Pilih Ilmunya atau Apanya sih ?

Di suatu ruangan…Dalam suatu ruangan ujian pascasarjana…

” Udahlah, yang penting isi saja, ” seorang bapak berbisik dengan peserta lainnya.

” Iya, untuk apa semua ini. Kita kan juga sudah kerja,” jawab salah satu peserta lain.

Terdengar dari belakangnya (kebetulan dia duduk di barisan paling depan)

” Nomor 5 apa ? Terus nomor 8,9,10,11,12….” Bisik seorang ibu kepada bapak berbaju kuning.

“Lho, mengapa tidak semua soal aja diminta jawabannya, ” pikirnya. Diam-diam diliriknya jawaban si bapak. Oh, no….jawaban yang diberikan bapak itu kepada si ibu, salah (dia yakin !). Dia menggeleng di dalam hati.

“Itulah kalau tidak percaya diri. Belum tentu jawaban itu benar. Percaya aja !” Syukurlah, dia tidak dimintai jawaban dari peserta lain. Seumur-umur dia tidak pernah menyontek. Orang jadi tahu diri kalau ujian di dekatnya. Semua tidak mau bertanya padanya. Dia merasa terjaga dari kecurangan yang sering terjadi di dunia pendidikan.

Kasak kusuk yang terdengar di ruangan itu membuat dia risih. Dia ingin sekali mengatakan,

” Stop, ini bukan saatnya ngobrol. Ini waktunya ujian ! Soal Bapak/Ibu mau anggap ini main-main, ya terserah. Jangan buat orang lain terganggu !” Itu jerit hatinya. Ya, dia hanya menolak dengan hati, itulah yang bisa dilakukannya. Dia tahu diri, disana usianya lebih muda. Mana ada omongan yang muda didengar. Yang tua yang berkoar, yang muda mendengarkan.

Di bangku panjang, menunggu beberapa orang peserta…

“Ah, mudah….Nanti wawancaranya pasti ini,” Nanti buat biaya kuliahnya gimana ? Nanti kalau suami ga ngijinin gimana ? Cuma itu kok,” jawab seorang ibu yang ditanya oleh peserta lain.

” Sudah, jangan dipikirin bener. Itu sih kata temanku lho,” ibu itu melanjutkan. Biarlah terjadi apa yang harus terjadi.

Banyak yang dia inginkan, bukan hanya pendidikan tinggi saja. Ada impiannya tidak hanya diraih dengan berderet gelar. Benar pendidikan bisa menjembatani impiannya. Ah, impiannya….

Inilah potret pendidikan bangsa ini. Pendidikan tinggi berbasis ‘uang’, berbasis ‘ jaya’, atau ‘kuasa’….Itu yang mau saya ilustrasikan. Percakapan yang didengar seorang ‘dia’ dengan bapak/ibu peserta ujian banyak terjadi ketika hendak melanjutkan kuliah sedang mereka sudah bekerja dengan usia yang bisa dibilang tidak muda. Apa yang mereka cari ? Setidaknya, beberapa yang dicari mereka adalah :

  1. Pendidikan tinggi menunjang jabatan/ kekuasaan di suatu instansi setempat. Ujung-ujungnya, gaji nambah.
  2. Pendidikan yang tinggi menjadi ciri khas  ‘pandai’. Kalau begitu…’ Aku mau keliatan pandai, ah.’
  3. Pendidikan tinggi suatu prestise, kebanggaan bahwa “Ini aku lho, hebat kan bisa sekolah tinggi.”

Namun ada juga yang menganggap :

  • Pendidikan itu tidak kenal waktu, mau tua…atau muda…laki-laki atau wanita…belajar tak pernah habis. Menuntut ilmu itu wajib.
  • Berilmu itu lebih utama dari pada yang tidak berilmu….Jangan protes dunk…
  • Dengan ilmu yang benar, apa yang kita lakukan/pikirkan bisa menjadi benar. Ilmu adalah cahaya. Paham kan maksudnya ?

Ilmu adalah cahaya. Benarkah begitu ? Nah, bagaimana jadinya jika ruangan bercahaya itu ditutupi oleh kain hitam ? Masihkah ruangan itu seterang sebelum ditutupi kain atau malah cahayanya menghilang  ?

Semoga ilmu (setinggi apa pun tingkatannya)  tidak hanya sebatas ucapan, tapi ditanamkan dalam hati dan diamalkan dengan perbuatan nyata.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

14 Balasan ke Pilih Ilmunya atau Apanya sih ?

  1. Fadly affan berkata:

    “Hendaknya kau memiliki ilmu (pengetahuan) krn ilmu itu sahabat karibnya orang yg beriman.”(kutipan sabda Rasul saw). Jd benar, seseorang yg berilmu lbh utama drpd yg tidak memiliki ilmu.

    Suka

  2. Rafi berkata:

    Saya setuju dengan kalimat “Pendidikan itu tidak kenal waktu, mau tua…atau muda…laki-laki atau wanita…belajar tak pernah habis. Menuntut ilmu itu wajib..” walaupun berat melakukannya, tapi itu adalah suatu kebenaran nyata.

    Wasslm’
    Keep Posting with your Smile’
    Rafi

    Suka

  3. nei berkata:

    kereenn………

    Suka

  4. mei maniezz berkata:

    long life education…..semangat utk terus menuntut ilmu…!!!!!!!

    Suka

  5. setitikharpan berkata:

    Assalamu’alaikum mbak
    Yup bener sekali tuh, dengan point2 yang terakhir.
    Jika kita menganggap menuntut ilmu seperti diatas, demi uang, jabatan, atau prestise maka suatu saat kita akan melihat generasi yang rusak, karena pendahulunya juga seperti itu.
    Semoga tidak terjadi.

    Suka

  6. Kakaakin berkata:

    Entah bagaiman asal-muasal pendidikan lanjutan jadi seperti itu di Indonesia…
    Mungkin karna tuntutan profesi yang mewajibkan bergelar tinggi, jadi ingin dijalani dengan cara apapun😦
    Wallahua’lam

    Suka

  7. BENY KADIR berkata:

    Jangan biarkan ruangan yg benderang menjadi gelap gulita.
    Harap saja kebutuhan akan ilmu dilandasi kesadaran yg tinggi.

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s