Oleh: melianaaryuni | 6 November 2009

Intermezo Kentut (jangan disalahartikan)

Ada-ada saja kejadian di sekolah hari ini.Tadi ketika aku mengajar, ada kejadian lucu, yang selanjutnya mengingatkan aku pada masa aku SD dulu. Kenangan bersama kakek membuatku mengingatnya dalam tawa kali ini bersama anak-anak kelas IV Ibnu Mas’ud.

Dulu, ketika masih kecil aku dekat dengan kakek, tidur pun seringnya tidur sama kakek karena kakekku orangnya suka buat cerita-cerita lucu. Ceritanya membuat aku terpingkal-pingkal. Ada saja yang kakek ceritakan. Kadang kakek cerita tentang nabi Nuh as, Sulaiman as, Ayyub as, Muhammad saw, Ibrahim,Musa as, Isa as, Idris a.s. Cerita-cerita itulah yang menjadi bekal mengapa aku suka bercerita di samping orang tuaku juga suka membelikan cerita-cerita Islam, yang dibundel sendiri. Papakulah yang mengajarkan kami untuk cinta membaca.

Aku suka sekali tidur di tempat kakek karena kalau aku kesana, aku akan mendapat cerita- cerita baru. Kakek kadang bercerita tentang Pak Pandir dengan berbagai cerita, tentang si Pahit Lidah, sebenarnya banyak yang beliau ceritakan tapi 2 cerita tadi paling kuingat. Adapun kebiasaan kakekku, beliau suka minta dipijit atau dicabut ubannya, dan upahnya adalah cerita. Aku senang sekali dengan tawaran yang menarik itu. Akan aku lakukan asalkan kakek mau bercerita padaku. Begitulah hari-hariku dengan kakek. Kakek tidak pernah pelit dengan uang atau makanan, aku selalu mendapat jatah dari kakek.

Baca Lanjutannya…

Oleh: melianaaryuni | 2 November 2009

“Stres aku,Bunda…”

Siang tadi, setelah sholat Zuhur, aku kembali ke kelas dengan tergesa-gesa karena ada laporan dari anak bahwa seorang anak yang bernama Amel menangis karena mengeluh pusing dan kakinya sakit. Sebelumnya dia mengeluhkan hal yang sama, tapi hanya sebentar dan Amel masih bisa ikut sholat berjama’ah. Setiba di kelas, aku melihat Amel telah berurai air mata. Sedih melihatnya bercampur rasa cemas.
Ketika aku tanya,” Amel pusing ya,Nak ?” Dia hanya menjawabnya dengan anggukan. Akhirnya aku coba mengkondisikan kelas sebelum patner kerjaku tiba. Aku meminta 4 orang anak (Ketua (Shiddiq), Angga (Sekretaris), Daffa (Waka), dan Anton (Pencatat) untuk tampil di depan kelas. Mereka akan membantuku dan teman-temannya dalam tahfidz kali ini karena aku akan mengajak Amel ke UKS.

Dari kejauhan, mereka berempat telah mengambil alih peran yang aku berikan. Kelas sudah terlihat tertib. Pengulangan tahfidz surat berlanjut, entah sudah berapa ayat yang mereka suarakan.
“Nak, Bunda kali ini ingin mengajarkan kali bertanggung jawab dengan apa yang diberikan pada kalian. Kalian akan merasakan bagaimana berdiri menjadi seorang ustadz atau bunda. Bunda percaya kalian bisa. Bunda akan memberikan waktu 30 menit untuk tahfidz sendiri, insya Allah 30 menit yang lain Bunda yang handle,” kataku. Aku hanya bilang ke patnerku,
“Ustadz, biarkan mereka tampil di depan. Ustadz lihat saja mereka. Tiga puluh menit berikutnya saya akan isi,” kataku sambil berlalu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: melianaaryuni | 1 November 2009

Hisyam, Ummi lagi Tidur…

Ponakan kecilku sedang bermain sendiri. Seperti kebiasaanku, kalau sudah pulang dari aktivitas atau kangen sama ponakanku itu, aku akan mendekatinya dan kucium-cium sampai dia nangis. Emak suka marah kalau aku melakukannya. Aku sih santai aja karena kalau ponakanku itu nangis, kan ada umminya yang siap sedia hehehe.

Image and video hosting by TinyPic

Wajahnya sudah kelihatan memerah. Pipinya yang gembul dengan bintik air kecil seperti keringat malam ada disana. Mulutnya menguap beberapa kali dan umminya…Kemana perginya ? Ternyata si ummi sedang tidur. Umminya begitu lelah, maklum ini adalah anak yang pertama. Ponakanku mulai menangis, dalam tangis yang mulai terdengar kuangkat dia dari ranjangnya. Wajahnya berubah, kadang terlihat ingin menangis, berubah tersenyum, lalu kembali menangis lagi. Nah, kalau sudah seperti itu dan aku sedang tidak ingin membangunkan umminya, aku akan menggendong Hisyam si bayi mungil.

Baca Lanjutannya…

Oleh: melianaaryuni | 1 November 2009

Sebuah Kisah Anak Tuna Rungu (solusi dan solusi)

Judul :I Can (not) Hear
Penulis : Feby Indirani dan San C.Wirakusuma (praktisi auditory verbal dan konsultanSpecial Education)
Penerbit : Gagasmedia, Jakarta. 2009

Buku ini berisi kisah nyata seorang ibu yang mendapatkan anak dalam keadaan Tuna Rungu namun berusaha untuk membuat anaknya ‘tidak tuna rungu’. Kisah perjalanan seorang warga negara Indonesia yang menikah dengan orang China dan tinggal di Hongkong. Gwen, anaknyalah yang menjadi penyemangat hidupnya dan dia tidak akan membiarkan Gwen dalam keadaan tuna rungu.

Ibu mana pun akan sedih jika anaknya hidup dalam keadaan yang kurang dari anak normal lainnya, termasuk ibunya Gwen. Kelahiran seorang anak dalam keluarga adalah idaman termasuk ibu ini, tapi ketika beberapa bulan Gwen lahir, ada keanehan yang terjadi pada diri Gwen.

Gwen lahir dengan bobot 3 kg dan panjang 49,5 cm. Gwen tumbuh seperti bayi lainnya. Pada usia 1,5 bulan dia sudah bisa tertawa cekikikan. Usia 2 bulan, dia sering mengoceh,”Buuuu” atau “Baaaa”. Pada usia 5 bulan, dia mendadak memiliki kebiasaan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, namun ketika sang ibu mencium telinganya, ada aroma yang berbeda. Telinga Gwen mengeluarkan bau dan ketika dikeluarkan dengan cotton bud, tidak ada kotoran yang keluar. Saat dibersihkan, Gwen tidak menangis sama sekali.

Gwen berkarakter begitu tenang, sehingga ketika ada topan (usianya menginjak 4 bulan), dia tidak terganggu dengan suara-suara akaibat topan, malah tekun menatap TV dan tidur di pangkuan ibunya. Sang Ibu membawanya ke dr. Chung. Ketika ada suara gemerincing dibunyi dokter, Gwen menoleh sebentar karena melihat mainan itu, bukan suaranya, saat itu usianya 6 bulan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: melianaaryuni | 30 Oktober 2009

Hamster Kecilku

Karya : Tiara Afdely Putri, siswi kelas IV Ibnu Abbas SDIT Al Furqon Palembang

Pada suatu hari ada seorang perempuan bernama Chyntia. Dia mempunyai hewan yang sangat lucu. Dia itu kecil seperti marmut. Dia adalah hamster. Hamsternya Chyntia sangat lucu. Dia merawatnya denga sangat baik. Mulai dari memberi makan dan memandikannya. Chyntia sangat senang mempunyai hewan yang lucu sekali. Dia pun selalu dipuji temannya karena dia mempunya hewan yang sangat lucu. Dia selalu ikut kemana pun Chyntia pergi

Suatu malam ia sedang belajar hingga pukul 22.30 WIB. Ia membereskan buku dan menyiapkan baju. Pukul 05.35, Sweety, hamster Chyntia belum bangun juga. Sweety mendapat ide. Ia naik ke atas perut Chyntia lalu bergerak-gerak. Chyntia pun terbangun dan kaget lalu mengangkat Sweety dari perutnya dan memasukkannya ke sangkar. Chyntia pun segera mandi dan sarapan lalu berangkat ke sekolah. Chyntia sangat senang mempunyai hamster yang lucu.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori