Kurban, Refleksi Keikhlasan dan Mau Berbagi

Kemenangan untuk para haji yang sudah menunaikan semua rukun haji. Selamat bagi mereka yang mampu mendapatkan gelar ‘haji/hajjah mabrur’ semoga bisa membawa warna tersendiri di kehidupan nantinya.

Ingat kurban, ingat sekolah. Ingat sekolah, ingat anak. Ingat anak, ingat sapi. Ya, tahun ini anak-anak telah berkurban dengan menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk membeli satu sapi dan satu kambing. Subhanallah, uang tersebut terkumpul hanya beberapa bulan, belum sampai 1 tahun.

Image and video hosting by TinyPic

Kencleng infaq pun terus bergulir tiap hari dan ada saja anak yang menyisihkan uang jajan mereka ke dalamnya. Sungguh, bagiku pengorbanan uang yang hanya seribu rupiah, dua ribu, itu lebih berharga karena mereka memberikannya dengan semangat dan tersenyum. Kadang, mereka dengan riang berkata,” Bunda, aku mau nyumbang nih,” kata seorang anak, Anton namanya. Mereka berlatih memberikan sedikit yang mereka miliki. Mereka senang jika uang itu bisa dibelikan sapi/kambing.
“Bun, nanti kita kurban sapi atau kambing ?” Anak yang lain bertanya.
“Semoga aja, uang kalian ini bisa membeli seekor sapi. Aamiin,” kataku.

Image and video hosting by TinyPic

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukannya kepadamu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al Hajj : 37)

Ayat di atas cukuplah menjadi penyemangat kita untuk memberi tanpa melihat seberapa banyak jumlah materi yang kita berikan untuk sesama, tapi seberapa ikhlas dan rela diri kita memberikan sebagian rezeki kepada yang berhak menerimanya. Anak-anak SD, yang belum bisa mencari dana pun dengan antusias mengeluarkan uang jajannya malah ada anak yang rela tidak jajan karena ingin mewujudkan ‘1 sapi’.

Pejabat atau pembesar negara, yang sebesar apa pun dan sebanyak apa pun memberikan hartanya, lalu dilabel dengan ‘Ah, biar orang tahu kalau aku nyumbangnya banyak’ atau ‘Yes, namaku masuk koran/ majalah karena telah menyumbangkan 10 ekor sapi !’ akan kalah penilaiannya di hadapan Allah. Mungkin 1 rupiah yang anak-anak sumbangkan itulah lebih diterima oleh Allah.

Memupuk cinta ‘mau berbagi’ memang tidak mudah, apalagi itu untuk anak yang sudah menganggankan uangnya itu untuk digunakan membeli mainan, tapi hati yang bersihlah yang menggerakkan tangan mereka untuk mengulurkan uang ke dalam kencleng kurban.

Malu rasanya, usia sudah dewasa, tetapi jiwa masih kerdil. Jiwa hanya bisa terhanyut dengan kenikmatan dunia. Banyak yang tidak menyadari bahwa segala sesuatu hanya titipan semata. Kenikmatan akan diambil, jika Dia berkehendak. Uang yang jarang diinfaqkan/dizakatkan akan musnah dalam sekejap. Anak-anak SD-ku telah memberi contoh yang sangat memikat bahwa berbagi tidak harus merasa sudah lebih. Kenikmatan berbagi adalah ketika kita mampu memberi dalam keterbatasan yang kita punyai.

Sayangnya prosesi penyembelihan hewan kurban di sekolahku hari ini tidak bisa aku ikuti, namun aku berdoa semoga darah dari nadi yang terkoyak dan mengalir dari hewan kurban itu adalah bukti ketakwaan dan keikhlasan para penginfaqnya. Aamiin.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Gambar Unik, Isi Hatiku, Nilai2 Islami. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kurban, Refleksi Keikhlasan dan Mau Berbagi

  1. zipoer7 berkata:

    Salam Takzim
    Dooooh jadi terharu sama gigihnya anak-anak asuh bunda, sebagian hartanya dibiasakan masuk dalam wadah rahmah, tidak seperti saya harta yang keluar lebih banyak dari yang disimpan.
    Semoga blog ini menjadi insfirat bagi para sahabat dan para orang tua murid asuhan bunda Meli
    Salam takzim Batavusqu

    Suka

  2. sungguh hebat semangat dan keinginan anak asuknya mba, dari uang jajan aja bisa membeli hewan qurban. nah saia, dapet gaji tiap bulan aja masih belum bisa menyisihkan untuk hal baik tersebut😦

    Suka

  3. alisnaik berkata:

    PEMBUKAAN
    selamat pagi

    ISI
    semoga jiwa dermawan murid2 Ibu guru nggak cuma sewaktu masih kanak-kanak saja, tapi juga saat telah dewasa nanti bisa semakin dermawan.

    amin😮

    PENUTUP
    terima kasih dan mohon maaf😮

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s