Outbond Sungai Dua

Inilah kisah yang bisa disingkap dari perjalanan outbond guru SDIT Al Furqon Palembang pada tanggal 21 Juni 2009….

Pagi itu masih sunyi dan mataku masih meninggalkan rasa kantuk yang harus disingkirkan. Aku bergegas untuk pergi. Ya, hari itu outbond guru dan karyawan tempat aku mengajar, SDIT Al Furqon.

Pada jam ini, biasanya sekolah ini telah ramai dengan suara anak-anak dan lari-lari mereka yang terlihat tak beraturan. Pagi ini sepi, anak-anak libur, termasuk anak-TK dan Play Group. Guru dan karyawannya hari ini akan mengadakan outbond di Sungai Dua, daerah Banyuasin.

Outbond di Sungai Dua termasuk outbond yang ketiga kalinya aku ikuti, tapi lokasi outbond ke-1 dan 2 itu di perkebunan PUSRI Indralaya. Lokasi yang sama sehingga di outbond ke-2 tidak begitu terasa nuansa outbond.

Beberapa teman mengatakan bahwa outbond kali ini dan outbond sebelumnya bukanlah refreshing, tapi bagiku outbond adalah salah satu bentuk refreshing namun juga pengenalan dengan sesama rekan kerja di suatu lembaga. Aku mencoba menikmati saja apa yang ada di dalam setiap acara, termasuk outbond kali ini.

 

Masih menunggu, seperti baris sebuah lagu. Kami menunggu pemberangkatan awal. Aku sih ingin ikut dipemberangkatan awal karena aku malas jalan kaki…he…Iya, aku malas sekali karena kata ketua outbond nanti yang berangkat sore akan berjalan kaki sejauh 7 meter. Aku sudah memikirkannya. Berjalan dengan jarak yang tidak begitu jauh saja aku sudah keblinger apalagi jaraknya 7 meter, ih…mana tahan.

Iya, rombongan pertama pemberangkatan ternyata lumayan banyak sehingga barang dan orang sama banyaknya. Duduknya, seperti susunan ikan sardine di dalam kaleng, tapi nikmati saja.

Perjalanan ke Sungai Dua lumayan menyita waktu, kira-kira 2 jam (ditambah menunggu satu mobil yang tahu lokasi). Ketua outbond mengatakan bahwa nanti di lokasi, air sangat sulit didapat, airnya masam sehingga untuk cuci muka akan menyebabkan gatal-gatal. Aku sih nggak percaya karena aku tahu ketua outbondnya punya sifat yang suka membesar-besarkan omongan…temanku bilang, lebay….Maaf…maaf…just kidding.

Sebelum sampai di lokasi, kaki ditraktir oleh ketua, makan model/tekwan dan bakwan (pokoknya yang ujungnya ‘wan’, enak dan menghangatkan tubuh) di warung sederhana sambil menunggu satu mobil belum datang. Baik juga ya pak ketua, B’Berta berhasil merayu pak ketua.

Setelah satu mobil yang ditunggu tiba, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang kami lalui tidak mulus, jalan-jalan tanah banyak yang berlubang sehingga dikhawatirkan jika terjadi hujan di tengah perjalanan, maka mobil yang kami kendarai tidak bisa melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah Allah menolong perjalanan kami. Perjalanan dilanjutkan kembali, kami melewati jembatan kayu. Ada ¾ jembatan yang harus kami lalui sebelum sampai ke lokasi. Rumah penduduk masih langka. Hanya ada beberapa rumah di pinggir hutan. Rumah-rumah itu hanyalah rumah para pekerja kebun disana. Suasananya sepi. Tak bisa kuduga, ternyata perjalanan yang harus dilalui memang tidak dekat, B’Nila pun sudah mulai merasakan dampak jauhnya perjalanan kali ini. Dia mulai mual dan badannya terasa dingin serta ingin muntah. Alhamdulillah dia tidak jadi muntah. Dia kuat.

Kami membayangkan nanti kami tidur di tenda dan buang air di bong (biasa orang dusun mengatakannya, petak kecil yang ditutupi kain, yang diletakkan di atas sungai dan digunakan untuk tempat membuang air/kotoran), dan tidak mandi. Pokoknya bayangan yang tidak enak. Sesampai di lokasi, subhanallah bayangan itu hilang. Kami telah disediakan tempat, satu rumah sederhana sebagai base camp guru wanita. Air di bak kamar mandinya dingin, sejuk sekali. Di kanan kirinya ada kebun kopi, tanaman jambu monyet, alvokad, rambutan, durian, dan jambu biji. Kami disambut dengan senyuman oleh Pak Ali, beliau begitu ramah. Aku segan padanya, dengan penampilan sederhana beliau dan teman-temannya membantu kami. Mungkin itu salah satu penghormatan yang beliau berikan kepada tamunya.

Aku dan beberapa teman beristirahat sebentar di saung, pondok yang biasanya tempat orang berkumpul. Saung itu sangat nyaman dan sejuk karena ditutupi oleh rindangnya daun pohon rambuta dan kopi. Pengen tidur, tapi suasana tidak memungkinkan. Guru TK yang tergabung dalam tim konsumsi mulai bersiap-siap masak kerena hari sudah siang. Para guru pria belum bisa makan setelah sholat Jum’at karena hanya sayur yang belum masak. Perut mereka pasti sudah berdendang, nggak tahu lagu apa yang mereka dendangkan, tapi dari jendela aku mengintip mereka yang ada di saung selalu melihat ke
arah daun pintu. Untung saja mereka sabar sampai beberapa menit sayuran masak.. Mereka makan dengan lahapnya. Guru-guru TK puas dengan hasil masakan mereka.

Setelah sholat, kami berjalan-jalan menuju tempat jurit malam. Lumayan jauh, tapi aku senang dengan semua pemandangan yang hijau. Bagiku, pohon yang hijau membuat hati bertambah sejuk dan sejenak melepaskan kepenatan. Pos 1 tempat ku berjaga nanti malam untungnya tidak jauh sehingga aku tidak mungkin tersesat jika pulang sendirian. He…tapi nggak mungkin pulang sendirian malam-malam. Kami melajutkan ke pos berikutnya. Kami menyeberangi aliran sungai kecil, yang dijembatani hanya dengan dua kayu gelam. Aku mencoba, sepertinya sangat mudah untuk dilewati, tapi aku salah. Begitu aku naik di atasnya, kayu bergoyang, aku takut dan segera kembali. Aku mencoba lagi dengan dada yang bergemuruh, alhamdulillah aku berhasil, tapi dadaku masih bergemuruh. Ternyata kami harus kembali melewati jembatan itu. Mungkin karena sudah tahu medan, aku bisa melewati jembatan itu dengan sukses. Pelajaran : Mengetahui apa yang ada di depan kita akan lebih memantapkan kaki kita untuk melangkah.

Pos 2 ditemukan, tapi lokasinya sangat tidak bagus dibandingkan pos 1 tempat aku bersiaga malam nanti. Pos 2 masih penuh dengat rumput yang tinggi. Setelah dibabat, ada jalan setapak. Jalan itulah yang akan dilewati peserta. Beberapa guru tersandung oleh lobang yang tidak terlihat karena tertutup oleh rumput.
Jarak antara pos 3 dan pos 2 tidak begitu jauh sehingga untuk melaluinya tidak susah. Jarak antara pos 3 dan pos 4 pun begitu. Setelah survey tempat, kami pulang dan membawa ranting sebagai bahan baker untuk api unggun nanti malam. Setiap guru membawa beberapa ranting yang bisa dipegang. Kami melewati kandang sapi dan tanaman cungkediro (tomat kecil) yang sudah mulai masak. Banyak sekali tanaman itu sehingga rasanya ingin sekali memetik tanaman itu, sayangnya tanaman itu tidak dijual padahal kalau dibudidayakan bisa menghasilkan uang yang lumayan untuk digunakan di kehidupan penduduk disana.

Malam pun tiba, acara yang pertama dilakukan adalah berkumpul mengelilingi api unggun di depan masjid. Hebat sekali, meskipun listrik PLN belum masuk, penduduk disana memanfaatkan tenaga surya untuk menerangi rumah mereka. Subhanallah, Allah sangat penyayang kepada umat-Nya yang mau berusaha. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya kedinginan di tengah kebun. Atraksi yang dibuat bisa kuprediksi. Aku yakin bahwa apa pun yang diintruksikan adalah simulasi bagi jiwa. Simulasi berjalan di atas tali, yang seolah-olah manusia bisa berjalan di atas tali yang dipegang padahal aku sudah bisa menebak maksudnya…Berjalan di atas tali yang diletakkan di tanah. Suasana dibuat sehening mungkin dan sedramatis. Ada adegan kesurupan ala karyawan, persis kesurupan yang pernah aku lihat, tapi aku bingung. Aku menduga memang kesurupan, aku bingung kenapa juga telah dipersiapkan air dan bla bla yang lainnya. Eh, kenapa pula kelinci percobaannya tidak boleh dimasukkan ke masjid dan kenapa pula dia mudah sekali sadar ? Ah, ternyata itu rekayasa.

Kurang lebih pukul 22.00 semua peserta berkumpul untuk bersiap-siap jurit malam begitu pun kami sebagai panitianya bersiap-siap menuju pos penjagaan masing-masing. Peserta mulai berdatangan di pos 1, tempatku berjaga. Sampai suatu ketika, sorang guru meminta aku dan B’Lidya untuk melakukan misi. Misinya hanya sekedar simulasi juga dan jika peserta simulasi ini mengetahui bahwa serangkaian acara outbond adalah simulasi, mereka pasti mempunyai mekanisme pertahanan diri untuk menghadapinya. B’Lidya ditugaskan untuk memberi lotion Autan kepada dua bunda dan aku ditugaskan kepala sekolah untuk meminta Autan itu kembali di pos 3/ 4. Aku tidak berhasil. Aku malah menikmati prosesi meminta Autan dengan B’Dian, yang berkali-kali jatuh di pos 2, yang dengan terkejutnya B’Dian memeluk pundakku ketika melihat tampilan pocong ala U’Adi. Ih, kalau ingat, nggak ada serem-seremnya main malam-malam. Malah suasana seram bisa jadi menyenangkan. Menakuti orang juga menyenangkan…he…ngejahilin pun kulakukan.

Peserta kali ini tidak ada yang tersesat karena panitia memberi tahu jika jalan mereka salah. Mengapa kemarin aku bisa tersesat ? Apakah panitia di tahunku tidak peduli denganku ? Ah, kalau ingat outbondku dulu….

Solobivauk berlangsung setelah jurit malam, namun kejadian yang mengejutkan membuka mataku bahwa ada bunda yang bertingkah aneh. Entahlah saat melihat beliau, aku jadi ingat dengan temanku yang dirukiyah. Aku merasa bahwa memang ada yang menganggunya sehingga aku berinisiatif untuk meminta teman-teman yang ada MP3 bacaan Al Qur’an untuk menghidupkannya. Alhamdulillah ada yang punya dan MP3 langsung dihidupkan. Ada ketenangan sebentar, tapi reaksi aneh pun muncul lagi, napasnya terengah-engah, satu-satu, wajahnya pucat, ah sulit dibayangkan sampai beliau bisa sadar dan tertawa kembali.

Aku ikut melihat peserta yang berdiam di lokasi pengasingan, untung malam itu bintang bertaburan di langit. Ada 4 peserta yang sakit, keluhan mereka adalah sakit radang pencernaan dan asma. Di tahun inilah peristiwa ini terjadi, sebelumnya tidak pernah ada kejadian peserta sakit. Tim UKS dengan sigapnya membantu yang sakit. Aku menyelesaikan malam ini dengan tidur di masjid. Amanah kepala sekolah aku serahkan kepada B’Aisy untuk meminta Autan kepada dua bunda. Kira-kira jam 04.00, aku terbangun setelah mendengar suara orang mengaji padahal di dalam masjid itu tidak ada orang yang membaca Al Qur’an. Aku berlari ke rumah kami dan mengambil air wudhu. Mataku belum terbuka benar dan rasanya ingin tertutup kembali namun udara dingin tidak bisa diajak kompromi. Aku mengigil sambil menunggu azan Subuh. Tausiyah dari kepala sekolah tidak aku dengarkan sambil duduk. Aku berbaring dengan beberapa teman. Orang ngantuk disuruh denger ceramah….
Paginya permainan dimulai. Ada berjalan di atas satu tali dengan pegangan satu tali, spider web, memasukkan orang dari spider web, dan berjalan menyusuri terowongan air. Seru sih, tapi hanya satu permainan yang aku coba, yaitu menaiki spider web dengan berhasil turun kembali.

Aku ingin meniti satu tali, tapi waktunya terbatas. Aku hanya membantu temanku untuk memassang alat bantunya, alhamdulillah aku tahu sedikit. Aku juga ingin mencoba menyeberangi terowongan air, pasti seru !

Perjalanan pulang. Awalnya kami berjalan kaki, tapi ada kendaraan guru disana yang mengangkut kami. Alhamdulillah, aku dan beberapa teman naik mobil. Sesampai di mobil rasanya ingin segera pulang. Seluruh persendian serasa remuk.

Outbond kemarin menyebabkan aku tidur selama 2 hari.

Kamarku, 21 Juni 2009
Pukul 22.47

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Isi Hatiku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Outbond Sungai Dua

  1. dinda radeta berkata:

    bun, ceritanya seru banget y, ngomong2 itu outbond bunda kemarin y? tapi kasihan juga y bunda!

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s