Kisah Ibrahim bin Adham (1)

Disadur dari buku Khalifah Umar dan Burung Pipit—Kisah-kisah Penyubur Iman.2006.Achmad Jauhari (editor). Solo : Smart Media.

 

AL BALKHI DAN SI BURUNG PINCANG

 

Seorang yang saleh berteman dengan Ibrahim din Adham. Suatu hari, ketika Al Balkhi hendak berdagang ke negeri orang, ia ingin berpamitan dengan sahabatnya Ibrahim. Belumlah ia meninggalkan tempat itu, ia telah dating kembali. Sahabatnya menjadi bingung mengapa Al Balkhi dating lebih cepat dari yang direncanakan  padahal negeri yang dituju sangat jauh letaknya. Ibrahim yang di masjid langsung bertanya kepada sahabatnya, “ Wahai sahabatku, mengapa engkau cepat pulang ?”

“Dalam perjalanan aku melihat suatu keanehan sehingga aku membatalkan perjalanan.”

“Keanehan apa yang kau maksud,” Tanya Ibrahim penasaran.

“Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang sudah rusak, aku memperhatikan seekor burung pincang dan buta. Aku kemudian bertanya-tanya dalam hati,’Bagaimana burung ini dapat bertahan hidup padahal dia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat dan berjalan pun ia tidak bisa.’ Tidak lama kemudian ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya dengan membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tidak pernah kekurangan makanan karena ia berulang kali diberi makanan oleh temannya yang sehat.”

“Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu ?”

“Maka aku berkesimpulan bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberikan rizki cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya ini. Kalau begitu, Tuhan Maha Pemberi tentu akan pula mencukupi rizkiku sekalipun aku tidak bekerja. Oleh karena itu, aku pun memutuskan untuk segera pulang.”

Mendengar penuturan sahabatnya itu,Ibrahim berkata,

“Wahai sahabat karibku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu ? Mengapa engkau rela menyamakan derajatmu sejajar dengan seekor burung yang pincang lagi buta itu ? Mengapa engkau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup di atas belas kasihan orang lain ? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang sehat ? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memenag tidak mampu bekerja ? Apakah kamu tidak tahu bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah ?” Al Balkhi menyadari kesalahannya dan melanjutkan perjalanan usahanya yang tertunda tadi

“ Wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik.”

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Napak Tilas Shahabat-Shahabiyah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s