Aku Memutuskan Cerai,Bu (Konsultasi ke-2)

Lama juga aku tidak mendengar keluhan dari Ibu yang kuposting sebelum postingan ini. Akhirnya, Ahad/Minggu pagi, ketika aku sedang mencuci baju, nyaringnya bunyi sms membuatku harus segera membacanya. Sms itu berasal dari Ibu itu. Aku baca sms yang panjang di HP-ku, mungkin sekitar 3/4 sms. Kubaca perlahan dan aku coba untuk memahaminya. Intinya dia ingin cerai dengan suaminya karena watak suaminya yang kasar. Bukan bermaksud su’udzon, tetapi aku mencoba untuk menyelami akar permasalahan itu. Kukilas balik kejadian beberapa minggu yang lalu ketika si Ibu meneleponku dengan emosi kesal, marah, dan kondisi jiwa yang tidak tenang serta penuh ketakutan. Kuingat dia siap cerai kalau ketahuan selingkuh oleh suaminya.

Aku hanya bertanya,” Ibu benar mau cerai? Apakah cerai yang Ibu inginkan ini akibat dari peristiwa yang lalu?”

Ibu itu menjawab,” Nggak,Bu. Aku merasa sudah tidak cocok lagi hidup bersama. Bapak terlalu keras. Kalau nggak ngikutin kehendaknya, saya dimarah-marah, termasuk anak juga kena akibatnya.”

“Bu, kalau lelaki keras dan harus ngikuti kehendaknya itu sudah menjadi bagian kodratnya sebagai pemimpin. Lelaki memiliki ego yang lebih dari wanita. Soal bersikap keras, insya Allah selama masih bisa berkomunikasi dengan Ibu, sikap itu sedikit demi sedikit akan terkikis,” kataku.

” Anak-anak jadi nggak dekat dengan Bapaknya,Bu. Padahal kalau mau dipikir, Bapaknya jarang pulang, anak-anak bisa diajak jalan-jalan. Nah, Bapaknya ini tidak memberikan ruang untuk anak-anak bermain. Saya sudah bilang sama Bapak kalau anak jangan terlalu dipaksakan untuk belajar, tapi Bapak tidak mau dengar,” katanya dengan menjelaskan kenyataan yang ada di lapangan.

“Bu, kalau boleh saya sarankan, Ibu berpikir lagi tentang keputusan Ibu ini, jangan sampai setelah kejadian yang tidak disukai Allah terjadi, Ibu menyesal. Keputusannya ada pada Ibu. Saya harap Ibu masih bisa menjaga dan memperbaiki rumah tangga Ibu. Tho Bapak juga jarang di rumah,” aku menuliskannya kembali dari HP jadulku.

“Iya, Bu. Insya Allah saya akan mencobanya. Semoga Bapak bisa berubah, sikap kerasnya menjadi sedikit lunak. Terima kasih atas nasihatnya,Bu,” kata Ibu itu.

“Sama-sama,Bu. Jika itu membawa manfaat, silahkan ambil. Keputusan ada di tangan Ibu dan berhati-hatilah mengambil keputusan,”

Setelah mengucapkan salam penutup dan ucapan terima kasih, aku menutupkan HP dan melanjutkan rutinitasku.

Teman, ingatlah…ketika ada permasalahan, jangan putuskan dengan segera. Pertimbangkan baik-baik apa yang kita pilih sebelum menyesal nantinya.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Aku Memutuskan Cerai,Bu (Konsultasi ke-2)

  1. Interior Design berkata:

    kadang bersikap berfikir dengan kepala dingin akan menghasil sesuatu yang lebih baik…
    jangan terburu2 mengambil keputusan okeh…
    itu saran dari saya…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s