Slide (1)

Ketiga kelas yang kuajar memiliki ciri khas yang pastinya menjadi pemikiran sendiri bagiku. Di antara ketiga kelas itu, di kelasku hampir seluruh siswa ikhwannya suka buat kelas ramai. Ada-ada saja tingkah mereka. Masih ingatkan kisah hari pertama sekolah, ada Abang. Nah, karena si anak masih sulit diajak menciptakan kelas tenang, akhirnya panggilan Abang itu diganti dengan menyebut namanya lengkap, Ramadhan Alendra. Jadi ingat kisah Aisyah r.ha. yang menyebut nabi Muhammad ‘Demi Tuhannya Muhammad’ kalau Ibunda suka, tetapi kalau beliau tidak suka apa yang disampaikan Rosulullah saw, beliau akan berkata, ‘Demi Tuhannya Ibrahim’. Nah, itulah yang aku lakukan kepada Abang. Mulai kemarin, aku dan patnerku tidak memanggil dia dengan Abang, tetapi Ramadhan. Ternyata ada dampak positifnya, terlihat hari ini meskipun hanya sedikit. Alhamdulillah.

Yang jelas mengenai panggilan ini, yang harus kita pahami bahwa memanggil itu dengan panggilan yang baik, panggilan yang disukai oleh orang yang dipanggil, panggilan itu tidak dimaksudkan untuk mengejek. Jangan salahkan orang lain kalau ketika kita memanggil seseorang ternyata orang tersebut tidak menoleh. Jangan salahkan juga jika ketika kita memanggil nama orang dengan panggilan yang buruk, mereka balas memanggil dengan panggilan yang buruk juga (ini untuk yang belum tahu ya, kalau yang sudah tahu…pasti membalasnya dengan panggilan yang terbaik).

Yang biasa bercerita di komunitas orang dewasa akan merasakan sensasi yang berbeda dan menyenangkan jika bercerita di depan anak-anak. Wajah yang penuh harap dan ingin tahu apa kelanjutan cerita, wajah yang mendelik jika takut, wajah yang penuh dengan kegembiraan saat lucu, semua wajah tergambar di wajah polos anak-anak. Di depan anak-anak, aku menjadi diriku. Aku seolah-olah berada dalam dunia kecilku yang penuh dengan keceriaan. Teriakan, “Iya, mau diceritain lagi, Bunda !” Serasa kedudukan kita melebihi presiden aja:mrgreen: . Coba deh rasakan sendiri. Jika kita berada di lingkungan dan orang-orang yang membuat kita nyaman, kita inginnya berada disana teruskan. Yup, begitulah yang aku rasakan. Seorang teman di sekolahku berkata,” Anak-anak mampu membuat kita tertawa, beban jiwa serasa lepas, tapi kalau anak-anak sudah pulang…kepikir lagi dengan semua beban itu.”

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal : 28)


Kesenangan dunia begitu banyaknya sehingga kalau mengharap kesenangan yang satu, pasti bermunculan kesenangan lain di pikiran kita. Salah satu kesenangan yang kurasakan dalam profesiku itu adalah ketika berada di dekat anak-anak. Mereka membawaku berada di dunia mereka dan aku merasa senang di dalamnya.

Dunia tak ubahnya bak slide-slide film

Babak pertama dimulai, lalu berakhir

Muncullah babak selanjutnya dan seterusnya

Sampai ada kata ‘The End’

Semua TAMAT

Habis…

Film lainnya pun akan segera diputar

Slide-slide apa yang akan ditonton nanti?

Yang kita suka atau yang tidak kita suka

Yang menakutkan atau membuat gembira

Semoga slide yang muncul adalah slide-slide kebahagiaan

Bukan slide-slide yang membuat tangis dan merana

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Nilai2 Islami, Pernik Sekolah. Tandai permalink.

20 Balasan ke Slide (1)

  1. kang ian berkata:

    PERTAMAX dulu..

    Suka

  2. alisnaik berkata:

    selamat pagi.

    dunia anak-anak memang menyenangkan.

    memang dunia ini seperti slide film, namun semua orang akan memiliki the end yg sama. maut.

    terima kasih dan mohon maaf😮

    Suka

  3. Elly Sumantri berkata:

    Kepolosan anak-anak mengajarkan kita tentang arti sebenarnya hidup kita, tentang fitrah kita, tentang keagunganNya…

    Suka

  4. dreesc berkata:

    semoga hidup dree… slide2nya selalu membahagiakan…. sampai mucul the end

    Suka

  5. kanvasmaya berkata:

    wah klo tentang anak2 emang gak da bosennya deh..

    salam.
    kanvasmaya

    Suka

  6. Den Hanafi berkata:

    wah jadi inget waktu KKN(Kuliah Kerja Nyata) dulu. jadi pengasuh anak2 paud.🙂

    Suka

  7. tyan's berkata:

    Kadang dari anak-anak banyak mengajarkan kita banyak hal…,

    Suka

  8. hendro-prayitno berkata:

    dunia hanya sementara tidak abadi kita di sini, berdoa dan berusaha agar berwarna dan melihat kebawah dengan sedekah

    Suka

  9. AL berkata:

    Yap..yap..yap…
    Tapi beberapa tahun belakang, saya mengajar kelas besar… Ada yang baru, yaitu mendampingi anak-anak pada masa awal puber, juga kenakalan jenis baru. Seneng juga.. Tapi kadang kangen dengan kelas kecil🙂

    Di kelas besar, ketawanya berkurang, Bunda…

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Betul,Bu guru…klo di kelas besar, kita tampil sebagai teman/ sahabat anak….Itu nikmatnya🙂
      Hmmm, asal kita bisa dekat dgn anak, ketawanya nggak akan berkurang kok Bu guru wlo memang anak kelas bawah baru ngeliat mukanya aja udah bisa buat kita senyum….

      Suka

  10. Anak-anak adalah calon generasi bangsa. Sebaik-baiknya negara adalah yang memiliki generasi berakhlak mulia. Ehm, kalau di depan anak-anak serasa jadi presiden ya, Bunda?

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s