Lebaran Seorang Anak

Masih dengan air mata berderai seorang anak mendekati ibunya,
” Bu, lusa kita lebaran nih. Kok, aku belum dibelikan baju baru sih. Kue juga nggak ada. Temen-temenku bilang lebaran itu harus serba baru, biar kita menjadi bersih benar,” celoteh si anak. Ibu yang dari tadi duduk sambil mengupas bawang merah mendengar celotehannya, namun tidak langsung memberikan respon terhadap perkataan anak. Ibu masih sibuk dengan rutinitas memasak. Mungkin kalau tidak dijawabnya, anak tidak akan berhenti berceloteh.

“Ibu, kok ibu nggak ngasih jawabannya sih. Aku kan penasaran,” rengek si anak kembali. Ibu melihat wajah anak lalu menunduk.Diam.


Ibu dan anak ini diam untuk beberapa saat, tapi karena naluri anak ingin tahu, anak itu mulai merengek kembali.
“Ibu, si Adi udah beli baju koko, sandal, dan peci baru. Dian sudah pamer ke aku kalau harga bajunya mahal. Aku, apa yang kupunya,Ibu ?” Anak itu menekuri ubin lalu berkata.
“Coba aku punya pakaian seperti Dian dan peci seperti Adi.Lebaran ini pasti menyenangkan.” Ibu melihat wajah anaknya yang sedang bermuram. Ibu mendekati anak dan dengan perlahan dia mengusap tangannya di kepala si anak lalu menciumnya lembut, penuh kasih sayang.

“Anakku…,” Ibu mulai berbicara. Ibu menghentikan pekerjaannya di dapur, demi menjawab pertanyaan anaknya.
“Lebaran itu bukan dengan baju baru, sandal/sepatu, peci, atau apanyalah yang baru. Lebaran juga bukan untuk pamer barang kepada orang. Lebaran tidak untuk diteriakan, tapi kenyataannya dia tidak melakukan kebaikan pada bulan Ramadhan.” Ibu diam dan mencoba untuk memberi penjelasan yang sederhana agar si anak mengerti hakikat lebaran.

” Ibu mau nanya, pernahkah anak ibu melihat seorang anak jalanan berlebaran ?” Ibu diam kembali dan melihat ke arah anak yang menggelengkan kepalanya.
“Apakah mereka berlebaran, Anakku ?” Sekali lagi, ibu melihat anggukan kepala anak.
“Ya, mereka semua berlebaran. Apakah mereka bersedih ? Mungkin saja mereka bersedih, tapi jauh di dalam hati mereka mereka bersyukur bisa berlebaran dalam keadaan sulit.” Kali ini, anak semakin menunduk.
” Anakku, memang tidak ada salahnya membeli baju atau apalah bentuknya…tapi lebaran bukan ditandai dengan hal-hal seperti itu.”

Ibu melanjutkan…
“Oke, Ibu mau bertanya, anak Ibu puasanya bagus nggak ?” Si anak mengangguk.
“Nah, lebaran itu untuk orang yang berpuasa dan mengisi Ramadhannya dengan kebaikan, bukan untuk orang yang tidak berpuasa.”
” Ibu bisa membelikanmu baju yang bagus, tapi Ibu takut nanti anak Ibu yang sholeh tidak akan pernah memahami makna lebaran. Nanti suatu saat anak Ibu akan mengerti betul apakah arti lebaran yang sesungguhnya, dengan begitu…Anak Ibu akan banyak melakukan amal kebaikan di bulan Ramadhan.”
Ibu memeluk si anak, dia cium pipi si anak….

“Nak, hadiah lebaran terbaik bagi Ibu adalah senyumanmu ketika menyambut takbir lalu kita berdoa semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah. Ibu akan berikan segala sesuatu yang bisa Ibu berikan untukmu.”

Dengan lirih si anak berkata, ” Ah, Ibu, maafkan aku. Ibu bahagia, itu sudah cukup….”
Indahnya takbir yang mulai terdengar dan mengajak mereka berucap syukur….”Allah, terimalah semua amal-amal kami.”

Takbir yang mengalun mengiring langkah menjadi manusia yang bersih kembali.

Image and video hosting by TinyPic

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Nilai2 Islami. Tandai permalink.

2 Balasan ke Lebaran Seorang Anak

  1. machrup berkata:

    the question “apakah anak jalanan berlebaran” always makes me wanna cry, each night I see them sleeping on the sidewalk using used paper and covered by the dirty linen while in front of them hundreds of us spending money on new cloth and junk food in the mall. How dare us claiming we’re celebrating the victory of Ramadhan while we don’t understand the essence of that victory in our heart. If only we can give those children a bit of happiness in their life as it actually is their God given right. maaf ya nulis nya pake bhs jawa, coz kalo lg marah or sedih sy suka kebablasen pake bhs jawa ini, thank you, bring us to remember this all the time

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Org pada bingung plus bengong klo marah pake bahasa kayak gini hehehe. Ga pa-pa, Meli ngertilah dikit kok, kan toeflnya ga gede2 amat…Malah ada anak jalanan yang tidur di perempatan lampu merah, ga beralas…pakaian compang-camping…Miris ya, itulah makanya memberikan sedikit yg kita punya bukan masalah…insya Allah…

      Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s