Dihukuman Terus, Aku Membangkang…

Begitulah yang aku rasakan dari seorang anak. Kekesalannya telah membuat dia menjadi anak yang pembangkang. Dia kesal karena selalu saja dia dijatuhi hukuman oleh orang yang kurang suka dengan sikapnya. Mungkin benar dia salah, tapi bukan dengan menghukum ini itu dia bisa dikendalikan. Toh orang banyak yang bisa mengendalikannya tanpa hukuman yang membuat hatinya jengkel, Misalnya, ajaklah dia berbicara ketika suasana hatinya sudah tidak emosi lagi. Dia akan merespon balik apa yang kita katakan. Kata-kata yang halus dan penuh makna akan ditanggapinya dengan mula- mula melihat mata kita lalu mencari kebenaran dari mata kita itu. Mata dan matalah yang berbicara. Kebenaran dan kejujuran yang diperlihatkan dari mata lawan bicara mudah sekali dideteksinya. Berhati- hatilah kalau berhadapan dengannya karena jika dia menemukan ketidakjujuran dari mata kita, dia tidak akan pedulikan dengan apa yang kita ucapan.

Sebenarnya aku akan memfokuskan kegiatan menghukum terhadap anak-anak. Banyak di antara anak-anak yang berperilaku kurang baik di lingkungan rumahnya sebagai akibat dari orang tua yang memberi contoh yang tidak baik. Hukuman yang bukannya memberi pelajaran dan efek jera, tetapi hukuman itu membuat si anak menjadi pribadi yang lai di luar rumahnya. Apa yang terjadi dengan hukuman yang ada?

Anak yang selalu dihukum di rumah dengan hukuman yang keras dan tidak mendidik membuat anak akan tampil beringgas di luar lingkungan rumahnya. Bila setiap kesalahan, si anak selalu mendapat hukuman yang menyakitkan, apakah berdampak bagi kehidupannya di luar rumah? Hampir banyak kasus yang ditemui demikian. Latar belakang anak-anak yang destruktif ternyata berakar dari keluarga yang menerapkan disiplin. Penerapan disiplin dengan keras, misalnya dengan menghukum memukul tali pinggang ke tubuh si anak, mengurung di kamar mandi, dan lain sebagainya. Terus, kalau ditanya dengan orang yang hidup di era tahun 80-an atau sebelumnya, menghukum seperti itu bukan suatu permasalahan. Anak yang dihukum seperti itu menjadi anak yang baik dan berprestasi. Nah, ada apa dengan hukuman dulu dan sekarang?

Kata orang tua zaman dahulu, menghukum dengan keras itu sudah biasa malah hampir setiap orang tua pernah melakukannya, tetapi mereka memang jera. Yang terlihat adalah anak-anak yang tangguh, yang lahir setelah hukuman diberikan. Orang tua pun dulu tidak langsung menghukum, ada tahapannya. Biasanya mereka menasihati dulu, kalau memang tidak mempan dengan nasihat dan berbicara lemah lembut, hukuman baru diberikan. Begitulah.

Dari beberapa kasus, banyak orang tua yang tidak mengajak bicara anaknya ketika berbuat salah, tidak menasihati, malahan langsung main hukum. Tentu saja, ada yang tidak menerima langsung apa pun bentuk hukumannya. Mungkin kita juga, apalagi saya. Menghukum, tanpa mendengarkan terlebih dahulu alasannya membuat orang yang dihukum kesal dan ada marah yang tertahan, terlebih lagi jika hukuman itu berasal dari atasan.

Pengaruh televisi, yang menampilkan tontonan marah-marah si anak pada orang tuanya membuat anak mencontoh perilaku tersebut sehingga wajar saja jika anak yang menonton adegan itu langsung mempraktekkan kepada orang tuanya. Na’udzubillah.

Hukumanlah dengan tidak langsung menghukum, tanyakan dulu dan jelaskan dimana letak kesalahan anak, ajaklah berbicara.


Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

12 Balasan ke Dihukuman Terus, Aku Membangkang…

  1. paragraf pertama itu
    seakan aku sedang berkaca
    ketika aku membacanya
    tepatnya; persis

    tq mba😀

    Hehehe, Adiehf….Bagian mananya yang tepat, Diehf

    Suka

  2. kangmas ian berkata:

    yup betul..seperti ketika menyuruh anak sholat..apakah langsung dipukul? enggak kan..ternyata memang banyak tahapannya ^^

    Ya, Ian.Ilmu menjadi abi sdh dipelajari belum, Ian.Sudah dekatkan waktunya….

    Suka

  3. ~jayaros berkata:

    berikanlah hukuman yg mendidik …😛

    Yang tidak membawa dampak buruk bagi anak dan anak menyadari perbuatannya….

    Suka

  4. si~j@ya berkata:

    Belum tentu huluman dapat menyelesaikan masalah,
    btw berikanlah hukuman tidak memberatkan …🙂

    Banyak bukti klo menghukum yang kurang tepat malah menimbulkan masalah,Pak.

    Suka

  5. Seminyak villas berkata:

    Terima kasih atas infrmasinya mbak, memang benar hukuman bagi anak yang bandel sekarang itu beda sekali dengan orang dulu mungkin faktor melihat TV sinetron marah dan menganiaya anaknya itu pengaruh juga buat anak, akan tetapi hubungan orang tua dengan anak harus terjalin dengan baik agar anak tidak melawan. ya kan mbak?
    Salam kenal🙂

    Iya, malah sekarang…TV lebih didengerin daripada ortu,Mbak. Moral anak semakin buruk tanpa bimbingan yang baik dari ortu. Salam kenal kembali,Mbak….

    Suka

  6. ummurizka berkata:

    Anak sekarang beda jauh dengan anak zaman dulu yang sekali dinasehati atau dimarahi langsung nurut, anak sekarang tidak bisa dibegitukan mungkin bisa saja karena pengaruh gizi, teknologi dan informasi yang demikian pesat kemajuanya.
    Masing-masing anak adalah unik seperti kata kak seto, sebagai orang tua harus bijak dan memahami keunikan anak-anak dalam membimbing mereka. Bentakan dan kata-kata kasar kayaknya bukan kalimat yang tepat untuk mendidik anak dizaman sekarang.

    Didiklah anak sesuai zamannya ya,Mbak. Adanya keinginan yg besar dari ortu untuk belajar memahami perkembangan anak mereka. Meli yakin, Mbak lebih pandai kayaknya hehehe….

    Suka

  7. Cerita Dewasa berkata:

    Anak tak seharusnya dihukum ketika melakukan kesalahan, yang diperlukan adalah penjelasan kenapa dia salah dan bagaimana caranya agar dia tak lagi mengulangi kesalahannya

    Boleh saja menghukum, memberi funishment, namun harus diperhatikan funishment apa yang cocok dgn perkembangan mereka. Funishment yg tanpa arahan itulah yg tidak mendidik, terkesan membabi buta….

    Suka

  8. Anak yang terlalu dikerasi di rumahnya, nantinya di luar memang akan beringas, karena merasa “bebas”…

    Betul, sudah banyak buktinya,Pak….

    Suka

  9. BENY KADIR berkata:

    Anak yg dibentuk dgn pendekatan yg keras pada zaman sekarang malah membuat anak jadi beringas atau bisa jadi membuat anak tidak PD dan punya hambatan dlm membangun relasi dan komunikasi dgn orang lain.
    cinta dan perhatian serta penyadaran sangat dibutuhkan utk membentuk kepribadian anak zaman sekarang.

    Sepakat,Pak. Selagi terjalin komunikasi yg baik dgn anak, insya Allah mereka mudah diarahkan untuk menjadi baik….

    Suka

  10. adetruna berkata:

    hukumanlah dengan proporsional….

    Betul, yg tepat dan efektif ya Pak….

    Suka

  11. Anak yang terlalu dikerasi di rumahnya, nantinya di luar memang akan beringas, karena merasa “bebas” dan semua itu harus dalam pantauan orang tua.
    Salam kenal🙂

    Suka

  12. alisnaik berkata:

    saya suka banget nih tulisan.
    sungguh bermanfaat😮

    penghargaan dan hukuman (reward and punishment) emang lebih baik nya diberi secara bertahap, dan inti nya adalah “komunikasi” yang baik🙂

    terima kasih dan mohon maaf

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s