Mbah

Mentari masih redup ditutup awan yang mulai kelam. Motorku hidupkan dan kulajukan dengan perlahan. Aku hendak memenuhi janji. Ya, hari ini aku akan memenuhi janjiku dengan seseorang. Tepat diperempatan lampu merah, dia sudah menunggu. Aku harus bergegas sebelum dia pergi. Kata orang dia tidak pernah lama mangkal di lampu merah di perempatan jalan besar kota ini. Seorang yang sudah tua, yang tubuhnya penuh dengan luka borok itulah yang ingin aku temui.

 

“Mbah, sudah lama disini? Maaf saya datang terlambat,” sapaku sekenanya. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya tersenyum.

“Mbah, masih ingat denganku kan?” tanyaku kembali. Aku jadi penasaran kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku yang kedua ini. Oke, aku akan coba bertanya sekali lagi.

“Mbah, tinggal sendiri ya ?” Dia tetap tersenyum melihat wajahku. Penasaran aku dibuatnya. Aku duduk di sampingnya lalu berbisik agak keras,” Mbah, masih ingat kan dengan sama,” sambil tersenyum, aku menunjuk ke wajahku.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Mbah inget kan dulu aku berjanji ingin kesini lagi. Nah, sekarang aku bisa menunaikan janjiku itu,” bisikku keras di telinganya. Dia menganggukkan kepalanya.

“Mbah, kemarin aku menemukan rumah penampungan. Aku harap, mbah bisa ikut denganku ke rumah itu. Mungkin aku tidak begitu tahu keberadaan keluarga Mbah, tapi aku ingin sekali membantu mbah mendapatkan penghidupan yang sedikit layak yang bisa kuusahakan adanya.”

“Mbah setujukan ?” Lelaki tua renta itu melihat ke arahku dan menyiratkan kemarahan. Wajahnya dipalingkan dari hadapanku.

“Nggak mau ! Pasti aku akan ditelantarkan lagi !” Teriaknya sampai-sampai urat lehernya terlihat dari kulit yang keriput.

“Nggak koq Mbah. Disana mbah tidak akan ditelantarkan. Mereka akan menjaga Mbah. Disini Mbah tidak akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan, “ aku agak emosi mendengar penolakannya.

“Cukup, nggak usah banyak bicara. Aku akan tetap disini !” Dia berdiri dan dengan kaki yang bergetar dia menjauh dari hadapanku. Aku melihatnya dari kejauhan. Relung hariku terasa luluh. Kepedihan yang terpancar dari wajahnya menyiratkan luka yang sangat dalam dan aku tahu dia tidak ingin merasakan luka itu terkuak kembali.

“Dek, dia dulu dibuang oleh anaknya. Mereka tidak mau mengurus mbah itu. Mereka takut dengan luka yang ada di tubuh si mbah,” tiba-tiba seorang mendekatiku dan menjawab semua kegalauan yang aku rasakan.

“ Kata mereka mbah itu hanya merepotkan saja. Mereka sibuk mencari uang. Mereka lupa akan jasa mbah yang telah membesarkan merekan dan menjadikan mereka ada di dunia ini,” jelas orang itu kembali.

 

Aku hanya bisa ber-O ria karena baru tahu tentang keadaan mbah yang sebenarnya. Hatiku bertambah sakit setelah mendengar cerita itu. Kata orang, mbah itu dulu adalah orang yang cukup mampu. Waktu mbah ditelantarkan, anak-anaknya sepakat membawa mbah ke panti jompo. Mbah itu marah dengan permintaan anak-anaknya padahal mbah tahu keberadaannya di rumah tidak memberatkan orang. Mbah masih bisa mengurus dirinya sendiri. Luka yang ada di tubuhnya karena sakit diabeteslah yang membuat anak-anaknya muak. Dengan alasan banyak pekerjaan dan tidak ada yang mengurus mbah, mereka diam-diam menyuntikkan obat bius dan mbah pun dibawa ke sebuah panti jompo.

 

Disana mbah tidak betah. Berkali-kali mbah mencoba untuk melarikan diri, tapi berkali-kali juga mbah diketemukan lagi. Perlarian yang kesekian kalinya inilah yang mengantarkan mbah bermukim di perempatan jalan ini, tempat pertama aku melihat sosok rapuh ini. Tak ada yang bisa dia lakukan. Tenaganya sudah terkuras dimasa mudanya. Keahlian yang lain tidak dipunyai. Dia hanya menadahkan mangkok plastic kecil di pinggir trotoar perempatan lampu merah. Tak ada daya. Teman-temannya kadang memberikan makanan dan minuman ala kadarnya. Mereka menyayanginya seperti mereka menyayangi orang tua mereka. Maklum, dikomunitas itu, mbah termasuk yang usianya sudah renta.. Di tengah ketiadaberdayaan, teman-teman yang kekurangan memeperhatikan mbah. Hal itulah yang membuat mbah tidak mau berlari dari perempatan lampu merah jalan ini.

 

Aku coba mendekati mbah itu. Aku duduk di sampingnya dan berbisik dengan perlahan,” Mbah, aku ingin mengajak mbah tinggal di rumahku dan menjadi mbah angkatku,”

Belum ada reaksi. “Mbah, aku ingin mengajak mbah tinggal di rumahku dan menjadi mbah angkatku.” Aku melihat ada secercah senyum. Dia berdiri.” Ayo, kita pulang !”

 

 Kisah seorang lelaki tua yang ditelantarkan keluarga karena dianggap tidak bermanfaat lagi hidupnya.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s