Konsultasi Pertama (Selingkuh)

Tiba-tiba HP-ku berbunyi, nomor tak kukenal sudah dua kali ini memanggil ketika aku mengajar. Pada dering yang kedua, aku segera menyambar HP-ku. Terdengar suara wanita dari balik HP-ku. Ini kisah nyata, yang benar-benar membuatku takut. Serius, ketika mendengar dan berbicara dengan wanita itu jantungku berdetak kencang.

Konsultasi ini merupakan rangkaian konsultasi yang akan aku bagi menjadi beberapa sesi. Nomorku ternyata diberikan oleh teman akrabku ketika kuliah S1. Temanku itu adalah guru privat anaknya. Kita panggil dia dengan sebutan Ibu ya karena usianya baru 34 tahun. Ibu ini sudah memiliki 3 orang anak, yang tertua SMP dan terkecil usia 2 bulan. Sebenarnya kaget juga dengan kisah Ibu ini, yang terus terang saja baru kutahu artinya setelah dia bercerita,’ Aku selingkuh’.

Ibu ini datang dengan ketakutannya. Terdengar dari suaranya yang bergetar dari speker HP-ku. Ibu ini meminta untuk bertemu langsung denganku, tetapi sungguh bukannya aku tidak mau karena aku harus mengajar pada hari itu. Ketika aku menyelesaikan kegiatan mengajarku, aku sms Ibu itu bahwa aku sudah bisa ditelepon. Ibu itu langsung meneleponku. Napasnya tertengar memburu-buru dan ucapan yang dikatakan begitu cepat.

Setelah memperkenalkan dirinya dan maksud si Ibu meneleponku, dia mulai berkisah. Ibu itu sebenarnya istri ke-2 dari seorang laki-laki yang usianya sudah 60 tahun. Suaminya adalah orang Jawa dan tidak tinggal bersamanya. Ibu ini hanya tinggal dengan ke-3 anak dan pembantunya. Suaminya adalah keturunan ningrat dan mempunyai bisnis di Jawa. Usia pernikahan mereka sudah 14 tahun. Mereka menikah karena dijodohkan. Si Ibu sudah hamil sebelum menikah dengan suaminya ini. Laki-laki yang menghamilinya tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan haram itu. Untung saja ada laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Namun, nasibnya hanya sebagai istri ke-2.

Permasalahan mulai terjadi baru beberapa bulan ini ketika sang suami mengalami pembengkakan kelenjar prostat sehingga si Ibu tidak merasakan kepuasan menjadi istrinya. Pertengkaran mulai terjadi. Ibu yang masih mudah dan suami yang sudah tua ini mulai sering ribut. Tentu saja pribadi Ibu yang labil membuat dia mengikuti ajakan teman laki-lakinya, yang sebelumnya dia pun tidak merasa senang dengan lelaki itu. Setan berada di antara mereka.

Ketika suaminya pulang ke Jawa, dimulailah hubungan Ibu itu dengan teman lelakinya. Kali pertama, mereka hanya berjalan-jalan dan lama-kelamaan lelaki itu meluncurkan bujuk mautnya sehingga Ibu itu mengikutinya. Kejadian seperti itu bukan terjadi sekali atau dua kali. Aku tanyakan berapa kali si Ibu melakukan perbuatan haram itu? Dengan penuh ketakutan, dia hanya bisa berkata,’ sering’. Aku sedih sekaligus kesal.

Kedatangannya kepadaku adalah untuk menjadikan dirinya tenang karena lelaki yang telah menjadi kekasih gelapnya itu mengancam akan menyebarkan foto seronok mereka dengan suaminya dan di facebook atau di jejaring sosial lainnya. Hanya itu. Kutanyakan kepadanya,” Apakah Ibu menyesal dengan perbuatan Ibu?” Terdengar sesegukan dari HP-ku,” Menyesal,Bu.” Tak habis pikir bisa dilakukan wanita itu, tapi itulah kenyataan yang aku dengar.

“Dia ngancam akan menyebarkan foto-foto kami sama suamiku, Bu. Sedangkan seminggu lagi suamiku balik,” katanya penuh ketakutan.

“Ibu tahu apa yang Ibu lakukan salah? Apakah Ibu takut kalau ketahuan suami Ibu?” Dia benar-benar takut perbuatan haramnya ketahuan suaminya.

“Bu, setiap perbuatan itu ada resikonya. Kalau pun suami Ibu tahu apa yang Ibu lakukan, Ibu harus siap dengan konsekuensinya. Mungkin saja suami Ibu akan menceraikan dan yang paling penting, Ibu akan dibenci oleh anak-anak Ibu.”

Makanya aku datang pada Ibu, aku ingin tenang,” katanya.

” Oke, Bu, sekarang coba Ibu tenangkan diri dulu. Tariklah napas panjang, tahan, keluarkan. Permasalahan Ibu ini akan selesai kalau Ibu tenang.” Hening sesaat.

Bersambung……Ngantuk….

Nyambung ya…

“Trus apa yang bisa aku lakukan?” Tanyanya kembali.

“Ibu muslim?” Aku belum menjawab pertanyaannya.

“Iya, tapi banyak ibadah yang tidak dijalani,Bu,” katanya.

“Ibu tahu perbuatan yang Ibu lakukan salah?”

“Iya, tapi aku tidak habis pikir bisa melakukan perbuatan itu.”

“Oke, syukur Ibu sadar kalau perbuatan yang Ibu lakukan adalah salah. Kalau Ibu muslim, Segeralah memohon ampunan Allah. Banyaklah beristighfar dan jangan pergi dari masalah. Beri waktu untuk diri Ibu agar tidak dulu berhubungan dulu dengan lelaki itu. Fokus Ibu adalah menyiapkan mental jika ketakutan yang Ibu khawatirkan itu terjadi ketika suami Ibu pulang.”

“Apa perlu aku blokir dia dari facebook,Bu?”Tanyanya.

“Kalau menurut Ibu itu bisa menenangkan Ibu, silahkan, tapi bukan untuk menghindari apa yang bakal terjadi. Kalau memang suami Ibu akhirnya tahu dengan perbuatan itu, Ibu harus terima dan tak ada alasan mengapa Ibu berbuat seperti itu. “

“Terus bagaimana dengan anak-anak?”

“Ibu datangi mereka dan tanpa membuka aib Ibu, minta maaflah. Misalnya,” Nak, mama minta maaf ya karena sudah berbuat salah.” Mungkin dengan perkataan seperti itu, Ibu akan sedikit tenang. Jangan biarkan mereka tahu karena itu akan mempengaruhi psikologis mereka.”

Terdengar sesegukan dari balik HP-ku.

Hampir sejam dia meneleponku dan…

“Terima kasih,Bu, aku sudah sedikit tenang setelah ngobrol dengan Ibu,” katanya.

“Sama-sama,Bu. Saya harap perbuatan ini sampai disini dan bertobatlah. Jangan ulangi lagi.

“Kalau nggak ada Ibu, aku harus mengadu kemana? Aku berterima kasih banyak sama Ibu. Mau ditransfer kemana Bu biaya konsulnya?” Tanyanya yang membuatku lebih terkejut.

“Bu, selagi saya bisa membantu, saya akan bantu asalkan ada keinginan dari Ibu untuk memperbaiki diri. Soal biaya, anggaplah ini bantuan muslim kepada saudara muslimnya yang ingin kembali ke jalan yang benar.”

“Aku ingin benar ketemu dengan Ibu, tapi Ibunya sibuk.”

“Kalau Allah memberikan kesempatan untuk kita bertemu, insya Allah kita akan bertemu Bu,” kataku.

“Ya, itu saja ya, Bu. Maaf sudah mengganggu. Aku senang dan bisa sedikit tenang sekarang.”

Ibu itu menutup pembicaraan kami dengan salam. Dalam hati aku berdoa, semoga ada perbaikan setelah pembicaraan ini.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Konsultasi, Narasi Psikologi, Nilai2 Islami, Syair Hati. Tandai permalink.

5 Balasan ke Konsultasi Pertama (Selingkuh)

  1. EO Kids Party berkata:

    nice posting…sukses yaaa..

    Suka

  2. kontraktor berkata:

    nice post…thanx for share

    Suka

  3. Sugeng berkata:

    True story yang banyak terjadi di masyarakat. Ada api dan ada setan, sketemu dalam birahi, namun semua itu semestinya bisa teratsi seandainya selalu ingat kepada Nya. Semoga sang ibu bisa agak lega dan bisa menerima akibat dari pebuatan nya di kehidupan setelah ini.😦

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Suka

  4. monda berkata:

    aduh, masalah ya kok berat banget ya …
    salut … buat kesediaan mendengar dan memberi solusi

    Suka

  5. Bang Uddin berkata:

    Wanita itu rumit sekali, ditanya ya atau tidak, jawabnya : diam.
    Ditanya tidak atau ya, jawabnya : diam.
    Ditanya ya atau ya, jawabnya : diam.
    Ditanya tidak atau tidak, jawabnya : diam. Ketika didiamkan malah marah….
    Itulah WANITA, makin kita bingung makin senang dia…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s