Kecelakaan itu…

Tubuh kurus itu tergolek lemas di pembaringan rumah sakit. Genap seminggu dia berada di bangunan bercat putih dan berbau desipektan. Wajahnya pun masih terlihat pucat setelah seminggu dia bergelut dengan keadaan kritis yang disebabkan oleh kecelakaan motor saat hendak liburan keluar kota. Wanita berambut seperti laki-laki itu ditemani oleh suaminya yang terlihat murung. Wajahnya tak kalah murung seperti wajah istrinya. Kecelakaan itu menyebabkan keduanya bermuram durja. Kedua anaknya tewas seketika setelah sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit terdekat.

Pagi itu wanita dan keluarganya, yang terdiri dari suami dan kedua anaknya bergegas pergi ke luar kota. Rencananya mereka hendak mengisi liburan sekolah dengan rekreasi. Mereka menyiapkan semua perbekalan meskipun yang mereka bawa tidak banyak . Mereka hanya keluar kota selama sehati, tidak menginap. Rencananya setelah seharian, dari pagi sampai sore mereka bersenang-senang, sorenya mereka akan pulang ke rumah.
Wanita itu membawa nasi dan snack serta air minum di dalam sebuah tas yang berukuran sedang. Setelah semua siap, wanita itu memanggil anaknya.

“ Udah belum ? Nanti kita kesiangan. Kalau udah siang kan nggak enak bermotornya ?” Hah, mereka hendak ke luar kota dengan menggunakan motor. Berarti satu motor untuk 4 orang ? Aku teringat cerita pasien di sebelahku.
“ Iya nih, Mak. Sebentar lagi kita udah siap koq,” jawab salah satu anak dari balik tirai kamar.
“Wui, harum bener baumu, Nak. Kayak mau kemana aja. Kita kan nggak nginep,” kata suami wanita itu.
“Ya,iya toh Pak, kita kan harus terlihat bagus dan wangi,” jawab anak yang lebih kecil. Mereka sekeluarga tersenyum. Anak yang kecil bersiul riang sambil berjalan merangkul kakaknya menuju halaman rumah.
“Siap ?”
“Ye….!!!’ Jawab kedua anaknya serempak.
“Oke, kita mulai perjalanan kita. Berdoa dulu ya,” ajak suami wanita itu.

Sejenak mereka sekeluarga menundukkan kepala. Suasana hening seketika. Mesin motol pun dihidupkan dan gas ditarik perlahan untuk memanaskan mesin.
Sang suami meletakkan tas yang berukuran sedang dan berisi perbekalan di depannya. Lalu secara berurutan, di belakang suami wanita itu ada anak yang kecil, kakaknya, dan wanita itu. Tak pernah terbayangkan anak SD kelas III dan IV masih bermotor berempat dengan kedua orang tuanya. Mereka memulai perjalanan.
“ Bismillahilladzi syakhorolana haza wamakunna lahumukrinina wainailaina lahu munkolibun,” ucap sang suami ketika berada di atas motor secara kuat, yang diikuti oleh anggota keluarga lainnya.

Di perjalanan, mereka tidak banyak berhenti karena perjalanan yang akan mereka tempuh tidak begitu jauh, tapi perjalanan mereka menyulitkan karena bertepatan dengan hari libur sekolah. Bus-bus besar, truk pengangkut kayu, dan mobil-mobil pribadi tidak pernah mau mengalah. Sang suami mencoba untuk tenang sehingga jika dia tenang maka perjalanan akan sampai dengan selamat tak lebih dari 2 jam mereka sekeluarga bisa menikmati hijaunya hutan.

Mereka berhenti sejenak untuk mengisi bensin dan beristirahat. Setelah beberapa menit, mereka berjalan kembali. Wajah mereka tersenyum melihat pemandangan yang indah di sisi kanan-kiri mereka. Si adik terus bertanya kepada bapak dan emaknya tentang bangunan yang dia lihat.

“Pak, memangnya dulu kota ini tidak sekotor ini ya ?” Tanya si adik.
“Iya, dulu masih banyak pepohonan tumbuh di pinggir jalan. Karena alas an pembangunan, maka pemerintah menumbangkan pepohonan itu satu persatu lalu diganti pemukiman penduduk.”
“Udaranya juga mungkin lebih segar ya, Pak ?” Tanya anak yang lebih tua.
“ Iya, sejak banyak orang menggunakan kendaraan bermotor, udara disini menjadi kotor dan banyak sekali penyakit yang disebabkan oleh udara kotor itu.”
“ Kayaknya enakkan di tempat kita ya, Mak ? Walaupun hidup kita pas-pas-an kita jarang sakit. Kalau kita ingin udara segar, kita bangun pagi, buka jendela lihat ke sawah dan hirup udara segar. Uh, nikmatnya,” si adik memejamkan matanya, membayangkan rumahnya. Dia sudah rindu rumah.
“Ya, nggak apa-apa, sesekali kita kesini. Kita jadi tahu kondisi daerah di luar kampong kita.” Nasihat emak. Sang suami hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Dia berkonsentrasi dengan aktivitas menyetirnya saja.

“Mak, berapa menit lagi nyampenya ?” rengek si adik.
“Sabar dikit kenapa sih,” jawab kakaknya.
“Aku sudah capek. Aku ingin istirahat,” kata si adik kembali.
“Ini juga hamper nyampe, iya toh,Pak ?” Tanya wanita itu kepada suaminya.
“He-eh,” jawab suaminya singkat.
“Tuh, dia. Sebelah kanan, kita nyampe !” Seru sang suami.
“Alhamdulillah,” semua berseru.
Sekali belokkan saja, mereka akan sampai ke tempat tujuan mereka. Ketika hendak belok, sang suami menurunkan kakinya, tapi musibah tidak pernah diduga, dari belakang satu sepeda motor berkecepatan tinggi melaju dan menyerempet ekor motor keluarga itu. Kedua anak wanita itu terlempar sejauh 2m di jalan utama, wanita itu terlempar di atas tratoar, dan sang suami masih berada di atas motor dan terseret ke kiri jalan.

Semua kendaraan berhenti mendadak, seketika. Akibatnya, banyak kendaraan yang menambrak kendaraan lainnya. Semua jalan macet seketika. Para pemuda yang sedang mencari ojekan segera menolong. Yang pertama dilihat mereka itulah yang ditolong. Beberapa pemuda menghampiri dua anak laki-laki yang terlempar sejauh 2 meter itu. Mereka terkejut, setelah mereka mendekati kedua kakak beradik itu, keduanya telah meninggal. Mereka pun membawa keduanya ke pinggir jalan.

Beberapa pemuda lain membantu wanita itu. Helm yang dikenakan sudah hancur terbentur aspal dan tratoar jalan. Wanita itu pingsan. Darah mengalir deras dari tulang keringnya. Setiap orang sibuk untuk menolong. Ada yang memanggil ambulance. Bagaimana dengan keadaan sang suami ? Suami wanita itu masih berada di atas motor saat para pemuda lain membantunya berdiri. Suami itu terlihat masih bisa berdiri. Setiap pemuda yang melihat kejadian itu diam, tanpa memberikan penjelasan tentang keadaan kedua anaknya. Mereka memasukkan suami wanita itu ke dalam kendaraan dan dibawa ke rumah sakit semobil dengan istrinya.
“Emak, bangun,” tangis suami itu meluap setelah meliihat istri terbaring lemah dengan darah yang terus mengalir.
“ Dimana anak-anakku?” Tanya suami itu kepada pemuda yang ikut dalam kendaraan itu. Suami itu menguncang-guncang tubuh pemuda itu dan akhirnya pingsan di atas tubuh istrinya.

Tubuhnya masih sakit, tangannya terasa ngilu namun ia berusaha untuk membuka matanya dan melihat di sekelilingnya. Ya, sang suami siuman, tapi tidak ia dapati seorang pun di sampingnya. Istrinya tidak ada begitu pun dengan kedua anaknya. Dia hendak bertanya, tapi tak satu pun orang yang menjaga dan bisa ia panggil. Infus masih menetes sedikit demi sedikit dari pergelangan tangannya. Saat perawat dating, dia melihat perawat itu dengan rasa cemas dan tanda tanya.
“Suster, istri dan anak saya dimana sekarang ?” Lama suster itu menjawab pertanyaan sang suami.
“Ada koq, Pak. Bapak tenang dulu. Insya Allah mereka dalam keadaan baik-baik saja. Makan dulu ya, Pak,” bujuk perawat itu lembut.
“Nggak, saya ingin ketemu keluarga saya setelah itu baru saya akan makan,” balas sang suami tak mau mengalah.
“Baiklah, nanti setelah Bapak makan, saya akan ajak Bapak ke tempat istri Bapak. Kalau Bapak nggak makan, Bapak nggak punya tenaga untuk berjalan,” bujuk perawat itu lagi. Akhirnya sang suami mau mengikuti bujuk perawat itu.

Setelah sang suami selesai makan, ia diajak perawat ke suatu ruangan yang agak jauh dari ruangan lain. Ruangan isolasi. Disanalah istrinya dirawat. Dia melihat dari kaca kecil di pintu masuk. Selang infuse dan oksigen terpasang dan terhubung ke tubuh istrinya. Tak ada gerakan apa pun yang ia lihat dari istrinya yang masih tergolek di kasur berselimut biru. Yang dia lihat hanyalah gelembung udara dari tabung oksigen yang terhubung dengan hidung istrinya. Dia mengucap syukur bahwa nyawa istrinya masih diselamatkan Allah. Dia tidak sendiri meskipun sebelumnya dia meragukan istri dan anaknya masih hidup karena kecelakaan itu.
“ Bapak saat ini tidak boleh masuk karena istri Bapak masih belum bisa keluar dari masa kritisnya,” jelas perawat itu. Sang suami menunduk dan terduduk di depan pintu ruang istrinya sambil menangis.
“ Jadi, bagaimana dengan nasib kedua anak saya, Suster ?” Tanya sang suami masih dengan suara yang lemah dan sesegukkannya.
“Bapak bersyukur bahwa Allah telah mengambil jiwa-jiwa yang masih suci itu sebagai tabungan Bapak kelak,” perawat itu memberi tahu.
“Jadi, maksud Suster ? Kedua anak saya sudah meninggal ?” Tak mendapat jawaban dari mulut perawat itu, si suami sudah tahu bahwa kedua anaknya tidak bisa lagi ia temui di dunia. Sang suami menarik-narik rambutnya tanpa suara dan memukul dengkul kakinya lalu menangis.
“Sabar ya, Pak,’” kata perawat itu sambil duduk di samping sang suami.

Wanita yang disebut istrinya masih terbaring lemah tanpa gerakkan. Setelah dirontgen, kedua tulang kakinya patah. Tubuhnya banyak terdapat goresan dan luka yang cukup lebar sehingga tubuh istrinya itu hanya ditutup dengan selimut. Sang suami berusaha menunggui istrinya setiap hari, membaca surat Yaasin, dan terus berdoa demi kesembuhan istrinya. Tak lelah dia mengucap syukur atas segala kejadian yang menimpa keluarganya meski yang tersisa hanya harap semu akan kesembuhan istrinya yang tidak menunjukkan perubahan yang drastic.

Hari keenam, sang suami melihat gerakan bola mata istrinya, tapi hanya sesaat. Sang suami begitu senang melihat perkembangan istrinya meskipun infuse dan oksigen masih digunakan tubuh istrinya. Dihari yang ketujuh, seminggu setelah istrinya dirawat di ruang isolasi, wanita itu menggerakkan tangannya dan perlahan membuka matanya. Sang suami memencet tombol panggilan perawat. Perawat pun dating dan segera melepaskan oksigen yang menutupi hidungnya.

“Alhamdulillah,” ucapan pertama yang terdengar dari sang suami.
“ Pak…” Wanita itu menangis. Sang suami mendekati wanita itu sambil mengusap kepalanya.
“Sudah, jangan terlalu banyak bicara. Istirahatlah dulu ya, Mak ?”

Dua hari berikutnya….

“Sudahlah, Pak. Ndak usah diceritakan. Emak sudah tahu. Emak dengar semuanya saat Bapak mengeluh di samping kasur Emak meski Emak tidak bisa membukakan mata. Emak bersyukur sekali Allah masih memberi Emak hidup. Insya Allah akan Emak gunakan dengan sebaik-baiknya. Emak coba untuk bersabar dengan cobaan yang kita alami.”

Kisah ini dibuat setelah melihat pasien di sebelah kasur temannya saudara yang mengalami kecelakaan motor sekitar seminggu yang lalu.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kecelakaan itu…

  1. Mei maniezz berkata:

    cerita yg sederhana…tp cukup sampe maknanyo yuk…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s