Bersyukur Hidup di Desa

Baca status teman-teman yg seliweran di beranda fb dan wa sebagian menuliskan tentang asap dan banyak sekolah yg diliburkan karena hal tersebut. Miris ya, tapi itu kenyataan yg harus dihadapi para warga kota. Mereka harus berjibaku dgn asap setiap harinya karena musim hujan belum juga turun. Kalau pun hujan turun, itu karena dibuat oleh ahlinya. Para penduduk kota ditantang untuk sehat dalam kondisi asap kebakaran hutan, kebakaran rumah, atau asap kendaraan di jalanan yg penuh kemacetan.

Sekuat apa pun penduduk kota mencegah dampak asap bagi diri sendiri, mereka pasti terusik karena setiap hari mereka rasakan. Disinilah aku merasa bersyukur tinggal di desa/dusun. Disini kendaraan masih langka, paling pada hari kalangan kuantitasnya sedikit bertambah. Itu pun tidak lebih dari 20 setiap menitnya seliweran di jalan besar. Asap kebakaran hutan pun tidak nampak. Namun, pagi-pagi, ketika udara memang sedang dinginnya, jarak pandang pun cuma beberapa meter karena pekatnya kabut dingin.

Di desaku, fenomena gunung tinggi di kiri dan depan rumah menghilang, lalu muncul kembali ketika matahari sudah agak tinggi selalu ditemukan. Terbitnya matahari nampak indah terlihat jelas. Udara bunga kopi dan rumput segar yg tertimpa embun selalu dirasakan. Maka, hati ini berseru,” Fabi ayyi alaa robbikuma tukadzdziban, nikmat mana lagi yg kau dustakan!” Namun, sebesar apa pun nikmat yg diberikan Allah kalau tanpa syukur, yg ada adalah rasa ‘kurang’.

Di desaku, tomat harganya murah banget begitu pun sayuran sawi bahkan banyak yg terbuang (ini yg membuatku sedih). Coba kalau di kota, semuanya beli. Kita yg tidak punya kebun nanti diketuk pintunya oleh tetangga yg sedang panen. Alhamdulillah buncis, kacang panjang, tomat, sawi gratis. Enak tho?

Di desaku tanahnya subur sehingga untuk beberapa sayuran dan buah bisa dibudidayakan sendiri. Tanamannya bebas pestisida dan kimia ya. Coba kalau di kota, selain beli semua, pemakaian pupuk kimia dan pestisida mestilah dilakukan petani. Memang kalau enaknya, meskipun di desa menanam sendiri lebih sehat dan menyenangkan.

Di desaku, air mengalir tanpa meteran kubik dan tidak berbayar. Pemakaian beberapa pun silahkan saja asal kalau air gunung atau sungainya mati siap-siap aja mencari penyebabnya sampai masuk hutan. Biasanya air mati karena pipa bocor di beberapa tempat atau tertinjak babi hutan. Airnya sejuk atau bisa dikatakan dingin banget dan punya mental yg kuat buat mandi pagi kalau tidak diberi air panas. Bersyukur sekali aku nggak mikirin uang buat air, cukup mikirin listrik yg naiknya terus-terusan tanpa pemberitahuan.

Di desaku kalau ada kerjaan nikahan atau lahiran/ khitanan acaranya semingguan dan tetangga memang nolong banget. Tuan rumah hanya duduk diam, tapi mesti siap budget yg banyak buat acara. Pulang acara, dibawa sanggu/berkat. Enak kan?

Di desa pemandangan indah gratis didapat, di depan rumah dan samping rumah sdh bisa dijadikan tempat rekreasi kok.
Wallahu ‘alam.

Teman-teman jangan sedih ya.

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s