Beneran nih?

“Ummi, kok dimatikan sih lampunya?”

“Boros!”

“Abi kan lagi di kamar mandi. Gelap tahu…!”

“Hehehe…oh, maaf Ummi lupa. Kirain tidak ada orang,” aku tertawa karena berhasil mengerjain suamiku.

“Udah, nyalain dulu. Perih nih mata!”
Aku nyalakan saklar listrik kamar mandi.

“Coba kalau Abi sabunannya tidak bersih gara- gara gelap. Abi gatal- gatal, Ummi pasti ngomel- ngomel. Iya kan?”

“Iya…iya…sudah nyala tuh. Mandinya yang cepat. Bayaran listrik kita naik bulan ini!”
Aku tak kalah sewotnya dengan suamiku.

Pandemi covid ini ternyata memberikan cobaan besar untuk kami. Saat semua dapat BLT, listrik gratis, bantuan ini- itu, kami hanya menggigit jari. Ya, mungkin kami dianggap mampu dari yang lain padahal baru seminggu uang gaji suamiku sudah ludes.


“Abi, buruan!”

“Apa sih?”

“Kata pak kadus, kita disuruh datang ke balai jam 9 ini!” Aku baru saja mendapat telepon dari pak Kadus.
” Tumben, pak Kadus meneleponku.”

“Buat apa?”

“Entah. Mungkin mau dapat duit semilyar,” aku berbisik di telinga suamiku.

“Ah, mana ada?”

“Sudah, pergi sana! Lihat dulu. Barangkali mimpi Ummi semalam jadi kenyataan!”

“Ah, Ummi. Memang Ummi mimpi apa semalam?”

“Mimpi Abi ketimpuk 2 karung uang.”

“Huh, Ummi. Kalau mimpinya gitu, matilah Abi!”

“Uh, janganlah cinta! Ummi nanti tidak ada temen berantem dong!” bujukku manja.

“Yo wes lah. Abi berangkat. Semoga 2 karung uang itu nyata ya, Mi.”
Suamiku pergi dengan penuh senyuman. Bukan senyum 2 karung uang, tapi senyum mengingat centilnya si istri.


Di depan balai nampak sepi. Suasana yang berbeda yang kulihat saat para tetanggaku menerima bantuan- bantuan dari pemerintah.

“Oh, pak Joni sudah datang ya,” sambut pak Kadus.

“Iya nih Pak. Istri saya bilang untuk datang ke sini jam 9. Ada apa ya Pak?”

“Lho, belum ada yang menghubungi pak Joni ya?”

“Tentang apa ya Pak? Hp saya tadi baru di charge.”

“Pantas, saya tadi menghubungi nomor Bapak. Karena tidak bisa, saya menghubungi nomor istri Bapak.”

“Iya, maaf ya Pak. Memang ada apa ya Pak?”

“Tadi ada yang melapor ke rumah saya. Katanya Bapak berhasil memenangkan undian. Hadiahnya dua karung uang ini.”

Aku sedikit tidak percaya dengan ucapan pak Kadus, tapi dua karung itu benar- benar ada! Sekarang karung beras ukuran 10 kg itu sudah ada di depanku! Ya Allah, mimpikah ini?

“Silahkan Bapak buka untuk memastikannya!”

Aku mencoba membuka tali yang mengikat karung.
“Masya Allah, apakah aku mimpi pak Kadus?”

Pak Kadus tersenyum melihat tingkahku yang memegang bertumpuk uang pecahan 50 ribu dari dalam karung. Aku mengerdip- ngerdipkan mataku untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan.

“Sudah, Bapak bawa saja pulang. Ini rezeki Bapak dan keluarga.”
Pak Kadus menepuk pundakku. Kuambil segepok uang untuk dibawa pulang pak Kadus. Apalah arti segepok bagiku. Aku masih punya banyak gepokan uang di 2 karungku yang lain.

“Ummi! Ummi!”

“Kok tidak ngucap salam sih, Bi?” Aku menangkupkan dua alisku.

“Iya. Assalamu ‘alaykum.”

“Wa alaykum salam wrwb. Itu apa, Bi?” Mataku langsung tertuju pada 2 karung yang dijinjing suamiku.

“Bi, beneran ini? Ini kan mimpi Ummi. Kok jadi nyata sih?”

“Beneran Ummi. Abi juga tidak menyangka. Cobalah Ummi lihat!”

“Masya Allah, iya Bi. Ini uang! Pasti ini mimpi!” Kulihat suamiku menggeleng. Ah, tidak mungkin mimpiku jadi kenyataan!

“Dah, kalau begitu kita bayar zakatnya dulu Bi. Terus, kita shodaqoh sama keluarga dan tetangga. Bisa juga ke rumah yatim. Setelah itu, Ummi mau beli mobil Bi. Kasihan kalau anak- anak kehujanan dan kepanasan naik motor ke tempat ibu.”

“Iya deh, terserah Ummi saja! Abi capek. Abi istirahat sebentar ya.”

“Ok Abi. Nanti Ummi hitung dulu uangnya.”

“Apa Ummi tidak ada kerjaan ya?

“Kerjaannya lagi asyik melototin uang aja nih Bi.”

“Teruskan, Ummi! Abi ngantuk.”
Suamiku masuk kamar. Aku melihat dia memang lelah. Na Mungkin dia lelah menjinjing dua karung uang tadi.


“Aih, pagi ini muka Abi kok sumringah gitu?”

“Hehehe…Abi lagi senang, Ummi!”

“Bagi ceritanya dong!” pintaku.

“Malam tadi Abi tadi mimpi bagus banget, Mi.”

“Mimpi apa sih, Bi? Buat penasaran saja,” rengekku.

“Abi mimpi dapat 2 karung uang, Mi! Beneran isinya uang semua!”

“Kok, mimpi kita sama dan nyambung lagi ya, Bi. Ummi juga mimpi dapat 2 karung uang juga. Apa ini pertanda kita akan dapat 2 karung uang ya Bi?”

“Ih, Ummi. Mana ada zaman sekarang orang ngasih uang berkarung- karung. Itu cuma mimpi, Ummi.”

“Ya, sudah. Kalau begitu, Ummi mau mimpi lagi ah biar bisa sumringah juga seperti abi. Dah, Abi!”

Aku meninggalkan suamiku di meja makan, sedangkan aku ingin melanjutkan mimpi yang belum selesai itu.

Semoga hikmahnya bisa dipetik ya.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Adzan

Allahu akbar…allahu akbar…
Allahu akbar…allahu akbar
Asyhadu allah illahaillallah
Asyhadu allah illahaillallah
Asyhadu anna muhammadar
rosulullah
Asyhadu anna muhammadar rosulullah

Speaker masjid kami sepertinya sudah diganti. Suaranya nyaring sekali. Biasanya aku hanya mendengar sayup suara muadzin. Ya, kata suamiku suara adzannya kecil karena speakernya rusak.

Aku mengajak anak- anak sholat. Kumatikan TV dan segera mengambil wudhu. Aku merasa dingin sekali air hari ini. Kuambil sedikit air lalu kuusapkan dengan telapak tanganku ke muka, tangan, kepala, telinga, dan kaki.

Sebenarnya aku tahu, seperti itulah sunnahnya berwudhu, tidak berlebihan dalam memakai air. Namun, aku kadang menganggap memakai air sedikit tidak bisa membersihan diri dari kotoran. Ah, aku kan bukan mau mandi! Hanya berwudhu, pikirku waktu itu.

Keluar dari kamar mandi, terdengar lagi dari speaker mushola di seberang jalan.

Allahu akbar…allahu akbar…
Allahu akbar…allahu akbar…

“Itu kok adzan lagi? Untung saja aku belum sholat.”

Aku segera sholat. Aku takut terkentut karena memang aku orangnya kentutan. Aku malu. Kutunaikan sholat zuhurku di siang itu. Leganya aku bisa mengeluarkan kentut saat salam ke kanan. Berasa enak dan melayang. Ih, jorok bangey ya aku.

Kulipat sajadah dari kanan ke kiri dan kugantungkan mukenahku.

Allahu akbar…allahu akbar…
Allahu akbar…allahu akbar…

Terdengar kembali adzan dari mushola yang lain lagi. Jarak mushola itu cukup jauh dari rumahku. Ah, mungkin speakernya bagus. Jadi suaranya terdengar lantang.

Tunggu dulu, selisih 30 menit dari adzan pertama. Astaghfirullahal adziim. Apa aku harus mengulang sholatku lagi? Aku menggeleng kepala.

“Kok, satu wilayah adzannya tidak tepat jadualnya sih!” Aku menggerutu dengan suamiku. Aku perhatikan yang ini selisihnya jauh banget.

“Ya, mungkin mereka tidak tahu jadualnya,” ucap suamiku singkat.

“Mungkin juga, tapi bagaimana sholatku tadi?”

“Itu urusan Allah. Yang penting sholat. Udah, suruh anak- anak tidur siang. Nanti keburu ashar!” Aku memanggil anak- anak masuk ke kamar dan membimbing mereka untuk berdoa.

Awal tidur itu memang susah. Mereka harus belajar untuk menidurkan diri mereka sendiri dengan berpura- pura tidur. Setelah beberapa menit berpura- pura tidur, barulah mereka bisa tidur nyenyak sampai sebelum ashar. Aku pun ikut tertidur.

Untung aku bangun lebih dulu dari mereka. Nasi di magic com sudah habis. Aku harus menanak nasi sebelum jadual makan mereka.

Allahu akbar…allahu akbar
Allahu akbar…allahu akbar
Adzan ashar terdengar. Segera kuambil wudhu dan menyelesaikannya.

Permintaan nasi goreng dari anak bungsuku membuatku harus berjibaku dengan memasak lagi padahal aku paling malas masak dua kali untuk satu hari. Lauk dimasak untuk pagi sampai sore. Jadi, sore aku hanya mengurus makan dan mandi para bocah saja.

Bawang putih, sayur kurajang kecil dan aku mulai menggoreng. Kutambahkan rebon dan telur. Ah, sedaplah itu bagi anak- anakku!

Allahu akbar…allahu akbar
Allahu akbar…allahu akbar

Aku melihat jam dinding yang bertengger di dinding dapur. Jam 16.40.
“Ya Allah, ini hampir maghrib!”
Aku ke depan menghampiri suamiku yang sedang asyik dengan hp-nya.

“Kok, adzannya jam segini ya. Apa nggak salah?”

“Kalau di sini, baru ada orang yang adzan kalau waktu pulang dari kebun. Ayah saja dimarah kalau adzan jam 3-an padahal itu jadualnya.”
Aku mengerutkan dahi. Betul- betul aneh. Tiap mushola jadual adzannya yang berbeda.

“Itu masih mending. Ada satu tempat yang tidak ada adzannya!”
Aku melonggok mendengarkan penuturan suamiku.

“Masa’ sih?” Dahiku berkerut mendengarnya seakan tak percaya.

“Padahal di sana penduduknya sudah banyak.”
Aku tambah bingung.

“Mestinya ada yang beradzan, kan?”

“Iya, tapi entah mengapa di desa itu adzan dilarang padahal pada saat adzan dikumandangkan, setan- setan akan tunggang langgang meninggalkan tempat yang terdengar suara adzannya.”

Aneh, tapi itulah yang terjadi di tempat kediamanku sekarang. Pernak- pernik kehidupan yang tidak pernah kujumpai dulu, di sini aku temukan.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Hujan

Apa yang kau ingat saat hujan tiba- tiba turun? Yang kuingat adalah jemuran sudah diangkat atau belum. Ya, karena sekarang aku adalah seorang ibu rumah tangga, itulah yang aku pikirkan. Namun, ketika kau tanyakan padaku saat usiaku 6/7/8 tahun tentang hujan. Aku akan menjawab hujan itu mandi di luar.

Byurrrr….Dingin.

Rintik hujan yang mulai terdengar di atap seng rumahku. Suaranya kian lama kian membesar. Aku menjadi teringat kisah masa kecilku sewaktu usiaku 6/7/8 tahun.

Pada usia itu, aku lagi senang mencoba walaupun nantinya akan menimbulkan kemarahan ayah. Bagi ayah, mandi hujan itu tidak baik bagi kesehatan. Namun bagiku hujan adalah satu hal yang kusenangi. Pada datangnya hujan ada harapan untuk bisa bermain dengannya.

Mungkin perkataan ayah ada benarnya. Jika hujan yang turun adalah hujan pertama di musim penghujan dan keadaannya tidak begitu deras, maka hujan seperti itu memang membawa banyak debu dan batuk pastilah terjadi.

Coba saja cium aroma udara pada saat itu. Bau debu yang kentara menyeruak hidung. Namun, aku tidak yakin itu alasan ayah melarang kami mandi hujan. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran ayahku tentang hujan.

Saat hujan tiba, teman- temanku akan berlarian ke luar, melepas pakaian mereka, dan membiarkan tubuh mereka ditimpa air hujan. Aku sering mengintip iri melihat kegembiraan mereka diguyur air hujan. Dalam hati, suatu saat aku juga akan mandi hujan.

Hari yang kutunggu tiba. Hari itu hujan terlihat lebat sekali dan bulirnya besar- besar. Aku merasakannya di tanganku. Kebetulan ayah hari itu belum pulang dari kerja. Aku diam- diam mengikuti teman- temanku berlarian mencari genangan air hujan.

Hujan yang deras menjadikan jalan di depan gang rumahku banjir. Aku masih mengikuti temanku menuju sebuah genangan. Ah, aku langsung menceburkan tubuhku ke dalam genangan itu tanpa berpikir asal genangan air itu dari mana!

Aku tertawa dan menikmati setiap butir air yang jatuh ke tubuhku. Aku menikmati dinginnya air hujan yang membuat bibirku bergetar dan seluruh jariku mengekrut kebiruan. Aku menikmatinya.

Dengan perasaan senang, aku membuat gerakan kaki seolah- olah ingin berenang. Maklum di masa itu berenang di tempat renang itu lumayan mahal dan jauh. Hari itu aku mendapatkan tiket berenang gratis di jalan. Genangannya juga lebih besar dari kolam renang. Berenang di tempat banjir juga menyenangkan.

Aku tertawa lepas, tapi suaraku kalah dengan suara derasnya tetesan air hujan. Aku tidak menyangka bisa bermain di bawah tetesan air hujan. Berlarian, tertawa, dan berteriak bersama teman- teman. Ah, hujan begitu menyenangkan!

Namun saat kubayangkan aku ketahuan ayah dan ibu berenang di tempat banjir, aku menjadi takut. Mereka pasti marah. Aku ingat raut wajah mereka saat marah. Aku bergegas pulang dan mandi agar tidak ketahuan.


“Kenapa badanmu panas tho Le?” Ibu menatap dahiku dengan tangan lembutnya. Aku diam.

“Kemarin kamu baik- baik saja. Apa kamu mandi hujan ya?”

Deg…jantungku seakan mau copot. Kok ibu bisa memprediksi aku mandi hujan.

“Apa ada yang memberitahukan pada Ibu? Ah, tidak mungkin! Teman- teman tidak akan berani. Aku sudah mengancam mereka jika memberitahukannya pada ibu dan ayah.” Aku membatin memikirkan kecurigaan ibuku itu.

“39 derajat celcius. Kita harus ke dokter ya Le. Bentar ibu ambil jaketmu dulu.” Ibu keluar lalu masuk kembali dengan menggendongku.

“Ayo, Ayah! Anakmu panas sekali! Kita harus segera ke dokter!

Kulihat ayah bergegas mengeluarkan motornya. Kami pun pergi ke dokter keluarga.

“Bagaimana Dok?” tanya ibu dengan nada khawatir.

“Oh, tidak apa. Mungkin ini karena anak ibu mau flu saja. Saya beri obat ini. Jika tiga hari belum ada perbaikan, ibu bisa datang ke sini lagi.” Ada wajah lega pada ibu sedangkan aku masih lemah. Panas tubuhku membuatku bingung untuk bergerak karena seluruh tubuh terasa sakit.

“Benar kamu tidak main hujan kemarin?” tanya ibu sewaktu dalam perjalanan pulang. Aku hanya diam. Untuk berbohong pun aku tidak punya tenaga.


Hari ketiga dari dokter Santoso, belum ada perubahan pada diriku. Badanku masih demam, hidungku masih berair, batukku semakin menjadi. Ibu membawaku ke dokter lagi.

Dokter curiga ada sesuatu yang lebih parah dari sekedar flu biasa. Akhirnya, dokter meminta untuk tes darah. Sample darah pun diambil. Aku, ibu, dan ayah menunggu hasilnya di ruang tunggu. Ibu dan ayah gelisah.

“Setelah kami periksa, ada infeksi akut di paru- paru anak Ibu dan ini harus segera ditindaklanjuti. Jika Ibu dan Bapak berkenan, anak Ibu opname dulu. Kita observasi sambil menunggu upaya lanjutannya.”

Ibu dan ayah sepertinya kebingungan dengan kata opname itu. Seumur- umur di keluarga kami belum ada yang opname di rumah sakit.

“Apa pun yang terbaik, lakukan Dok!” Ibu memberanikan diri untuk mengatakannya.

Malam itu aku tidur di rumah sakit ditemani ibu. Ayah pulang ke rumah untuk mengambil perlengkapan yang dibutuhkan.

Uhuk…uhuk…
Aku terbatuk- batuk. Aku tidak bisa menahan batuk itu keluar di saat Ibu sedang tertidur di sampingku. Batuk itu terdengar berkali- kali. Ibu terbangun dan memberiku minum. Ibu pun mengosok leherku dengan minyak kayu putih berharap batuk yang ada hilang.

Aku tidak bisa tidur. Kuambil diaryku. Dengan tangan yang masih lemah, aku ingin menggoreskan kisah ini.

Dear diary,
Malam ini terasa sangat panjang bagiku. Aku merasa sangat lemah. Tubuhku seakan tidak bisa diajak bekerja sama. Batukku pun tidak bisa kulempar jauh. Ternggorokanku sakit.

Diary….
Aku tidak tahu sampai berapa lama aku bisa bertahan dengan keadaanku. Aku tidak mau ayah dan ibuku sedih karena kepergianku jika memang takdir Allah seperti itu.

Sebenarnya aku ingin meminta maaf kepada ayah dan ibu. Aku tidak mengindahkan nasihat mereka. Aku pun tidak mengakui kalau aku mandi hujan kemarin yang lalu. Aku takut dimarah, tapi sekarang aku tahu kesenanganku membuatku terluka dan sakit seperti ini.

Diary…
Jangan beritahu ayah dan ibu kalau kemarin batukku mengeluarkan darah. Aku takut mereka bertambah sedih. Aku ingin bertahan dan terus hidup bersama kedua orang tuaku.

Ruangan putih, 13 Oktober 2001

“Tidak bisa tidur ya?”
Ibu terbangun karena gerakan yang kulakukan. Aku langsung memasukan diaryku di bawah bantal.

“Iya Bu. Ini baru mau tidur.”

Sekarang aku tahu bahwa banjir itu airnya berasal dari saluran air/ parit yang kotor, tapi bagiku saat itu air adalah genangan air hujan. Air hujan itu tidak kotor, kataku saat itu. Ah, lugunya aku!

Selama seminggu aku berteman dengan infus dan bau obat- obatan. Aku bosan!

“Bu, aku sudah sembuh. Kita pulang saja ya. Biar minum obat saja di rumah.”
Aku meminta ibu karena aku merasa sudah sehat. Kata dokter, aku terkena leptospirosis. Ah, entahlah! Yang penting sekarang aku sehat. Aku sudah kangen sama teman- temanku.


“Riko, kamu ingat waktu kita mandi hujan dan berenang di banjir kemarin dulu?”
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan si Joni teman mainku.

“Anak yang berenang sama kita. Yang rambutnya ikal, rumahnya di sebelah gang kita. Waktu kita pulang, dia masih bermain sendiri.”

“Iya, kenapa?” Aku mengerti maksud pembicaraan Joni.

“Dia meninggal dibawa banjir !”

Aku terkejut. Inilah rupanya ayah dan ibu melarangku mandi hujan. Ah, aku ketakutan! Sejak saat itu aku tidak mau lagi bermain di genangan banjir. Kapok!

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Pohon Karsen untuk Ayah

#cerpen

Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahku termasuk seorang ayah yang overprotektif. Sebagai anaknya, aku menganggap ayah terlalu banyak melarang. Semuanya serba tidak boleh dilakukan. Kami tidak boleh memanjat pohon jambu, pohon seri (karsen), pohon belimbing, dan pohon- pohon lainnya.

“Kalau pohon tomat, silahkan dipanjat,” kata ayahku. Aku cemberut saat dia mengatakan itu.

“Sebal, tomat kan bukan pohon yang bisa dipanjat,” batinku.

Kami juga tidak boleh keluar malam, tidak boleh main terlalu lama di rumah teman, tidak boleh ke pasar, atau tidak boleh mandi hujan.

“Masa’ ini tidak boleh, itu tidak boleh.” Aku mengerutu dengan suara pelan. Ibu yang mendengarkan gerutuanku langsung membalasnya.

“Memang semua boleh? Kalau semua boleh, yang akibatnya buruk pun boleh, apa jadinya kalian.” Itu ucapan yang selalu digembor- gembori ibu sewaktu kami dimarahi ayah.

Ketidakbolehan atau larangan dari ayahku membuatku merasa tertantang untuk melakukan hal yang dilarangnya.

“Yen, kita ambil belimbing yuk!” ajakku kepada teman sepermainanku. Kami memang akrab sejak dulu. Ditambah lagi kami satu kelas sejak masuk SD.

“Ayo, yang sampai duluan boleh ambil sesukanya.”
Secepat mungkin kami memanjati batang belimbing yang berdiameter 40 cm itu.

Kami hanya bisa melakukannya ketika ayah sudah pergi kerja. Aku dan saudaraku mengajak teman yang lain memanjat pohon belimbing di dekat rumah. Pohon belimbing yang kami panjati itu tingginya setinggi rumah panggung tingkat 2. Hmmm…kira-kira 10 meter tingginya.

Kami sangat senang sekali memanjat pohon itu sambil memakan buahnya di atas pohon. Aku mengeluarkan semua kemampuanku untuk menaklukkan pohon belimbing itu. Hingga sampailah aku di atas pohon itu.

Ngeng…ngeng…ngeng…

Aku kenal betul dengan suara motor ayah. Kami yang tadi asyik memanjat pohon belimbing kebingungan karena suaranya sudah di bawah pohon belimbing. Aku dan saudaraku ketakutan. Sangkin takutnya, kami naik sampai ke atap rumah panggung. Kami berdiam di atas atap itu menunggu ayah masuk ke rumah.

Ketika di atas atap, aku baru sadar bahwa aku sudah terlalu tinggi memanjat.

“Ya Allah, alangkah tingginya.” Aku bergumam di dalam hati. Namun, aku merasa beruntung karena sampai di atap. Atap itu mampu menutupi keberadaanku dari ayah. Selamatlah aku untuk sementara meskipun aku masih bingung menuruni atap.

Aku mencoba turun. Aku mengikuti batang yang tinggi itu dengan perlahan. Kupegang dahan di sebelah kananku dan kuturunkan kaki kiriku. Kupegang batangnya dengan cara memeluknya dan kujulurkan kaki kananku. Aku melihat ke bawah untuk turun. Seluruh kakiku terasa gemetaran. Degup jantungku sangat cepat saat itu. Aku berhenti sejenak. Keringat mulai membasahi dahiku. Aku merasa ingin menangis dan menjerit minta diturunkan. Siapa peduli, yang memanjat harus bisa menuruni sendiri. Aku pun berusaha menuruni pohon dengan penuh ketakutan.


Setiap kali memanjat pohon belimbing, kami akan menetapkan kepemilikan buah belimbing. Kalau sudah tahu pemiliknya, yang lain tidak boleh mengambil belimbing itu. Itu sebagai kesepakatan tak tertulis para anak- anak seperti kami.

Siang itu, aku dan adikku ingin mengambil belimbing yang sudah kuning. Kami melihatnya dari bawah. Belimbing ini meskipun kecil, rasanya sudah manis enak. Krenyes dari belimbing inilah yang membuatku rela memanjat dalam ketinggian.

Aku dan adikku berebutan belimbing yang ada di atap kontrakan nenekku. Ya, pohon belimbing ini tumbuh di samping rumah kontrakan.

Sama seperti ayahku, pamanku juga melarang kami memanjat karena takut kami jatuh. Dia akan marah jika anak- anak memanjat pohon itu. Besarnya keinginan kami untuk memakan belimbing hari itu mengalahkan ketakutan pada amukan paman.
“Ah, paman tidak ada! Ayo, kita manjat!

Brukkk

Adikku yang berada di cabang kedua terjatuh dan menimpa atap seng yang ada di bawah pohon belimbing. Dahannya patah dan adikku terduduk di atapnya.

Oh iya, pohon belimbing ini mempunyai tiga cabang besar. Cabang yang utama menjulang ke atas. Cabang yang kedua berada di atas atap sebuah kontrakan. Cabang yang ketiga menjulang sampai ke atas atap rumah panggung.

“Siapa itu?”

Bukan ayah yang keluar melihat bunyi itu, tapi pamanku. Aku melihatnya! Pamanku juga tidak suka kalau ada yang memanjat pohon belimbing. Mungkin karena takut ada yang terjatuh karenanya.

Mendengar suara paman, adikku secepat kilat langsung turun. Ketika paman melihat ke atas atap, adikku sudah tidak ada di sana. Uh, leganya! Kami kira akan ketahuan hari itu. Ternyata, kami selamat!

Bersyukur kami tidak ketahuan. Kalau ketahuan adikku yang jatuh, paman pasti marah. Tentu saja ayah pun ikut marah. Hari itu kami memang hebat! Kami melakukannya dengan sangat cepat. Selamatlah kami semua dari amarah paman dan ayah.

“Ada yang sakit, Dek?” Aku mencoba mencari tempat yang sakit di tubuh adikku. Dia menggeleng pada apa yang kutanyakan. Pasti ada rasa sakit, namun ditahannya. Berharap kejadian itu tidak membuat kami dimarah berjama’ah.


Tidak kapok sampai di sana, kami memanjat pohon karsen yang tumbuhnya juga menjulang ke genteng kontrakan nenek. Buah- buah karsen yang merah dengan bau harum dan manis begitu menggoda.

Aku ajak saudaraku untuk mengambil buahnya. Batang karsen tidak terlalu tinggi sehingga kami sangat mudah memanjat dan mengambil buahnya.

Krek…
Terdengar suara benda yang patah. Dalam diam kami menyalahkan satu sama lain. Ternyata itu bunyi genteng. Kami ketakutan. Kali ini bukan karena takut jatuh. Kami takut ayah marah pada genteng yang tidak sengaja kami pecahkan.

“Aduh, bagaimana ini! Nanti ayah tahu, habislah kita!”

Aku ketakutan sekali. Begitu pun adikku. Kami turun dan diam- diam masuk ke rumah. Tidak ada yang memberi tahu. Kami diam menutupi kejadian itu. Sampai yang mengontrak merasa risih dengan air yang masuk ke rumah ketika hujan. Prediksi mereka, atap genteng bocor.

“Maaf Pak. Kenapa ya kok air masuk terus ke rumah waktu hujan tiba?” keluh si pengontrak. Kebetulan hari itu ayah pulang cepat. Para pengontrak pasti mengajukan keluhan kepada ayah karena ayah anak tertua yang bertanggung jawab atas kontrakan itu.

Ayah memeriksa bagian atas genteng dan terkejut saat melihat beberapa genteng patah atau belah. Ayah masuk ke rumah.

“Siapa yang naik pohon karsen sampai patah?” tanyanya dengan wajah marah dan mata yang memerah. Kami diam. Kami takut mengaku. Kami takut dihukum ayah. Kami tahu kalau ayah menghukum pasti hukumannya sangat menyakitkan.

“Oke. Kalau seperti itu, ayah akan tebang pohon karsen itu!”

Ayah pergi mengambil parang lalu ke luar dan membabat pohon karsen yang menyebabkan genteng patah.
Aku yang melihat dari kejauhan menjadi sedih. Pohon kesukaanku kita tinggal kenangan.


“Ayah lagi mencari pohon ciplukan. Ada yang pernah lihat pohon itu?”
Untuk usia sepertiku, pohon ciplukan pun aku tidak tahu. Aku menggeleng.

“Ayah butuh itu untuk obat.”
Kami mendengarkan ayah yang kebetulan hari itu kami bermalam di rumah ayah. Setiap sebulan sekali kami menyempatkan berkumpul di sana. Aku akan senang sekali meskipun pohon belimbing dan jambu sudah lama ditebang. Rumah itu yang telah mengajarkanku banyak hal.

“Obat apa, Ayah? Ayah sakit apa?”

“Hanya untuk stamina saja.” jawab ayah.

“Tapi Ayah, apa pohonnya bisa dipanjat? Ayah butuh apanya? Buahnya atau daunnya?”

“Ah, masa’ pohon ciplukan dipanjat. Ada- ada saja!”
Ayah berlalu masuk ke kamar.
Aku penasaran. Ibu yang ada di dekat sana pun tidak menjawab pertanyaanku.

Diam- diam kuambil hp yang dipegang mas Dani suamiku. Kucari di internet pohon ciplukan dan manfaatnya. Aku temukan! Ada banyak manfaat dari pohon itu, tapi ayah sakit apa?


“Mas, nanti coba tanya sama teman Mas di kantor adakah yang punya pohon ciplukan. Sepertinya Ayah sangat membutuhkan pohon itu.”

“Kalau buahnya saja, banyak Dik yang jual di online, tapiagak sulit mencari yang jual pohonnya.”

“Usahakanlah Mas, demi Ayah!”

Sebenarnya ayah tidak memintaku untuk mencarikannya. Namun, pembicaraannya tempo hari membuat aku ingin mewujudkan keinginan kecilnya.

Kucari di marketplace adakah yang menjual pohon ciplukan. Kutanyai semua penjual bibit dan tanaman. Aku belum mendapatkannya.

[Mas, jangan lupa tanyakan ya ciplukan buat Ayah]

Aku mengingatkan suamiku kembali lewat pesan.


“Nih, Dek, pesanannya!” Suamiku menyodorkan pohon ciplukan yang kupesan.

“Wah, dapat darimana, Mas?”

“Dikasih teman. Dia banyak menanam pohon ini.”
Suamiku meletakkan tas dan duduk di kursi kayu di teras rumah kami.

“Besok ke rumah Ayahlah. Segera kasih sama Ayah. Siapa tahu Ayah sangat membutuhkannya.” ucap suamiku. Aku senang mendapatkan pohon ciplukan itu walaupun terlihat layu.

Ah, penasaran sekali. Untuk apa Ayah mencari pohon kecil ini.


“Ayah, ini pohon ciplukannya,” kataku. Aku datang berdua saja dengan Eni, anakku. Dengan tangannya yang sudah nampak keriput dan kurus, Ayah mengajakku duduk.

“Yah, ini benar ciplukan. Dapat darimana pohon ini?”

“Dari temannya mas Dani,” jawabku sambil mendudukan Eni di sebelahku.

“Melihat pohon ini, Ayah jadi ingat masa kalian kecil dulu. Ayah banyak tidak membolehkan kalian melakukan sesuatu. Ayah selalu marah ketika kalian memanjat pohon belimbing, karsen, jambu.”

Aku diam mendengarkan. Eni sekarang sudah pindah duduk ke pangkuan mbah kakungnya.

“Kalau saja pohon- pohon itu rendah seperti pohon ciplukan ini, Ayah tentu tidak melarangnya.” Ayah menambahkan.

“Ayah tidak ingin kalian terjatuh dan luka. Ayah tidak bisa menjaga kalian setiap saat karena kesibukan ayah di luar. Ibumu pasti kewalahan dengan tingkah kalian. Ayah tidak ingin membuat ibumu bertambah lelah. Maafkan Ayah ya, Nak.” Suara Ayah sudah berubah. Ada serak yang terdengar.

Aku yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi terharu dan merasa bersalah. Oh, aku yang salah! Aku selalu melanggar apa yang dilarangnya!

Laki- laki itu sudah banyak berubah. Berubah sifatnya dan berubah bersikap dengan kami. Butuh waktu bagiku untuk menyadarinya. Ketika kusadar, aku sudah tidak bisa seintens dulu.

Lelaki yang kusebut Ayah itu tidak pernah mengeluh. Aku pun jarang melihatnya sakit. Ada beberapa kali Ayah tidak bekerja, tapi dalam penglihatanku Ayah masih baik- baik saja. Ayah tidak menceritakan sakitnya kepada kami. Dia menyembunyikannya kepada kami.


Aku masuk ke ruang IGD, kulihat ibu di samping bed.

“Ayahmu sebenarnya sudah lama sakit jantung. Ibu sudah berkali- kali menemani Ayahmu kontrol ke dokter. Namun, obat dokter sering terlupakan. Ayah biasa meminum jus daun ciplukan yang kau bawa dulu.”

“Ayah…”

“Pohon ciplukan yang dibawa dulu ditanam Ayah di samping. Sekarang sudah banyak bibitnya. Belum sempat Ibu pindahkan.”

Kupandangi wajah lelaki yang kusebut ayah itu terbaring di atas bed karena serangan jantung setengah jam yang lalu. Kupandangi juga wajah ibu yang tidak lelah menghadapi ayahku sejak dulu. Kedua pahlawanku yang berjasa itu sudah nampak lelah.

“Bu, semoga Ayah segera pulih ya,” bisikku. Kupegang tangan ibu untuk memberi semangat padanya. Namun sebenarnya, aku yang harus disemangati.

“Dokter…suster…!” Aku berteriak histeris saat aku melihat Ayah seperti sedang kesusahan menarik napas.

“Laa illaha illallah…laa illaha illallah….” Ibu menuntut mulut ayah untuk mengucapkan kalimat itu. Air matanya mengalir tak terbendung. Aku duduk lemas sambil menggenggam tangan Ayah. Namun, semua telah terjadi.

“Allah….”
Hanya satu kata yang kudengar dari bibir Ayah. Ayah sudah meninggalkan kami.


Kenangan itu telah terjadi. Kini kutahu, di bawah nisan yang kupandangi ini ada sosok yang tidak bisa kulupakan. Dengan larangannya, aku belajar untuk taat. Dalam larangannya, aku belajar bahwa dia yang di sana begitu menyayangiku.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar

Bantu Aku 4

Sore itu, sehabis sholat ashar, aku melihat ke arah rumah Toni. Jarak rumah Toni dengan rumahku hanya kelang 2 rumah saja. Ibu Toni nampak sedang menyiram tanaman. Aku buru- buru mengambil jilbab dan keluar menuju rumah Toni.

“Assalamu’ alaykum, Tante,”
sapaku. Sapaanku dijawab oleh ibunya Toni. Dari luar, rumah itu nampak sepi. Sepertinya ayah Toni belum pulang dan kedua kakaknya masih ke luar.

“Maaf Tante, boleh Lia bicara?” tanyaku. Ibu Toni mengangguk.

Aku baru kali ini memberanikan diri menyapa ibunya Toni. Aku takut nanti dia tersinggung karena aku bertanya tentang anaknya.

“Tante, sejak Lia pulang ke sini, Lia tidak pernah melihat Toni. Toni sekarang dimana ya, Te?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.

Ibu Toni tidak berkata- kata. Dia langsung mengajakku masuk ke rumahnya. Sudah lama aku tidak masuk ke rumahnya, tapi aku ingat dulu dan sekarang cat rumahnya masih sama, namun sedikit buram. Lalu kami masuk ke bilik kecil dari bagian rumah itu. Dia memperlihatkan Toni yang sedang diikat kedua kaki dan tangannya di sebuah tiang.

“Tante, itukah Toni!” Aku kaget dengan oenampilan temanku yang sekarang.

Wajah Toni tidak nampak. Yang nampak hanya rambutnya yang gimbal, panjang tak terurus. Bau ruangan kecil tempat Toni duduk sudah tidak bisa dijelaskan lagi keadaannya. Aku menangis melihat temanku itu. Ternyata di sinilah dia berada berhari- hari, berbulan- bulan, sampai bertahun- tahun.

Kami hanya sesaat di sana. Ibu Toni mengajakku ke ruang tamu. Ruang itu tidak besar. Ada foto keluarga Toni ketika dia masih kecil dulu menempel di dinding yang sudah mengelupas cat buramnya. Lantai rumah yang hanya semen itu sebagian nampak hancur, bolong di sana- sini.

“Ini Toni yang buat Nia. Waktu itu dia tiba- tiba marah lalu memukul keras ke arah lantai ini,” tunjuk ibu Toni pada lantai yang bolong- bolong itu.

“Ya Allah….” Aku hanya bisa berucap seperti itu. Hatiku sedih sekali saat itu.

“Hari ini dia diikat sama ayahnya. Baru saja dia mau bunuh diri lagi. Dia melukai dirinya sendiri. Ini sudah yang kesekian kalinya Lia.” Wajah ibu Toni nampak sedih dan terlihat putus asa.

“Kalau sedang sadar, kami lepaskan dia meskipun kadang di rumah dia sering berteriak dan menangis sendiri. Kadang dia pergi dari rumah. Kami tidak tahu keberadaannya. Seringnya tetangga kita yang memberi tahu keberadaan Toni. Kami sendiri sering menemukannya tidur di halte bus. Ketika kami tahu, kami bawa pulang.”

Berarti benar yang kulihat di halte waktu itu. Itu memang Toni. Benar juga kalau sering terdengar teriakan dan tangisan dari rumah ini. Mungkin itu suara Toni.

“Kamu ingat kejadian di bawah pohon mahoni waktu kalian masih SD?”
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Sejak saat itu Toni berubah. Dia bertambah pendiam dan mengurung diri. Ibu merasa bersalah apakah karena kemarahan ibu dulu hingga membuatnya seperti itu?”

Aku diam mendengarkan.
“Ayah Toni yang sekarang sebenarnya bukan ayah kandungnya. Ibu menikahi ayahnya yang sekarang dengan status duda beranak dua.”

Dalam hati, aku baru tahu kalau itu ayah tiri Toni. Setahuku waktu itu adalah ayahnya yang sekarang adalah ayah kandung Toni.

“Memang ayah tiri Toni tidak pernah marah apalagi memukulnya, tapi perlakuannya kepada kakak- kakaknya dan Toni sangat berbeda. Ibu merasakannya. Ibu sedih dan ingin protes. Namun apa daya ibu tidak terlalu berani.”

Aku berusaha mendengarkan dan mencoba memahami setiap ucapan ibu Toni. Kulihat ibunya berhenti berbicara. Mungkin menahan tangisnya.

“Tante, sebenarnya Lia pernah melihat Toni di halte, tapi Lia tidak yakin. Sekarang Lia yakin kalau Toni butuh perawatan. Lia sedih melihat Toni, Tante.”
Aku berhenti bicara untuk menghentikan air mata yang mulai keluar.

“Bagaimana bisa Lia. Kalau Toni dimasukan ke bangsal kejiwaan itu pasti butuh uang yang banyak,” ucap ibunya.

“Lia punya teman yang bisa membantu Te. Yang penting Tante bersedia bekerja sama. Kalau tidak segera diatasi, Lia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”

“Betul Lia, dulu tante pernah ingin dibunuh pakai pisau dapur. Saat dia sadar, dia bilang ada yang membisikan di telinganya bahwa tante ini jahat dan harus dibunuh. Tante tidak ingin kehilangan Toni, Lia.”

“Kalau Tante bersedia, besok jam 9 kita ke rumah sakit Setia Budi. Kita konsultasi dulu dengan psikolog. Kalau memang bisa kita ajak Toni. Om mungkin bisa membantu nanti. Tante bicarakan masalah ini dengan Om ya. Lia ingin Toni sehat lagi,Tante,” ucapku seperti membuat suatu permohonan. Ibu Toni mengangguk.

“Lia besok ke sini lagi ya Te. Kita sama- sama ke rumah sakit. Semoga penyakitnya Toni segera hilang. Tante jangan putus asa ya. Lia pulang dulu ya Te. Oh iya Te. Jangan lupa bawa kartu BPJS ya Te.”

Aku berpamitan dengan ibu Toni. Masih kulihat dia menatap lekat padaku. Kulihat masih ada mata kesedihan di wajah ibu Toni. Aku ingin sedikit membantunya.

Aku sedikit lega mendengar kemauan ibu Toni untuk bekerja sama dengan psikolog/psikiater. Aku akan menantikan temanku sehat kembali.

[Besok kita janjian langsung di RS. Setia Budi ya. Tunggu di depan gerbang ya Rin.]

Setelah mengirimkan wa ke Rina, aku sedikit lega. Aku menghempaskan tubuhku ke kasur kesayangan. Lelah mulai terasa.

Dipublikasi di Artikel Psikologi | Meninggalkan komentar