Dilema Seorang Ibu yang Bekerja

Para blogger/pembaca pasti sering ya mengalami atau mendengar keluhan seorang wanita pekerja. Di antaranya, bila wanita itu bekerja di suatu perusahaan, namun belum memiliki anak, maka yang menjadi fokus rutinitasnya adalah mengurus suami dan pekerjaan. Itu sudah menambah pekerjaan si wanita. Namun, pekerjaan wanita akan bertambah kembali jika dia segera memiliki anak. Apakah itu menjadi beban untuk para ibu? Silahkan para pembaca menjawabnya.

Pada dasarnya, seorang wanita tidak diharuskan bekerja di luar rumah, apalagi meninggalkan anak sampai berjam-jam, namun kenyataannya ibu harus melakukannya untuk membantu sang suami. Memang mencari nafkah sudah ditetapkan untuk laki-laki, tapi tidak ada salahnya jika istri membantu. Uang yang dihasilkan oleh istri dianggap sedekah.

Seorang ibu yang bekerja dengan memiliki anak pastinya akan mengalami pergulatan batin, apalagi ketika anaknya masih di bawah 2 tahun. Pemberian ASI sebagai kebutuhan dan hak anak akan menjadi pemikiran tersendiri bagi si ibu. Untuk ibu yang bekerja, ada persiapan yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa pertanyaan sebagai berikut. Siapa yang akan menjaganya? Bagaimana dengan pemberian ASI? Apakah yang menjaga tahan mengasuhnya? Amankah jika anak/bayi ditinggalkan dengan pengasuh? Berbagai pertanyaan akan mengantarkan si ibu untuk mencari solusinya hingga banyak ibu memutuskan untuk berhenti sementara dari pekerjaan yang digelutinya. Tentu saja hal ini harus menjadi pertimbangan yang betul-betul matang sehingga tidak akan menyusahkan ibu atau keluarganya di kemudian hari.

Solusi yang banya ditawarkan atau dilakukan para ibu pekerja adalah mencari pengasuh dan memberikan ASI yang telah diperah bahkan ada yang rela memberikan susu formula. Untuk mencari pengasuh yang baik dan kompeten dengan mengasuh tidaklah mudah dan mengasuh bayi/anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh keahlian dan kesabaran yang teruji sehingga bayi/anak yang diasuh aman. Tak ada salahnya memberikan susu formula, namunASI tetap yang terbaik, apalagi untuk bayi yang usianya dibawah6 tahun. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki ASI akan sayang jika masa-masa pemberian ASI eksklusif dibuang begitu saja.

Sebuah perusahaan yang bonafit semestinya sudah harus memikirkan kebutuhan pekerjanya jika masih ingin mempekerjakan seorang wanita disana. Tidak mungkin seorang wanita tidak menikah dan tidak ada juga pasangan yang sudah menikah tidak ingin memiliki anak. Artinya, perusahaan harus memikirkan kenyamanan pekerjanya untuk melaksanakan kewajibannya sekaligus mendapatkan haknya. Ada baiknya perusahaan menyediakan tempat penitipan sehingga pekerjanya menjadi loyal kepada perusahaan. Kenyataannya, banyak perusahaan yang inginnya pekerjanya loyal, namun tidak begitu memikirkan kebutuhan pekerja. Kebutuhan pekerja bukan hanya dinilai dari uang, tetapi dari apa yang membuatnya semangat bekerja. Jika kebutuhan itu sudah terpenuhi, para pekerja akan bekerja lebih baik.

Alangkah sayangnya jika masa-masa emas bayi terlewati begitu saja oleh ibu-ibu pekerja dan alangkah ruginya jika anak/bayi kita tidak mengenal ibunya.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi dan tag , , , . Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s