadapi setiap orang, aku dan Anda semoga bisa menyikapinya dengan sikap yang sebaik mungkin.

Salam….

Cairkan Uang Ini ya…

Posted by: melianaaryuni on: 11 Juni 2009

Ini cerita mengenai bahasa yang salah kaprah dan hari ini aku mencoba untuk menyampaikannya kepada anak dalam celotehan singkat yang menyegarkan dan membuat ketawa siswa-siswiku ataupun mengajak mereka saling melihat satu sama lain.

Kisah ini nyata, terjadi setelah anak-anak selesai ujian semester dan masih sibuk ngobrol denganku di kelas.
“Bun,laper,” kata seorang anak yang agak gemuk badannya.
“Iya, Bunda juga laper, sama koq<' balasku.
"Tapi aku nggak bawa uang,Bun," gerutunya kembali.
"Ayo kalian mau minta berapa ?
Tanyaku iseng.
"Aku Rp 10.000,00 aja," kata anak itu.
"Kalau kamu berapa ?" Tanyaku kembali.
"Aku RP 5.000,00 aja," kata anak laki-laki yang lain.
"Kalau kamu ?" Tanyaku kepada teman di sebelahnya.
"Sama, Bun. Rp. 5.000,00 juga," kata anak itu.
"Oh, cuma segitu. Nggak mau nambah ya…" balasku iseng kembali.
" Mana, Bun ?" Tanya salah satu anak.
" Ntar ya, tunggu sebentar," aku ngambil kertas lalu aku tuliskan.

CEK KOSONG

Rp 5.000.000.000,00

B'Meli

NB :
Pink, tolong cairkan cek ini ke Bang Aid

Aku berikan cek boongan itu ke Pink, eh Pink (salah satu siswi di kelasku) malah bingung.
"Pink kan tangan kanan Bunda, jadi Pink yang bisa ngecairin cek itu," kataku sambil tersenyum. Pinknya menolak akhirnya aku inisiatif mainin Dwiki.
"Dwiki, tolong cairkan cek ini ke Bang Aid ya untuk teman-temannya," kataku. Dwiki langsung berlari mencari Bang Aid (Siswa kelasku yang namanya Syahid Al Hakim).

"Bun…" kata Dwiki belum selesai.
"Kenapa, Bang Aidnya gulung tikar ya ?"
"Bun, Bang Aid kan bukan seperti Bank BCA, nggak bisalah cairin cek," kata Dwiki.

"Oke, Dwiki bisa ngecairin ceknya Bun, lihat aja nanti," kata Dwiki kembali.
Dwiki keluar kelas lalu ngambil air dari kamar mandi dan kertas yang tertulis 'cek kosong'. Dimasukkanlah kertas itu ke dalam gelas yang telah berisi air dan diperlihatkan kepadaku.
"Nih, Bun udah cair," katanya. Aku tersenyum.
"Belum, ini belum bisa dibagi dengan temannya. Nanti takut nggak kebagian yang lain," kataku.

Aku tertawa dan seluruh istirahat itu penuh keceriaan :)

NB :
Anak-anak menjadi inspirasi berharga yang bisa datang setiap waktu….

Blog Stats

  • 53,264 hits
<>

Jejak Kehidupan

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031