KARPET BULU BUATAN IBU

“ Coba ya, Bu, kita mempunyai karpet yang hangat. Aku ingin sekali mempunyai karpet seperti karpet miliknya Mia, teman sekelasku, “ renggek Andin kepada ibunya yang sedang menggoreng tempe di dapur. Andin dan ibunya bukanlah orang yang hidup berkecukupan seperti Mia. Mereka hidup sederhana sekali. Lauk sehari-hari mereka adalah tempe dan sayur singkong. Hanya itu, ditambah dengan segelas air putih.

“ Din, ibu ingin sekali mewujudkan keinginanmu, Nak, tapi bukan saat ini. SPP-mu saja belum bisa ibu lunaskan, apalagi mau membeli karpet seperti yang kau inginkan,” nasihat ibu diiringi tundukan kepala Andin .

Tak banyak yang bisa diharapkan dari ibu kecuali keikhlasannya. Andin sulit sekali mengungkapkan keinginannya kepada ibunya karena dia takut ibunya akan menjadi terlalu lelah untuk memikirkan keinginannya itu.

Kehidupan mereka hanya dibantu oleh gaji pensiunan PNS ayahnya, Rp. 250.000,00 per bulan. Untuk hidup di zaman sekarang, ibu Andin harus berhemat bahkan sangat hemat. Baju seragam Andin hanya diganti per tiga tahun sekali, berbeda dengan Mia yang tiap semester mengganti bajunya dengan yang baru.

“ Andaikan aku mempunyai uang yang banyak…,” khayal Andin sewaktu-waktu.

“Buat apa baju yang bagus, barang yang mewah, harta yang berlimpah bila jiwanya tidak merasa bahagia dan tenang, Anakku,” nasihat ibu ketika Andin meminta untuk mengganti baju SD-nya ketika dia kelas IV. Ah, Andin, dia terlalu muda untuk merasakan kesulitan hidup sampai-sampai dia mengigau menyebutkan barang yang sangat ia inginkan, karpet bulu.

***

Keinginan itu bukan hanya keinginan belaka. Dia ingin mewujudkan keinginan itu menjadi kenyataan walaupun dengan menabung Rp. 200,00 tiap harinya dari uang jajannya. Andin diberi Rp. 500,00 setiap hari sebagai uang jajan, tapi tidak semua dia gunakan uang itu untuk jajan, hanya Rp. 200,00, Rp.100,00 untuk sedekah, dan sisanya dia tabung dalam celengan ayam di rumah. Karena didikan ayah dan ibu, Andin suka memberi orang, memberi sesuai kemampuannya.

“ Bu, ketika aku ingin pergi ke sekolah, aku melihat ada anak kecil yang menangis di pinggir jembatan yang aku lewati. Aku sedih melihatnya, Bu. Aku ingin menolongnya. Aku tolong dia dengan memberi seluruh uang jajanku untuknya,” tunduk Andin lesu. Dalam pikirannya, dia tidak bisa menabung untuk membeli karpet yang hangat. Karpet khayalannya saat itu mulai menjauh dari pikirannya.

“Din, ingatlah !Jika kita memberi Rp.1,00 pun kepada orang lain dengan ikhlas, maka pemberian kita itu akan dibalas berlipat-lipat,” Andin mengingat kembali nasihat ibunya. Ikhlas, itu kuncinya.

***

Pagi itu, ibu Andin sibuk membongkar lemari yang berisi baju-baju yang tidak dipakai lagi. Dia ingin mencari uang yang dulu diselipkan di antara baju-baju dalam lemari tersebut. Dia mengeluarkan semua baju itu hingga lantai kamarnya terlihat berantakan. Ibu Andin menyusun kembali baju-baju itu dengan rapi. Tanpa sengaja, ibu Andin menyenggol bagian permukaan yang lembut seperti bulu. Dia senggol lagi permukaan itu hingga dia menemukan mantel hitam berbulu tebal.

“Ini kan mantel buluku yang aku cari bertahun-tahun yang lalu. Ah, ternyata aku saja yang tidak teliti mencarinya,’ ujar ibu Andin sambil meletakkan mantel itu di pipinya lalu sesekali diciumnya mantel itu.

“Aha, aku ada ide ! Aku akan mengubah mantel ini menjadi barang yang sangat Andin inginkan!” Serunya di dalam hati.

***

Lemek tipis yang sudah tidak terpakai lagi sebagai alas tidur saat menonton TV dijadikan bahan pembuatan karpet. Bahan utamanya adalah mantel bulu milik ibu Andin. Dibukanya bagian sisi baju itu hingga terlihat lebar. Bagian lengan kiri dan kanan dia satukan sehingga akhirnya terbentuklah kain segi empat berbulu hitam berukuran 1,5 m.

Ketika Andin sekolah, ibunya mengerjakan tugas besar ini. Tanpa mesin jahit, ibu Andin menggunakan seluruh tenaga yang dia miliki untuk menyelesaikan tugas ini dalam waktu 1 minggu. Dia berharap Andin bisa merasakan hangatnya karpet bulu dari mantel bulu miliknya.

“ Assalamu’alaikum, Bu, aku pulang !” terdengar teriakan Andin dari balik pintu depan.

“ Wa’alaikum salam warohmatullah…,” jawab ibu dan bergegas merapikan tugas pembuatan karpet. Hari ini tugasnya selesai. Besok, ada banyak waktu untuk melanjutkannya kembali dan memberikan kejutan adalah keinginannya.

***

Tepat seminggu, ibu Andin mengerjakan semuanya sendiri. Matanya terlihat lelah, wajahnya lesu, lusuh, tapi senyum di bibirnya masih mengembang ketika ia mengantarkan Andin pergi ke sekolah.

“ Tulangku rasanya mau patah, tapi tidak apa-apa. Ini kan untuk anakku,” bisik ibu Andin. Hampir seluruh bagian lemek telah disatukan  dengan persegi empat mantel bulu. Kemarin, ibu Andin belum bisa menyelesaikan jahitan pinggir pada sisi lemek.

“ Pekerjaan ini harus selesai ketika Andin pulang sekolah. Dia harus melihatnya telah terhampar di kamarnya ketika dia ganti baju !” Ibu Andin berdoa semoga tidak ada halangan baginya untuk menyelesaikan jahitan terakhir ini.

Dia terus menguap. Dia tidak mengerjakan apa-apa. Hari ini dia tidak memasak nasi atau pun lauk. Dia membeli nasi bungkus di warung karena targetnya hari ini adalah menyelesaikan karpet bulu untuk Andin. Itulah yang dia kerjakan. Dia lupa makan, tapi sholat tetap di kerjakan.

***

Detik demi detik membuat jantung ibu Andin berdetak dengan kencang. Aliran darahnya memicu dirinya untuk mempercantik karpet yang sudah 90% selesai. Dia jahit pita biru muda di bagian atas kepala sehingga warna karpet itu tampak lebih indah. Di samping kanan dan kirinya, dia jahitkan sisa kain yang sudah tidak terpakai lagi sehingga permukaan lemek menjadi tidak terlihat. Warnanya terlihat bagus dan memiliki kesan mewah bukan seperti barang bekas. Ibu Andin memang kreatif. Dia bisa menyulap barang yang tidak terpakai menjadi barang bernilai guna untuk anaknya, Andin.

Hentakan sepatu Andin terasa sangat dekat di telinganya. Dia langsung menghamparkan karpet buatannya di kamar Andin. Di atas karpet itu dia selipkan tulisan cinta untuk Andin. Ketika Andin masuk ke kamarnya, dia sangat terkejut. Dia menangis. Dengan tergesa-gesa, dia mengelus karpet itu seolah-olah keadaan itu hanya mimpi dan akan kembali menjadi mimpi. Dia bertambah terkejut saat ia menemukan surat di atas bantal.

“Hanya karpet lusuh ini yang bisa ibu berikan untukmu. Yang terbuat dari barang tidak mewah dan tidak terpakai, namun dengan rasa kasih sayang. Ibu” Andin menangis membacanya. Andin lari dari kamarnya menuju dapur untuk mencari ibunya. Dia ingin sekali memeluk ibunya dan mencium ibunya.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s