Perjanjian Damai

Image and video hosting by TinyPic

Untuk beberapa beberapa anak strategi baru dengan menempelkan kertas putih di dinding depan kelas berhasil, tapi untuk satu anak ini sangat sulit karena Allah-lah yang bisa membolak-balikkan hati manusia, ya munqolibal qulub…Semoga kejadian hari ini memberi hikmah pada setiap anak.

Ulah seorang anak membuat aku berang. Baru selesai sholat Zuhur berjama’ah, seorang anak berbuat kericuhan di kelas (sebut saja dengan abjad awal, A) . Seorang anak akhwat telah menangis sedikit keras di kursinya. Aku dekati anak itu dan mencoba untuk bertanya detail penyebabnya. Ternyata, penyebabnya berasal dari satu anak yang vokal di kelas.


Aku tarik tangannya, kuajak ke depan beserta anak akhwat yang masih dalam keadaan menangis. Emosi anak akhwat dan ikhwan itu sedikit meledak. Dengan entengnya si ikhwan meminta maaf, tapi akhwat berkata,”Aku tidak akan memaafkannya !”

Aku bertanya kepada anak yang membuat anak akhwat menangis mengapa dia melakukan itu lalu kutanya beberapa anak yang tahu/melihat kejadian tadi. Beberapa teman si akhwat berkomentar. Setelah mendengarkan komentar dari anak-anak, aku bertanya,”Siapa yang suka dengan tindakan si A ?” Ternyata, anak-anak yang pernah dijahili si A mengangkat tangan, hanya ada 2/3 sebagian kecil anak yang tidak mengangkat tangan karena ketiga anak ini termasuk anak yang pendiam di kelas.
“Tuh, lihat sendiri berapa banyak teman yang nggak suka sama A ?”
“Di tegur sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali teguran sepertinya tidak mempan. Memang maunya apa sih ?” Tanyaku kembali. A diam dalam air mata yang masih terus mengalir. Jam istirahat siangku tinggal 10 menit lagi.
Aku bertanya kepada anak akhwat yang diganggu A
“A sekarang mau diapakan, terserah,” kataku. Karena tidak ada jawaban dari kedua pihak yang berseteru.
Akhirnya, aku harus mengambil tindakan. “Oke, sekarang Bunda akan buat suatu perjanjian !”
Aku mengambil selembar kertas HVS lalu aku menuliskan sebuah judul
‘Perjanjian Damai A – Akhwat kelas IV Ibnu Umar’

___________________________________________________________________________________________
PERJANJIAN DAMAI
A – AKHWAT IV IBNU UMAR

Kami (akhwat kelas IV Ibnu Umar) inginnya A :
1. Tidak menghina dan mencaci maki kami
2. Jangan menjadikan akhwat budak yang disuruh nulis catatan, dll
3. Jangan mengganggu akhwat lagi ya (sebelumnya tulisan ini bukan seperti ini. Ada perubahan setelah
suasana di antara mereka terlihat sudah mulai cair kembali)
4. Tidak menjadikan kami seperti pembantunya/ disuruh-suruh
5. Tidak cari perhatian dengan akhwat untuk marah
6. Jangan memperlakukan kami seperti boneka yang tidak berdaya
7. Jangan mendorong akhwat lagi/ memperlakukan akhwat seenaknya
8. Jangan menjadi orang yang sok berkuasa di sekolah/kelas
9. Tidak menginjak-injak harga diri kami sebagai akhwat karena ikhwan lebih kuat dari akhwat
10. Jangan lagi sok mau menang sendiri terus….
11. Tidak membuat onar di kelas

Aku (A) akan berjanji untuk menepati semua poin di atas

Palembang, 19 November 2009

Para akhwat Guru Pelaku

(Semua anak akhwat menandatangani perjanjian itu)

___________________________________________________________________________________________

Setelah semua sudah menandatangani, aku berkata kepada semua anak.
“Perjanjian ini akan dikopi lalu ditempel di kelas. Satu dipegang sama perwakilan akhwat untuk disimpan, satu sama Bunda, satu akan diberi ke orang tua/A. Jadi kalau hilang, kita bisa mengingatkan A kembali. Semoga dengan perjanjian ini, A bisa berubah.” Terdengar para akhwat mengamini perkataanku.
” Bunda minta setelah ini tidak ada lagi ulah A. Akhwat sekarang mau memaafkan ?”
” Iya, kami semua memaafkan A, Bunda,” kata akhwat beramai-ramai.
“Berarti sekarang sudah damai kan?” Lalu para akhwat sudah mulai tersenyum. Aku bisa istirahat sebentar walau hanya 5 menit. Aku lega karena masalah ini teratasi dengan baik.

Sebelum pulang, mereka sudah bisa ceria kembali. Dengan agak malu-malu, A mendekatiku.
“Bunda, tapi jangan dikasih tahu Mama ya. Aku janji, Bun,” katanya. Akhwat yang tadinya menangis kerena A juga ikut tersenyum dengan gayanya A.

Semua ceria kembali.
^_^

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

4 Balasan ke Perjanjian Damai

  1. Kakaakin berkata:

    Ada-ada aja nih strateginya si ibu guru…🙂
    mudah2an mereka gak bikin masalah lagi ya…🙂

    Suka

  2. alisnaik berkata:

    PEMBUKAAN:
    selamat pagi. dan selamat pagi.
    numpang komen lagi.

    ISI:
    murid bandel itu mungkin adalah titipan dari Allah untuk menguji kesabaran bu guru Melia.
    syukurlah anda bisa mengatasinya dengan bijaksana.

    PENUTUP:
    terima kasih dan mohon maaf.
    mau baca ke postingan sebelumnya dulu.
    yuk😮

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s