Kekaguman yang Sebenarnya ?

Begitu kagumnya sang teman dengan salah satu temannya sampai-sampai terucaplah sebuah kalimat,

“Subhanallah, benar-benar sosok yang menakjubkan !”

Teman, bolehkah kita mengagumi seseorang❓

Adakah di antara kalian menjawab boleh❓

Hmmm, berangkat dari suatu peristiwa, aku ingin menyampaikan apa yang ada di dalam pikiranku, mungkin dengan berceloteh dengan teman-teman, aku akan memperoleh sesuatu yang ‘wah’.

Kekaguman itu berasal karena kita tahu bahwa seseorang atau sesuatu itu memiliki suatu kelebihan, yang bisa jadi diri kita tidak memilikinya. Sebut saja seorang milyarder dengan penghasilan berjuta-juta tiap bulannya akan membuat orang mengaguminya. Tepatkah jika kekaguman kita limpahkan kepada sang milyarder❓

Aku juga sering mengagumi sosok Torey Hayden dengan kemampuannya mengatasi anak-anak yang bermasalah, terlepas dengan apakah dia muslim atau tidak. Aku mengagumi semua karya nonfiksinya yang membangun. Mungkin dari kalian banyak yang tidak tahu siapa itu Torey Hayden dan terus terang kekagumanku itu masih ada meskipun banyak karyanya yang belum kubaca. Semakin banyak aku membaca karyanya, semakin kagum aku dibuatnya. Apakah itu termasuk kekaguman yang dibolehkan❓

Seorang anak SMP kelas I sudah bisa hafal 4 juz, aku kagum dengannya meskipun aku tahu benar dengan sifat anak itu. AKu kagum dengan kemampuan yang dia miliki. Aku kagum dengan kerendahan hatinya, yang tidak membeberkan kelebihannya di depan teman-temannya. Wajarkah kekaguman seperti itu❓

Orang di sekitar melihat public figure adalah orang yang hebat, pantas dikagumi padahal adakah yang pantas kita kagumi selain Allah. Dia adalah Yang Maha, tiada ada yang menandingi. Kekaguman dengan Torey Hayden…bukanlah apa-apa, ada Sherlock Holmes atau Agatha Christy, atau siapa saja yang hasil jual bukunya berjuta-juta kopi tiap bulannya.

Aku mengagumi seorang anak dengan hapalan 4 juz…belumlah…Masih ada yang hapalannya 30 juz, masih ada yang memiliki bukan sekedar hapalan saja, tetapi juga memiliki wadah untuk menghasilkan generasi yang hapal dan cinta Qur’an. Jadi, ujung-ujungnya…Layaknya, bukan itu batas dari kekaguman kita.

Seorang yang pantas dikagumi adalah seorang yang seperti Ibrahim karena banyak pelajaran dari beliau yang patut kita teladani….

قد كانت لكم أسوة حسنة في إبراهيم والذين معه إذ قالوا لقومهم إنا براء منكم ومما تعبدون من دون الله كفرنا بكم وبدا بيننا وبينكم العداوة والبغضاء أبدا حتى تؤمنوا بالله وحده إلا قول إبراهيم لأبيه لأستغفرن لك وما أملك لك من الله من شيء ربنا عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير

” Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

(QS. Al Mumtahanah (60) :4)

Banyak kisah beliau yang layak kita jadikan pelajaran, rela berpisah dengan anak dan istri, menghadapi penentang dari umatnya, terlebih lagi ayahnya, kekaguman bagaimana keteguhannya dihadapan penguasa sampai-sampai rela dibakar,…. Kisah yang menakjubkan🙂

Kekaguman kita tidak terlepas dari pemimpin umat kita, pembawa kabar gembira, Rosulullah Muhammad s.a.w.

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al Ahzab : 21)

Kalau kekaguman kepada mereka, yang telah tercatat dalam Al Qur’an, tidak disangsikan kebenarannya dan semua orang mengetahuinya, apakah itu kekaguman yang sebenarnya❓ Nah, pantaskah kita mengagumi sosok manusia biasa yang sebenarnya tidak kita tahu secara keseluruhan kisah hidupnya menjadi seseorang yang kita kagumi❓

Kita hanya melihat dari luar, yang di luar tampak indah, mempesona, menyilaukan, dan sering mengundang decak kagum, namun kita tidak begitu tahu dengan kualitas di dalam dirinya. Oke, perilaku adalah cerminan hati, tapi toh hati sering berubah-ubah, fluktuatif sifatnya.

Tidak ada yang harus disalahkan tentang kagum atau dikagumi ini. Yang harus disalahkan adalah ketika seseorang kagum dengan sesuatu sehingga dia ‘menuhankan’ apa yang dia kagumi, maka apapun yang salah pada hal/benda yang dikagumi itu akan tersingkirkan. Inilah yang ditakutkan. Meletakkan dan mengkadar kekaguman pada porsi yang wajar sebaiknya dilakukan karena tidak ada yang pantas dikagumi selain Pencipta yang menciptakan kekaguman itu sendiri.


Berhati-hati dalam mengagumi seseorang sehingga jika kekaguman itu telah merasuk ke hati, maka apapun yang dilakukan oleh yang dikagumi akan diikuti. Terkadang, ikut-ikutan tanpa berpikir secara mendalam. Ingat, orang/ benda yang kita kagumi itu hanya sekejap, semua bisa hilang, begitu pun hal yang menyebabkan kita kagum❗ . Allah-lah yang mengetahui secara detail tentang keburukan dibalik kebaikan benda/orang yang kita kagumi. Pengetahuan kita hanya sedikit sehingga sangat wajar jika kita mudah mengagumi sesuatu.

Kalau ada teman-teman yang mengagumi blogku😯 , terutama apa yang aku tuliskan, kalian salah. Aku bukanlah orang yang pantas untuk dikagumi:mrgreen:

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Islam. Tandai permalink.

16 Balasan ke Kekaguman yang Sebenarnya ?

  1. kang ian berkata:

    PERTAMAX dolo y mbak mel😀

    Suka

  2. setitikharapan berkata:

    mengaggumi seseorang atau sesuatu saya rasa boleh-boleh saja mbak, asal kekaguman itu mampu menambah motivasi kita untuk jadi lebih baik dan mendekatkan diri kita pada Allah. Karena apapun yang ada pada diri kita adalah dariNya

    Suka

  3. Rini berkata:

    Mungkin kalo sekedarnya gak apa apa ya. Karena Nabi Muhammad sendiri selalu mengingatkan untuk tidak terlalu berlebihan termasuk mengagumi seseorang…:d
    Insyaallah umat Muslim hanya akan mengagumi Nabi dan Rasul Utusan Allah Yang Maha besar…

    Suka

  4. Adi berkata:

    Aku kagum dgn orang tuaku, walau kami dr keluarga pas2n tp bs menguliahkan aku dan adikku, entah nanti huTang sodara ato dmana, yg jelas demi kita tetap sekolah sampai tinggi.

    Suka

  5. rizki berkata:

    ikutan teh
    hehehe
    klo itu jadi penyemangat buat jadi lebih baik menurut saya boleh2 saja (sotoy mode on)
    klo ga salah kan kita diperbolehkan mengambil hikmah dari siapapun
    (klo salah tolong benerin ya :mrgreen:)

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Yup, Rizki ga sotoy (emang sotoy itu apa ya ? Serius, nggak tahu beneran artinya). Mengambil hikmah dari sang pemabuk, bukan berarti ikut-ikutan mabuk kan ? Ya…ga masalah sih sebenarnya, Ki…. 🙂

      Suka

  6. mhi_a berkata:

    halo bnda meli ,,😀

    Suka

  7. mhi_a berkata:

    halo bnda meli ,, ??😀

    Suka

  8. Rudy berkata:

    wah ku kagum sama web ini ……

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s