Sahabat Kecil

Seorang gadis kecil pergi ditinggal temannya. Matanya nanar menatap daun pintu yang terbuka lebar. Ada isak yang tertahan dalam diamnya. Gadis kecil tersenyum dan dia berkata,’ Ah, mungkin nanti ketika aku sudah besar, aku akan berjumpa lagi dengannya!” Harapan gadis kecil terpendam jauh dari dalam hatinya. Dia berdoa dalam setiap sujudnya, di setiap kebutuhan sholatnya. Dia meminta akan dipertemukan dengan temannya kembali meskipun dia tidak pernah tahu kapan waktunya tiba.

tp

Asa yang terpendam menjadi sesuatu yang berharga bagi si Gadis. Dia tetap melakukan aktivitasnya dalam kota kelahirannya, sedangkan temannya sudah pergi ke kota lain, yang tidak dia ketahui dimana tempatnya. Si Gadis mempunyai kenangan tersendiri dengan teman kecilnya itu. Dia ingat ketika dia tidak mempunyai teman karena ayahnya baru pindah tugas dari daerah lain, si Teman telah membuat dia tidak merasa terasing dan kesepian. Si Teman menyodorkan tangannya untuk mengajak bermain petak umpet. Si Gadis tersenyum dan langsung ikut menikmati setiap permainan itu.

Gadis tidak akan pernah melupakan ketika seorang temannya yang lain mengganggunya. Temannya itu langsung memarahi karena menurut pengakuannya, Gadis tidak berhak untuk diperlakukan seperti itu, tidak diajak bermain dan diejek- ejek. Sungguh, Gadis merasa tersanjung dan sudah lama ia ingin memiliki teman yang baik seperti itu.

Sayangnya, pertemanan itu harus pupus karena alasan kepindahan orang tua. Aduh, Gadis merasa sedih.

Bertahun lamanya mereka tidak bertemu, hingga suatu saat di sebuah pusat perbelanjaan, si Gadis melihat orang yang mirip sekali dengan temannya. Ketika si Gadis menoleh, Temannya itu hanya melihat saja dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Si Gadis melihat gerak kakinya yang ingin melangkah ke arahnya, tapi Gadis cukup cekatan untuk menyapa duluan.

” Kau Risa kan?” Tanya si Gadis dengan ekspresi terkejut.

” Maaf kamu siapa ya?” Orang itu balik bertanya.

” Aku…Aku teman semasa kecilmu dulu. Ingat nggak waktu kita jatuh dari pohon belimbing karena rebutan buah belimbing Pak Somad dulu. Terus aku terjatuh karena kurang hati- hati dan kamu yang dulu ngetawain aku.” Si Gadis nyerocos seperti bunyi kereta, nggak ada berhentinya. Orang itu bingung dan seolah- olah memanggil ingatannya kembali.

” Oh….Kamu! Masya Allah, ternyata kita bisa ketemu lagi ya. Kenangan indah itu tidak akan kulupakan sedikit pun. Aku akan mengingatnya sampai kapan pun,” kata orang itu sambil menjabat tangan Gadis.

” Apalagi aku. Meskipun kamu waktu itu ngetawain aku, aku pikir itu bukan mengejek aku, tapi geli aja karena mau ngambil belimbing Pak Somad, aku terjatuh,” cerita Gadis sambil tersenyum.

“Sayangnya kita harus berpisah ya. Nah, ini nomorku. Kamu bisa menghubungiku kapan saja. Kalau ada apa- apa hubungi aku ya. Insya Allah kita akan seriing berjumpa kok. Janjian aja, oke.” Ajak Risa.

Akhirnya perjumpaan dengan Risa sering dilakukan sepekan sekali. Kebetulan setiap kali bertemu itu, Risa selalu membawa masalah yang dia alami. Si Gadis mencoba menjadi sahabat dan teman dengar yang baik. Gadis mendengarkan setiap keluh kesah Risa meskipun dia memiliki bermacam- macam masalah, tapi Gadis merasa masalahnya tidak serumit masalah Risa. Perjodohan Risa dari orang tuanya sudah menjadi dilema tersendiri bagi Risa. Hidupnya terasa sempit. Bumi serasa menghimpit seluruh tubuhnya hingga dia tidak tahu lagi ke mana dia harus berlari dan bersembunyi.

 

Orang tua yang tidak setuju dengan laki- laki yang menjadi pilihan hatinya telah membuat tidurnya tidak nyenyak. Sifat Risa yang terlalu memikirkan hingga bingung apa yang mesti diperbuat untuk mengatasi masalahnya. Dia hanya bergulat dengan masalah meski si Gadis telah menawarkan beberapa solusi untuk mengajak dia keluar dari permasalahan itu.

” Cobalah pikirkan lagi dampak buruk dan baiknya ketika kamu memilih dia, pilihan hatimu dan pilihan orang tuamu, Risa. Kalau aku sih, aku akan bersikap biasa saja. Tidak memikirkan masalah ini dengan sedalam- dalamnya sampai membuatku tidak tidur nyenyak. Kamu berhak menentukan pilihan. Lihatlah kepada laki- laki yang benar- benar ingin menikah denganmu, bukan hanya omong doang.”

Kulihat dia menunduk dan diam.

“Risa….Tidak ada satu orang tua pun yang menginginkan keburukan untuk anaknya. Kadang pilihan orang tua itu ada baiknya, namun orang tua tidak akan memaksa kita untuk mengikuti semua pilihan mereka kalau kita sendiri tidak sejalan dengan pilihan mereka.”

“Iya.”

” Sholatlah dan pertimbangkan semuanya. Mintalah pada Allah agar menolongmu karena Dia sebaik- baik penolong. Singkirkan semua prasangka buruk yang sewaktu- waktu hadir dalam pikiran.”

” Aku coba…,” nada sendu terdengar dari suaranya.

” Entah kamu suka dia atau tidak, jika memang jalan jodohmu adalah dari orang tuamu. Terimalah karena ada hikmah besar disana. Jika memang kamu ingin memperjuangkan pilihan hatimu, apakah ada jaminan dia akan memperjuangkanmu? Lihatlah Risa, dia hanya OMDO, dia tidak pernah sekali pun menjalin silaturrahim dengan keluargamu. Baginya mungkin hanya ada kamu dan dia. Terus…keluargamu ingin kamu bawa kemana nantinya?”

“Aku akan lihat siapa yang benar- benar kuyakini akan menjadi imam dalam keluargaku nanti dengan tindakan yang dia lakukan. Makasih ya.” Risa menggenggam tangan Gadis erat. Sebulan sudah pertemuan terakhir itu, ketika kudapati sebuah sms bahagia mampir ke HP-ku.

“Segala puji hanya milik Allah, sholawat kepada Nabi Muhammad. Dengan penuh cinta dan kasih, kami mengundang teman- teman untuk menghadiri walimah Risa dan Adil….” Belum selesai kubaca sms itu, aku langsung membalasnya.

” Barakallahu laka wabaraka’alaika wa jama’a bainakuma fi khoiri, Risa.” Sms terkirim dan langsung kuterima sms balasannya.

” Terima kasih untuk semua saranmu. Aku merasa tenang dengan pilihan kedua orang tuaku.”

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s