UN dan Coret-Moret Baju

Dengan gaya yang digagah-gagahi, remaja putra dan putri turun ke jalan melampiaskan kesuksesannya selama 3 tahun di sekolah. Lagak petantang-petenteng yang nggak aku sukai dari mereka. Piloks yang berwarna-warni menghiasi baju-baju yang semestinya masiih bisa dipakai oleh adik atau orang lain yang membutuhkan. Sayangnya kesadaran itu belum merasuk di dalam hati para remaja yang senangnya hura-hura.

Ingat waktu SMP/SMA dulu, oh…tidak pernah terpikir olehku untuk mencoret-coret baju sekolahku. Ah, sayang rasanya. Dijalanan para remaja itu mengibar-ngibarkan baju yang bercoret itu ke udara dengan berboncengan dengan teman-temannya secara pawai. Gaya yang sungguh tidak patut ditiru. Malah, ketika aku pulang kemarin, masih banyak remaja yang berdiri di pinggir jalan, di atas motor padahal hari sudah malam. Kemana orang tua mereka? Sepeduli apakah orang tua mereka dengan anaknya yang belum pulang melewati maghrib hanya untuk keperluan yang tidak perlu.

Hai remajaku, mengapa harus ada coret-menyoret? Mengapa tidak kau sumbangkan pakaianmu untuk orang yang membutuhkan? Mengapa tidak kau pikirkan apa yang akan kamu lakukan setelah tamat ini? Apakah hanya sekedar hura-hura saja? Kalau ingin senang, sekedar senang, ambillah, tapi tidak ada yang akan kamu dapatkan selain hura-hura saja.

Mestinya kamu memikirkan:

Aku setelah tamat ini ingin…

Aku ingin…

Aku mau kalau aku bisa…

Jadilah generasi terbaik yang negeri ini punyai. Jadilah kebanggaan bangsa, yang membuat negara ini bangga kepada kalian. Jadilah agent of change di dalam segala bidang. Masih banyak yang bisa kita dilakukan. Buat perubahan diberbagai sisi. Jangan bangga pada kemubaziran-kemubaziran karena mubazir itu perbuatan syaithan. Huru-hara dengan mencoret-coret baju tahukah kalian bahwa itu adalah perbuatan syaithan. Begitu senangnya syaithan melihat tingkah kalian hai para remaja !

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Isi Hatiku, Nilai2 Islami. Tandai permalink.

18 Balasan ke UN dan Coret-Moret Baju

  1. didot berkata:

    iya mbak mel,betul,untung sma saya dulu gak suka begini2an,lebih baik bajunya kita sumbangin ke yg masih membutuhkan kalau kata kakak2 kelas saya dulu🙂

    Suka

  2. Asop berkata:

    Yap, saya termasuk yang ga suka dan ga setuju dg perbuatan kelulusan seperti itu.😦
    Mbok yo disyukuri kelulusannya dengan menyumbangkan baju seragamnya ke orang2 yang membtuuhkan, ke adik kelas yg kurang mampu, ato mungkin dengan urunan uang untuk membelikan makan para tukang becak, fakir miskin, dan anak jalanan….
    Kan lebih enak gitu.😦

    Suka

  3. taman siswa berkata:

    hidup adalah pilihan…sejarah coret mncoret adalah ungkapan siswa yang dulunya selama 3 tahun dikekang dalam sebuah aturan….kemudian mereka merasa bebas sebebasnya dan dendam dengan almamater yang mereka tingalkan dngan diekpresikan dmikian…

    itulah wujud keagalan seorang guru….ketika masih ada siswanya yang dmikian sudah seharusnya para guru berfikir ulang…adakah yang salah / kurang dalam mendidik mereka…?

    ayo…pak guru dan buguru….kita merenung sejenak….gnrasi negri ini sudah dibajak oleh asing…sadar atau tidak budaya mreka mnjadi idola dimana mana,,,,,adab ktimuran sudahmulai ditingalkan…

    kepada para pemuda…berubahlah atau tidak sama sekali….

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Kok ada dendam? Nah, ini gawat, masak dendam sama almamater sendiri, enak apa punya sifat kek gitu? Trus, itukah ciri kegagalan seorang guru? Saya guru, jgn meletakkan kesalahan seluruhnya pada guru donk….Negeri ini bukan hanya digerogoti dari luar, dari dalam pun gerogotannya semakin melebar, teman….Layaknya berubah itu ke arah kebaikan, bukan keburukan. Berubah atau tidak adalah pilihan, betul?

      Suka

  4. yanrmhd berkata:

    sebuah euforia berlebihan…, dan mencerminkan sebuah pribadi yang kurang empati…, ternyata klo diliat orang2 yang suka corat/et itu kurang sekali memahami lingkungannya, alam..bahkan dirinya sendiri😦 dan itu banyak sekali😦😦

    pergaulan bebas yang sebebas2nya itu ternyata menumbuh kembangkan sikap anti sosial…

    -wallahu a’lam-

    Suka

  5. hanyanulis berkata:

    Kok kayaknya budaya jadul ini masih dilestarikan ya, kapan kita bisa maju kalo prestasi bangsa yang seberapa di bidang pendidikan, di rayakan sedemikian rupa..kapan kita bisa maju layaknya negara-negara tetangga🙂

    Suka

  6. Dedi S. ed Daudy berkata:

    inginnya… kembali ke masa sekolah dulu..

    Suka

  7. darahbiroe berkata:

    aku dari SD SMP SMu gak penah ikutan coret2 baju
    sayang banget bajuna hehehe
    “D

    Suka

  8. Ifan Jayadi berkata:

    Benar, memprihatinkan sekali. Sementara di lain tempat, banyak anak2 yang orang tuanya tidak memiliki kemampuan finansil untuk membelikan seragam, namun dengan mudahnya juga, mereka yang lulus itu melakukan aksi corat-coret seragam. Tidakkah mereka memiliki rasa ketergugahan untuk melihat kebelakangnya

    Suka

    • Meliana Aryuni berkata:

      Masa muda…masanya para remaja…Kebanyakan remaja tahunya hura-hura saja, sedikit sekali yg peduli dgn keadaan sekitar….apa lagi kalau melihat ke belakang.Emang ada apa ya di belakang❓

      Suka

  9. ozmin berkata:

    sayang sekali bajunya dicorat coret, ga bisa di jual lagi.. hehe

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s