Maha Adil, Ya Adl…

Jantungku berdegup kencang mendengar suara keras yang saling bersahut- sahutan antara laki- laki dan wanita, yang mempertahankan keegoannya masing- masing di muka kelas. Persis seperti anak kecil, tidak ada yang mau mengalah.

Wanita itu masih menangis di kursi kelas. Matanya merah dan wajahnya kusut masam. Itulah yang terjadi padanya sekitar 1 jam yang lalu disini, di kelas ini. Gaya angkuh dan merasa serba tahu membuatnya tidak disukai banyak teman. Begitulah dia di kelas. Berteman dengan dia membuat diri was- was, takut nanti kebiasaan buruknya akan diimitasi oleh kita. Dari segi kecerdasan, dia memiliki intelektual dengan IQ rata- rata, banyak yang mengatakan begitu, tetapi dia memiliki kelebihan, yaitu PD. Ke-PD-an ini membuatnya cenderung menganggap dirinya serba tahu, orang lain tidak tahu bahkan tidak boleh tahu kalau dia tahu.

Sejam yang lalu, dia menyampaikan makalah presentasinya di depan kelas. Adapun kebiasaannya itu yang membuat teman- teman tahu benar kebiasaannya, yaitu membuat pertanyaan beserta jawaban sehingga ketika sesi tanya jawab berlangsung, teman yang lain bisa bertanya dan dia langsung menjawab dengan pertanyaan yang telah dibuatnya. Tentu saja hal ini jelas membuat guru yang ada di depan merasa salut dengannya.

Seorang teman yang maju mempresentasikan makalahnya di depan kelas terkejut dengan pertanyaan yang bersifat memojokkan sehingga yang terjadi adalah debat kusir. Untung saja si teman tidak memperdulikan apa yang dia lakukan, dia yakin bahwa bersikap menjatuhkan kepercayaan diri orang lain itu adalah tidak baik. Kalaupun dia bersikap seperti itu, berarti dia sendiri yang membuat hal itu untuk dirinya. Untung saja teman- teman yang lain membantu, mereka semua memberi penguatan positif sehingga teman itu tidak merasa sendiri, sedangkan dia sendiri dengan semua yang dia pikirkan.

Benarlah, ketika kita merasa dizholimi dengan perbuatan atau lisan orang lain, maka balasan Allah akan terbalaskan karena doa orang yang dizholimi itu akan dikabulkan oleh Allah. Teman itu tidak mendoakan kepada Allah agar dia diperlakukan sama, meskipun pikiran seperti itu sering muncul. Pikiran seperti itu tidak akan dibiarkan merasuki pikirannya. Ketika pikiran itu datang tiba- tiba, si teman segera beristighfar karena dia takut mungkin dia juga memperlakukan orang lain seperti itu juga. Naudzubillah.  

Pada posisi mana Anda pernah berada? Seperti dia, temannya, atau yang lainnya yang lebih baik dari temannya? Semoga pilihannya yang ke-3 ya🙂

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Maha Adil, Ya Adl…

  1. Batavusqu berkata:

    Salam Takzim
    wah hebat ya walau kecerdasannya rata rata tetapi ke PD annya bisa membuat dia lebih maju, semoga dia bisa lebih bijak dalam mengatasi permasalahan temannya
    Salam takzim Batavusqu

    Suka

  2. Ping balik: Pribadi Untuk Semua | psikologi

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s