Dia pun Merasa

MeAllah berikan dia hati yang lunak sehingga dia menangis dan mengerti apa yang kusampaikan. Subhanallah, anakku. Anak yang tidak biasa itu membuat aku memposisikan aku bukan sekedar guru, tetapi orang tua yang mengajari anaknya. Beginilah ceritanya.

Ketika kusampai di sekolah, kulihat seorang ibu menggendong anak balitanya, wanita. Balita itu dia lepaskan dan langsung berlari-lari kecil, maklum usianya sudah 1 tahun 3 bulan. Bulu matanya lentik, berjilbab merah muda memasuki ruang kelasku. AKu yang baru mengoreksi melihat ada suara kaki kecil yang masuk ke kelas. Kulihat ke arah pintu, ternyata ada makhluk mungil disana. Aku tersenyum. Kaget kalau karena ada orang, dia berusaha berlari kencang, tapi dia terjatuh. Aku menuju ke arahnya dan dia langsung melihat ibunya yang sudah ada di muka pintu.

Ternyata anak itu adalah adik dari seorang anak kelas 2, sebelah kelasku. Si adik menunggu kakaknya yang masih asyik dengan taekwondo.  Kakaknya adalah anak yang pandai, namun gaya belajarnya yang kinestetik dan terkesan hiperaktif membuat si anak menjadi salah satu siswa yang istimewa di kelasnya.

Ceritanya begini…

Si anak belum ulangan, terus ayah dan ibunya meminta dia untuk mengerjakan ulangan pada hari ekskul. Mungkin karena capek setelah taekwondo, ketika ayah dan ibunya meminta mengerjakan ulangan (dia tidak ikut karena sakit), dia membantahnya. Suara kerasnya membantah ibu dan ayahnya. Si ayah mendekati dengan bahasa yang sangat halus sekali untuk menasihati si anak. Ibu yang sedang menggendong adiknya pun ikut serta menasihati. Setelah beberapa menit ‘bertarung’ dengan si anak, akhirnya keduanya masuk ke mobil. Aku tidak berani ikut campur ketika ayah dan ibu si anak sedang menasihati. Aku masih melihat koreksianku sampai aku mendengar pintu mobil dibanting dan kulihat ibunya masuk ke mobil dengan wajah yang tertunduk menutup sebelah wajah.

Aku keluar kelas dan kulihat si anak melihat mobil ayah dan ibunya menjauh dari kelasnya. Matanya masih menatap mobil yang akhirnya hilang dari pandangannya. Kulihat matanya dan kuajak dia duduk. Kupeluk dia. Terus, kupandangi lagi matanya, tak terasa air mataku menetes. Kok aku cenggeng padahal aku hanya menasihati sedikit si anak yang matanya mulai berkaca-kaca juga.

” S (inisial nama) mau nanti ayah dan ibu pulang lalu tiba-tiba terjadi kecelakaan, mobilnya ditabrak hanya karena memikirkan S (Dia melihat ke dalam mataku)? Mau nanti tiba-tiba menerima kabar kalau ayah dan ibu sudah nggak ada lagi ? ….blablabla…. Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca).

Tak berapa lama kemudian, datanglah ibunya si anak (kulihat masih menunduk berjalan ke arah kami). Setengah berbisik, kukatakan pada dia.

“Sekarang ke tempat Ibu, kejar Ibu lalu minta maaflah pada Ibu.” Kutepuk pundaknya dan dia pun berlari kecil ke arah ibunya. Masih kuperhatikan tingkahnya, ada gerak manja dari si anak, namun si ibu tidak tahu bahwa dia ingin meminta maaf. Belumlah si anak meminta maaf, si ibu sudah menggamit tangannya menuju kelas untuk ulangan. Apa yang terjadi berikutnya, hati yang mulai tersentuh tadi sedikit tidak menyukai tindakan ibunya sehingga keluarlah kata,” Nggak!” Aku masih disana. Tanpa harus dikomandoi, terucap kata, ” Ayo, S….” Dia pun menurut.

Aku menasihati diriku sendiri. Apa saja yang bisa kuberikan untuk emak dan papaku ?


 

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di isi hati. Tandai permalink.

11 Balasan ke Dia pun Merasa

  1. Junaedi berkata:

    Salam kenal maukah menjadi follower di blog saya

    Salam kenal juga,Pak. Ntar saya coba ke rumahnya….

    Suka

  2. Kakaakin berkata:

    Pertanyaan yang sama muncul juga di hatiku, Mel… apa yang sudah kulakukan untuk mereka ?

    Apa,Mbak?hehehehe….

    Suka

  3. BENY KADIR berkata:

    Bagus buat renungan bagi saya juga, Mba.
    Sebagai orang tua kita juga bisa memahami posisi anak.

    Sama,Pak. Mari bukan sekedar merenung ^^

    Suka

  4. Tidak ada satupun yang dapat menyeimbangi pemberian dari sebuah pengorbanan orang tua untuk anaknya.

    Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; Maka, Kita Dapat Mengatasi Permasalahan Yang Besar.

    Sukses Selalu

    Salam~~~ “Ejawantah’s Blog”

    Setuju,Pak !

    Suka

  5. setitikharapan berkata:

    Ketika saya ditanya akan hal itu, saya pun akan bingung menjawabnya mbak, masih sedikit dibandingkan dengan apa yang sudah mereka berikan kepadaku.

    Suka

  6. ummurizka berkata:

    Terharu saya membacanya, seperti saya kadang karena suatu kekhilafan saya tidak mengerti perasaan anak saya yang sedang sedih dan kesal…seharusnya seorang tua harus lebih memahami perasaan anak, dan untuk itu diperlukan kesabaran, pengertian akan suasana hatinya…

    Suka

  7. This is the wonderful thing i spend long time to find

    it

    Suka

  8. nurhayadi berkata:

    Anak memang beda dengan orang tua, kadang kita pinginnya anak seperti kita

    Suka

  9. jadi ikut terharu huhu

    Suka

  10. Alam berkata:

    hiks.. hiks..

    Suka

  11. alisnaik berkata:

    selamat pagi.

    cerita yg bagus dan menyentuh.
    ini beneran kisah nyata?

    semoga anak itu ke depannya bisa lebih baik lagi😀

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s