PIPIT KECIL DI PARKIRAN

Pagi cerah, dengan tanah masih basah oleh air hujan yang baru turun semalam. Langit Nampak bersahabat pagi tadi. Matahari pun seakan enggan meninggalkan peraduannya. Matanya malas terbuka, tapi tanggung jawabnya harus dia jalankan. Dia beranjak dan mulai bersinar sedikit dari balik awan yang mulai menipis.

Tempat parkir masih banyak yang kosong, namun kegiatan kurban sudah mulai dilaksanakan. Sengaja aku datang agak siang karena takut mendengar rintihan hewan kurban dan melihat darah yang mengalir dari leher hewan itu. Syukurlah, sapi sudah dipotong. Aku tidak mendengar suaranya sama sekali. Anak-anak kulihat dari kejauhan sedang asyik menonton prosesi penyembelihan. Ih, ngeri tuh. Apalagi waktu aku mendengar suara kambing yang dipotong (karena saat itu tinggal kambing yang belum dipotong), suaranya menyayat hati. Aku sedih. Suaranya hampir mirip seperti suara manusia yang memanggil minta ditolong agar tidak jadi dikurbankan.

Anak-anak asyik dengan kegiatan mereka, sampai semuanya selesai dilaksanakan dan semua yang hadir makan bersama. Hmmm…Ada yang bantu memotong- motong, menimbang, membungkus, dan memasak daging. Pokoknya semuanya bergembira dalam kurban yang sederhana.

Aku tidak mau melihat dari dekat lalu kulewati parkiran motor. Tanpa kusadari, mataku melihat ke bawah dan merasa ada yang bergerak di tanah. Kudekati benda kecil yang bergerak itu. Ternyata, burung pipit kecil. Bayi pipit yang sepertinya baru menetas dari cangkangnya, kecil. Mata burung itu belum terbuka, tempurung kepalanya pun masih bening, kepak sayapnya masih lemah, kari-jarinya pun tipis dan kecil. Masya Allah bayi pipit itu jatuh dari atas. Kuambil dan kuletakkan di tangan. Suara ciap-ciap terdengar sangat kecil. Dia butuh ibu.

Kucari sarangnya, namun tidak diketemukan. Aku pun meminta bantuan teman untuk mencari sarangnya. Jelas saja, kami tidak menemukan sedikit pun jejak sarangnya. Seekor pipit dewasa bertengger di kabel listrik. Pipit itu terbang sebentar lalu kembali lagi. Tidak ada yang bias memastikan apakah itu ibu dari si Pipit kecil? Apalagi aku, yang tidak punya pengetahuan sama sekali tentang Pipit. Sedih sebenarnya, aku takut dia mati di tanganku karena kata temanku kalau dia terus di tangan, dia akan mati. Aku berpikir kalau pun diletakkan di sembarang tempat, apakah induknya akan kembali member makan? Sudahlah, dengan saran dari beberapa teman, akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan Pipit kecil di antara dedaunan rimbun dalam pot. Sungguh naluri disana bermain, ketika Pipit kecil kubawah di lantai 2, suara ciap-ciapnya mulai terdengar merdu. Setelah itu sahut- sahutan suara pipit besar menjawab ciap kecil itu. Bismillah, semoga dia selamat dan induknya segera datang memberi makan.

Semoga Allah menerima semua amalan kita.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

4 Balasan ke PIPIT KECIL DI PARKIRAN

  1. Kakaakin berkata:

    Duuh.. kasihan banget si pipit kecil, semoga bisa bertahan ya…
    Bagaimana nih Idul Adhanya? banyak makan daging ya? πŸ˜€

    Suka

  2. Ah…sampeyan kok takut ma rintihan hewan yang dipotong, darah yang mengalir dari lehernya. Tapi kok sampeyan gak pernah takut menggigit dengan gemas daging-daging mereke…so…

    Suka

  3. ummurizka berkata:

    Amin mbak…semoga Allah ridho atas apa yang mbak lakukan…, Insya Allah akan menjadikan tabungan amal mbak.

    Aamiin…Semoga kita bisa mengamalkannya ya, Mbak πŸ™‚

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s