—Cimut (2)—

Sekitar 5 jam Cimut tidak sadarkan diri. Kecintaannya kepada sang Ibu sudah membuatnya seperti itu. Mengapa Ibunya tega meninggalkannya ? Ufhs, bukankah sebenarnya Cimut yang tega meninggalkan Ibunya ? Mengapa Cimut tidak memikirkan perasaan Ibunya. Suara adzan Maghriblah yang membangunkannya dari ketidaksadaran itu. Cimut langsung bangkit dan berseru,” Ibu !”

Bukan Ibu yang dilihatnya, tapi aku. Aku yang senang dengan kehadirannya kembali di sore ini. Rasa cemas yang aku rasakan dengan pingsannya Cimut sudah cukup membuatku kewalahan. Aku tidak sudi kehilangan adik yang sangat aku sayangi itu. Egonya aku ya. Aku tahu,  Cimut pasti akan terkejut dengan kepergian Ibu yang tiba-tiba. Sudah kuperkirakan semua itu. Ibu, sudah kuungsikan ke rumah nenekku. Ya, aku ingin memberikan pelajaran kepada Cimut bahwa ditinggalkan itu tidak enak rasanya. Rasa sakit itu akan hadir dengan tangis. Ibu terlalu lemah untuk melihat apa yang terjadi pada Cimut jika sandiwara yang ada. Oh, untung saja Ibu tidak melihat Cimut pingsan.

=======

Bismillah…Cimut menarik napas panjang.

“Hari ini, aku akan memberi keputusan apakah aku akan berangkat atau tidak. Biarlah semua yang akan terjadi, ya biarlah terjadi. Aku siap menerimanya. ” Aku melihat Cimut yang tersenyum, aku pun ikut tersenyum.

“Wah, adik Mbak seneng benar hari ini. Nah, ada apa nie ?” Tanyaku penasaran.

“Stttt….Mbak diam aja. Ntar juga tahu apa yang membuat Cimut senyum.”

“Sok, berahasiaan sama Mbak ya. Awas, ntar nggak usah curhat lagi sama Mbak ya,” aku merengut.

Begitulah kalau tidak banyak saudara, rumah sepi. Kami bertiga yang tinggal di rumah yang besar ini. Ayah yang sudah lama meninggalkan kami dan membawa ceria di rumah ini. Cimutlah yang mengisi hari-hari kami. Ya, kehadiran Cimut membuat aku memiliki teman. Aku bersyukur dengan kehadirannya.

“Bener ya, nanti kasih tahu Mbak. Jadi penasaran, apa sih yang membuat adik Mbak ini tersenyum sendiri.”

=======

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

16 Balasan ke —Cimut (2)—

  1. semut berkata:

    tenang ntar q kasih tahu…tempe…telur dadar dan serta…tapi syaratnya main kerumah…ajak si cimut yang imut imut …biar sedikit refres…ngak usah khawatir kalau cimut mau sukses dan mandiri didukung aja…dan ngak perlu pergi jauh jauh…nih ada info…

    RUMAH HERBAL
    INDONSIA ( RUHINDO) MENCARI AGEN HERBAL DENGAN INVESTASI 1 JUTA.
    ANDA MEMILIKI USAHA SENDIRI YANG BISA MENJADI ASET UNTUK MASA DPAN
    ,bisnis yang kekal sampai kiamat datang adalah bisnis kesehatan dan kami
    ngak sekedar mencari uang BONUS PRSTASI UMROH. HUB 02717924254 / 081329463133

    Suka

  2. kang ian berkata:

    namanya cimut y adiknya? hihi lucu..

    Suka

  3. Ifan Jayadi berkata:

    Jadi intinya apa ya? Memberi pelajarankah atau mencurahkan segenap kasih sayangkah kepada cimut

    Suka

  4. rizki berkata:

    salam kenal teh
    saya rizki bukan dari dubia antah berantah:mrgreen:
    salam ya buat cimut, harus sayang banget ama ibu ^^

    Suka

  5. setitikharapan berkata:

    hehehhe..emang kalau saudara sedikit atau dah pada pergi, kita sering kangen ya mbak..

    Suka

  6. Adi berkata:

    CimuT = cilik imuT😀

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s