Ramadhan terakhirkah untuknya ?

Langit masih gelap, bintang pun masih setia menemaninya dengan kegelapannya, namun fajar mulai menunjukan kecantikannya. Dia beringsut dari tempat duduknya menuju pancuran di sebelah rumahnya. Ya, dia sendiri disana. Dengan langkah gontai dia mengambil air wudhu. Dia basuh dengan kedua tangannya lalu berdoa dengan penuh khusuk. Dia memohon penjagaan Allah terhadap kedua orang tuanya yang telah lama mendahuluinya pergi kepada sang Pemilik hidup. Hidup menjadi lebih tenang dalam kekhusyukan berdiri dan tegak di saat sholat. Dia tumpahkan semua rasa yang dia sesali, semua rasa yang tidak dia inginkan dengan lirih kepada penjaganya, Rabbnya.

Beban hidup yang begitu berat baginya bukanlah suatu permasalahan. Cukup makan hari ini tidak menjadikannya linglung memikirkan keadaan tersebut. Ya…desah napasnya terasa panjang. Ada sesuatu yang mengusik yang selama ini dia tidak tahu apa penyebabnya. Dia berusaha mencari, tapi entahlah seauatu yang mustahil untuk dia temukan.

Dia bersyukur masih bisa bernapas, masih bisa tertawa dengan teman di sekitar rumahnya walaupun dia sudah tidak bersekolah lagi. Takbir yang mulai bertalu membuat dia bergindik, ada rasa yang berbeda, rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Menangislah. Air matanya tumpah, takbir dan adzan mengetuk gendang telinganya. Pilu yang dia rasakan saat itu. Menangis dan menangis. Dia merasa bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang paling spesial. Dia berpikir inilah Ramadhan terakhir yang akan dia jalani. Entah mengapa pikiran itu hadir. Ya, mungkin ini adalah Ramadhan terakhir baginya….

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

6 Balasan ke Ramadhan terakhirkah untuknya ?

  1. machrup berkata:

    sy ikut menangis bunda (afwan ya ikut2an panggil bunda)

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Makasih Mas…sudah sudi mampir ke blog ini.Blog sederhana, karya orang yang sederhana, dan mencba hidup sederhana….

      Senengnya ada orang yang bisa merasakan keharuan hati ini padahal sungguh tidak ada maksud hati untuk membuat tangis berderai. Saya hanya ingin orang merenung sejenak tentang Ramadhan.

      Keadaan seperti ingiin pergi meninggalkan memang jelas nyata saat itu…Seperti wasiat terakhir untuk orang lain, tulisan itulah bentuknya.

      Baca juga tulisan yang lain ya Mas.

      Ga, saya ga marah dipanggil dengan’Bunda’, iya karena saya bundanya siswa2 saya n insya Allah panggilan yang indah untuk seorang ibu yang dicintai oleh anak-anaknya.
      Salam

      Suka

  2. machrup berkata:

    bunda tolong dijelasin donk isi hati bunda dari tulisan ini

    Suka

    • melianaaryuni berkata:

      Aduh…gmn ya…ngejelasinnya agak sulit… panjang n bertele2,Mas. Pada dasarnya segala yang ada di dalam blog ini adalah pengalaman, baik yang saya rasakan sendiri atau yang orang lain rasakan namun dikemas dengan tidak langsung mengarah…

      Yang jelas, tulisan itu lahir dari jiwa yang memang merasa bahwa Ramadhan ini adalah yang terakhir, entahlah…
      wallahu’alam….

      Suka

  3. akar rumput berkata:

    indahnya dunia masadepan digoibkan…..coba kalau manusia tau akan penghujung kehidupannya…..atau tau kejadian yang akan menimpanya….stres…semua orang…..

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s