Ingat Do’a si Anak

Setelah membaca isi pesan dari seorang napi luar negeri yg memprotes perilaku buruknya akibat didikan dari orang tua,terutama ibu membuatku mengingat kembali.
Adalah betul bahwa pendidikan utama itu berasal dari ibu karena kelekatan anak telah terjalin sejak anak belum dilahirkan.Namun,kelekatan itu akan berangsur menjauh ketika anak sudah belajar mandiri.Saat kelekatan dgn anak masih erat,peran ibu sangat penting untuk menanamkan akhlak dan perilaku yang baik.

Katakan benar jika perilaku yang muncul adalah perilaku baik dan benar,maka pujilah mereka.
Katakan salah jika dia melakukan kesalahan.Jangan sungkan menyatakan salah dan coba untuk membetulkan yang salah itu.Bila memang dibutuhkan hukuman,lakukan asalkan dalam batas wajar.

Menjadi orang tua itu tidak mudah, membesarkan dengan kasih sayang yang benar itu sangat sulit.Apalagi bagi ibu,setelah menghukum kadang air mata mengalir.Penyesalan yang muncul setelahnya dan meminta maaf jika memang melegakan ibu,maka lakukanlah.

Tahukah teman-teman,dulu kerap kali ibu kita memarahi kita,kerap kali kita lakukan kesalahan. Itu semua berasal dari ketidaktahuan kita. Nah,pada saat itulah peran ibu sangat penting (karena dia selalu ada di samping), ibu bisa memberitahukan kesalahan yang kita lakukan. Setelah ibu berbicara,persilahkan anak untuk bertanya atau paling tidak ibu tanya,”Sudah mengertikah?” Jika mereka (anak-anak) belum memahami apa yg ibunya katakan,anak yg kritis akan bertanya banyak hal. Si ibu harus legowo menerima pertanyaan dan menjawan pertanyaan itu tidak dengan emosi.

Kita lahir dari rahim ibu yang kuat.
Kita bisa menjadi hebat di tangan ibu yang luar biasa dan tahan banting menghadapi tingkah laku kita disaat kita belum tahu apa-apa.

Kiranya ada ibu yang jahat,saya kira dia tidak sejahat yang kita kira. Namun,kejahatan yang diakibatkan dari seorang ibu yang ‘baik’ternyata berdampak kelakuan jahat sepanjang hidup anaknya. Hal itu tidak disadari banyak ibu sehingga menjerumuskan si anak dalam ruang kematian. Jika saja didikan org tua dari neneknya si anak baik, maka ibu itu akan menjadi baik.

Alangkah indahnya saat anak bisa berkata ‘maaf’,’makasih’,’sama-sama’,’tolong’ dalam kesehariannya. Semuanya itu diajarkan dari rumah,dari seorang ibu yang baik. Namun, saat ibu atau ortu tidak melakukan atau mengucapkan yang baik,anak pun ikut serta.

Setelah sholat dua do’a yang selalu dilantunkan anak.
“Allahumma firli waliwalidaya warhamumma kama robbayani shoghiro.”
—Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orgtuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil—
Jadi seperti itulah, mereka (anak-anak) lekat sekali dlm ingatan mereka akan kasih sayang org tuanya sewaktu dia kecil.Kenapa mereka tidak berdoa ‘sewaktu remaja atau dewasa bahkan tua? Karena di masa kecil,keberadaan org tua sangat dibutuhkan.Org tua sebagai pusat segalanya.Bagi anak ketika mereka tidak bisa apa-apa,org tua selalu ada dan menjadi pahlawan bagi mereka.

Pesan terakhir,warnailah kehidupan mereka semasa kecil dgn kebaikan. Kenalkan mereka tentang semuanya karena ketika tua pun mereka akan menyayangi kita sama seperti doanya.
Wallahu’alam.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Angggi..Sudah Lama Kutunggu

Ceritanya ni si ummi lagi senang2nya sama anggrek. Setiap hari ke kebun,cuma mau periksa anggreknya.Apa sdh berbunga atau medianya sdh kering. Nah,sewaktu sore kmrn, si abi pulang dgn wajah sumringah sambil teriak,”Ummi,sinilah dulu.Biasa,si ummi kl ngeliat abi pasti liat apa yg ada di tangannya (berasa masih kecil,seneng banget kalau liat emak pulang dgn bawa bungkusan di tangan). Langsung buka pintu,trus ambil seumpruk anggrek di tangan abi. Abi yg basah kuyup malah dicuekin,anggi yg diambil,dilihat,dipegang. Dasar,kalau sdh suka tuh, ya gitu.Semua terlupa.

Anggi yg ini adalah jenis baru yg kupunya.Aduh,senengnya.Kulihat lg anggi yg baru itu.Wow,masya Allah,daunnya tebal. Penampakannya mirip daun sirih/merica,tapi tebalnya bisa 0,5cm kuranglah.Keren. Sampe segitunya ya si ummi suka sama anggi. Sederhana bener kesukaan ummi,tapi kesukaan itu bernilai jual lho. Lah iya,dari suka sekarang jadi bisnis.

Dalam sebulan,ada aja kolektor dan pecinta anggrek pesan disamping pesan bibit stroberry juga. Hehehe, si ummi nggak nganggur aja nih. Lumayan,bisa beli susu anak kata orang.

Jika sewaktu-waktu si ummi mau post cerita cinta si anggi ya. Semoga anggrek spesies Ranau ini bisa menjadi idola dan rebutan orang nantinya.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Cb

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Bersyukur Hidup di Desa

Baca status teman-teman yg seliweran di beranda fb dan wa sebagian menuliskan tentang asap dan banyak sekolah yg diliburkan karena hal tersebut. Miris ya, tapi itu kenyataan yg harus dihadapi para warga kota. Mereka harus berjibaku dgn asap setiap harinya karena musim hujan belum juga turun. Kalau pun hujan turun, itu karena dibuat oleh ahlinya. Para penduduk kota ditantang untuk sehat dalam kondisi asap kebakaran hutan, kebakaran rumah, atau asap kendaraan di jalanan yg penuh kemacetan.

Sekuat apa pun penduduk kota mencegah dampak asap bagi diri sendiri, mereka pasti terusik karena setiap hari mereka rasakan. Disinilah aku merasa bersyukur tinggal di desa/dusun. Disini kendaraan masih langka, paling pada hari kalangan kuantitasnya sedikit bertambah. Itu pun tidak lebih dari 20 setiap menitnya seliweran di jalan besar. Asap kebakaran hutan pun tidak nampak. Namun, pagi-pagi, ketika udara memang sedang dinginnya, jarak pandang pun cuma beberapa meter karena pekatnya kabut dingin.

Di desaku, fenomena gunung tinggi di kiri dan depan rumah menghilang, lalu muncul kembali ketika matahari sudah agak tinggi selalu ditemukan. Terbitnya matahari nampak indah terlihat jelas. Udara bunga kopi dan rumput segar yg tertimpa embun selalu dirasakan. Maka, hati ini berseru,” Fabi ayyi alaa robbikuma tukadzdziban, nikmat mana lagi yg kau dustakan!” Namun, sebesar apa pun nikmat yg diberikan Allah kalau tanpa syukur, yg ada adalah rasa ‘kurang’.

Di desaku, tomat harganya murah banget begitu pun sayuran sawi bahkan banyak yg terbuang (ini yg membuatku sedih). Coba kalau di kota, semuanya beli. Kita yg tidak punya kebun nanti diketuk pintunya oleh tetangga yg sedang panen. Alhamdulillah buncis, kacang panjang, tomat, sawi gratis. Enak tho?

Di desaku tanahnya subur sehingga untuk beberapa sayuran dan buah bisa dibudidayakan sendiri. Tanamannya bebas pestisida dan kimia ya. Coba kalau di kota, selain beli semua, pemakaian pupuk kimia dan pestisida mestilah dilakukan petani. Memang kalau enaknya, meskipun di desa menanam sendiri lebih sehat dan menyenangkan.

Di desaku, air mengalir tanpa meteran kubik dan tidak berbayar. Pemakaian beberapa pun silahkan saja asal kalau air gunung atau sungainya mati siap-siap aja mencari penyebabnya sampai masuk hutan. Biasanya air mati karena pipa bocor di beberapa tempat atau tertinjak babi hutan. Airnya sejuk atau bisa dikatakan dingin banget dan punya mental yg kuat buat mandi pagi kalau tidak diberi air panas. Bersyukur sekali aku nggak mikirin uang buat air, cukup mikirin listrik yg naiknya terus-terusan tanpa pemberitahuan.

Di desaku kalau ada kerjaan nikahan atau lahiran/ khitanan acaranya semingguan dan tetangga memang nolong banget. Tuan rumah hanya duduk diam, tapi mesti siap budget yg banyak buat acara. Pulang acara, dibawa sanggu/berkat. Enak kan?

Di desa pemandangan indah gratis didapat, di depan rumah dan samping rumah sdh bisa dijadikan tempat rekreasi kok.
Wallahu ‘alam.

Teman-teman jangan sedih ya.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Saat Anak Sakit

Saat anak sakit, rasa badan pun ikut sakit. Betapa iya, tidur jadi tak teratur. Yang mestinya tidur, mata jadi melek karena anak rewel. Semua yg terjadwal dan tereencana buyar. Karena anak sakit, ibu mestilah kuat dan jangan sakit. Jika tidur terganggu membuat ibu sakit, maka siapa yg mengurus anak-anak yg sakit. Untuk itulah seorang ibu harus jadi sosok ‘hebat’ dibanding ayah.
Menjadi kuat bagi seorang wanita yg disebut ibu adalah suatu keharusan. Banyak pekerjaan berada di pundaknya.

Xd saat anak 666ř, masih banyak pekerjaan yg ubisa dilakukan para ibu mestipun tidak sebanyak ketika anak sehat. Anak-anak, suami, dan rumah tangga masih dalam keadaan aman. Namun, ketika ibjju sakit,h apa yg terjadi pada ketiga objek itu? Apakah anak-anak aman-aman saja dgn makanan yg dimasak si ayah? Ayah yg kebingungan menghadapi anak-anaknya? Rumah tangga berantakan dan serba kotor?

Jadi, beruntunglah menjadi seorang ibu karena tanpa ibu lihatlah banyak sekali yg tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah. Menjadi seorang ibu itu betul-betul ladang pahala besar sehingga pantaslah Allah meletakkan An Nisa dalam salah satu kalam-Nya. Lihatlah banyak anak-anak hebat dibesarkan hanya dari seorang ibu yg sholehah.

Muhasabah saat ketiga anak-anak sakit. Kerja sama antara ibu-ayah sangat penting agar kedua-duanya tidak kolaps dan semua tugas terselesaikan. Jangan ragu untuk membantu pasanganmu meskipun dia tidak memintanya langsung. Pedulilah sehingga kecintaan dengan pasangan akan bertambah. Bersabarlah karena Allah ingin kita terus mengingat-Nya dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya. Sakit itu datang dari Allah dan mudah bagi-Nya untuk menyembuhkan. Jangan sekali-kali berkata,” Cobalah aku saja yg sakit,jgn anakku!” Ingat Allah tidak perlu didikte dgn kata-kata seperti ini. Ikuti saja dan berusaha untuk sembuh sehingga kasih sayang-Nya akan kita rasakan.
Wallahu’alam.

Selamat mencintai dan menghargai pasangan kita ya ☺

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar