Malas dan Merasa Tidak Mampu

Pada skripsiku, aku mengambil masalah tentang anak- anak kampus yang suka menyontek. Sebenarnya ini bukan hanya terjadi di kampus atau perguruan tinggi saja. Perilaku buruk ini sudah terlihat dari jenjang pendidikan yang paling rendah, yaitu SD. Ternyata, perilaku ini pun masih terlihat dalam ruang perkuliahan pascasarjana. Terus terang saja, kalau aku bisa katakan bahwa pada dasarnya semuanya bisa, termasuk dalam mendapatkan nilai yang besar seperti yang diinginkan. Kenyataannya, banyak yang terlalu malas untuk menyediakan waktu mengingat kembali pelajaran yang akan diujikan. Kemalasan atau merasa tidak mampu  inilah yang menyebabkan orang pandai rela membuka buku saat ujian. Jelas- jelas ada peraturan ‘tutup buku’, namun dengan ringannya tangan- tangan itu membuka lembar- demi lembar buku. Siapa yang patut disalahkan jika tujuan belajar adalah melulu pada nilai, bukan pada apa yang didapat setelah belajar. Apakah akan sama penilaian guru pada peserta didik yang menyontek dengan yang tidak ? Sayangnya, banyak kejadian yang memperlihatkan bahwa yang menyontek itu mendapatkan nilai lebih besar daripada yang tidak. Apakah harus bangga dengan semua itu?

Al Farra ra (Ismail, 2008:106) mengatakan bahwa,” Tidak ada seorang pun yang paling aku kasihani kecuali dua orang; yakni orang yang mencari ilmu, namun ia tidak paham sama sekali dan orang yang ingin memahami ilmu tetapi ia tidak mau berusaha mencarinya. Dan aku heran kepada orang yang punya kesanggupan untuk mencari ilmu, tetapi tidak mau belajar.”

Allah juga telah mengisyaratkan;

” Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka,” Tinggallah kamu bersama orang- orang yang tinggal itu.” (QS. At Taubah (9):46)

Jelaslah bahwa Allah akan melemahkan keinginan seseorang yang tidak berusaha untuk mencapai keinginan itu. Orang yang lemah sehingga tidak melakukan sesuatu, ia punya alasan karena memang tidak mampu. Berbeda dengan orang malas yang tidak melakukan sesuatu atau paling tidak menunda- nundanya, karena ia memang malas padahal sebenarnya ia mampu.

 

Ternyata, pola kebiasaan menyontek itu telah membuahkan perilaku yang menetap dalam diri pelakunya. Meskipun tidak sudah diberi waktu untuk menghapal atau mengulangi kembali, tetap saja orang itu tidak bisa terlepas daripadanya.

Seorang teman blogger dulu pernah menanyakan kepadaku tentang kesedianku untuk memberikan penjelasan tentang perilaku menyontek, yang katanya akan dimasukkan dalam majalah, namun sampai sekarang aku tidak pernah lagi mendengar kabar berita darinya. Menyontek membiasakan diri kita untuk tidak percaya pada diri sendiri, mencari aman padahal sesungguhnya dia berada dalam kondisi yang tidak aman. Kok bisa? Ya bisa, ketika aku bertanya kepada beberapa orang yang sudah biasa menyontek, mereka pun ada perasaan takut ketika perbuatan itu diketahui oleh pendidiknya. Mereka hanya mendapatkan kepuasan nilai besar, namun hakikat ilmu yang sesungguhnya tidak bisa mereka peroleh. Para guru hendaknya memperhatikan celah agar peluang menyontek tidak terjadi. Yang tidak kalah pentingnya, peserta didik harus sadar bahwa mengikuti pendidikan itu bukan untuk mendapatkan nilai yang besar. Nilai yang besar itu adalah efek samping dari belajar dan usaha yang nyata. Bila saja setelah efek samping nilai besar itu diperoleh dari yang suka menyontek…Ingatlah, jangan terlena karena pada dasarnya dia tidak mendapatkan apa- apa selain kesenangan dunia.

 

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Islam. Tandai permalink.

10 Balasan ke Malas dan Merasa Tidak Mampu

  1. mrpall berkata:

    salammm……iya keknya udah membudaya itu yg namanya malas…

    Suka

  2. N@n@ng berkata:

    Malas itu musuh terbesa buat diri kita mbak.

    Suka

  3. Nanang Abdullah berkata:

    Setiap manusia akan menemui saat dimana kita dihinggapi rasa malas dan ketika malas itu datang kita jangan malas untuk mencari penawar rasa malas.

    Suka

  4. BENY KADIR berkata:

    Org malas biasanya cari gampang dgn cara tdk terpuji.
    bagai bangunan yg kelihan megah dari luar, ternyata bagian dalamnya keropos.

    Suka

  5. Thomas berkata:

    hm…mengenai pengalaman mengerjakan skripsi ini,,,,saya jug punya pengalaman lho,,,ceh deh :

    http://thomasandrianto.blogspot.com/2010/07/filosofi-makan-roti.html

    salam

    Suka

  6. kang ian dot com berkata:

    hehehe ayo siapa tuh yang masih nyontek xixixi budaya tu jadinya😀

    Suka

  7. ayo smangad….anda pasti bisa

    Suka

  8. mamah Aline berkata:

    malas belajar membuat perasaan tak mampu menghadapi ujian jadinya pakai jalan pintas menyontek, masih banyak yang pakai cara ini untuk dapat nilai besar, tapi kualitas akademisnya rendah ya mbak

    Suka

  9. Wahh,,, sungguh menarik sekali Teh,,

    Harus persiapan dan percaya diri, itu kuncinya,,😉

    Salam semangat selalu

    Suka

  10. Kakaakin berkata:

    Sebagian besar orang yang sekolah, bukan untuk menimba ilmu…
    namun untuk mencapai gelar, hingga memudahkan pekerjaan nantinya😦
    Jadinya segala carapun dilakukan…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s