Klepto Aneh (Akhir)

Sambungan Klepto Juli…

Aku memperhatikan gerak-geriknya. Aku penasaran barang apa saja yang berhasil dia curi di toko mainan tadi. Aku mengendap-endap dan aku terkejut dengan semua yang ada dihadapanku. Aku dikejutkan dengan barang-barang mewah yang tertata apik dibalik gubuk reot yang kumasuki ini. “Ah, banyak sekali barang yang telah dia curi ! Aku kagum, tapi mengapa aku harus kagum ? Bukankah ini semua adalah barang miliknya orang lain ?’ Aku terus berpikir sejak kapan sang gadis mengumpulkan barang sebanyak ini. Aku tak habis pikir berapa banyak toko yang telah dia curi ? Manakah orang tuanya dan mengapa dia melakukannya ?

“Oh, bagusnya !” kata gadis itu sambil memuja barang yang baru dicurinya. Aku akan membuat gubuk ini menjadi etalase !” Katanya sambil tersenyum seorang diri.

Aku bertambah terkejut. “Etalase ? Etalase barang curian ? Ah, tidak mungkin !Tidak kan mungkin dia bisa melakukannya seorang diri !” Gerutuku di dalam hati. Aku terus memperhatikan tingkah lakunya. Gadis itu menelusuri gubuk yang gelap. Dipegangnya dinding gubuk.

“Disini, aku akan meletakkan semua mainan anak laki-laki,” katanya.

“Disini, akan berjejer peralatan yang sering dimainkan anak perempuan,” lanjutnya kembali. Aku terpukau dengan semua yang dia ucapkan. Dia telah merencanakan pencurian yang tak terduga. Lelah sekali melihat semua gerak-geriknya. Rasanya cukup sudah 2 jam waktu yang aku habiskan untuk menguntit Gadis itu. Aku akan melihatnya kembali besok tanpa diketahui olehnya.

 

Tanpa ketahuan oleh Gadis itu, aku berhasil menyelinap ke dalam gubuk. Untungnya sang Gadis tidak berada di gubuk, jadi aku leluasa melihat barang apa saja yang telah dia curi. Aku berjalan menyusuri gubuk yang kemarin aku masuki. Aku terpukau ketika kusadari gubuk itu tidak sesempit yang aku bayangkan dan aku bertambah takjub dengan barang-barang yang telah tersusun dengan rapi di rak-rak besi. Aku takjub dengan kemampuan Gadis itu yang telah bekerja dengan keras mengumpulkan semua barang. Rasanya tidak bisa dipercaya, Gadis 11 tahun bisa melakukan hal seperti ini. Seperti pencuri professional.

Gubuk terdengar seperti ada yang membuka. Aku berusaha sembunyi. Untung saja suasana gubuk remang atau boleh dibilang gelap. Aku berusaha tidak ketahuan dan kalau sampai ketahuan, aku tidak bisa menguntitnya lagi.

“Besok, aku akan katakan kepada mama dan papa untuk tidak pulang ke rumah. Aku bilang aja aku tidur di rumah teman karena mau ngerjain tugas sekolah,”  kata Gadis itu. Aku mendengar suaranya dengan jelas.

“Tapi, nanti Mama akan telepon ke Sita, kan biasanya aku ngerjain PR di rumahnya,” katanya kembali. Aku berpikir mungkin mama atau papa yang dia maksud adalah orang tua angkat Gadis itu dan gubuk itu sebenarnya punya siapa ? Pelan-pelan terdengarlah suara tuts HP berbunyi.

“ Ma, aku hari ini tidur di rumah Sita ya arena mau ngerjain PR matematika,” katanya dari telepon genggam yang ada di tangannya.

“ Iya, Mama tenang aja, aku nggak akan kemana-mana. Aku janji.Udah ya, Ma, besok juga aku pulang,” tutup gadis itu. Ternyata gadis itu tidak miskin seperti yang aku bayangkan ketika melihat rumahnya. Dia cukup berpunya karena hanya anak orang yang berduitlah yang bisa membeli HP saat ini. Sebentar kemudian sang Gadis menelepon Sita.

“Sit, nanti kalau mamaku Tanya ada aku nggak di rumahmu, bilang aja ada dan aku udah tidur. Aku mohon ya, plis…” Kata gadis itu mengiba kepada temannya.

“ Ya, Sit, aku mohon….Thanks ya,” katanya sambil menutup telepon. Tinggal aku yang terdiam, masih kecil sudah bisa bohong kepada orang tua dan teman.

 

 

                                                                                                        

Sebelum Gadis itu pergi dari gubuk dan hendak pergi ke sekolah, aku sudah berada di dekat gubuk dan memperhatikannya dengan sangat rahasia. Aku melihat dia menuju sebuah bangunan sekolah tingkat pertama yang bertingkat 3 dan berhalaman luas. SMP idaman siswa di tempatku dan yang bersekolah disana adalah anak-anak para pejabat atau setidaknya orang yang punya kedudukan di suatu instansi. Aku bertambah terkejut dengan yang aku dapati pagi ini. Yang lebih terkejut lagi, ketika dia datang, semua orang seolah-olah menyambutnya dengan wajah tersenyum. Penasaran melhat kejadian itu aku bertanya dengan seorang anak,” Maaf, boleh tahu siapa si Gadis yang disana !” Aku menunjuk ke arah gadis itu.

 

“Oh, dia. Masak sih nggak tahu. Dia itu pemilik beberapa perusahaan tekstil dan perhotelan di temapat kita ini. Ayahnya mengusaha dan ibunya seorang dokter rumah sakit ternama disini,” kata anak itu yang membuat bibirku membentuk huruf O secara tidak sengaja. Aku bertanya dengan anak itu jam berapa biasanya anak-anak SMP ini pulang sekolah. Jam 5 mereka pulang dan sebelum jam 5 aku sudah berada di dekat gerbang sekolahnya. Aku akan melihat kehidupan keluarganya. Untungnya aku pulang sekolah jam 3, jadi masih ada waktu untuk pengintaian selanjutnya.

 

“Ya, besok aku tunggu di rumah ya !”Kata seorang anak kepada seorang gadis, mungkin temannya sambil melambaikan tangan. Panas. Aku gerah, tapi aku tetap bertahan untuk mengetahui kehidupan pribadinya. Sampai suatu ketika sang gadis memasuki gerbang tinggi dengan halaman yang luas. Dia berlari-lari keci dan akhirnya mengetuk pintu.

“ Bi, buka pintunya dong !” Teriaknya dari luar. Belum ada sahutan pada ketukan pertama dan kedua. Setelah ketukan yang ketiga, seorang wanita separuh baya membuka pintu.

“ Koq, lambat sekali sih buka pintunya. Aku nih sudah haus !” Sergahnya.

“ Maaf, Neng, Bibi tadi nyuci piring di dapur,” kata wanita itu mencoba menjelaskan, tapi sang Gadis sudah berlalu. Belum sampai wanita itu di dapur, suara teriakan kembali terdengar.

“Bi, aku nanti mau ke rumah Dina. Katanya dia punya mainan baru. Jangan bilang ke mama ya kalau aku pergi !” Suara terdengar dari bilik kamar sang Gadis.

“ Iya, Neng !” Teriak wanita itu kembali.

Gadis itu keluar kamar dan berlari menutup pintu. Dia hilang seketika.

***

 

Keesokan harinya, aku masih menunggu sang gadis yang akan bermain di rumah temannya. Aku masih di belakang mereka. Setelah bel sekolah berbunyi, sang gadis pergi dengan seorang teman yang rumahnya tidak jauh dari sekolahnya. Sang gadis menunggu di teras lalu temannya mengambil mainan yang akan ditunjukkan kepada sang gadis.

“ Aku punya mainan yang baru dibeli oleh Papa. Kamu pasti iri dengan mainanku deh !” Temannya angkat bicara.

“ Ah, mana mungkin aku iri. Mainanku kan lebih banyak dari pada mainanmu,” dia tak mau mengalah.

“Oke, kita lihat saja nanti. Apakah mainanku itu bagus menurutmu ?”Kata teman sang gadis. Mereka berjalan beriringan dan masuk ke sebuah rumah sederhana. Mereka langsung bermain. Hanya mainan unik yang berbentuk miniatur pohon lengkap dengan ornamen kebun dan hewannya. Sang Gadis terpukau. Hati bergolak. Napasnya seperti diburu. Hatinya ingin memiliki barang-barang itu.

“Ini hadiah teman Papa karena Papa teman banyak membantu mendesain rumahnya. Katanya sih oleh-oleh dari London,”  pamer teman sang gadis.

“ Wah ! Aku salut dengan Papamu. Ini semua barang mahal dan bagus. Aku saja nggak punya barang-barang seperti ini,” kata sang gadis sambil melihat ke semua barang. Diam-diam aku perhatikan dia memasukkan sebuah miniatur rumput dan jerapah ke dalam tasnya, tanpa sepengetahuan temannya. Aku melihatnya dari kejauhan. Aku ingin memberi tahu, tapi aku takut penyelidikanku tentang sang gadis akan berakhir disini. Aku mendiamkannya. Sang Gadis pun pulang ke rumah dan aku mendekati temannya.

“Maaf, kamu terkejut ya denganku. Kamu nggak kenal denganku kan? Oke, aku hanya ingin memintamu untuk memeriksa adakah mainanmu yang hilang. Itu saja,” kataku.

Teman sang gadis meneliti semua barang yang dipunyainya.

“Ha, ada dua barang yang hilang !” Teriaknya.

“Rumput dan jerapah ! Mainanku hilang !” teriaknya kembali.

“Oke, kamu tahu hilangnya dimana ?”Tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Aku nggak tahu, tapi yang jelas, tadi masih ada koq mainan itu. Aku sendiri yang mengeluarkannya dari kotaknya. Aku bingung koq mainan itu bisa secepat itu hilang. Atau jangan-jangan…” dia mulai bertanya-tanya.

“Ya, dia yang tadi kesinilah yang mengambil mainanmu itu. Kalau kamu tidak percaya 2 hari lagi aku menunggu di depan sekolahmu saat kamu pulang sekolah. Aku akan membuktikan keberadaan mainan-mainanmu. Kamu setuju ?”Tanyaku sambil mengulurkan tangan.

“Ya, aku setuju. Aku penasaran apakah dugaanku benar.” Aku berpamitan dan pulang ke rumah.

***

Dua hari yang telah ditentukan, sepulang sekolah aku sudah siap di depan sekolah teman sang gadis. Aku membawa senter kecil. Aku yakin barang ini bisa berguna nanti ketika melihat persembunyian sang gadis.

“ Sudah siap ?” Tanyaku.

“Ya, aku siap ! Benar-benar siap ! Aku sudah izin ke mama kalau aku pulangnya telat,” kata teman sang gadis.

 

Berjalan. Berjalan.Berjalan. Sampailah di sebuah gubuk. Aku katakan kepada temannya sang gadis untuk tidak banyak bertanya. Aku menyarankan kepadanya untuk tidak berbicara dan bertanya ketika sudah jauh dari gubuk itu. Kami memasuki gubuk itu dan keremangan dan kepengapan udara. Teman sang gadis terpukau saat sinar dari senter kecil membentur benda-benda di sekitarnya. Barang miliknya ada disana. Oh, tidak ! Mainannya sudah ada disana. Kenapa banyak barang dan mainan di gubuk ini. Dia terus bertanya tanpa tahu jawabannya.

“Tunggu, kita biarkan dulu mainan ini disini. Kita akan menyelidiki lagi kenapa dia melakukan semua ini,” kataku. Teman sang gadis mengangguk-angguk mengerti. Mereka akan menyelidiki latar belakang barang-barang ada di gubuk ini.

***

 

“Tinggal satu barang lagi ! Aku harus mendapatkan barang itu ! Setelah itu, aku bisa…” teman sang gadis mendengar ucapannya dan sang gadis terngaga karenanya.

“Apanya yang bisa ?” Tanya temannya.

“Nggak, aku hanya asal ngomong aja koq,” jawabnya sekenanya.

“Nanti aku mau main ke rumah Sita, kamu mau ikut nggak? “Ajaknya.

“Males ah, aku pengen tidur bentar. Rasanya capek benar hari ini !” Kata temannya sambil mengeliutkan tubuh ke kanan-kiri.

“Ya, udah kalau kamu nggak mau ikut, nanti aku kasih salam aja ke Sita,” kata sang gadis. Sang gadis tidak tahu bahwa temannya itu berpura-pura tidak mau ikut karena ingin melihat dari kejauhan apa yang dia lakukan. Dengan hati-hati temannya menyelidiki sendiri, tanpa kutemani. Aku kasih saran untuk tidak sampai ketahuan sang gadis dan kalau sang gadis sampai ketahuan rencana kami, maka semuanya berakhir.

Teman sang gadis melihat tingkah sang gadis dari kejauhan. Ya, sang gadis berhasil memasukan mainan Sita ke dalam tasnya tanpa diketahui Sita. Hebat sekali sang Gadis, kata temannya itu. Aku bertemu kembali dengan temannya sang Gadis. Dia menceritakan semua yang dia lihat di rumah Sita. Dia terkejut pada saat melihat adegan sang Gadis memasukan mainan ke dalam tasnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kami berdua memutuskan besok akan kembali ke gubuk itu.

***

“ Diumumkan kepada seluruh teman-temanku. Datanglah ke pameranku di Jalan Apa Saja, di ujung Gg. Buntu Pasar Baru pada hari Minggu jam 10.00 sampai selesai. Teman-teman akan dibuat terkejut karenanya !”

Salam.Gadis

Pengumuman bertulis tangan itu mengangetkan teman sang Gadis dan menceritakannya kepadaku. Aku sempat terkejut, tapi aku penasaran apa yang akan dilakukan sang Gadis dengan rencananya itu. Aku berniat mendatangi tempat yang tertera di pengumuman.

***

Minggu, jam 11.00 aku dan teman sang Gadis menuju ke tempat yang ada dipengumuman. Ternyata disana telah banyak anak yang datang. Semua saling berhimpitan, tapi penjagaan telah diperketat. Ada seorang bapak menunggu di pintu masuk, mengatur barisan untuk memasuki gubuk.

“Itu kan barang yang aku punya, yang dulu hilang entah aku tahu dimana hilangnya,” kata seorang anak.

“Iya, aku yakin, mainan itu milikku !” Anak yang lain berkata.

“ Oke teman-teman. Aku katakan bahwa barang-barang yang disini ada sebagian barang milik kalian, yang sengaja aku pinjam untuk mengatasi hasratku. Aku ingin sekali mengadakan pameran. Aku ambil barang kalian tanpa maksud lain. Nanti aku kembalikan. Tenang saja, barang-barang kalian aku jaga dengan baik. Terima kasih telah memaklumi apa yang aku lakukan.” Sang Gadis menyampaikan maksudnya kepada semua yang hadir. Aku dan teman sang Gadis berkata,” Time it’s over !”

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Klepto Aneh (Akhir)

  1. akar rumput berkata:

    good…lanjutkan perjuangan, setetes tinta tyang kau torehkan akan menjadi saksi kehidupan….

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s