Akhirnya Dia Sadar !

Belajar sepanjang hayat. Itulah yang Ridha coba lakukan. Melihat zaman yang semakin bergolak dengan rentetan teknologi dan kemajuan-kemajuan di dalamnya. Subhanallah, begitu menggebunya ia untuk tampil lebih baik, bersaing dengan yang lain dalam setiap kebaikan. Semua kegiatan positif, yang tentu saja berharga untuk dirinya di masa depan dia kerjakan, termasuk belajar. Ridha berpikir itulah yang akan membedakan dirinya dengan orang yang tidak berilmu lainnya. Dengan keterbatasan yang dia punya, dengan tangan yang tidak sempurna lagi, dia berjuang untuk mendapatkan ilmu.

Dua tahun silam yang mengantarkan dia bertafakur sejenak tentang makna hidup dan untuk apa hidup. Panas dan kejang yang dirasakan Ridha di suatu malam, dua tahun yang lalu tidak disangka-sangka membawa Ridha tidak leluasa lagi menggunakan anggota tubuhnya. Mungkin terlalu sombong dia dengan kecantikan, kesempurnaan fisik yang dia punyai sampai-sampai Ridha lupa bahwa semuanya hanyalah sementara. Dia sering mencibir pengemis yang berjalan di depan rumahnya dengan pandangan menjijikan. Itulah Ridha. Orang tuanya terlalu sering menasihati, tapi Ridha tetaplah Ridha dengan kecongkakan hatinya. Dia enggan meminta maaf.

Sepulang sekolah, Ridha merasa tubuhnya menggigil dan matanya sungguh berat untuk terbuka. Tubuhnya lemas dan dia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi ruang tamu. Tak ada yang menyangka kejadian hari itu. Ridha yang jarang sekali sakit ternyata ambruk dalam sekejap. Ridha koma dalam beberapa hari. Rumah sakit telah angkat tangan untuk masalah ini dan memutuskan Ridha dirawat di rumah. Kecemasan berikutnya dialami keluarga Ridha, mereka takut tidak bisa menjaga Ridha dengan semestinya karena disibukkan dengan aktivitas bekerja seharian. Dengan inisiatif mencari perawat, Ridha dirawat di rumah. Tentu saja keluarga Ridha merasa itu adalah solusi terbaik bagi Ridha. Ridha dirawat oleh seorang perawat. Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, sampai hampir setenggah bulan Ridha dirawat baik oleh perawatnya. Ridha dimandikan, bunag air besar, dan kecil pun Ridha dibantu oleh perawat. Ridha tak berdaya.

Menjelang pertengahan bulan, perawat itu merasa jengah dengan Ridha. Dia sering memarahi Ridha.
“Kerjaannya nyusahi aja !” Bisik perawat di telinga Ridha. Ridha tidak bisa berbuat apa-apa. Air matanya menetes. Dia hanya menangis dan menangis. Tidak seorang anggota keluarga pun yang ahu akan penderitaan batin Ridha. Ridha tidak mau menceritakan kepada keluarganya karena dia takut keluarganya akan cemas. Cukuplah keluarganya mencarikan perawat untuknya. Dalam hati Ridha berpikir.
“Dulu, aku sering melihat dengan pandangan sinis. Dulu aku merasa serba bisa dan sempurna. Aku tidak pernah tahu kalau nasibku seperti ini. Ya, Allah…Aku merasa berdosa. Aku bukanlah hamba yang baik, tapi aku ingin menjadi lebih baik. Aku tidak ingin membuat yang lain cemas memikirkanku, Aku hanya menginginkan aku ikhlas menerima takdir-Mu. Ya Allah, izinkan aku memperbaiki diri. Izinkan aku menikmati hidup dengan tidak menyakiti orang di sekitarku. Izinkan aku tampil di hadapan-Mu kelas dengan bangga membawa amal kebaikanku. Aamiin.”

“Masih adakah waktu untukku,” kata Ridha kepada sahabatnya.
“Insya Allah, mulailah berbuat baik. Jangan pernah mengeluh akan penderitaan. Tegarlah ! Dulu sahabat rosulullah tidak mengeluh meski kedua tangan mereka dipenggal oleh musuh Islam. Mereka berjuang dan berjuang, tak pernah ada kata berhenti. Kamu hanya diberi cobaan kecil seperti ini saja sudah menyerah. Ingatlah bahwa Allah Maha Penyayang, Dia tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang mau memperbaiki diri. Ini adalah pelajaran bagi kita. ” Nasihat sahabatnya. Ridha hanya menunduk dalam diam.

Wajah cantik yang dua tahun lalu mencibir pengemis kini miring ke kanan. Tangan kanan yang dahulunya suka mengusir setiap peminta datang ke rumah, kini lunglai, sulit digerakkan. Alhamdulillah Allah masih memberikan kasih sayangnya. Dengan kaki dan mata yang masih sehat Ridha bangkit dari keterpurukan jiwa. Dia bertekad untuk membalas semua kelakuan buruknya dengan amal-amal kebaikan. Itulah keinginan hatinya kini. SElagi tubuhnya bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif, ia akan lakukan. Tentu saja tidak semua kegiatan mampu dia lakukan sendiri. Hidup baginya telah meberikan pelajaran yang berharga. Dia bangga dengan keadaannya sekarang, yang berbuat tanpa dasar kesombongan. Dia menyadari bahwa Ridha bukanlah apa-apa.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi, Nilai2 Islami. Tandai permalink.

14 Balasan ke Akhirnya Dia Sadar !

  1. zipoer7 berkata:

    Salam Takzim
    Sungguh cerita yang menggetarkan bibir, gemes dengan sikap, gemes dengan prilaku, walau namanya ridha setara dengan Ridho, sifatmu kurang terpuji, dari mata dan kaki bangkitkan diri membuang sifat dan prilaku untuk kembali mensyukuri agar ridha Allah bersamamu wahai Ridha si cantik rupa.
    Salam Takzim Batavusqu

    Suka

  2. zipoer7 berkata:

    Dicek dicek dicek ada email balasan dicek dicek dicek

    Suka

  3. Kakaakin berkata:

    Mudah2an aku nggak menjadi seperti perawat yang merawat Ridha…🙂 *belajar ikhlas nih*
    Aku sering mencibir pada pengemis yang ada di pinggir jalan atau yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain… namun aku mencibir pada mereka yang mencari nafkah dengan cara mengemis, padahal fisik mereka sempurna, otot yang dibalut oleh kulit juga tampak berisi.
    Namun akhirnya aku juga sadar…menyadari bahwa mereka juga hamba Allah, kuberdo’a semoga mereka menyadari bahwa tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah…🙂

    Suka

  4. batavusqu berkata:

    Salam Takzim
    Mengecek ada yang lagi upacara ga disini, Upacara Sumpah Pemuda, Ingat kan
    Salam Takzim Batavusqu

    Suka

  5. Fakhrullah berkata:

    size font-nya agak kecil nih. butuh kosentrasi penuh untuk membacanya😯

    tapi isinya penuh hikmah. jadi harus banyak banyak bersyukur.

    “pengemis” memang keberadaannya cukup kontoversial. sekontroversial miyabi.:mrgreen:

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s