Inilah Hidup…

Begitulah hidup, ada masa berduka, ada masa suka cita.

Sekiranya Allah tidak sayang kepada kita, mungkin akan diberi-Nya nikmat yang melenakan hingga kita pun lupa atau berlari dari-Nya. Dasyatnya ujian dari-Nya kadang membuat kita berpikir,” Allah tidak sayang padaku!” Padahal dengan ujian itulah kita akan kuat untuk menghadapi masalah kehidupan.

Seminar proposal tesis yang dideadline prodi, adik ipar yang diopname hampir seminggu, kecelakaan adik di Yogja yang mengeluarkan dana yang luar biasa mahal, keluarga jauh juga banyak yang sakit. Ya Allah begitulah Allah ingin menguji. Tawa yang biasa menggelegar di ujung komplek dari rumah kecil RSH sempat hilang dalam beberapa hari. Rutinitas bergantikan keheningan. Rasa lelah seakan hilang dijemput keinginan untuk membantu.

Alhamdulillah semua masalah sudah teratasi. Tinggal penelitian dan ujian yang akan dihadapi. Di tengah kesibukan menyelesaikan itu, alhamdulillah ada pemotivasi yang siap mengantar dan menjaga. Subhanallah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan pasangan, pasangan yang saling mengisi dan mendukung.

Saudara-saudaraku…

Banyaklah bersyukur, maka Allah akan menambah nikmatnya.

 

Posted in Artikel Psikologi | Tinggalkan komentar

Sekelebat tenatang Menikah

Assalamu’alaikum wr wb..teman- teman…..I’m coming now ^_^

Wah, sudah berapa lama ya aku vakum dari menulis di blog ini :?: Tenang, semua komentar yang ada di blog ini tidak ada yang terlewatkan untuk dibaca. Alhamdulillah, sekarang aku tampil lebih dewasa ^_*  Aku sekarang sudah mempunyai suami yang sholeh dan insya Allah dengannya juga aku akan dibawanya ke surga. Aamiin.

Berumah tangga…

Dua kata yang disatukan itu terasa sangat berarti bagiku. Pastinya bagi yang belum berumah tangga dan yang mengerti syariat Islam pun ingin segera mendapatkan pasangan dalam berumah tangga. Teman, tahukah bahwa menikah itu tidak mudah? Sebelum menikah banyak sekali yang harus ditunaikan oleh kedua calon pengantin. Dimulai dari syarat dari pihak calon. Huh…kalau nggak sabar dan berusaha dengan keras, sekuat apapun keinginan kita untuk menikah tidak akan terwujud karena pernikahan itu membutuhkan keduanya.

Continue reading

Posted in Bagus untuk dibaca..., Islam, Nilai2 Islami | 6 Komentar

Doa Kami ya Allah…

Ya pemilik segala kepemilikan di seluruh alam semesta…

Yang memiliki hati setiap insan

Yang mengetahui apa yang tidak diketahui

yang terselubung dalam hati- hati insan yang menyembunyikan

Yang bernaung dalam setiap insan yang berdzikir

Ya Allah yang Maha Tahu apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi

Jadikanlah semuanya baik karena kami ingin menuju ke arah kebaikan

Yakinku pada-Mu bukan sekedar Kau telah menetapkan segalanya untuk setiap makhluk-Mu, melainkan Kau juga yang berkehendak untuk membuat ketetapan yang berbeda dengan yang ada di Lauhul Mahfudz ketika hamba-Mu berdoa karena janji-Mu,” Aku mengabulkan doa hamba-Ku yang berdoa pada-Ku.” Janji-Mu pasti dan aku yakin itu.

Teman, berdoalah dengan penuh pengharapan dan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa- doa kita :)

Ya Allah, berikanlah kesabaran bagi teman- teman yang sedang ditimpa musibah. Buatlah mereka tegar dengan berita gembira,” Sakit sebagai salah satu penggugur dosa,” ya Rabb. Engkau MahaKuasa untuk menyembuhkan mereka

Ya Rabb, berilah hati yang ikhlas untuk teman- teman yang ditimpa cobaan dalam bentuk apa pun. Tegurlah mereka bahwa bersabar akan menaikan derajatnya di sisi-Mu ya Rabb. Rabb, jagalah hamba-Mu yang mau berbuat baik hingga setan tidak mampu menyusupi hati mereka hingga melencengkan dari niat baik mereka. Ya Allah, Illah seluruh alam, yang memiliki hati setiap hamba, jauhkan diri kami dari iri/ dengki, su’udzon yang akhirnya membuat kami tidak tenang dalam hidup.

Hamba memang lemah, dengan kelemahan ini, kami mohon kabulkanlah permohonan kami ya Rabbana.

Posted in Artikel Psikologi | 14 Komentar

Romantis…tisss….tisss….

Beberapa hari yang lalu aku melihat peristiwa dan ingin kubagi dengan teman- teman.

“Ntar kalau kita sudah tua kita masih romantis kayak gini ya,Mi,” terdengar ucapan seorang kakek kepada nenek di sebelahku. Kebetulan halte ini adalah tempatku menunggu seorang teman kuliah.

” Ih, abi, masih aja mau manja- manjaan,” masih kuingat kalimat itu. Karena takut privasi mereka terganggu, aku menyingkir dari sana.

Usia pernikahan berapa pun sebaiknya jangan menjadikan rasa sayang kita kepada pasangan kita luntur. Lihatlah cuplikan dialog nyata tadi. Romantisme dengan pasangan tidak hilang karena keriputnya kulit, rentanya badan, dan ketidakpunyaan harta. Banyak para pemuda mengumbar janji setia dengan mulut manisnya dan rayuan maut yang mendayu- dayu untuk memikat kekasih hati, tetapi setelah mereka sudah menempuh hidup bersama dalam rumah tangga, kebiasaan mengucapkan kata- kata sayang terkikis.

Pasangan kita adalah pasangan seumur hidup. Pasangan kita harus dijaga hingga dengannya kita mendapatkan surga nantinya. Menyenangkan hati pasangan tidaklah sulit.

“Mi, hari ini abi libur. Ntar yang masak abi ya,” perkataan yang mendadak itu tentu saja akan membuat si istri terkejut dan berespon positif, misalnya.

” Ah, masak sih abi bisa masak. Hmmm…pasti masakan abi enak deh.” Hal sederhana yang seperti itu bisa membuat rumah tangga terjalin harmonis. Sesekali suami istri membantu satu sama lainnya. Suatu hari si istri sedang sibuk- sibuknya membersihkan rumah, dengan ringan tangan si suami mengambil kain pel dan mengepel seluruh ruangan. Apakah hal tersebut tidak membuat si istri bertambah sayang?

Kerukunan dalam berumah tangga harus terjaga. Tidak ada kata ‘aku tidak bisa’ karena semuanya berawal dari niat dan keinginan untuk menggapai surga Allah, maka semua pasti bisa dilakukan. Yang dulunya tidak terbiasa bermanja- manja atau bersikap romantis, belajarlah karena dengan pasangan hiduplah semua itu bisa dilakukan. Asalkan ada waktu yang tepat untuk bermanja- manja dengan pasangan. Jangan ketika suami pulang dari kerja dan wajahnya terlihat letih, si istri ingin bermanja- manja. Istri bisa meringankan penat pada pekerjaan suami dengan membuatkan minuman hangat.

Dapatkah romantisme pasangan itu berjalan sampai kakek nenek? Kejadian yang pertama tadi sudah menjawabnya bahwa menyenangkan pasangan itu wajib. Tak apalah sesekali membuat cemburu atau bertengkar kecil karena dengan hal yang seperti itu justru akan menambah kecintaan masing- masing. Asalkan jangan terlalu sering dilakukan karena pasangan akan bosan. Akhiri pertengkaran dengan perdamaian. Sebelum tidur permasalahan suami istri harus selesai, jangan sampai permasalahan itu terbawa sampai tidur.

Seringnya pasangan menginginkan pasangannya melakukan apa yang ia inginkan, tetapi tidak diutarakan. Misalnya, dia ingin sekali melihat suaminya memberikan hadiah setiap hari lahirnya, seperti yang dilakukan oleh suami teman- temannya. Sayangnya, dia tidak menyatakan hal itu kepada suaminya. Dia pendam sendiri sampai si suami menyadari apa yang dia inginkan. Suami ini bukan tipe yang perhatian meskipun istri sudah manyun, dia tetap tidak mengerti. Ternyata, hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi rumah tangga mereka. Suami yang tidak mengerti keinginan istri dan istri yang menuntut tanpa kepastian kepada suami mampu memicu pertengkaran. Yang seperti inilah yang sebaiknya dihindarkan. Nyatakan dengan tersirat, misalnya,” Bi, besok ummi milad lho…” Tunggulah dan lihat respon suami. Jika perkataan seperti itu masih belum direspon, lanjutkan.

“Abi, kita jalan- jalan yuk. Wisata kuliner kayaknya lebih asyik,” si istri merayu.

“Iya deh, ntar sepulang kerja, abi beliin ummi. Ummi maunya apa?”

Gubraks!

“Abiiiiiiii….Ummi mau jalan- jalan sama abi sambil berwisata kuliner. Ih, nggak ngerti amat sih :-(   “

“Oh, gitu ya.” Suami akhirnya tahu apa yang diinginkan istri.

Posted in Artikel Psikologi | 7 Komentar

Komitmen itu…

Seorang laki- laki datang menemui seorang bidadari dunianya yang kelak akan menjadi bidadari di surganya nanti.

Dibelainya si istri tersayang dengan tangannya yang sudah tidak kokoh lagi.

” Mi, abi mau mengatakan sesuatu. Mi, ummi…Ummi sayang, abi sayang ummi. Masih sayangkah ummi sama abi?” Si istri terkejut dengan pertanyaan yang sudah selayaknya tidak lagi terucap dari suaminya. Ucapan yang sangat dibenci oleh istrinya.

“Mengapa harus dipertanyakan hal seperti itu wahai suamiku?” Sang istri bertanya apakah gerangan yang akan disampaikan oleh suami tercintanya.

” Usia kita sudah semakin senja. Tenaga yang kita punyai tidak lagi kuat seperti muda dulu. Wajah kita sudah keriput dan menunjukkan tanda- tanda ketuaan disana. Masih ingatkah ummi dengan komitmen kita dulu?” Pertanyaan yang membuat si istri terkejut, tidak kala terkejut dari pertanyaan pertama.

“Maksud abi? Abi…abi….Sudahlah, mau ngomong apa sih sama ummi. Mending abi bilang deh apa sih maksud pertanyaan- pertanyaan aneh itu, Bi,” si istri mulai tidak sabar menunggu jawaban imam keluarganya itu.

” Mi, sudah berapa lamakah kita berumah tangga. Anak- anak kita sudah mulai besar. Kebutuhan rumah tangga semakin meningkat. Ummi masih ingat dengan komitmen kita beberapa tahun silam?”

“Maksud abi komitmen kita menikah?” Si istri langsung menjawab singkat.

” Iya, ummi sayang…”

“Insya Allah masih ingat,Bi. Waktu itu abi dan ummi berkomitmen untuk menggenapkan diin. Kita menikah bukan karena wajah kita yang ganteng/ cantik, tapi kita menikah untuk beribadah. Klise ya,Bi. Waktu itu ummi nggak tahu bagaimana sih menikah karena ibadah itu, tapi ummi sudah berkomitmen,” Rumah tangga kita akan kita hiasi dengan nilai- nilai keislaman. Kita harus memulai dari rumah kita dan semoga peradaban umat akan bermula dari sana.”

“Ummi ingat sekali waktu itu abi mengatakan bahwa keluarga kita tidak akan terpisah karena suatu masalah. Kekurangan dalam bekeluarga jangan membuat kita melarikan diri dari kenyataan. Abi bilang,” Mi, kita akan bersama walaupun hidup kita sulit.” Terus ummi katakan,” Bi, hidup itu kadang di atas, kadang di bawah. Tenanglah, ummi sudah pernah mengalami masa- masa seperti itu. Insya Allah kita bisa melewatinya bersama- sama.Ummi sayang abi, semoga rasa sayang abi tidak melebihi rasa sayang ummi pada Allah dan sebaliknya ya, Bi.”

Si istri melihat ke arah suaminya. Mata beradu mata. Binar mata yang tak bisa diungkapkan. Binar kebahagian bahwa keduanya masih mengingat komitmen yang telah bertahun- tahun dibangun.

Banyak orang yang sudah berkeluarga lupa dengan komitmen/ perjanjian awal mereka berumah tangga. Ada juga rumah tangga yang berdiri tanpa tujuan yang jelas. Yang jelas tujuannya untuk melestarikan keturunan. Ah, seperti ayam atau hewan saja ya. Kita manusia berbeda dengan hewan. Kita berkeluarga pun mempunyai tujuan yang berbeda dengan ayam. Maukah kita disamakan dengan ayam/ hewan dalam hal membangun keluarga? Saya yakin, kita tidak sekedar itu!

Waktu lihat blognya teman, Kakaakin. Aku melihat ada lomba, mau ikutan ah. Semoga kisah ini bisa menjadi bagian dari Cerita yang Diikutsertakan dalam Kontes Bahasa Cinta di Atap Biru.

Posted in Artikel Psikologi, Islam, Nilai2 Islami | 4 Komentar