Cimut (1)

Di atas kertas, berbaris kata membentuk kalimat lalu berubah menjadi bait. Bait-bait yang bercerita tentang mimpi-mimpi seorang anak manusia. Apa yang dipikirkan olehku ternyata juga terpikirkan olehnya. Siapa dia❓ Dia hanya gadis kecil, yang menginginkan kenyamanan hidup dalam ketidaknyamanan yang dia rasakan sekarang ini. Berbagai cobaan yang dia alami menjadikan dia bukan sekedar gadis kecil. Dia lebih kuat dan tegar dibandingkan aku. Gadis kecil yang malang. Gadis kecil yang aku sebut dengan panggilan sayangku, si Cimut.

Dia lahir dalam keadaan yang tidak sempurna, salah satu matanya tidak bisa melihat cahaya dan tangannya yang sebelah kiri tidak bisa digerakkan dengan leluasa, kaku. Kecelakaan antara sesama motor 5 tahun yang membuatnya seperti itu dan menyebabkan Cimut berpisah dengan kedua orang tuanya. Waktu itu, usiaku sudah lumayan jauh darinya. Perbedaan usia kami sekitar 11 tahun. Untung saja, ketika kejadian itu berlangsung, Cimut masih sangat kecil, 2 tahun sehingga peristiwa yang sangat mengguncang jiwanya itu tidak bisa diingatnya sampai sekarang. Aku yang tetangganya waktu itu sangat senang mendengar Cimut akan dibawa ke rumah kami dan diasuh oleh ibu. Betapa senangnya aku dengan kehadiran Cimut, aku kadang tidak peduli lagi bermain dengan teman-temanku di luar. Ada Cimut yang selalu membuatku tersenyum.

Sudah lama dia mengimpikan belajar di bangku sekolah lanjutan karena di televisi, radio, koran, yang dia dengar atau dia baca, sosok B.J. Habibie telah terpatri di dalam jiwanya. Sosok yang berwibawa, pandai, sederhana, bersahaja, namun dia ingin seperti beliau. Dia ingin bisa membuat pesawat seperti yang B.J. Habibie lakukan, tapi itu hanyalah keinginan. Bagi Cimut, impian yang mustahil untuk dia capai. Seringkali dia bercerita kepadaku.

“Mbak, kalau aku bisa seperti B.J. Habibie, aku ingin ngajak Mbak jalan-jalan kemana saja yang Mbak sukai. Bener.”

Semangat Cimut cukup menyentuh hatiku dengan semua kemalasanku dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah.

“Benar Cimut mau ngajak Mbak❓ Ah, masak sih hanya Mbak yang diajak ?” Kuacak jilbabnya terlihat kusam.

Ditatapnya mataku.

“Benar,Mbak….Ngapain juga Cimut mau bohong kalau Cimut punya duit banyak, yang duluan  Cimut ajak ya Mbak,” dia tersenyum kepadaku.

“Iya, aamiin….Semoga Cimut bisa menggapai apa yang Cimut inginkan ya. Nah, untuk itu Cimut harus lebih giat lagi untuk belajar.”

“Makasih ya,Mbak.”

=======

“Bu, Cimut setelah tamat SMA ini mau kerja ya. Cimut mau cari duit. Cimut ingin kuliah lagi. Cimut mau seperti Mbak, yang udah bisa nyari uang sendiri.” Lagi…Cimut diam.

“Bu, Cimut boleh nggak merantau❓ Cimut ingin mencoba belajar mandiri. Dari dulu, Ibu dan Mbak yang selalu menyediakan kebutuhan Cimut. Cimut merasa selalu menjadi anak kecil kalau terus-terusan seperti ini. Boleh ya,Bu. Cimut janji, insya Allah nanti sambil kerja, Cimut juga mau kuliah.”

Cimut seolah berbicara sendiri. Monolog terus terjadi di antara Cimut dan Ibu, sebutan untuk ibu asuhnya.

“Ibu….Jawablah,Bu…” Cimut mulai menggerak-gerakkan tangan ibu.

” Dengar Cimut, Ibu tidak pernah melarang anak ibu untuk sesuatu yang baik. Ibu tahu apa yang Cimut inginkan itu adalah sesuatu yang baik. Ibu tidak melarangnya, tapi apakah Cimut tidak berpikir bahwa merantau itu tidak seenak apa yang Cimut pikirkan.”

Jeda beberapa menit.

“Cimut, merantau itu banyak tantangannya. Gimana nanti kalau kamu sakit ? Kalau kamu nggak ada uang dan Ibu tidak bisa mengirimkan uang untukmu. Cobalah Cimut pikirkan lagi keinginan itu.” Ibu berlalu disertai wajah Cimut yang menunduk lemah.

“Ibu, aku ingin menrantau !” Teriak Cimut nyaris tak terdengar.

=======

Allah dalam Qur’an telah berjanji akan mengabulkan semua yang umat-Nya pinta dengan sungguh-sungguh. Itulah yang Cimut yakini. Setiap malam dia meminta agar Allah bisa mewujudkan keinginannya itu. Sholat-sholat sunnah, ia kerjakan. Dia meminta agar Allah membukakan pikiran Ibu untuk mengizinkannya merantau.

Pintu kamar diketuk oleh Cimut. Dilihatnya, Ibu masih termanggu melihat ke luar jendela.

” Ibu, yakinlah kalau Cimut nanti merantau, insya Allah Cimut bisa jaga diri. Ada yang menjaga Cimut Ibu, Allah. Dia tidak akan meninggalkan Cimut sedikit pun. Cimut yakin, mungkin dengan cara merantaulah Cimut bisa meraih apa yang menjadi keinginan Cimut, Ibu. Ibu…Izinkan mentaru, Ibu.”

Bukannya melihat ke arah Cimut, Ibu berlari dari kamar lalu masuk ke kamar mandi. Terdengarlah suara gemericik air.

=======

Tergeletak selembar kertas di atas meja belajar Cimut.

“Cimut, sebelum Cimut pergi dan Ibu merasakan sedh akan kepergian Cimut. Ibu akan pergi terlebih dahulu. Biarlah, sekarang Cimut berpikir ulang tentang keinginan Cimut untuk merantau dan meninggalkan Ibu sendiri. Mbakmu sebentar lagi menikah, Ibumu ini dengan siapa, Cimut. Cimut nggak sayang sama Ibu❓ ”

Ibumu yang menyayangimu🙂

Cimut tersentak, seketika dia lemas dan pingsan.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

10 Balasan ke Cimut (1)

  1. semut berkata:

    semut semut kecil…saya mau tanya…apa kerjamu didalam tanah tidak takut setan…?

    masih ingat dengan nyanyian melisa…tahun 90 an

    bertemu dan berpisah adalah suatu keniscayaan …hidup adalah pilihan..dengan semua pilihan itu pasti ada konsekuensi yang akan dialami…pilihlah yang terbaik dari yang baik baik meskipun terasa pahit dan getir…namun dengannya bisa menjadikan perubahan ….hidup kita yang sesungguhnya adalah sekarang yang sedang kita jalani tapi kekekalan yang abadi nanti …setelah deret waktu berhenti…tebarlah bibit gandum….nantinya kita anak memanen gandum…tebarlah bibit anggur nantinya kita akan memanen anggur…

    Suka

  2. Annaura berkata:

    Cerita yang sangat mengharukan ya bude.

    Assalamu ‘alaikum wr.wb
    Bude,
    Saya datang sebagai blogger newbie yang ingin berkenalan, silaturahmi dan menyerap ilmu dari para senior. Semoga kunjungan saya bermanfaat.
    Wah bude blognya bagus banget. Mudah2an saya bisa membuat blog sebagus bude.

    Bude, mohon berkenan berkunjung ke blog saya, mohon diberikan saran2 atau nasihat agar blog tersebut bagus dan terkenal seperti blog bude ini. Saya tunggu bude di Panti Asuhan Assakinah Batam, kalau datang akan saya sambut dengan lagu rebana deh.

    Salam hormat saya dari Batam.

    Wassalamu alaikum wr.wb
    Annaura

    Suka

  3. didot berkata:

    mbak mel,ini lupa ngasih judul atau memang gak ada judulnya??😛

    salut sama semangatnya cimut🙂

    Suka

  4. kang ian berkata:

    oh ini toh awalnya kekek
    lagian g ada judulnya pula
    membingungkan saja..btw cimut dah keluar SMA ya kirain masih cimut cimut eh imut imut xixixi

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s