Sebuah Kisah Anak Tuna Rungu (solusi dan solusi)

Judul :I Can (not) Hear
Penulis : Feby Indirani dan San C.Wirakusuma (praktisi auditory verbal dan konsultanSpecial Education)
Penerbit : Gagasmedia, Jakarta. 2009

Buku ini berisi kisah nyata seorang ibu yang mendapatkan anak dalam keadaan Tuna Rungu namun berusaha untuk membuat anaknya ‘tidak tuna rungu’. Kisah perjalanan seorang warga negara Indonesia yang menikah dengan orang China dan tinggal di Hongkong. Gwen, anaknyalah yang menjadi penyemangat hidupnya dan dia tidak akan membiarkan Gwen dalam keadaan tuna rungu.

Ibu mana pun akan sedih jika anaknya hidup dalam keadaan yang kurang dari anak normal lainnya, termasuk ibunya Gwen. Kelahiran seorang anak dalam keluarga adalah idaman termasuk ibu ini, tapi ketika beberapa bulan Gwen lahir, ada keanehan yang terjadi pada diri Gwen.

Gwen lahir dengan bobot 3 kg dan panjang 49,5 cm. Gwen tumbuh seperti bayi lainnya. Pada usia 1,5 bulan dia sudah bisa tertawa cekikikan. Usia 2 bulan, dia sering mengoceh,”Buuuu” atau “Baaaa”. Pada usia 5 bulan, dia mendadak memiliki kebiasaan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, namun ketika sang ibu mencium telinganya, ada aroma yang berbeda. Telinga Gwen mengeluarkan bau dan ketika dikeluarkan dengan cotton bud, tidak ada kotoran yang keluar. Saat dibersihkan, Gwen tidak menangis sama sekali.

Gwen berkarakter begitu tenang, sehingga ketika ada topan (usianya menginjak 4 bulan), dia tidak terganggu dengan suara-suara akaibat topan, malah tekun menatap TV dan tidur di pangkuan ibunya. Sang Ibu membawanya ke dr. Chung. Ketika ada suara gemerincing dibunyi dokter, Gwen menoleh sebentar karena melihat mainan itu, bukan suaranya, saat itu usianya 6 bulan.

Gwen diperiksa di Phonak Hearing Center dengan 2 tes, yaitu DPOAE (Distortion Product Otoacoustic Emissions) untuk melihat respon sel-sel rambut di rumah siput saat diberikan bunyi. Tes kedua, yaitu Tympanometer, yaitu untuk memberikan tekanan berupa gelombang suarake gendang telinga dan melihat apakah gendang telinga bergerak jika diberikan tekanan. Dari gendang telinga seharusnya menggerakkan 3 tulang pada telinga tengah lalu menggerakkan sel-sel rambut di rumah siput. Kedua tes ini dilakukan dengan memasukan tube ke dalam telinga Gwen. Mr. Kam (seorang audiologist) yang memeriksanya menemukan bahwa telinga bagian tengah Gwen berwarna opaque, yang mengidentifikasikan infeksi.

Diagnosis lain adalah Gwen mengalami mixed hearing loss, dia memiliki gangguan pada telinga bagian dalam karena tidak adanya respon sel-sel rambut di rumah siputnya saat diberi bunyi untuk kedua telinganya. Gwen lalu diberi obat antibiotik untuk 3 minggu. Ibu ini berusaha mencari penyebabnya dengan melakukan berbagai tes dari beberapa dokter. Ada kemungkinan apa yang etrjadi pada Gwen merupakan faktor genetis atau infeksi virus saat kehamilan kata dr.Lo.

Gwen diajak tes ABR (Auditory Brainstem Response) untuk melihat grafik respon otak saat diberi bunyi. Selama tes ini Gwen harus tidur agar mendapatkan respon otak yang benar-benar berasal dari rangsangan yang di dapat oleh telinga dan bukan indera lainnya. Caranya dengan meletakkan kabel-kabel di dahi bagian depan, di tulang mastoid (di belakang telinga) kiri dan kanan, dan di tulang pipi sebagai grounding. Dari hasil tes itu, Gwen tidak merespon suara yang kerasnya 100 desibel. Artinya jika Gwen berdiri di samping pesawat yang akan lepas landas, dia tetap idak bisa mendengar.

Setelah 3 minggu antibiotik dimakan, Gwen diajak lagi ke dr. Kam lalu di tes dengan Puretone Audiometri (Free Field Test). Akan diberikan suara dan Gwen diminta mencari sumber suara. Hasil tes itu, Gwen memiliki gangguan berat pada telinga bagian dalam. Gwen lalu diajak ke dr. Wong. Beliau mengetes dengan suara yang keras dari mainan-mainan. Hasilnya, dengan tegas dokter berkata Gwen TULI. Dokter menyarankan tidak ada guna mencari penyebabnya, tapi apa yang akan dilakukan selanjutnya. Beliau menyarankan menggunakan cochlear implant (penanaman chip komputer dan elektroda di rumah siput).

Gwen melakukan pemeriksaan darah dan urin dengan dr. Winnie Goh, yang hasinya menunjukkan bahwa gangguan pendengaran Gwen disebabkan oleh virus CMV(cyti-megalovirus). Ibunya Gwen ternyata pernah terjakit virus ini dan kemungkinan virus ini berasal dari kotoran anjing yang terinjak saat itu kekebalan tubuh kita lemah. Dari hasil urin Gwen masi ada rasio virus yang tinggi sehingga harus mencuci tangan setiap membersihkan kototan dan liurnya. Virus yang ada di tubuh Gwen dapat keluar perlahan-lahan melalui kotorannya. Menurut dr.Goh,anak-anak yang terkena virus mengalami keterlambatan motorik atau keterlambatan lainnya dan Gwen dianjurkan mengikuti physio theraphy dan occupational theraphy.

(Belum selesai)

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

6 Balasan ke Sebuah Kisah Anak Tuna Rungu (solusi dan solusi)

  1. Batavusqu berkata:

    Salam Takzim
    wah bersambung ya, jadi penasaran nih apakah si kecil Gwen dapat kembali meresfon suara, semoga usaha sang bunda tidak sia-sia
    Salam Takzim Batavusqu

    Suka

  2. ridwan berkata:

    apakah cerita selanjutnya sudah keluar y? padahal saya tertarik dan ingin membuat cerita tentang abk.tks

    Suka

  3. winni berkata:

    Wah masih bersambung ya… saya tertarik sekali. Anak saya juga menderita tuna rungu sejak lahir…

    Suka

  4. zheicc berkata:

    Saya juga pernah membaca bukunya. Tulisannya juga bermanfaat bahkan saya sampai menulis ttg diriku sebagai tunarungu, harapanku menolong orang2 yang memiliki anak gangguan pendengaran khususnya.

    ada sedikit cerita yang bs dibaca juga dr artikelku semoga bermanfaat bagi pembaca yang berkenan
    _________
    https://zheicc.wordpress.com/2016/03/16/alat-bantu-dengar-vazza/

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s