Syukurku Tak Terkira

Perjumpaan nyata yang tidak terduga. Perjalanan sore setelah beberapa aktivitas yang kulalui harus aku akhiri di sebuah rumah yang agak mewah. Wanita yang luar biasa dengan aktivitas yang banyak di luar ternyata tidak melupakan keluarga tercinta di rumah. Pembicara dan dosen ini telah membuatku mengerti tentang sebuah kata, penerimaan.

Setelah duduk di sofa panjang berwarna coklat itu, kami langsung disambut dengan seorang anak yang sangat kukenal ciri-ciri fisiknya. Masya Allah, aku tertegun. Anak seperti inilah yang sering kulihat di buku- buku psikologi, media cetak/ elektronik lainnya. Aku tidak menyangka akan bertatapan langsung dengan wajah ‘kembar sedunia’ itu. Kalan mau dikatakan, aku penasaran sekali dengan anak- anak yang seperti itu. Bingung nggak anak seperti apa sih yang membuatu penasaran❓

Anak itulah yang disebut- sebut sebagai penderita down syndrom. Rasa penasaranku mengantarkanku bertanya dan mengajaknya main. Mbak Ijah, dia memanggil dirinya. Dia langsung mendekatiku sambil membawa kertas dan pena. Tanpa ada sebab, Ijah langsung memperlihatkan buku tulis dan penanya.

” Amma, lihat,” kata Ijah memulai percakapan.

“Wah, ini tulisan Mbak Ijah ya. Bagus sekali ya. Emang Mbak Ijah udah bisa nulis apa aja?”

“Mbak Ijah bisa nulis banyak. Satu, dua, tiga, banyak…,. Pokoknya banyak, Amma. Mbak Ijah pengen pinter biar jadi dokter.” Jelasnya kepadaku.  Dia memperlihatkan tangan yang membentuk lingkaran besar di hadapanku. Ijah ini anak pertama dari 5 orang anak yang dimiliki si ummi. Keberadaan dan penerimaan Ijah merupakan kehebatan dari orang tua Ijah.

“Mbak Ijah suka gambar nggak? Hayo, kalau memang bisa, amma mau dong digambari sama Ijah. Gambar orang aja. Mau ya?” Sebenarnya itu untuk melihat seberapa jauh dia bisa berinteraksi dengan aku.

” Amma yang menggambar dulu, terus nanti Mbak Ijah yang ngikuti gambar Amma ya?” Tanyaku. Aku mulai menggambar. Setelah aku selesai, aku meminta agar Ijah mampu melakukan apa yang dikatakan olehku.

“Amma, Mbak Ijah nggak kuat pegang pena,” katanya dengan melihat wajahku.

“Oke, amma buat gambaran apa lagi ya?” Aku berpura- pura meminta pendapatnya.

” Bebek, Amma. Ayam jago juga, Amma,” kata dia meminta aku mengikuti kehendaknya dengan meletakkan tanganku di atas buku. Aku mulai menggambar kartu muslimah berjilbab, bebek, dan ayam.

” Nah, Mbak Ijah, amma kurang bisa buat ayam, nggak apa-apa ya?” Ujarku. Dia diam dan mengangguk. Nah, Mbak Ijah nanti sambung ya, seperti ini.” Aku mencontohkan, kubuat garis putus- putus yang membentuk huruf A. Aku biarkan saja, menunggu reaksinya.

“Sekarang giliran Mbak Ijah ya, ” ajakku.

” Tangan Mbaj Ijah nggak kuat, amma,” katanya mencari pertolongan di mataku. Akhirnya kugenggam jarinya dan dia mengikuti alur garis putus- putus itu.  Jari- jari dan telapak tangannya berbeda dari keadaan jari dan tangan anak- anak seusianya. Perbdaan yang kedua, ilmu itu langsung kudapatkan. Gaya berlari dan berjalannya pun berbeda. Ijah berjalan dengan agak berjinjit. Itu yang kudapati dari observasi singkat itu.Dalam pikiran yang penuh dengan keinginan ingin tahu banyak, tanpa kusadari Ijah berkata,” Mbak Ijah sayang sama amma. Mbak Ijah suka amma. Mbak Ijah I love you amma, ” kata Ijah dengan penuh semangat.

” Emang Mbak Ijah tahu apa itu I love you? ” Beberapa jawabannya tidak begitu kuingat, tapi ada satu kalimat yang dia ucapkan. ” I love you itu, I love you full, amma.” Aku dan temanku tertawa. Diam- diam, dia mendekatiku dan memelukku.

“Amma buatkan gambar love ya, ” bisiknya kecil. Aku pun mulai menggoreskan garis putus- putus membentuk tanda love. Dia senang sekali.🙂

Si ummi melihat reaksi Ijah dengan tersenyum- senyum.

“Mbak Ijah itu usianya sudah 13 tahun. Alhamdulillah sekarang Mbak Ijahnya sudah mandiri. Dulunya waktu tahu diberi anaknya menderita down syndrom seperti ini, rasanya sulit sekali menerimanya Alhamdulillah Allah memberikan sikap menerima keadaan Mbak Ijah sehingga sekarang Mbak Ijah kami hanya memberikan yang terbaik untuk dia. Dia sekarang bersekolah di SLB dan dilatih keterampilan dasar untuk diri sendiri dulu.

Aku masih ingin melihat sesuatu. Kutanyakan warna gordeng hijau, Ijah menjawab dengan putih. Kuberitahu itu warnanya hijau bukan putih lalu kutunjukkan warna putih. Setelah itu Ijah ke kemarnya dan mengeluarkan tas sekolahnya, senter, dan buku. Dia bercerita.

“Amma, ini tas sekolah Mbak Ijah. Banyak bukunya,” sambil memperlihatkan isi tasnya. Antusiasnya untuk diperhatikan dan berbicara secara terus menerus tidak pernah berhenti sampai akhirnya aku dan temanku pamit. Kami pamit dan Ijah menyalamiku dan memelukku. Ada rasa sayang yang mulai muncul. Ijah ^^….

Menerima pemberian Allah lebih baik daripada menggerutu atas pemberian itu. Beri yang terbaik yang kita mampu berikan untuk orang- orang yang kita sayangi meskipun kekurangan itu sangat tidak kita sukai. Menyadari bahwa setiap yang diberikan oleh Allah tidak pernah sia- sia akan memberi sikap yang positif agar terus berprasangka bahwa sesuatu yang kurang pun akan memiliki nilai.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

8 Balasan ke Syukurku Tak Terkira

  1. kawanlama95 berkata:

    tanda kesyukuran adalah tentram di dalam hati semoga Allah tambahkan nikmat-nikmat yang lain

    Suka

  2. nita berkata:

    hik….hik….
    jadi terharu cz selamaa ini suka marah2 dengan kekuranganku dan kurang mensyukuri kelebihan dan nikmatnya..tq ya…harni aku dpat satu pelajaran lagi=>>mensyukuri yg sd ada…dan tak perlu meyelasi yang sd terjadi,semoga qt menjadi manusia yang sll bersyukur,amiiiiiiiiiiiiiin,sulit kah itu

    Suka

  3. mamah Aline berkata:

    saya harus lebih belajar lagi dalam mensyukuri apa yang selama ini saya dapatkan dalam hidup mbak

    Suka

  4. ummurizka berkata:

    bersabar dan bersyukur adalah lebih baik drpd meratapi keadaan, dengan bersabar dan bersyukur yakin Allah akan menambah nikmat yang banyak..

    Suka

  5. Kakaakin berkata:

    Subhanallah…
    Beberapa kali aku berdo’a
    “Ya Allah… berikanlah terus kekuatan dan kesabaran pada setiap keluarga yang KAU titipi amanah berupa anak dengan kondisi yang khusus…”

    Suka

  6. Ping balik: Mengapa Menangis? « Try 2B cool 'n smart…

  7. Ade Truna berkata:

    tabah dan tawakal atas keadaan yg berat berbuah kebarokahan kelak, amin.

    Suka

  8. Ping balik: CT31. 22 DISEMBER 2010: SELAMAT HARI IBU BUAT IBU-IBU DI INDONESIA « LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s