Labib

Labib, si Bulu Mata Panjang

 

Ini cerita lucu yang masih aku ingat tentang seorang siawaku sekarang. Namanya Muhammad Ihsan Labib. Anak laki-laki ini adalah anak yang periang, penurut, mudah luluh hatinya, tidak suka mengeluh. Aku dan patnerku, Ust. Adi dibuat ketawa dengan tulisannya. Tulisannya sih aku anggap tulisan anak-anak, isinya pun lahir dari hati anak-anak yang mulai mengenal dunia. Dia siswaku dengan semua kelucuan dan kemalu-maluannya, aku katakan ya dia itu pemalu jika aku mengatakan seseorang yang dia suka.

 

Suatu pagi aku dikagetkan dengan kertas kecil berwarna merah muda terselip di plastik di atas mejaku. Setelah berdoa seorang anak berada di depan mejaku dan menunjuk sebuah kertas yang bertuliskan, “Bunda dibaca ya.” Aku melihat ke arah anak yang menunjuk itu. Labib orangnya. Aku ambil kertas itu dan aku baca perlahan.

 

“Yth. Bunda Meli

Bunda coba lihat di bawah kipas angin, disitu ada gambar piramid di Mesir. Nanti kalo SMA aku mau sekolah disana. SMP aku mau sekolah di Bogor. Kuliah, aku mau sekolah di Spanyol. S2 aku mau main bola. Bunda Meli doain aku ya, semoga aku dapat istri di Arab. S3 baru main bola. Pulang ke Indonesia aku sudah membawa istri. Doain ya !”

 

Aku membacanya 2 kali sambil tertawa lalu melihat gambar pyramid di bawah kipas. Takjub, benarkah apa yang telah aku baca ? Labib melihat ke arahku dan tersenyum. Aku katakan padanya, “ Aamiin, semoga tercapai ya.”

Labib pun tersenyum. Patnerku yang melihatku tersenyum ikut bingung, tapi sebelum kebingungannya memuncak, aku berikan saja kerta yang di tulis oleh Labib. Hanya gumamannya yang kudengar,’ Ya Allah Labib, Labib…”

 

Kepolosan yang telah tercampuri oleh warna-warni media elektronik, yang akhirnya menjadi bakteri yang menyebarkan penyakit ke setiap orang yang melihatnya. Menjaga dari globalisasi zaman sangat sulit. Orang tua yang bekerja, yang tidur setelah pulang dari bekerja dengan mata anak yang masih terbuka lebar di malam hari dan menonton semua sajian yang belum pantas mereka lihat. Anak zaman sekarang, anak yang masak dengan cepat padahal belum saatnya untuk dipetik. Gambaran Labib memberikan peringatan kepada orang tua untuk berjaga-jaga pada kebuasan zaman, yang bisa menelan hidup-hidup setiap orang yang melaluinya. Berhati-hati dan berstrategi dengan bijak menghadapi zaman membuat diri dan keluarga menjadi lebih  aman.

 

Labib adalah produk anak zaman sekarang. Meskipun di sekolahkan di lingkungan yang terjaga nilai akhlaq dan budi pekertinya, kemajuan zaman pasti akan mengikutinya karena anak belum mampu mempertimbangkan apa yang dia cerna dari lingkungannya. Sangat tidak adil jika ketika suatu kemaksiatan terjadi pada anak-anak, yang disalahkan adalah anaknya. Padahal tanggung jawab orang tua sangat besar di dalamnya.

 

Bukti bahwa pikiran anak telah tercemar adalah kisah Labib di atas. Pengarahan yang baik dari segenap komponen, orang tua, guru, dan masyarakat akan membantu pemahaman anak tentang suatu hakikat hidup. Anak akan mencoba mempelajari arti hidup bukan dari sisi penglihatan mata saja. Dia akan mengerti sesuatu dengan pemahaman jiwa, jika di arahkan terus-menerus.

 

Tak ada salahnya jika mulai membuka mata dengan apa yang terjadi di balik jiwa anak. Tidak mengatakan salah, tapi mencoba untuk menanyakan kenapa dia sampai berpikir demikian atau mengapa hal itu sampai terjadi. Berbijak sangka dan berbaik hati dengan keadaan jiwa anak menjadikan kita mau memahami seluk-beluk kehidupan anak sehingga kita akan betul-betul menjadi orang tua atau pendidik yang hebat di zaman sekarang !

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s