‘Siap Belajar’

Ingat beberapa hari mengajar. Terasa berbeda sekali antara mengajar kelas tinggi dan rendah. Kalau di kelas tinggi dulu, kita bisa bahas soal sampai beberapa item, tetapi di kelas rendah tidak. Anak-anak diberi soal 5 saja itu sudah terlalu banyak, apalagi soal itu membutuhkan keterampilan menulis. Nah, keterampilan inilah yang belum terasah dengan baik. Dulu, kalau anak-anak didikte, mereka akan bergegas untuk menulis sehingga dalam beberapa menit mereka sudah menyelesaikannya. Ini, tulisannya aja sudah ditulis di papan tulis, tetapi anak-anak masih saja menulis lambat. Penyebabnya karena kemampuan motorik halus mereka belum berkembang sempurna. Masalah ini akan segera selesai sesuai dengan kematangan jiwa mereka. Aku meyakininya.

Konsep kematangan jiwa itu akan sejalan dengan usia, namun kita harus menggiring mereka memahami konsep-konsep yang ada. Misalnya, konsep belajar di kelas, konsep kapan waktunya main dan kapan harus belajar, konsep kapan berbicara dan kapan waktunya mendengarkan orang lain. Semuanya bisa dipelajari sejak kecil. Dua hari ini aku menanamkan konsep bagaimana menghadapi Ustadz dan Bunda yang mengajar. Setelah aba-aba, ‘Anak sholeh’, anak-anak diam. Aku menuliskan sebuah kalimat di depan kelas tanpa bersuara.

“Kalau ada Ustadz dan Bunda berdiri di depan kelas, mulutnya harap dikunci.”

Setelah kutuliskan kalimat itu, aku meminta semua anak membacanya dengan nyaring. Semua membaca, tanpa terkecuali. Aku pun menyuruh mereka mengulang kembali bacaan kalimat tersebut.  Aku sedikit menjelaskan bahwa kalau sudah siap belajar, tidak ada lagi ngobrol dan bermain di kelas. Alhamdulillah, penerapan konsep itu berhasil di dua kelas, tinggal satu kelas lagi yang agak kurang bisa diterapkan konsep ini. Semoga besok-besok mereka sudah mengerti dan menerapkan konsep itu dengan baik.

Menurutku tulisan seperti itu sebaiknya ditulis setiap hari di papan tulis dan anak-anak disuruh membaca nyaring tulisan itu. Sebenarnya tujuannya tidak lain agar mereka ingat bahwa ketika guru sudah berdiri di depan kelas, mereka sudah siap untuk belajar dan tidak ada lagi yang main-main. Jika memang ada permainan pada saat bermain, itu adalah hal yang berbeda. Saat ini mereka sudah sedikit mengenal dengan kondisi yang ada meski usaha untuk menanamkan konsep ‘siap belajar’ itu terus dilakukan.

Anak memang harus diingatkan terus. Kata seorang guru, “Kalau belum cerewet, itu belum guru SD.”  :mrgreen:  .   Ketika Jum’at kemarin kutanyakan pada mereka, “Masih ingat apa yang Bunda tulis kemarin?” Ternyata beberapa ada mampu menjadi provokator untuk mengucapkan kalimat itu dengan nyaring. Hasilnya, semua anak membacanya. Kelas agak sedikit tenang. Oh, iya, aku mau cerita, 3 hari sebelumnya aku menggajar di kelas Thalhah, materinyakan menceritakan pengalaman. Aku pun bercerita tentang pengalamanku selama liburan bersama kucingku. Sepulang dari sekolah, Shidqi (salah satu ABK menghampiri gurunya) berkata,” Bunda, besok aku mau beli kucing.” Bunda yang mendengar ucapan Shidqi langsung berkata kepadaku,” Bun, gara-gara cerita kucing, si Shidqi minta dibelikan kucing sama mamanya.” Aku yang mendengarnya hanya tersenyum. Dampak bercerita untuk kelas rendah memang luar biasa.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

22 Balasan ke ‘Siap Belajar’

  1. BENY KADIR berkata:

    Salam jumpa lagi, Bu Guru.
    Apa kbr?

    hehehe,jadi ingat ibu guru di sekolahku, mereka semua cerewet lho.

    Saya sendiri blm mau ngajar di kls rendah, payah.

    Salam Blogger!

    Suka

  2. jadi kalau belum cerewet belum jadi guru SD ya? tapi gimana, kalau gurunya emang punya watak pendiam…duh…gimana yah…

    Suka

  3. lili rosda berkata:

    betul sekali apa yang bunda ceritakan…
    subhanallah… pengalaman bunda bisa jadi pelajaran yang berharga bagi para guru… termasuk saya….duh…jadi kangen nih pengen masuk untuk ketemu anak-anak….

    Suka

  4. Cah Shalihah berkata:

    Mengajar anak-anak..lebih mudah bagi guru untuk mempengaruhi hal-hal yang baik-baik

    Suka

  5. darahbiroe berkata:

    hhahah
    aku mau jadi cerewet ahh
    biar isa jadi guru😀

    Suka

  6. facastriot berkata:

    Numpang lewat bu guru, asik dong ya tiap hari interaksi sama bocah2😀

    Suka

  7. FiyaFiya berkata:

    Bundaaaaaa..
    Pa kabar?
    Hihii.. Murid2nya pasti seneng punya guru kayak bunda🙂
    Semangaaat!

    Suka

  8. didot berkata:

    aku juga diam kalau lagi baca blognya mbak mel lho😛

    Suka

  9. fitrimelinda berkata:

    wahh..ibu guru yang baik..

    Suka

  10. AL berkata:

    Baik Bunda, saya siap belajar…

    Suka

  11. rizarahmi berkata:

    “Kalau ada Ustadz dan Bunda berdiri di depan kelas, mulutnya harap dikunci.”

    Wah, bisa dicoba ini🙂

    salam kenal🙂

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s