Keluhan hanya Sekedar Keluhan

Mengapa orang tua baru mau berbuat saat anaknya sudah mulai jatuh dan terpuruk ?

Subjudul di atas akan menjadi wacana yang akan digelarkan dalam postingan kali ini. Ini berawal dari cerita seorang wali siswa yang merasa ‘Inilah saatnya bertindak’ pada sore kemarin. Sebenarnya masalah anaknya telah disampaikan jauh sebelum hari ini, tapi orang tua seakan permisif menanggapi apa yang disampaikan guru kelasnya. Yang terjadi adalah penyesalan yang membuat orang tuanya kebakaran jenggot.

Ada banyak alasan yang biasanya orang tua utarakan mengapa mereka baru berbuat saat permasalahan semakin besar :
1. Orang tua sibuk dengan urusan sendiri sehingga permasalahan anak terlupakan

2. Merasa permasalahan masih kecil atau meremehkan permasalahan padahal permasalahan yang kecil itu bisa menjadi permasalahan yang besar. Orang tua menganggap permasalahan itu sesuatu yang biasa.

3. Orang tua kurang mengerti tentang perkembangan anak dari tiap masa yang dilalui anak.

4. Orang tua menganggap “Ah, sejalan dengan waktu, semuanya akan kembali normal.” Iya, kalau kenyataan sama dengan yang kita harapkan.” Kenyataan yang berbeda dengan harapanlah yang kebanyakan terjadi di sekitar kita.

Keluhan dari orang tua yang telah disampaikan ke dalam media tulisan (buku penghubung) dan lisan (telepon dan berbicara face to face acapkali telah dilakukan, namun semuanya tidak ada tanggapan. Guru kelas hanya bisa melakukan apa yang bisa dilakukan selama jam pelajaran berlangsung. Setelah itu, peran orang tualah yang sangat dibutuh oleh si anak.

Image and video hosting by TinyPic

Wali siswa itu berbicara dan minta untuk bersama-sama membenahi si anak, namun tidak ada tindakan nyata yang dilakukannya sehingga guru kelas pun melakukan apa yang bisa dilakukan dengan keterbatasan waktu. Sebenarnya, guru kelas ingin sekali :

1. Ada kerja sama dengan orang tua secara aktif ; orang tua tidak hanya menunggu laporan dari guru kelas saja, tapi mencoba bertanya perkembangan anak di kelas dan sosialisasi anak dengan temannya di sekolah.

2. Orang tua harus cekatan menyikapi permasalah yang disampaikan guru kelas segera setelah mendengar keluhan yang ada sehingga ‘kekeliruan yang dilakukan anak dapat segera dibenarkan.

3. Orang tua tidak sekedar menitipkan anaknya dengan berkata, ” Ah, aku kan sudah bayar mahal. Aku serahkan saja semuanya dengan guru di sekolah. Repot kalau semuanya aku juga yang ambil alih.” Jangan menyangkali kewajiban Anda karena orang tualah yang bertanggung jawab penuh dengan perilaku/akhlak anak.

4. Jangan jadi egois sehingga melupakan kasih sayang yang seharusnya didapat anak.Tidak ada seekor hewan pun yang berani menelantarkan anaknya saat si anak membutuhkan kasih sayang. Coba tanggalkan keegoan bahwa “Aku sibuk, ada si bibi yang ngurus !” Ingat, anak Anda tidak hanya membutuhkan Anda untuk melayani kebutuhan makan dan minum sebagai kebutuhan dasarnya. Anak juga membutuhkan kebutuhan psikologis (rasa sayang dan aman) dari orang tuanya.

5. Orang tua mestinya berkaca bahwa perilaku hanya bisa berubah tidak dengan mudah/instan. Butuh waktu dan pengorbanan untuk membuat anak menjadi lebih baik. Jangan mengharap anak berubah sebelum orang tuanya bisa mengubah pola pikir mereka tentang mengasuh.

6. Orang tua memikirkan bahwa masa kanak-kanak/anak-anak hanya terjadi sebentar sehingga orang tua bisa memanfaatkan masa-masa yang ada dengan sebaik-baiknya.

Rasanya sangat tidak adil jika orang tua selalu disalahkan karena masih banyak orang tua yang peduli dengan anak mereka. Guru adalah mitra orang tua, yang bersama-sama membentuk anak menjadi anak yang hebat, yang tidak sekedar hebat secara intelektual, namun juga akhlak dan perilakunya pun terpuji.

Buah dari pendidikan yang baik seperti pohon yang dahannya menjulang tinggi ke langit dan akarnya menancap ke tanah. Mengapa hal itu bisa terjadi ? Karena orang tua dan orang yang ada di sekitar anak itu, yang telah mendukung anak berbuat baik dalam hidupnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat😉

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Gambar Unik dan tag , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Keluhan hanya Sekedar Keluhan

  1. kebanyakan orang tua kurang memahami tarbiyatul aulad, dan ketika mereka memasukan kesekolahan mengangapnya seperti pabrik yang akan keluar sempurna ( dari kedelai menjadi tahu ). disamping itu kesibukanorangtua menjadi alasan utama membiarkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa ada kontrol dan perhatian khusus. dalam usia anak kasih sayang masih sangat mereka butuhkan, ketika hal tersebut tidak mereka dapatkan dirumah makan sang anak akan mencari perhatian dimana saja untuk mendapatkan kasih sayang itu. banyak tingkah yang biasa mereka lakukan, ada yang cenderung nakal, menjadi pendiam, dan banyak prilaku aneh lainnya yang tujuannya mereka ingin diperhatikan.

    ketika menjumpai kondisi yang semacam ini, pandai pandainya guru untuk menkondisikan anak dan mengkomunikasikan hal tersebut pada keluarga.

    Suka

  2. Batavusqu berkata:

    Salam Takzim
    Wah saya tidak pernah mengajari putri-putri saya adanya masalah kecil dan besar, saya juga sering melakukan diskusi dengan si sulung gimana pekerjaannya hari ini atau dengan sibungsu dan sitengah, walaupun hanya sms putri-putri saya selalu izin mau pulang terlambat karena harus kerumah temen atau yang lainnya
    Mungkin gambaran diatas bisa mempersempit keluhan
    Salam Takzim Batavusqu

    Suka

  3. Batavusqu berkata:

    Wah hari ibu ganti header nih, manstab lebih berwarna

    Suka

  4. Makasih artikelnya bermanfaat. Ternyata, sekolah (masih) memberi peran yang sangat penting kepada ortu dalam proses perkembangan anak didiknya.

    Mengenai orang-tua yang lalai, itu masih lebih baik daripada orang-tua yang enggan menyekolahkan anak-anaknya. Betul kan, Bu? Hehe…

    Dulu, aku banyak menjumpai orang-tua seperti itu.

    Suka

  5. alfarolamablawa berkata:

    ck ck ck…tajam ulasannya.
    para orang tua yang sampai saat ini masih “menyia-nyiakan anaknya pasti akan sadar.
    great posting…

    Suka

  6. alisnaik berkata:

    hmm.. orang tua dan anaknya,
    sebuah kombinasi yang harus bisa terjalin keharmonisan.
    apalagi seorang ibu adalah guru utama bagi anaknya.

    bukan begitu ??😉

    Suka

  7. Kakaakin berkata:

    Mamang harus ada kerja sama antara guru dan orang tua murid.
    Di masa sekarang ini banyak muncul sekolah2 swasta dengan jaminan kualitas yang tak diragukan, sehingga ortu2 yang berduit berlomba2 menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut, dengan tuntutan “anakku harus berhasil di sekolah ini, karena aku telah membayar mahal…”
    Padahal jika ortu tidak memperhatikan anak di rumah, anak juga belum tentu bisa berhasil.

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s