Bulat Kecil Penghantar Cerita Kemarin…

Angin sore sudah mulai menunjukkan wataknya. Matahari mulai mengurangi kegarangannya saat aktivitas keseharianku berlalu dengan berbagai perasaan. Penat dan bercampur dengan berbagai rasa. Ingin segera kumelaju ke bilik kecil di rumah. Inginnya merebah sebentar, namun pikiran itu hilang saat rintik hujan telah membasahi HPku. Ada kilau yang jarang kutemui. Bulat kecil berwarna pelangi menghiasi layar HPku. Aku terkesima dengan bulatan kecil indah itu.πŸ˜›

Kubiarkan bulatan indah itu di atas layar HPku dan aku berpikir. Entahlah, bulatan itu mengajakku merenung sebentar….Rintik hujan terus membesar sejauh dengan pikiranku yang terus berkelana. Dalam kelebat sore dan kondisi badan yang kurang fit, aku hentikan keinginan untuk pulang. Menunggu hujan reda.

Ingatanku menyusuri kejadian kemarin, kejadian yang membuatku gerah sendiri sampai-sampai setelah pulang ke rumah aku menggeleng-geleng kepala. Kejadian seperti itu pernah terjadi pada dirinya sejak mulai belajar di sekolah dasar. Maunya dituruti, kalau tidak dituruti keinginannya marah. Tersenggol teman tanpa sengaja, langsung marah atau mukul.πŸ’‘


Kemarin, tanpa ada sebab, dia memukul hidung teman di kelas lain dan membuat temannya itu menangis. Kalau sudah kejadian fisik seperti itu, aku tidak pernah akan tinggal diam. Harus segera diselesaikan semua permasalahannya. Aku ajak anak yang menjadi korban hanya untuk mengklarifikasi masalah sebenarnya. Belumlah bertanya, dia sudah berlari ke belakang kelas dan mengambil kursi dan membantingnya.
😯

Cerdas, suka bermain, agak manja, sedikit pemalu, dan agak egois. Dia menjadi terkenal di kelas karena beberapa ulahnya. Teman-temannya sudah tahu dengan sifatnya itu, ada saja pemakluman dengan apa yang dia lakukan di kelas. Dia bertindak seolah-olah orang takut padanya, termasuk para pendidik. Dia tidak pernah ditantang. Kemarin aku menantangnya, aku berkata,” Banting aja ! Terus, nggak pa-pa dibanting,” aku mencoba melihat reaksinya. Ternyata reaksi yang keluar luar biasa mengejutkan. Dia berani membanting kursi. Karena takut perilaku destruktif itu berdampak pada anak yang lain, aku tarik tangannya dengan keras. Tak kan kubiarkan dia semena-mena dengan perilaku negatifnya. Mungkin orang tuanya tidak berani memarahinya, aku disini yang akan mencobanya. Kutarik tangan itu lalu dia melepaskannya dan pergi keluar kelas sambil menjatuhkan rak sepatu. Teman yang menegurnya pun dimarah. Emosinya terlalu kuat untuk diredakan. Dia naik tembok di dekat kamar mandi lalu duduk di depan kelas lain hingga akhirnya turun dan menaiki pohon di halaman. Tak ada yang berhasil mengajaknya turun, tapi akhirnya dia turun juga. Sebenarnya jika dia sudah seperti itu, diamkan saja dulu sampai emosinya reda. Aku pernah melakukannya, tapi aku kira dengan membiarkan dia melakukan terus dalam keadaan seperti itu, aku takut ketika dia sudah berhadapan dengan dunia yang ‘lebih besar’, dia akan kalah. Dalam kekalahan ada penyesalan yang berkepanjangan lalu apa yang terjadi ? Tak bisa dibayangkan !

Cara yang kulakukan, secepat mungkin menjauhkan anak-anak lain dari dia, mendiamkannya sebentar lalu mengkomunikasikan permasalahan tadi dengan orang tua. Orang tua harus tahu apa yang terjadi pada si anak di sekolah. Cerita yang kudengar tentang si anak membuatku berkata dalam hati,”Oh, ini yang sering diceritakan teman-teman.”

“Kata orang tuanya waktu dia masih kecil, dia pernah mengalami pecahnya pembuluh darah di otak, sempat koma beberapa minggu,” jelas seorang teman.
“Jadi karena takut terjadi apa-apa, maka kasih sayang yang diberikan orang tua terlalu berlebihan sampai sekarang ini. Orang tuanya saja tidak pernah memarahinya. Tidak ada yang ditakuti atau disegani oleh anak. Orang tuanya keduanya sibuk juga. Orang tuanya mengakui kesalahan mendidik yang mereka lakukan pada anak,” kata teman yang lain.

Tadi, dia mencoba mencari perhatian padaku dalam post test sebelum bel istirahat. Dia dengan antusias mengacungkan tangannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Seperti itulah dia setelah emosinya reda. Anak-anak tak pernah dendam, mereka akan kembali seperti layaknya anak-anak dengan sorot mata yang manja.

➑ Note :
“Untuk semua anak-anak Bunda…berusahalah untuk menjadi anak-anak yang betul-betul jadi impian agama, orang tua, dan bangsa dengan bersikap santun terhadap sesama dan penyayang kepada semua makhluk. Hidup ini bukan sebatas sekolah ini saja, ada lingkungan yang lebih besar yang akan kalian masuki. Jika semasa kecil kalian sudah kalah, bagaimana nantinya ketika kalian sudah dewasa dan menjalani kehidupan sendiri tanpa bantuan orang tua? Perjalanan kalian masih panjang Anakku….

:mrgreen:

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Bulat Kecil Penghantar Cerita Kemarin…

  1. Batavusqu berkata:

    Salam Takzim
    Selamat pagi menyapa para sahabat demi sebuah persahabatan agar tak tergeser dengan kesibukan, Semoga tetap kesehatan yang hakiki diberikan untuk ibu guru sekeluarga
    Salam Takzim Batavusqu
    emoticon bangetπŸ™„πŸ˜†πŸ˜€:mrgreen: :ide:

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s