Dia Menangis

Menulis dengan huruf sambung sudah lama tidak aku lakukan, sejak SD dulu. Kini aktivitas itu harus kulakukan lagi. Aku mulai belajar. Kadang ketika ada tulisanku yang salah, anak-anak ada yang langsung memberi tahu kalau itu salah. Alhamdulillah. Anak yang kritis itu bernama Salma. Tak lupa aku ucapkan terima kasih kepadanya karena telah mengingatkanku kembali. Huruf sambungku buruk sekali sampai-sampai anak berkata, ” Bunda itu tulisannya apa ya ?”

Dengan tersenyum (sebenarnya malu), aku menjawab,” Oh, itu. Nggak terbaca ya tulisan Bunda.” Kusebutkan huruf itu. Setelah seminggu aku mencoba, alhamdulillah aku bisa. Ada sedikit anak yang mempunyai tulisan sambung yang bagus bahkan bisa dikatakan lebih bagus dariku. Malu rasanya.

Hari ini, aku mengajar di Thalhah. Di setiap kelas ada anak spesial. Salah satu anak spesial di kelas ini adalah Shidqi. Jauh sebelum aku mengajar dia, aku sudah pernah berbicara dengannya di perpustakaan waktu dia mengerjakan soal matematika. Si anak memiliki kekurangan dalam hal menulis, namun ada kelebihan yang lain yang mungkin hanya beberapa guru saja yang mengetahuinya. Dia ringan tangan. Terbukti ketika aku mengajar di kelasnya, diam-diam dia memberikanku susu kotak UHT.

” Shidqi, ini buat Bunda ya ?” Aku menunduk sedikit untuk mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya. Tidak ada suara yang keluar, hanya anggukan ringan dan dia pergi. Itulah Shidqi. Suatu kisah yang menggugah disampaikan oleh guru kelasnya ketika membimbing anak-anak sholat Zuhur berjamaah di kelas.  Entah mengapa ketika pembacaan surat Al Fatihah, Shidqi menangis sejadi-jadinya.

” Benar Bun, baru kali  ini dia menangis, ” kata Bunda kelasnya. Itu kejadian yang pertama. Kejadian yang kedua terjadi pada tadi, Shidqi menangis kembali saat pembacaan surat Abasa. Subhanallah, hatinya mudah tersentuh. Kelebihan yang dia miliki setidaknya menutupi kekurangan yang ada pada dirinya yang insya Allah berangsur-angsur akan hilang. Aamiin.

Dia paling suka kalau aku bercerita. Dua atau tiga hari yang lalu, dia marah sama temannya. Kebetulan siangnya aku mengajar di kelasnya. Aku mempunyai cerita, yang aku harap dia mengerti dan berpikir pada isi ceritaku. Kisah Putri Maguete, si Putri Pemarah’, adalah kisah yang cocok untuk mengajar Shidqi melihat keburukan dari marah. Dia duduk manis di atas kursinya dengan melihat ke arahku. Hmmm, begitu nikmatnya melihat dia bisa duduk lama di kursi seperti itu. Akhirnya, dengan agak lesu (memang dia harus dibujuk dulu untuk menulis) dia menuliskan jawaban dari 5 pertanyaanku.

Tadi, kuulang kembali cerita yang kusampaikan beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah anak-anak mampu mengingat apa yang aku ceritakan itu dengan benar meski harus kutambah sedikit jika kurang.

” Tuh, lihat matanya, nanti seperti Putri Maguete lho…,” kataku ketika aku melihat dia melotot kepada temannya. Shidqi pun menunduk, tapi mulutnya manyun.

“Nah, mulutnya juga. Ntar nggak bisa kembali lagi seperti semula lho.” Lagi-lagi dia tidak membuat bentuk bibir yang manyun.

Aku sayang dia ya Allah...
Jadikan Shidqi anak yang sholeh
yang hatinya terjaga dan mudah tersentuh 
pada kebaikan untuk terus diikuti
pada keburukan untuk segera dijauhi

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

18 Balasan ke Dia Menangis

  1. Pakde Cholik berkata:

    Selamat pagi sahabat tercinta
    Saya datang untuk mengokoh-kuatkan tali silaturahmi sambil menyerap ilmu yang bermanfaat. Teriring doa semoga kesehatan,kesejahteraan,kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan kepada anda .
    Semoga pula hari ini lebih baik dari kemarin.Amin

    Jangan ketinggalan, ikuti acara “Gelar Puisi Aku Cinta Indonesia” hanya di BlogCamp.
    Klik :http://abdulcholik.com/2010/08/01/gelar-puisi-aku-cinta-indonesia/

    Terima kasih.
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

  2. setitikharapan berkata:

    Amiin ya Rabb. kabulkan doa guru yang solehah ini. Semoga semua anak didiknya menjadi generasi terbaik bangsa ini.

    Suka

  3. milimeterst berkata:

    Anak saya baru bisa menulis minggu ini (masuk TK besar) sebelumnya di TM kecil dia ngga bisa menulis (dia bisa baca)saya beri semangat…saya bilangke anak saya “… ngga apa2 ko.. ngga bisa nulis… kan kita nulisnya pake keyboard…”

    Suka

  4. FiyaFiya berkata:

    Assalamu’alaikum bunda.
    Wh0aa, jadi pengen ketemu sama murid2x bunda.

    Suka

  5. kang ian berkata:

    hehehe pinter juga ni gurunya wkwkwkw

    Suka

  6. alisnaik berkata:

    wah, saya juga udah lama gak nulis huruf bersambung.
    (sorry fastreading)

    Suka

  7. 'Ne berkata:

    salam..
    wah bagus ya memberikan palajaran berharga dalam bentuk cerita, sepertinya lebih mengena. semoga Shidqi bisa menjadi anak yang baik.. dan semoga bu guru di beri kelapangan dan kesabaran menghadapi murid2nya..

    oya sampai sekarang saya paling susah menulis huruf sambung hehe..

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Benar,Mbak. Bercerita memang sangat bermanfaat untuk siapa aja….Aamiin, semoga Shidqi bisa jadi anak yang sholeh ya,Mbak🙂
      Aamiin….Semoga kita semua diberi kesabaran dalam segala hal ya Mbak….Kayaknya huruf sambung itu diajarkan di kelas bawah hanya untuk mengajari mereka tentang gerakan motorik tangan yang bermacam2….

      Suka

  8. masyhury berkata:

    artikelnya menyentuh banget ya..
    keren..🙂

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s