Wasit garisnya yang tidak adil,Bun…

Memoriam hari ini, 3 Desember 2009

Hampir setiap hari aku menerima ‘laporan’ dari anak-anak.
“Bun, tadi si ini berkata kotor,Bun.”
“Bun, si ini ngangguin itu.”
“Bun, tadi si A naik meja.”
“Bun, tadi si B mengejek teman.”
“Bun, tadi si C tadi buat nangis si D.”
Laporan keluhan seringkali singgah padaku. Waktu istirahat siangku kadang menjadi terganggu dengan laporan-laporan anak. Diam mendengar laporan itu ? Tidak mungkin. Solusi harus diberikan, dari mulai istighfar, menulis istighfar, sampai menyalin surat panjang di juz 29.

Seperti kejadian tadi siang, setelah sholat Zuhur. Ketika aku masuk kelas, mau tak mau aku harus mendengarkan sebentar laporan dari anak-anakku padahal saat itu aku mengajar di kelas lain. Seorang anak, yang masih suka manja, bernama Rian duduk di kursiku dengan mata seperti seorang anak yang baru selesai menangis. Dia diam, tapi menunjukan setitik luka di punggung tangannya kepadaku.
“Kenapa, Nak ? Habis bertengkar dengan siapa ?” Tanyaku. Dia diam, namun teman-temannyalah yang menyampaikan alasan dia menangis.
” Nanti Bunda tanyakan kebenarannya, Bunda mengajar di kelasnya,” kataku sambil mengoleskan betadine di punggung tangannya. Aku tidak bisa bertanya lebih jelas. Jika aku lakukan, maka akan menghabiskan waktu mengajarku. Aku pending sebentar masalah itu untuk dipecahkan nantinya.
“Insya Allah ga pa-pa,” kataku.

Aku ke kelas sebelah, sebelum pelajaran dimulai, kebetulan guru kelasnya masih di masjid (biasanya kusampaikan dulu kepada guru kelasnya), aku mencoba menyampaikan keingintahuanku kepada anak.
“Memang ada kejadian apa kelas ini dengan kelas sebelah?” Tanyaku. Sebagian anak ikhwan ikut berkomentar, hanya 1-3 orang yang diam karena tidak tahu permasalahannya.
“Iya, Bunda padahal itu kan belum out, eh dikatakan out sama kelas sebelah,” kata salah satu anak dengan suara lantang.
“Kan disini garis, nah bolanya hampir keluar garis,” kata anak yang lain sambil memeragakan bola dan garis di atas meja.”
” Yang bilang itu keluar hanya anak kelas sebelah ?” Tanyaku kembali.
” Iya,” kata yang lain.
” Ada wasit garisnya nggak ?” Tanyaku penasaran. Aku sebenarnya tidak begitu paham sepak bola, tapi wasit garis, aku tahu sedikit tugasnya.
“Ada, Kak Faier,” kata yang lain lagi.
” Nah, itu. Mungkin ada kesalahpahaman. Anak kelas sebelah mengira tidak adil karena ada adik Kak Faier di kelas ini. Lain kali coba cari wasit garis yang tidak memihak salah satu tim. Nanti Bunda kasih tahu pada teman di sebelah sebenarnya ini hanya salah paham saja.”
” Tadi ada anak yang mengatakan bahwa dia menangis karena A, benar nggak sih ? Bunda hanya ingin tahu saja penjelasannya. Bunda takut nanti, yang itu kejadian ini karena dia, eh yang lain tidak merasa melakukannya.” Aku menunggu penjelasan si anak. Belum semenit, anak berkata, yang intinya…Kejadian itu merupakan faktor ketidak sengajaan. Ada penjelasan yang aku dapatkan dari pihak tertuduh (ckckckck, seperti kasus besar saja padahal kan ini masalah anak-anak. Menangis, bertengkar pasti terjadi pada dunia anak-anak. Itu masa mereka, tapi jangan sampai keterusan saja). Barulah aku tenang dan aku akan menjelaskan kembali kepada anak di kelasku. Memang anak-anak di sekolah ini aktif-aktif. Di kelasku, anak-anaknya lincah-lincah.

Setelah itu aku ke kelas dan aku mencoba bertanya lebih jelas pada anak ikhwan di kelas. Sama seperti di kelas sebelah, mereka tidak mau disalahkan. Aku pun tidak menyalahkan mereka.
“Tadi Bunda sudah mendengarkan penjelasan dari anak kelas sebelah. Ternyata….Itu semua hanya kesalahpahaman saja pada wasit garis dan penentuan out atau tidaknya. Lain kali cari wasit garis yang tidak memihak salah satu pihak, yang bisa adil,” kataku. Mereka langsung diam.
” Sudah itu, Bunda mendapat laporan bahwa kalian baru bisa tertib kalau ada Bunda. Bunda hilang sebentar saja, kalian sudah tidak mau mendengarkan perkataan Ustad/Bunda yang lain.”

” Nak, ustad Adi di kelas ini menasihati dan bunda-bunda yang lain menasihati sebenarnya bukannya tidak suka, sama kali tidak, justru karena sayanglah ustadz dan bunda melakukan itu.”

    “Kalian tahu bahwa yang tahu kegiatan kalian itu ustad dan bunda di sekolah, orang tua kalian mana tahu kalian ngapain di sekolah. Ustadz dan bunda itu orang tua kedua kalian setelah mama dan papa di rumah.”
    “Jadilah anak yang bisa membanggakan orang tua, eh malah membuat orang tuanya kebingungan dengan keadaan kalian. Jadilah anak yang bisa membuat orang tua tersenyum. Jangan membantah orang tua, ustadz, dan bunda karena semua itu untuk kebaikan kalian. Nanti, kalian akan ingat pesan dan nasihat ustadz Adi ketika kalian besar. Bersyukurlah kalian masih diingatkan oleh ustadz Adi untuk melakukan kebaikan dan kebaikan.”
  • ” Teman di kelas sebelah, anak-anak di Al Furqon, dan semua muslim itu bersaudara. Jadi, sayangilah dan jangan saling menyakiti.”
  • “Itu saja pesan Bunda. Oke, sekarang pesan Bunda yang pertama….” aku menunggu jawaban mereka, sampai pesan yang keempat alhamdulillah mereka ingat. Aku bertanya kembali 4 pesanku itu pada anak-anak. Mereka mencoba mengingat kembali pesan yang aku sampaikan dengan gaya mata yang sedikit melihat ke atas.

    Setelah Ashar berjama’ah di kelas, pesan yang siang tadi aku sampaikan kepada anak-anak, aku tanyakan kembali. Sekali lagi mereka masih ingat. Alhamdulillah, namun harapan besar, aku berharap semoga pesan-pesan yang disampaikan oleh guru-guru di sekolah akan membekas di hati mereka dan menjadi bekal mereka di masa mendatang Aamiin.

    ” Generasi yang ditunggu bangsa ini tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi harus cerdas secara hati dan ruhaniah.”

    Tentang melianaaryuni

    Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
    Pos ini dipublikasikan di Isi Hatiku, Pernik Sekolah dan tag , , . Tandai permalink.

    22 Balasan ke Wasit garisnya yang tidak adil,Bun…

    1. antokoe berkata:

      setuju sekali, tantangan kedepan sangat berat untuk mendidik anak2 generasi online..

      Suka

    2. alisnaik berkata:

      biasa lah, anak berantem kecil-kecilan.
      tapi jangan sampe berujung perang nuklir:mrgreen:

      kalau mau cari wasit sepakbola yang netral,
      mengapa tidak kepala sekolahnya saja yang jadi wasit ??
      kemungkinan besar bisa adil tuh😉

      terus bersemangat ya, Bu Guru.

      terima kasih dan mohon maaf😮

      Suka

      • melianaaryuni berkata:

        Ga asegitunya kaleee…anak-anak kan bukan musuh dan lawan di kancah peperangan seperti perang Palestina-Israel, Rooel. Nah, kalau yang jadi wasitnya kepala sekolah, ntar yang jadi pemainnya bukan anak-anak lagi dong, tapi guru-guru dan karyawan. So, yang mengajar siapa ?❓ hehehe

        Suka

    3. dan berkata:

      intelektual harus diiringi dengan akhlak dan agama yang baik..

      Suka

    4. Fitria ALIEFA berkata:

      Hmm, hal seperti itu memang sering terjadi, dari aku kelas satu disana, sampai sekarang. Aku lebih suka kalau nggak ada permasalahan atau berantem, tapi kalau memang kejadian, apa boleh buat. Bunda, aku mau kasih saran, kalau ada yang berantem, bunda usulkan saja supaya mereka bermusyawarah dulu, kalau sudah, lalu kalau mereka yang berbuat salah, bilang sama mereka

      Suka

    5. batavusqu berkata:

      Salam Takzim
      Ustad dan bunda suami istri yah
      Salam Takzim Batavusqu

      Suka

    6. batavusqu berkata:

      Sambil menunggu moderasi,
      mau ngasih pembelajaran kepada anak-anak

      Anak-anak hayoo sini, kalian jangan pada suka ngerepotin bunda dan ustad ya, mereka itukan guru kalian, dan guru itu kan orang tua kalian kedua, bila kalian di kelas, bahkan guru itu kultus pemberi nafkah ilmu lho.
      Sudah ya , lain kali jangan pada berantem, nanti kalau ketemu bunda bilangain ada manusia misterius ya

      Suka

      • melianaaryuni berkata:

        Kultus, ga ada tuh Pak, yang ada kaktus, tapi sekarang juga sudah mati karena kebanyakan air hehehe….Nah, siapakah manusia misteriusnya❓ eng..ing…eng…Coba tanya ke batavusqu ya😀

        Suka

    7. Kakaakin berkata:

      Hehehe…. Insya Allah murid2nya nih cerdas2…🙂
      menyimak dengan benar apa yang dikatakan bugurunya. Buktinya, pesan2 bundanya masih diingat.🙂

      Suka

    8. zipoer7 berkata:

      Salam Takzim
      Ada hasil karya baru di rumah tolong dinilai ya
      Salam Takzim Batavusqu

      Suka

      • melianaaryuni berkata:

        Hmmm…td saya sudah ke rumah,Pak. Sepertinya membuat lidah saya ingin mencicipi, tapi kejauhan kali ya…Ya…saya doa kan semoga hasil kerja Bapak membuahkan hasil yang memuaskan n saya tunggu kiriman kangkungnya hehehe😀

        Suka

    9. sitinuryani berkata:

      Repot juga yaa ngurus anak2…
      Salam kenal dan sukses selalu

      Suka

    10. Cah Sholihah berkata:

      Dulu aku juga pengalaman ngurus anak, bahkan udah SMU.. Mengurus anak kecil lebih enak dibanding remaja..

      Suka

    11. Aldy berkata:

      Kalau hanya anak-anak yang berantem, yo biasa. Yang menjadi tidak biasa jikalau orang tuanya juga melibatkan diri…

      Suka

    Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s