ELANG KECIL MENCARI TEMAN

 

Di hutan yang lebat tinggallah seekor elang berparuh putih. Dia tidak memiliki siapa-siapa. Dia hanya memiliki satu teman, Tupai. Keduanya telah menjadi sahabat. Mereka saling membantu jika kesulitan menyapa. Suatu hari, ketika tupai hendak mengambil buah di atas pohon, tupai tidak bisa menggapai dahan pohon itu. Berkali-kali dia menggapainya dan berkali-kali juga dia gagal. Dia tidak tahu kalau dikejauhan ada seekor elang yang melihat tingkah lakunya.

Elang itu mendekat. Matanya yang tajam membuat Tupai menjadi takut. Tupai langsung masuk ke rumah pohonnya. Tubuhnya gemetar. Di bersembunyi sehingga tubuhnya tidak nampak lagi oleh elang. Elang diam-diam melihat ada buah merah pada dahan yang digoyang-goyang oleh tupai tadi. Dia naik ke atas dahan itu. Dia gunakan sayapnya dan dengan kepakan yang lemah dia menggapai dahan itu. Untung saja dia sedikit kuat karena kalau tidak dia terjatuh oleh kencangnya angin. Elang itu berhasil meraih buah merah tersebut.

Dengan paruhnya, dia meletakkan buah merah itu di tepi rumah pohon tupai. Setelah meletakkan buah tersebut, elang kembali terbang menuju sarangnya yang tidak jauh dari rumah pohon tupai.

“ Ternyata dia elang yang baik. Aku ingin sekali berteman dengannya,” bisik tupai melihat elang yang telah menjauh dari rumah pohonnya.

“ Besok, aku akan membalas kebaikannya. Aku akan menyapanya dan aku akan menjadi sahabatnya !” Kata tupai bersemangat.

***

Hari mulai panas, ketika tupai keluar dari persembunyiannya. Perutnya masih terasa kenyang karena buah yang diambil oleh elang telah menjadi persedian yang cukup hingga pagi ini. Kini saatnya keluar. Tupai bersiul sambil bernyanyi. Suaranya merdu sekali.

“ Ting…tang…la…la…la…re…aku senang…aku gembira…tiada sedih…tiada duka…walau tanpa kemewahan…ha…ha…haa….” Dia berhenti bernyanyi ketika dia melihat seekor elang kecil sedang mengais tanah untuk mencari cacing. Rasa iba mengajak dia untuk membantu elang itu.

“ Kamu kan yang membantuku mendapatkan buah merah di dahan itu,” tunjuk tupai.

“ Kamu juga kan yang meletakkan buah merah itu di tepi rumahku ?” Tanya tupai itu kembali.

“Ya, aku ingat. Aku ingat karena jambul putihmu itu. Aku mengenalinya,” ujar tupai masih penasaran.

“ Sudahlah, teman. Kebaikan jangan terus diucapkan dihadapan pelaku kebaikan itu. Nanti bisa mengurangi keikhlasannya dan mengajak untuk bersikap sombong,” ungkap si elang kecil.

“ Bisakah kita berteman ?” Ajak tupai.

“Aku tidak mempunyai teman. Keluargaku juga sudah tidak bersamaku lagi. Aku lihat kamu baik dan pantas untuk dijadikan teman,” rayu tupai kapada elang.

“ Benarkah kamu mau berteman denganku? Mungkin sewaktu-waktu, ketika aku sudah besar aku akan mencabik-cabik tubuhmu. Apakah kamu masih mau berteman denganku ? Aku juga sama sepertimu. Aku mencari teman karena semua saudaraku meninggalkan aku ketika aku masih kecil. Kalau kamu bersedia berteman denganku, maka suatu kehormatan bagiku menerimamu menjadi temanku,” ungkap elang dengan wajah yang terlihat senang diikuti oleh anggukan kepala tupai. Mulai saat itu, keduanya tercatat sebagai teman.

***

“ Lang, tadi ketika aku minum di sungai itu, aku melihat banyak ikan yang muncul di permukaannya. Mungkin kamu bisa mendapatkan banyak ikan untuk makananmu hari ini,” sambil menunjuk ke arah sungai yang airnya sudah mulai surut.

“ Iya, aku sudah sangat lapar. Aku tidak mendapatkan cacing hari ini,”  Elang berkata sambil memegang perutnya.

“ Aku akan membantumu sebisaku, Kawan,” kata tupai diakhiri oleh ucapan terima kasih elang atas pemberitahuan itu.

***

Hari berganti hari, bulan pun berubah begitu pun tubuh elang yang semakin hari semakin kuat dan semakin kekar. Sorot mata tajam si elang terkadang menyurutkan semangat tupai untuk menemuinya. Ada rasa takut ketika tupai berhadapan dengan elang. Karena hal itulah mereka jarang bertemu. Elang pun merasa risih dengan pertemanan itu karena saat dia melihat tubuh tupai, nafsu untuk memangsa semakin kuat sehingga dia memutuskan untuk tidak terlalu sering menemui tupai. Pertemanan mereka sedikit renggang.

Elang ternyata rindu pada tupai, temannya. Dia ingin berbicara dengan tupai seperti waktu dia masih kecil. Dia ingin membantu tupai untuk mengambil makanan di luar kemampuan menjangkaunya. Elang ingin sekali mendengar nyanyian tupai yang sangat aneh tetapi indah itu.

Diam-diam elang memberanikan diri untuk mampir ke rumah pohon tupai. Dia ingin mencari tupai, sekedar bertanya tentang keadaannya.

“ Tupai, keluarlah temanku. Aku ingin menanyakan apakah kabarmu, Teman ?” Teriak elang dari tepi rumah tupai.

“Aku baik-baik saja, Elang. Aku harap kamu juga sehat seperti keadaanku saat ini,” jawab tupai dari dalam. Elang menyatakan dia ingin berteman seperti dulu lagi dan begitu pun tupai. Tupai keluar dari rumahnya. Mereka pun berbincang-bincang tentang keadaan masing-masing. Sesekali air liur elang membasahi paruhnya. Nafsu memangsanya mulai muncul.

***

“ Tolong…Tolong…” terdengar suara teriakan dari balik semak-semak. Tupai mendengar suara itu. Dia sangat mengenal suara tadi. Dia segera mencari sumber suara itu. Suara itu ternyata suara elang yang menahan kesakitan karena tertimpa jatuhan dahan lapuk dari atas pohon saat elang hendak mencari cacing. Tupai langsung mengangkat dahan itu dengan menyeretnya. Akhirnya loloslah elang dari maut.

Tupai merawat elang dengan sangat baik. Tupailah yang mencarikan makan untuknya. Setiap hari tupai membersihkan luka di tubuh elang hingga dia lupa untuk mencari makan. Elang yang terbaring lemah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mengandalkan kebaikan tupai. Jika saja tupai tidak ada mungkin elang sudah tidak bernyawa atau paling tidak dia akan terus seperti itu sampai ajal menjemputnya.

***

Sebulan kemudian, elang sudah sembuh. Dia sudah bisa mengepakkan sayapnya untuk menyusuri langit yang biru. Dia ingin sekali membalas kebaikan tupai. Dia ingin mengajak tupai terbang melihat langit yang indah. Dia ingin tupai ikut terbang bersamanya dan membiarkan tupai bernyanyi riang di atas punggungnya itu. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk temannya. Dia rela tubuhnya diduduki oleh temannya. Dia rela berlelah-lelah mengajak tupai menyusuri langit yang luas. Dia tidak ingin lagi memangsa temannya. Kebaikan yang temannya lakukan telah mematikan semangat dan nafsunya untuk memangsa.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

3 Balasan ke ELANG KECIL MENCARI TEMAN

  1. angga berkata:

    kisah sebuah persahabatan yang indah sekaligus mengharukan…pelajaran yg bisa dipetik sahabat itu haruslah ada dalam suka dan duka

    Meliana merespon :

    Ya, Angga benar. Makasih atas kunjungannya. Pantau terus blog ini ya. Salam kenal

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s