Dampak Ghozwul Fikri Menjangkiti Siswiku

Aku heran anak didikku sering tidak masuk sekolah. Kadang aku tidak menerima alasannya. Kata bundanya dia tidak sekolah karena lagi ngambek. Biasanya kebiasaan itu terjadi di awal minggu, yaitu hari Senin. Aku penasaran, tapi orang tuanya belum secara terperinci menjelaskan mengapa dia sampai tidak mau masuk sekolah. Tadi, Bundanya menelepon bahwa si anak sudah ke sekolah dan sekarang di dalam mobil. Saya terkejut juga sih, ternyata dia sebenarnya ada niatan untuk sekolah.
“Bunda, dia takut dimarah karena datang terlambat,” kata bundanya.
“Udah ke kelas aja dulu, nggak pa-pa kok, Bunda insya Allah nggak marah,” kataku. Aku dengar bundanya membujuk si anak lalu setelah salam beliau mematikan telepon, sepertinya beliau membujuk kembali. Tak berselang berapa menit kemudian, sms masuk dan…
” Maaf Bunda, anaknya ngambek lagi, nggak mau sekolah. Besok saya suruh lagi untuk sekolah,” isi sms itu. Setelah membaca sms tadi, saya menjadi kepikiran dengan si anak,”Apa yang terjadi sebenarnya. Setelah sms tadi masuk, saya coba menjawabnya.
“Assalamu’alaikum….Ma, insya Allah nanti Bunda mau main ke rumah. Bunda pengen bicara langsung dengan si anak dan mencoba mencari penyebab semua yang terjadi pada diri si anak. Bisa minta tolong di sms kan alamatnya ya, Ma,” kataku. Alhamdulillah orang tua si anak mendukung hingga akhirnya aku dan patnerku ke sana setelah pulang sekolah.

Kawasan elit di kotaku, disanalah si anak tinggal.Desain rumah yang sangat menarik dengan lantai atas yang dibuat etnik. Aku dan patnerku pun diajak langsung ke kamar si anak. Fasilitas yang sungguh wah untuk anak SD seperti si anak. Ada laptop pribadi dilengkapi saluran Indovision. Kamar yang cukup megah. Aku mencoba memasuki pikirannya dengan mencari celah yang aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.
“Tadi ditanyain lho sama temen-temen. Temen-temen pada kangen,” kataku. Dia hanya tersenyum sambil bersalaman denganku dan patnerku. Aku belai rambutnya. Ya, mungkin itu bahasa tubuh yang sering aku gunakan sebagai salah satu ungkap sayangku kepada anak didikku. Dia menggeliat seolah-olah ingin mencari perhatian. Dia tersenyum dan berbicara dengan logat yang agak dicadel-cadelkan.
“Emang enak ya kalau nggak sekolah?” Tanyaku.
“Kalau nggak sekolah, anak Bunda suka nonton ya. Nonton kartun di Global TV ya?” Tanyaku kembali.
“Bukan di Global TV, tapi di TV Indovision. Film kartun semua,” katanya angkat bicara.
“Eeee, nonton Upin dan Ipin ya,” gurauku sekedar ingin tahu. Dia menggeleng.
“Nggak kangen ya sama sekolah, sama teman-temannya ?” Tanyaku. Dia sekarang menyembunyikan wajahnya di bantal bergambarkan kartun. Patnerku menambahkan.
“Boleh aja nonton, tapi sekolah juga.” Aku coba gali lebih jauh lagi lalu kedua orang tuanya masuk kamar juga. Si anak tambah kelihatan manjanya. Nadanya dibuat cadel.
“Iya ni Bun, kerjaannya di rumah hanya nonton aja atau nggak gangguin adiknya yang masih dua tahun ini,” Bundanya menujuk ke arah si adik.

Dia lahir dari keluarga yang dulunya bekerja semua. Ayahnya bergerak di bidang media massa dan Bundanya bergerak dibidang jasa tenda dan pelaminan. Dia anak sulung dari 3 bersaudara. Jarak antara adik pertamanya kurang lebih 1 tahun dan antara adik bungsunnya sekitar 6 tahunan. Orang tuannya mengakui bahwa ada pengajaran dan cara mendidik yang salah, yang tidak disadari ternyata berdampak negatif pada anak. Ayah yang selalu membolehkan dan memberi sesuatu apa yang diminta anak kapan pun. Ayah memberikan fasilitas yang lengkap karena merasa bahwa beliau jarang berkumpul dengan anak dikarenakan beliau yang sering pergi ke luar kota. Beliau berpikir dengan memberikan apa yang diminta oleh anak akan menjadikan anak senang, Ya, dampaknya baru terasa sekarang oleh keluarga ini. Dia menginginkan keperfectkan untuk dirinya. Kalau beli buku atau barang apa pun, dia minta dibelikan lebih dari satu. Jika tidak dipenuhi, maka dia akan ngambek.

Anak ini menjadi seorang anak yang egois, emosinya sulit terkendali. Kalau di kelas, dia berlaku seperti anak yang baik, penurut, dan belum pernah sekali pun saya melihat dia marah dengan mengamuk seperti yang sering dia lakukan di rumah. Saya bahkan heran mendengar ungkapan orang tuanya. Mereka yang lebih tahu tentang keadaan anak mereka.

Tak banyak yang bisa saya ungkapkan untuk memecahkan kasus ini. Saya hanya bercerita tentang tayangan The Nany 911 di Metro TV, yang tayang setiap hari Sabtu dan Minggu sekitar pukul 16.30 (kalau tidak salah).
“Bunda dulu pernah menonton acara Nany 911, disana ada kasus yang keluarganya memiliki anak yang sangat tempramen. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, si anak akan berontak dan berusaha meminta dengan kasar kepada orang tuanya. Disana diberlakukan reward dan funisment (hadiah dan hukuman, ya sebenarnya itu saya dapat di bangku kuliah psikologi dulu sih dan sejalan dengan konsep yang ditawarkan oleh The Nany). Memang untuk melewati tahap stabil sangatlah sulit, dibutuhkan kerja sama antara kedua orang tua. Penerapan aturan pun boleh dilakukan, misalnya anak baru boleh nonton, jika….

” Maaf, Bunda. Bunda nggak bermaksud mengajari karena Bunda juga belum punya anak, tapi mungkin pembelajaran dari yang lain bisa membantu. Bunda juga banyak belajar dari TV dan buku,” kataku sekenanya.
“Iya, Bun. Kadang saya berpikir dimanakah letak kesalahan kok anak saya jadi seperti ini,” kata ayahnya.
“Iya, Bun. Dulu saya sudah bagus menerapkan peraturan di rumah, tapi ayahnya selalu melonggarkan aturan itu. Dulu, anak-anak kalau dibilang jam sekian harus tidur, mereka tidur. Sekarang, kalau dibilang tidur, mereka bilang,’Bentar lagi, Bunda’,” kata sang Bunda.
“Saya tuh inginnya ada sharing antara orang tua dan guru/pihak sekolah untuk perkembangan anak,” kata ayahnya…”
“Ada kok, Yah. Ayah boleh sharing melalui web kita atau bisa ke Bunda langsung, insya Allah kita cari solusinya sama-sama,” kataku.

“Duku aja si anak pernah ngamuk sambil mecahin piring,” kata Bundanya.
“Dia itu nekad,Bun. Pernah dia ngambek sama kita lalu tinggal di rumah neneknya selama 3 bulan. Atau pernah dia naik angkot sendiri dan kita-kita sibuk mencarinya kesana kemari,” jelas sang ayah. Aku dan patnerku mendengarkan penjelasan kedua orang tua dari siswiku ini.

“Sebenarnya, semuanya bermula dari adanya INdovision. Dari pagi sampai sore kerjaannya nonton terus, kalau kita larang dia malah ngambek dan berontak. Kemarin aja, dia bangunnya kesiangan, bukannya malah segera mandi, eh…malah nonton dulu,” kata Bundanya.
“Kayaknya dia sudah kecanduan dengan tontonan kartun di Indovision,” kata ayahnya.
“Gimana, udah diatur jadual nonton nggak?” Tanya patnerku.
“Mungkin kita bisa mengatasinya dengan perlahan, menjauhinya dengan tayangan Indovision sedikit demi sedikit,” kataku.
“Karena sering di rumah, maka anak sering melihat tayangan Indovision, jadi bisa jadi megajaknya keluar sesekali bisa menjauhkan anak sedikir demi sedikit dari menonton,” lanjutku kembali.

Kalau masalah emosi, berikan apa yang dia sukai jika dia bisa mengontrol emosinya dan bisa menghukumnya (misal dengan mengasingkannya disuatu tempat lalu setelah emosinya reda, ajak bicara kembali).
Ketakutan orang tua terhaap si anak sangatlah jelas dalam ungkapan-ungkapan perbincangan tadi.
“Iya, Bun, saya itu takut nanti kebiasaan ini terbawa sampai besar. Di rumah saja dia jarang bermain dengan teman sebayanya padahal dulunya dia mau bergaul. Malah saya lihat perkembangannya sekarang melebihi anak-anak seusianya. Masak dia ngajak saya ke salon untuk buat rambutnya bagus. Anak saya normal nggak sih, Bun ?” Tanya Bundanya.
“Insya Allah anak Bunda masih normal kok,Bun. Malah banyak yang seperti itu,” kataku.
“Tapi Bun, saya lihat hari Senin dia sering ngambek. Saya nggak tahu apa penyebabnya. Apakah karena ada upacara (apel pagi) atau apalah,” kata sang ayah.
“Bukan hanya Ananda kok, Yah. Kalau hari Senin, Bunda harus ekstra lagi dalam mengorganisir anak karena setelah dua hari (Sabtu dan Minggu) bersama keluarga ternyata berdampak di sekolah. Anak seperti sulit diatur,” jelasku.

Hari sudah menunjukkan kurang lebih pukul 17.30, aku sudah gelisah. Rumahku cukup jauh, tapi setidaknya aku sudah mengatasi keingintahuanku selama ini.
“Iya, nanti Bunda hubungi no ini dulu. Beliau psikolog kita, tapi karena banyaknya aktivitas, beliau jarang ke sekolah,” kataku.
“Nanti kalau solusi yang ada belum bisa memadai untuk mengatasi kasus ini, kita cari cara lain. Insya Allah Bunda akan membantu sebisa Bunda. Kita sama-sama mencari pemecahannya ya,Bun,”kataku.
Setelah pamit, aku melajukan motorku dan berlalu mendahului patnerku. Terima kasih kuucapkan kepada patnerku yang rela meluangkan waktunya untuk home visit hari ini.
Kerja sama yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, insya Allah.

Anak-anak meniru dari tontonan. Perilaku yang seharusnya belum terjadi pada masa anak-anak, seperti memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan kecantikan ternyata berawal dari tayangan televisi yang ditonton anak tanpa pengarahan dari orang tua. Pemberian fasilitas ternyata bukan jaminan disukai atau disayang anak malah anak akan semakin menjauh dari kita dan menjadikan tontonan sebagai teman yang tidak pernah marah atau menyakitinya. Yang jelas, masa bermain anak-anak hilang karena banyak waktu yang terbuang dari menonton televisi sehingga mengurangi pergaulan yang biasanya mereka alami pada masa anak-anak.

Orang tua yang permisif, yang membolehkan anak melakukan apa saja dan seolah-olah tidak memiliki ‘power’ di keluarga akan menyesal di kemudian hari ketika melihat anak tumbuh menjadi remaja lalu dewasa lalu tua karena didikkan mereka. Pengarahan yang cukup dan tidak berlebihan mungkin menjadi solusi efektif untuk orang tua yang mulai mendidik anak-anaknya.

Anak merupakan media yang sangat efektif untuk menyebarkan paham kebatilan. Ghozwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan oleh orang yang akan merusak moral bangsa dan umat telah dilancarkan, perlahan namun pasti. Siapakah yang bisa mengatasinya? Keluarga yang solidlah yang mampu mengancurkan itu semua.

Didiklah anak dengan tepat sebelum terlambat ! Belajarlah dari pengalaman orang lain karena pengalaman adalah ilmu yang tiada tara nilainya.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Nilai2 Islami, Pernik Sekolah. Tandai permalink.

4 Balasan ke Dampak Ghozwul Fikri Menjangkiti Siswiku

  1. bisot berkata:

    berat euy judulnya, itulah hasilnya kalau pengasuhan anak di serahkan ke televisi.

    saran saya, sering2 di ajak berkumpul dengan saudara-saudaranya yang sebaya, atau ajak berlibur menginap di rumah nenek atau kakeknya, atau siapa gitu yang di desa (yang tidak ada indovision atau televisi kalau perlu), jangan beri akses televisi di kamar anak (tanpa arahan dan pengawasan ortu).

    mungkin itu saja.

    salam

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Salam kenal juga,Mas…Iya nih, judulnya berat, tapi insya Allah bermanfaat kok n tak seberat dunia ini tho hehehe….Kayaknya sarannya bagus tuh untuk dilaksanain….Hem, mengajak jalan-jalan bisa membuat anak jauh dari televisi…Oke tuh sarannya. Makasih ya ^_^

      Suka

  2. sunflo berkata:

    aq juga ngajar di SDIT de’, kek gtu emang gaya didik sebagian ortu murid pada anak2nya. kadang qta yg menanam benih, seringnya pihak lain dg enteng mencabutinya. harus ada kerja sama yg baik antara ortu dg pihak sekolah agar tujuan pendidikan yg diharapkan bisa terwujud. btw…linknya dah qpasang, maap baru bs bkunjung sekarang… met berjuang.

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s