Bahagia, Mengawali ‘Kebersamaan’

Wah, kebersamaan….

Awal acara kebersamaan di sekolahku. Sebenernya sih acara-acara seperti ini sering terjadi, tapi kali ini acara ini dikemas sedemikian rupa dan tentu saja kita harus hadir sepagi ini. Alhasil, waktu kerja kita maju deh setengah jam.😦
Udah, ga pa-pa. Aku ga sedih kok, bener lho. Ada satu simulasi ‘ Menyemir sepatu’. Nah, aku hari ini pake sandal jepit:mrgreen: Emang enak nyantai sih. Di sekolahku, klo pergi sekolah pake sepatu, dah nyampe kelas, kita pake sandal. Enaknya gitu, klo pake sepatu…aduh kasihan sama kaki yang terpuruk dalam sepatu aja seharian. Aku membayangkan gimana rasanya bekerja dengan kaki yang terus ditutup sepatu, apalagi pake hak tinggi❓ Untung saja sekolahku tidak memberlakukan mengajar harus pake sepatu. Nggak bakalan enak….

Simulasi itu :Kita mencari pasangan kita untuk diajak berbagi. Keduanya menukarkan sepatu/sandal kepada pasangannya. Instruktur (kepala sekolah baru, ustadz Khoiri) memberi kertas. Belum tahu nih apa guna kertas. Hmm, pikiranku sudah menebak-nebak….
Ternyata tuh kertas buat profesi yang akan disimulasikan. Profesinya adalah penyemir sepatu. Untuk aku dan pasanganku, kami menyebut diri kami saat itu sebagai penyemir sandal jepit.😆 sandal jepit kok disemir hehehe.


Setelah sandal/sepatu sudah disemir pake kertas, sepatu/sandal itu dikembalikan lagi ke pasangan kita lalu kita diminta untuk memberikan sesuatu kepada teman yang telah menyemir sepatu/sandal kita,boleh uang/HP, atau apa saja yang menurut kita pantas untuk diberikan kepada teman kita tersebut. Subhanallah, seluruh guru wanita nggak ada yang memberikan barang….Ya, wajar….kita nggak bawa HP, uang, dompet, yang kita bawa hanya🙂 doang hehehe sedang guru laki-laki menyumbangkan uangnya.

Di akhir simulasi, guru laki-laki diminta pendapatnya. Nah, pada bagian guru wanita….nggak tahu kenapa selalu saja kenanya aku. Mungkin klo aku nggak ngomentarin nih acara, nggak seru kali ya 8-0 . Dah, bicaralah aku.

” Terus terang dalam simulasi tadi dan bagi saya pekerjaan apa pun tidak pernah saya anggap remeh karena sesuatu yang remeh itulah ternyata bisa membantu kita, termasuk pekerjaan tukang semir. Soal hikmah simulasi, saya sependapat dengan Ustadz Iim bahwa simulasi tadi tentang keikhlasan, tapi saya kurang sepakat dengan penghargaan yang bisa kita berikan. Wajar saja kita (guru wanita) tidak memberikan apa saja pada simulasi tadi karena kita tidak membawa apa-apa. Semua barang ditinggalkan di kelas. Bagi saya, salah satu bentuk penghargaan kita dan tidak meremehkan suatu profesi adalah memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan. Jika tidak ada yang bisa diberikan, membuatlah orang bahagia. Saya memberikan senyuman yang paling manis untuk pasangan saya tadi.”

Photobucket

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

4 Balasan ke Bahagia, Mengawali ‘Kebersamaan’

  1. belajar dari sapi lidi….mereka berkumpul bersama untuk VISI yang sama, ikatan mereka kokoh dengan mengeratkan satu sama lain, ketika 1 lidi dicabutnya dari ikatan itu terasa ada yang berkurang…satu lagi dicabut dan seterusnya …akan semakin longar ikatan itu dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya…saat itulah kembali mengeratkan ikatan. walaupun semakin kecil tapi kalau masih kokoh ikatan itu masih bisa menjalankan visi membersihkan halaman dengan maksimal…

    Suka

  2. Kakaakin berkata:

    Sepertinya simulasi agar guru2 lebih akrab ya🙂

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s