Kenapa dengan 3 Tahun ?

Kenapa dengan 3 Tahun ?

“ Tiga tahun di SMP rasanya bosen, pengen cepat-cepat ke SMA,” kataku dulu.
“ Tahun ketiga di SMA membosankan ya, pengen cepat-cepat kuliah.” Aku ingat dulu.
“ Tiga tahun bekerja koq bosen ya ?” Aku bertanya kepada rekan kerjaku. Meraka menjawab, “ Sama, aku juga merasakan kebosanan, sama koq,” katanya.

Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi mengapa SMP, SMA, DIII itu hanya ditempuh dengan waktu 3 tahun, untuk mengatasi kebosanan. Mengapa pada tingkat SD tidak bisa diselesaikan dalam 3 tahun ?

Aku berpikir lagi, mungkin bagi anak SD, 3 tahun pertama mereka masih masuk masa bermain dan pengenalan belajar. Mereka belum ditempa untuk belajar dengan serius sehingga mereka tidak terlihat bosan dengan segala aktivitas sekolah. Tugas-tugas yang diberikan guru pun tidak seberat tugas-tugas kelas 4,5, dan 6 SD. Bagaimana jika di kelas 1,2, dan 3 guru selalu memberikan tugas-tugas yang rumit dan memusingkan ? Bisa jadi mereka akan merasakan bosan, hal yang sama aku rasakan sekarang.

Jika saja di kelas 4, anak SD sudah merasakan kebosanan dalam belajar, maka apakah yang akan terjadi selanjutnya di kelas 5 dan 6 ? Masihkah mereka bosan? Ataukah mereka bisa mengatasi masalah tersebut ?

Dari tingkat SMP ke SMA, kebosanan di SMP teratasi ketika melihat suasana baru di SMA. Begitu pun ketika bosan di SMA, kuliah bisa mengatasinya. Perpindahan dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya menjadikan rasa bosan itu tidak sekedar bosan, yang akhirnya menyebabkan diri terpuruk dalam ketidakefektifan diri. Dengan pengalihan ke tingkatan yang lain, rasa bosan sedikit teratasi. Ada pencerahan jiwa yang menyadarkan bahwa ada lingkungan lain yang bisa mengubah diri menjadi ceria kembali.

Penat dengan semua rutinitas menjadikan orang enggan bergerak lalu stagnan dan kadang berhenti. Jenuh. Jenuh dengan sekolah, jenuh dengan kerja. Setiap orang yang pernah aku tanyai tentang kejenuhan layaknya memberikan masukan yang berarti sehingga ada beberapa masukan itu yang berarti untuk mengatasi kebosanan.

Ada beberapa masukan yang bagus untuk dijadikan alat untuk mengatasi kebosanan :
1. Anak SD, siswaku, jika ditanya,”Bosen nggak belajar ?” Mereka menjawab bosen, tapi “Main yang membuat kita tidak bosen lagi.” Wajah-wajah anak didik akan menjadi pemecah kebosanan jika Anda seorang pendidik.
2. Jika kita sudah berkeluarga, sesampai digunakan kesempatan di rumah dengan sebaik mungkin, jangan sampai pikiran atau pekerjaan kantor membawa kebosanan berada di rumah. Lihatlah wajah anak atau suami ataupun orang yang Anda sayangi. Renungi apakah rasa bosan itu memberikan manfaat bagi kita ? Apakah kita harus mengikuti rasa bosan itu sehingga kita terus mengerutu dengan kebosanan itu ?
3. Jika Anda seorang ibu, apakah karena Anda bosan mengurus anak, Anda tega membiarkan anak Anda menangis karena tidak diberi makan dan Anda berkata,” Sudah, diam. Ibu sudah bosan mengurusmu !” Begitukah ? Jika Anda seorang ayah, “ Cukup, Ayah bosan mencari nafkah !” Apa yang terjadi dengan keluarga Anda ? Kehancuran, yang akhrinya menjadi tangis penyesalan. Lakukan sebaik mungkin sebelum penyesalan datang.
4. Carilah aktivitas sampingan (ngenet,ngeblog, dll.) untuk mengatasi kebosanan Anda karena diharapkan dengan adanya aktivitas alternatif, yang tentunya kita sukai, kebosanan itu bisa di atasi, setidaknya berkurang untuk sementara waktu sembari mencari alternatif yang lain.
5. Carilah tempat yang menyenangkan atau larilah sejenak dengan semua rutinitas yang setiap harinya kita kerjakan. Larilah ke tempat yang bisa membuat kita bahagia.
6. Lihatlah di sekeliling Anda bahwa tidak semua orang mampu melakukan apa yang kita bisa lakukan. Hargailah diri Anda bahwa sesungguhnya Anda adalah orang yang beruntung, yang telah diberikan segala kelebihan sehingga hal ini patut Anda syukuri.
7. Banyak dari orang di sekeliling Anda tidak mengalami kejadi seperti yang Anda hadapi. Yakinilah bahwa,” Beserta kesukaran itu ada kemudahan!” Begitu pun, “Seiring adanya kebosanan, insya Allah akan ada penyegaran.”
8. Bersilaturrahmilah kepada teman karena terkadang silaturrahmi bisa mengatasi kebosanan dan memperpanjang usia. Jelas bukan, jika kita terpuruk dengan kata bosan, mungkin kita bisa terus dan terus memikirkan kebosanan tanpa banyak berbuat untuk mengatasinya sehingga apa yang terjadi ? Kita habiskan waktu dengan sia-sia padahal masih banyak kegiatan positif yang bisa kita berikan untuk banyak orang.

9. Berceritalah kepada sohib Anda tentang masalah kebosanan Anda, mungkin dia pernah mengalami hal yang serupa dengan Anda dan Anda bisa mengambil pelajaran dari apa yang sohib kita sampaikan.
10. Jangan pernah menyesali melakukan atau melewati tahapan yang mesti Anda lalui, misalnya dengan berkata,” Cobalah dulu aku nggak kuliah disini ?” Jangan sangkal takdir Allah yang diberikan pada kita karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, jadi segala yang Dia berikan/ditakdirkan kepada kita adalah wujud kasih dan sayang-Nya.
“Allah tidak menjadikan manusia itu tersesat, tapi manusia itu sendiri yang ingin menyesatkan dirinya.”
11. Lakukan yang menjadi takdir Anda dengan keikhlasan dan kemampuan Anda karena Anda bisa melakukannya.

Tulisan ini lahir dari sebuah perenungan dan ternyata berlaku juga sebagai nasihat untuk diri sendiri dan orang yang sedang dilanda kebosanan. Kebosanan itu pernah dihadapi setiap orang, aku dan Anda semoga bisa menyikapinya dengan sikap yang sebaik mungkin.

Salam….

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s