Cobaan ? Dilamuni atau disyukuri ?

Image and video hosting by TinyPic

Tulisan ini hanyalah tulisan pengingat diri ini yang selalu berbuat khilaf dan dosa. Tidak ada maksud lain. Tulisan ini mengajak diri merenung bahwa kita memang lemah. Kita tidak cukup kuat menghadapi persoalan hidup yang kecil sekali pun tanpa bantuan dan rahmat Allah.

Dalam mencapai suatu cita dan keinginan, jalan yang harus dilalui tidaklah mulus dan datar-datar saja, akan ada belokan lalu sedikit turunan dan tanjakan, kerikil dan sempitnya jalan akan kita lalui. Seorang pembalap kelas dunia pun juga mengalami kesulitan jika menyusuri jalan itu. Dia harus hati-hati dan memiliki strategi yang jitu untuk dapat segera sampai ke garis finis. Begitu pun kita. “Tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Ada kata kunci dalam kutipan arti ayat Adz Dzariyat : 56 di atas bahwa manusia itu sebagai makhluk atas dasar untuk beribadah pada Allah, tidak ada yang lain. Ketika kita menyadari bahwa tujuan kita hidup hanya beribadah kepada Allah….Berarti aktivitas yang kita lakukan di dunia pun adalah bentuk ibadah-ibadah kita kepada Allah, termasuk penyikapan kita terhadap cobaan yang Dia berikan.

Suatu ketika seorang anak kecil ingin belajar berjalan dan berlari. Anak itu memegang tangannya di tembok lalu merambat di sisi dinding. Beberapa kali dia jatuh dan duduk. Dia menangis, namun dia tidak berhenti. Dia bangkit kembali. Dengan posisi tubuh yang masih goyang, dia berdiri. Dia tegakkan kakinya dan mulai berjalan kembali. Dua kali mencoba sampai orang tua yang melihatnya pun tertidur, namun dia terus mencoba. Ketika orang tuanya terbangun, si anak sudah jauh berjalan. Surprise ! Anak bisa berjalan lebih jauh dari yang dibayangkan !

Apakah dengan mudah anak bisa berjalan apalagi berlari ? Ada tahapan dan fase-fase yang harus dilalui anak. Begitu pun halnya dengan kita. Saat kita dirundung cobaan, ada fase yang harus kita lalui. Kita akan masuk ke fase yang merasa diri kita lemah, fase kesadaran, lalu ke fase memohon, dan bersikap.

Dalam perkembangan anak pun fase-fase harus dilalui. Biasanya, anak yang tidak melewati salah satu fase, di kemudian hari akan mengalami gangguan dalam perilakunya karena dalam fase-fase itu ada pembelajaran. Manusia diberi cobaan itu juga sebagai pembelajaran bagi dirinya dan orang lain. Lihat saja, kalau tidak ada kisah Fir’aun dengan sikap sombongnya, yang menganggap dirinya ‘tuhan’, maka kita tidak akan pernah belajar darinya. Bisa jadi akan banyak Fir’aun di zaman sekarang.

Pernah dengan kisah Ashhabul Kahfi ditulis dalam Al Qur’an, yang diberi cobaan ketauhidan dengan berjuang mati-matian agar imannya tidak tercerabut dalam hati mereka hingga mereka rela meninggalkan kesenangan di dunia luar dan berdiam di gua ? Kalau tidak karena cobaan itu, kisah mereka mungkin tidak akan pernah kita dapatkan di dalam Al Qur’an. Ada yang mereka lakukan saat itu ? Mereka tak berdaya. Mereka hanya memohon setelah berjuang dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Apa yang terjadi setelah ibadah mereka ? Apakah Allah menyia-yiakan usaha dan doa yang telah mereka lakukan ? Tidak pernah sekali pun Allah akan menyia-yiakan usaha umat-Nya untuk menuju kebaikan. Saat pasrah, Allah menolong mereka. Tidak ada yang berhak dimintai pertolongan kecuali Allah. Allah menyelamatkan jasad dan keimanan mereka hingga beratus-ratus tahun lamanya.

Pernah dengar kisah Yusuf dan Zulaikha ? Cobaan bagi nabi Allah itu adalah wanita ? Apa yang membuat Yusuf a.s. bertahan dan berhasil melewati cobaan itu ? Keimanan dan rasa takut pada Allah. Bermacam-macam cobaan yang Allah berikan kepada makhluknya, jin dan manusia. Cobaan yang menjadikan kesenangan hidup dan cobaan yang terkadang membuat kita bersedih.

Di saat kita mendapatkan kesenangan hidup, kita merasa dunia ini hanya milik kita sehingga kita lalai dengan alam sekitar kita. Ketika kita diberi kesulitan, kita merasa Allah pergi dari kita padahal sebenarnya Allah ingin melihat apa yang bisa kita lakukan saat itu. Subhanallah, Allah guru yang Maha Guru. Dia tidak memberi nilai yang bagus tanpa ujian dan kerja keras dari yang dididik-Nya. Dia akan terus memantau hamba mana yang layak diberi reward dan mana pula yang diberi-Nya funishment. Funishment yang Allah berikan pun sifatnya mendidik. Dia tidak hendak menghukum tanpa maksud tertentu.

Cobaan yang ada hendaknya disyukuri. Boleh menangis, namun harus bangkit kembali karena hidup akan terus bergulir hingga batas waktu yang diberikan-Nya habis dan diakhiri dengan kalimah tauhid Laa illaha illallah. Yang merupakan akhir cobaan di dunia.

NB :
Siapa pun Anda dan saya, semua kita tidak akan pernah terlepas dari cobaan. Cobaan yang ada tidak pernah melampaui kemampuan kita untuk mengatasinya. Saya pernah diberi cobaan dicerca oleh orang yang dalam keadaan ‘stres berat bisa dibilang schizophren’ dengan kata-kata yang tidak pernah bisa saya bayangkan dan gaya yang membuat saya tercegang hingga saya menangis, namun saya bisa melewatinya. Setelahnya saya jadi tahu bahwa semua bisa terjadi. Cobaan yang paling kita takuti, itulah sebenar-benar cobaan.

Untuk para sahabat yang sedang mengalami cobaan, syukurilah bahwa sang Maha Guru sedang melihat, menimbang, menilai, dan memutuskan apakah kita layak mendapatkan keinginan hati kita.

Akhirnya, saya hanya bisa berkata sabarlah saat kesulitan datang dan bersyukurlah jika diliputi kesenangan.
Man jadda wajadda

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Gambar Islami, Nilai2 Islami dan tag , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Cobaan ? Dilamuni atau disyukuri ?

  1. sunarnosahlan berkata:

    ya cobaan patut disyukuri tak perlu menggugat Tuhan. disinilah ujian kesabaran itu langsung kita rasakan

    Suka

  2. alisnaik berkata:

    selamat pagi, bu guru

    saya jadi dapat pencerahan nih😐🙂

    terima kasih dan mohon maaf

    Suka

  3. zipoer7 berkata:

    Salam Takzim
    Artikel yang bagus , dengan ending sebuah pertanyaan disyukuri atau dilamuni sebuah cobaan..
    Kalau saya tetap saya jadikan catatan, dan saya ga pernah membedakan pemberian apapun yang diberikan harus disyukuri.
    Ini sebuah pengharapan dari guru
    Anak-anak kamu pernah dikatain kami serempak menjawab pernah ustadz
    Tahukah anak-anak dikatain sama ga dengan dikasih kue
    Anak-anak teriak bareng beda ustadz.
    Ustadz mendekat sambil mengangkat telunjuk dan mengerakkan kekiri dan kekanan telunjuk itu sambil berujar, Anak-anak, pemberian itu ada dua manis dan pahit karena itu dua-duanya pemberian terimalah dan ucapkan
    anak anak teriak Alhadulillah
    Sungguh sampai sekarang masih terngiang ajaran ustadz
    Salam takzim Batavusqu

    Suka

  4. demoffy berkata:

    Coba’an, perlu didaur ulang…
    Supaya kelak jika ada coba’an lagi..
    kita bisa berlapang dada..🙂

    salam kenal..

    Suka

  5. kunjungan perdana di akhir pekan
    salam hangat selalu

    post yang baik

    Suka

  6. BENY KADIR berkata:

    Justru dengan cobaan kita didewasakan dan dikuatkan dalam iman.

    Suka

  7. Hmm, jadi malu karena sering berkeluh-kesah di blog, hehe…

    Mudah-mudahan aja ya kita dijauhkan dari sikap tak mau bersyukur.

    Suka

  8. Pai berkata:

    sehebat apapun cobaan. kita tetap jangan berburuk sangka kepada Allah SWT.

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s