Glamor

Acara yang glamor dengan pembawa acara artis ibukota. Wah, baru kali ini aku mengikuti acara seperti ini. Ah, kalau tidak karena undangan dia dan rasa sayangku kepadanya, aku tidak akan datang. Sejauh yang aku tahu, acara seperti ini hanyalah acara kumpul-kumpul biasa keluarga dan teman-temannya saja. OMG, bukan hanya manusia biasa yang ada di sana, ada juga intel yang matanya selalu melirak-lirik orang. Serba salah jadinya. Wanita itu menjadi sasaran intel, huhf akhirnya kena juga….Wanita itu ketangkap kamera saat sedang menyuap bola-bola bakso. Merasa tidak menerima dengan perlakuan si intel, wanita itu langsung berkata,” Yah, kok nangkapnya waktu ngebakso sih, kan nggak bagus hasilnya. ” Si intel takut diomeli, terus ngabur.

Satpol PP dan pihak kepolisian ikut andil dalam acara ini. Yang mengatur lalu lintas itu memakai baju coklat susu dan hijau keabu-abuan. Dengan agak malas, wanita itu menyapa, ” Maaf,Pak. Parkirannya dimana.” Untunglah, tampangnya tidak seseram apa yang diucapkan walaupun hanya petunjuk untuk parkir. Dalam hati si wanita berkata,” Ternyata, salah kira aku.” Begitulah awal dia masuk ke dalam acara glamor itu.

Ribet…Buat acara yang seperti ini aja, prosedurnya banyak banget. Wanita ini harus kesinilah…nemuin ini, barulah dapat melenggang ke ruang. Hah, baru kali ini dia merasa muak untuk pergi ke suatu acara. Tidak pergi, nanti takut salah tanggap. Pergi, ya beginilah akibatnya. Suara musik mulai terdengar di telinga. Hah, ada suara yang tidak asing lagi, suara Pelawak imut yang ada di TV. Wanita itu mencari dimana sumber suara itu berada. Untung saja dia tidak sendiri disana, ada temannya. Ya, karena penasaran, wanita itu mencari sumber suara, ternyata. Benar sekali, suara yang ada adalah suara artis ibukota.

“Hebat, dia bisa menghadirkan artis ibukota. Bisa bayar berapa tuh untuk si artis, ” selentingan kata dari para tamu terdengar disaat wanita itu ingin mengambil minum dan makanan yang tersebar di tepi halaman.

Makanan dan minuman yang ada begitu menggiurkan, namun hatinya tidak begitu berminat untuk banyak makan, bukannya takut gemuk lho.  Wanita itu mencari siapa lagi yang dia kenal disana. Tidak diduga, dia menemukan teman yang selama ini ia pikir berhasil menjaga diri dengan memakai pakaian muslimah yang pernah ia kenakan. Astaghfirullah. Apakah hidayah begitu mudahnya leyap❓ Temannya tersenyum dengan malu-malu, namun si Wanita semakin mendekat. Dia menyapanya dan berbincang. Belum juga lama berbincang…Eh, temannya yang lain sudah memanggilnya. Putus juga pembicaraan si Wanita.

“Ini hanya ulang tahun, terus…sebisanya menggadakan acara semewah ini. Ya, dia hanya anak kecil. Semuanya telah diatur oleh mama-papanya. Dia tidak mungkin bisa membantah orang tuanya. ”

Wanita itu melihat dandanan sang putri dalam acara ini. Wajah sang putri yang penuh make up, gaun yang terbuka dengan panjang sedengkul, dan rambut diikat dengan pita berwarna-warni. Wanita itu yakin bahwa si putri merasa tidak bebas memakai semua perlengkapan itu, namun apa yang hendak dikatakan.

” Sebenarnya, aku nggak ingin dibuat sepertidengan gaya seperti ini, tapi kolega orang tua yang banyak, ya ngikut aja,” katanya.

Sungguh sangat disayangkan. Untung saja sang putri belum wajib dijatuhi hukum agama, tapi sebaiknya orang tua sang putri mengerti apa yang seharusnya dilakukan kepada buah hatinya.

Berhati-hatilah  mencintai  anak-anak dengan berlebih-lebihan karena rasa cinta itu kadang akan menghancurkan mereka dan melenakan mereka dalam tidur, yang mungkin akan membuat mereka tidak ingin bangun. Satu kali berbuat, maka akan diikuti berulang kali oleh anak. Glamornya kehidupan akan membuat akan jauh dari nilai-nilai agama. Dengan nilai-nilai yang kita punyai, kita akan berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Bersyukurlah bahwa yang mempunyai kelebihan harta, namun dia tidak memanfaatkan dengan berhura-hura menggunakannya untuk keburukan.

Bukan harta yang membawa kita sukses dunia-akhirat, tetapi kebaikanlah yang menjadikan kita diperhitungkan di kedua tempat itu.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

16 Balasan ke Glamor

  1. kang ian berkata:

    PERTAMAX sik asik hihi

    Suka

  2. melianaaryuni berkata:

    Kok bisa sih, ni juga baru posting. Woy, dibaca dulu baru komen, Ian….

    Suka

  3. sesungguhnya setiap manusia lahir kedunia dalam keadaan fitrahnya…orangtuanyalah yang menjadikan mereka merah putih hitam…

    Suka

  4. setitikharapan berkata:

    hmmm..terkadang kita mementingkan pandangan manusia daripada pandangan Allah ya mbak… miris..

    Suka

  5. camera berkata:

    setuju ama comment yang ke 5….

    tetap semangat…

    Suka

  6. manusia b1454 berkata:

    Kayaknya aku sebagai manusia biasa tdk akan bisa mengikuti acara glamor spt itu. Salam kenal

    Suka

  7. yanrmhd berkata:

    kesederhanaan akan membawa keringanan…, tidak terbebani, dan tidak membebani,🙂

    Suka

  8. Ifan Jayadi berkata:

    Iya, sayang sekali, kenapa anak kok didandanin menor kayak gitu. Lebih baik yang wajar dan apa adanya aja. Jangan berlebihan. Kasihan kan anak jadi kelinci poercobaan demi status dan popularitas si ortu

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s