Percakapan Ini dan Itu

Dia berbohong untuk yang kedua kalinya. Aku sungguh terkejut dengan penuturan seseorang kepadaku. Wajahnya yang polos seakan tidak mencerminkan dia tidak tahu akan sesuatu. Bocah itu telah membuat namaku buruk. Dia telah berani memfitnahku! Sebenarnya aku tidak tertarik membahas sikapnya karena terlalu sering dia bersikap tidak sesuai dengan aturan yang ada di kelompoknya. Wajar saja jika kelakuannya ini menjadi sesuatu yang membuat muak orang di sekitarnya.

Handphoneku berdering beberapa kali lamanya. Seperti kebiasaanku yang aneh, kalau aku sedang mood, aku baru angkat tuh HP. Entah dia pejabat, teman, atau sahabat….ya kalau hatiku mengatakan ‘jangan diangkat’, aku akan melakukannya. Diam-diam kuatur menjadi ‘diam’. Aku tenang. Aku tidak mau diusik oleh seorang pun. Ini aturanku. Aku lihat 5 panggilan tak terjawab terpajang di layar HP-ku. Aku tak peduli.

***

Ini hari keduaku di rumah, liburan yang cukup untuk kegiatan yang banyak. Hari ini hujan mulai turun disertai sesekali halilintar dan petir yang terlihat dari jendela kamar. Aku menekuri buku-buku yang sudah aku siapkan untuk kulahap habis satu hari ini. Wah, ternyata aku sudah lama tidak melihat buku-bukuku. Terlalu sibuk di luar membuat aku melupakan mereka padahal ada rindu yang membuat aku ingin bersama mereka, seperti dulu. Ya, sudahlah, suatu saat nanti pun aku akan menghampiri mereka kembali. Buku-buku kesayanganku.

HP-ku berdering untuk yang kesekian kalinya. Rasa malas masih menggelayuti jiwa dan ragaku. Kulihat sebentar. Aku bergumam. “Ah, lagi-lagi….Pasti mau nanyai masalah di sekolah. Bodo’ amat, peduli apa aku. Puih, buat capek pikiran aja,” gerutuku dalam hati. Ternyata bagian dari diriku berkata lain,” Udah, angkat aja. Itu harus segera diselesaikan kalau nggak masalah ini akan berlarut-larut. Ini buat masa depan si anak. Singkirkan dulu keegoan.” Mataku terbelalak, langsung kuambil HP yang telah kulembar di kasur.

” Assalamu’alaikum,” sapaku dan dijawab oleh orang seberang.

” Iya, ni Bu. Maaf sekali mengganggu istirahat Ibu,” kata suara seorang wanita yang masih muda.

” Iya, nggak apa-apa. Maaf, Bu. Ada apa ya kok nelpon saya malem-malem gini ?” Tanyaku pura-pura tidak mengerti.

” Iya, gini. Saya mau tanya tadi waktu pulang, anak saya langsung nangis. Katanya nggak diboleh ikut lomba sampai-sampai dia nggak mau sekolah. Terus tadi katanya dia diusir dari kelas.”

Mendengar ‘diusir dari kelas’ aku sudah menangkap maksud pembicaraannya.

” Iya, sebelum kita buat kesepakatan itu, kami juga sudah mengarahkan bahwa untuk menjadi seorang da’i itu harus memiliki sifat yang baik pula. Kalau tidak  ada perubahan sampai sehari sebelum lomba, kami memutuskan dia tidak diikutsertakan pada lomba.” Ada nada balasan yang terkesan membela. Sedah berkali-kali kejadian ini berlangsung. Aku jengah mengikuti kehendak mereka. Aku pun harus punya prinsip meskipun ada ‘pemaksaan ringan’ dari nada pembicaraan itu.

” Iya, itu kesepakatan kami dan dia sudah mengerti konsekuensinya. Sebenarnya itu bukan harga mati, tapi kami ingin memberi efek jera kepada dia sehingga untuk kegiatan selanjutnya dia bisa bersikap jauh lebih baik. Kayaknya pada masa sekarang anak sudah mulai berbohong karena takut kesalahannya diketahui.” Aku masih merasakan nada yang kurang suka atas keputusan itu, tapi keputusan itu tidak akan kuubah. Kalau keputusan itu aku ubah, akan ada pemakluman lagi dan akan ada pelanggaran lagi. Mungkin akan ada ‘penindasan kreativitas ‘problem solver‘. Itu yang ingin aku cegah.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Isi Hatiku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Percakapan Ini dan Itu

  1. Bee'J berkata:

    maaf mba, numpang absen dulu ya… belom sempet di baca…mataku sudah lelah…😀
    -salam-

    Suka

  2. alrisblog berkata:

    Memang kebenaran harus disampaikan. Diperlukan ketegasan bersikap, salut.
    Salam,
    ALRIS

    Suka

  3. Insanbiasa berkata:

    “Pemakluman”. Satu kata yg sulit ditinggalkan.

    Suka

  4. BENY KADIR berkata:

    Kita tidak boleh menyerah,Ibu.
    Ya,banyak pengalaman,guru dipersalahkan orang tua karena anak tidak berkata jujur tentang masalah di sekolah.

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s