Menjadi Ibu Sepenuhnya


Sudah setengah semester aku tinggalkan pekerjaan yg kugeluti sekitar lebih dari 9 tahun,yaitu mendidik anak di tingkat sekolah dasar di kotaku.Sebenarnya keinginan ini sdh lama ingin segera kurealisasikan saat anak pertamaku lahir, namun dengan hati yg penuh kesedihan kutanggalkan keinginan itu.

Keinginan kuat itu semakin menjadi-jadi saat anak ke duaku akan lahi.Hanya ada satuu keinginan,”Aku akan bersama anakku.Aku tahu Allah akan memberikan jalan keluarnya. Betapa sakit rasanya hendak melahirkan dgn kecamuk pikiran yg blm ada pengasuh,asi eksklusif, tmn sejawat,instansi tmpt krja,dan berbagai pikiran lain.

Di tengah kegalauan hati dan pasrah setelah mencari pengasuh yg bs membantu di rumah,Allah selipkan suatu kekuatan untuk mengikhlaskan sesuatu yg berat untuk ditinggalkan.Dia menjawab kegundahan dgn kabar gembira untuk suamiku, yaitu menjadi guru di daerah wisata yg indah.Allah jg membalas semua kesewenangan yg dirasa kurang manusiawi kepada suamiku. Dengan tekad yg kuat kuserahkan surat resign,namun aku akan selesaikan tanggung jawabku sebagai karyawan.Aku tidak lg hrs berlari-lari memberi asi kepada anakkku atau dibicarakan teman dari belakang kebiasaanku yg pulang memberi asi kepada si adek.Mungkin sebagian ibu pekerja bs mentolerir beban kerja shingga pemberian asi eksklusif tdk dipikirkan sementara instansi tidak memberi waktu untuk bs bersama anak.Ya namanya pekerja seperti itulah..harus nurut.Hak anak yg semestinya tertunaikan malah tergadaikan oleh mekanisme ribet dan tidak adanya ruang asi di tempat kerja(tenyata stelah resign aku baru dpt UUD Pemberian asi eksklusif).Tho kita tidak mengganggu kerja dan semua pekerjaan kita selesaikan.Apa ada yg peduli atau membesuk jika anak kita sakit?Bertanya kabar pun tidak,yg ada senyum sinis.Miris ya.

Setelah resign seorang teman bertanya,”Gimana nyesel ga resign?”Dengan tegas kujawab,”Alhamdulillah aku senang bs bersama anak2 dan mengetahui perkembangan mereka.” Betul menjadi pekerja sekaligus ibu adalah sesuatu banget apalagi jika jam kerja dari jam 7 sampai setengah 4 sore.Salut untuk wanita yg bs seperti itu tetap terjaga hubungan dgn keluarga dan diri sendiri. Kalau aku tidak bs.Pagi2 ribet dgn kerjaan rumah setelahnya sampe sore sdh ribet dgn tugas kerja.Sore hari pulang dgn membawa keletihan dan untuk ketawa saja tidak bisa. Yg ada hanyalah helaan napas panjang pdhl anak sudah menunggu untuk diberikan kasih sayang.Kasih sayang yg diberikan akhirnya hanya sebatas mata yg redup dgn sorot mata keletihan apalagi ada beban tugas menumpuk untuk segera diselesaikan.Sampai-sampai diriku sendiri berkata,”Sungguh tega kau dgn anakmu yg kecil.Susah kau mengandung dan melahirkannya kini kau sia-siakan.Kau suruh org lain mendampingi mereka hingga sore.Kalau saja mereka bisa bicara dgn kata-kata,mungkin sdh banyak kata-kata sedih yg bs mereka keluarkan untuk kepergianmu meninggalkan mereka hingga sore hati.Untung saja kamu hanya melihat sorot matanya yg menyedihkan,atau tangis yg segera teredam dan ucap-ucap sederhana dari beberapa kosakata yg mereka ketahui saja saat kau pergi bekerja.Demi apakah kamu bekerja jika psikologis anak2mu terganggu?Sebanyak apa pun uang yg kau punya jika hati anakmu sdh terluka atau jiwanya sdh terganggu..semua itu tidak akan bs menggantikannya.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | 2 Komentar

Terluka dan Terlupa

Tuan,kau tahu rasa perih
Rasa yang timbul saat kau terluka?
Saat tiada yang peduli denganmu?
Nyonya,kau tahu kan rasanya jika kata-kata bisa membuat hatimu sakit?
Saat kata yang terucap dengan gamblangnya kau utarakan
Hai kanda,tahu kah kau jika sikapmu membuat pilu hatiku
Kala kau seenaknya berujar seolah kau benar?
Cukuplah kiranya aku kau perlakukan seperti itu..
Sekarang,aku tidak ingin terluka
Aku tidak ingin terlupa
Aku tidak akan membiarkan kalian terlupa padaku atau pada yang kalian lakukan padaku
Jangan tambah luka di hatiku
Jangan torehkan lagi kepahitan dalam hidupku
Aku ingin semua bersih
Meski belum sembuh..luka itu mulai membaik

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Tag , | 3 Komentar

Kok Berubah

Allah telah ciptakan pasangan untuk hamba-Nya,entah itu di dunia atau nanti di alam akhirat.Tidaklah mudah mencari pasangan yang ideal bagi kita.Banyak sekali ‘ketidakeidealan’ pasangan kita saat berumah tangga,namun apakah karena hal itu kita berubah kepada pasangan kita?
Rasanya tidak adil saat perubahan yang terjadi dgn pasangan setelah mempunyai beberapa anak atau setelah bertahun-tahun hidup bersama,namun hal itu sering terjadi dan tentu saja contoh yang mudah kita pantau adalah dari kalangan publik figur.Berpuluh-puluh tahun menikah dan anak sudah besar-besar tiba-tiba cerai.Naudzubillah.Mengapa hal itu bisa terjadi?
Perubahan dari satu pasangan pasti berasal dari pasangannya.Dulu dia suka terbuka tentang permasalahannya,sekarang kok nggak ya.Dulu dia ringan tangan mengerjakan pekerjaan rumah,sekarang kok sulit sekali dimintai pertolongan.Dulu kalau ada waktu sedikit aja selalu bermesraan,sekarang boro-boro bermesraan..ditanya aja mau marah.Perubahan sikap dan kebiasaan inilah yang kadang disikapi negatif dari pasangan padahal mungkin dengan adanya perubahan itu kita bisa belajar lebih banyak lagi tentang pasangan kita.
Kita bisa memulainya dengan berpositif thinking dulu dengan apa yang berubah dari pasangan kita.Oh,dia tidak terbuka dengan pernasalahannya karena tidak mau menjadikan hal itu sebagai beban pikiran kita.Dia tidak ringan tangan karena terlalu banyak yang dilakukannya dan dia ingin beristirahat sejenak dari keletihan.Namun,jika yang ada dalam diri kita adalah sesuatu yang negatif,maka akan terciptalah suasana rumah tangga yang selalu uring-uringan.

Untuk menjadikan rumah tangga yang harmonis bukanlah mudah,semangat untuk terus bersama dalam kebersamaan adalah penting ditimbulkan dengan pasangan.Sekecil apa pun yang terjadi dalam berumah tangga pasti ada pemecahan masalahnya.Segera mencari pemecahannya jika timbul permasalahan.Jangan biarkan setan menguncang rumah tangga kita karena permasalahan yang sepele dan jangan pula menganggap sepele suatu permasalahan karena tidak semua pasangan berpikiran bahwa permasalahan itu tidak besar seperti apa yang kita pikirkan.Bersikap jantan/perawan jika kita tidak menyukai apa yang pasangan kita lakukan dengan mengatakannya langsung.
Untuk perubahan selanjutnya,memintalah kepada pemilik hati semoga hati pasangan kita berubah menjadi lebih baik.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Belajar Toilet Training

Saat waktu berlalu..
Ketika dia tertidur lelap di sampingku lalu memanjangkan tubuhnya sambil bergumam. Botol susu yg sdh menemaninya sejak beberapa bulan yg lalu menyisakan kesedihan hati seorang ibu.Belaian yg kuberikan hanya untuknya kini telah terbagi dgn adik yg ada di dalam perutku.Ibu yg mengalami keadaan sepertiku pasti tahu bagaimana tarik ulur menyapih anak yg sebetulnya belum pantas disapih,namun di luar rencana.Allah-lah yg menentukan.Perlahan benar kulakukan penyapihan hingga hampir setengah bulan anak pertamaku rewel.Bukan kehendaknya rewel,tapi kebiasaan barulah yg membuat anakku itu memberontak.

Alhamdulillah sekarang anak pertamaku sdh berumur 1 thn 5 bulan dan sebentar lagi dia akan bertemu dgn adik yg disayangnya setiap hari,mau bangun atau tidur atau pun bermain. Penantian yg panjang bagi anakku juga bagiku,namun di saat penantian itu tiba,anak sulungku sdh belajar toilet training.Dengan perut yg besar aku harus mengejarnya dan terus berkata,”Mb ntar eek dan pipisnya di kamar mandi ya.” Pernah suatu ketika aku melepaskan diaper bukan di kamar mandi,eh si mbak malah melihat saja air pipisnya mengalir.Aku tertawa lalu berkata,”Nah mb,ini yg namanya pipis.Ntar pipisnya di kamar mandi ya.” Juga sewaktu dia mengatakan ‘eek’ dgn jelasnya,malah yg keluar adalah pipis. Si mbak belum bisa membedakan antara pipis dan eek.Sulit sekali rasanya bangkit dari tempat duduk saat si mbak berkata eek, tapi semua itu ada baiknya. Setelah beberapa kali dia berkata seperti itu..si mbak jadi tahu perbedaan di antara keduanya. Alhamdulillah dan insya Allah ketika adiknya lahir si mbak sdh pandai dalam toilet training.

Kunci sukses dalam toilet training si kecil kita:
1.Niat yang kuat untuk terus mengajarkan toilet traning
2.Komitmen dgn pasangan untuk segera memenuhi panggilan si kecil walaupun hanya sekali dia menyebutnya
3.Katakan kata perintah yg sama saat dia berkata ‘eek/pipis’,misalnya:”Mbak eek-pipisnya di kamar mandi ya”, “Masuk kamar mandi kaki kanan ya,” dsb.
4.Untuk diawal jgn tanyakan”Benar mbak eek?” karena akan membuat dia tidak percaya diri.
5.Biarkan dia menyenangi berlama-lama di kamar mandi krn itu adalah imbas yg biasa terjadi.
6.Pujilah,peluk,dan ciumlah dia saat dia bisa pipis dan eek di kamar mandi.
Semoga tulisan ini bermanfaat meskipun berasal dari pengalaman pribadi.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Tag , , , | 4 Komentar

Perkembangan Ilma 15 Bulan

Perkembangan Bahasa;
1.Sudah pandai memanggil ummi(mimi),abi(bibi),nenek.
2. Sudah mengerti kata perintah”Tolong ya mbak..”.
3. Sudah mengerti mengungkapkan rasa dengan kata ‘nggak’ atau ‘iya’.
3. Sudah tahu kondisi sesuatu scr sederhana dengan mengungkapkan ‘ada’ atau ‘nggak ada’.
4. Suka berceloteh yang ga jelas maksudnya seperti dia bercerita dgn diri sendiri.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar