Jum’at Haru

Perasaan marah campur haru mewarnai pagi hari, Jum’at, 19 Maret 2009 di kelasku. Ketika jam istirahat kedua telah berakhir, semua siswa masuk ke kelas. Setiap siswa menunjukan wajah yang aneh dan aku menyadari hal itu. Aku bertanya dengan sedikit kata. “ Kenapa sih kalian ini, koq rahasia-rahasian sama Bunda ?” Tanyaku kepada salah satu siswiku, namanya Dinda. “ Nggak, ini rahasia,” jawab Dinda. Beberapa siswaku meletakkan jari telunjuk di tengah-tengah bibirnya, pertanda bahwa yang lain harus merahasiakannya. Aku masih bertanya karena penasaran apa yang terjadi karena waktu aku melihat wajah siswa dan siswiku masuk wajah yang kulihat dari mereka adalah wajah cemas. Biasanya mereka masuk dengan wajah ceria. Di hari sebelumnya saja, mereka penuh dengan canda tawa. Mereka baru saja bermain sepak bola. Tim siswi kelasku bertanding dengan tim siswi di kelas sebelah. Tim kelasku kalah, namun mereka tidak marah karena kekalahannya. Mereka akan berlatih untuk pertandingan berikutnya. Latihan akan berlangsung pada hari Jum’at, yaitu 19 Maret 2009. Kejadian di hari Jum’at itu bermula saat tim siswi berlatih di dekat aula sekolah karena lapangan sekolah telah ditempati oleh kelas VI dan mereka mengalah. Siswa laki-laki di kelasku melatih siswi kelas kami bermain bola. Aku ingat sekali, sehari sebelum hari Jum’at, Sabiq, yang sudah seperti pelatih dengan lincah mengawasi dan mengatur posisi teman wanitanya. Ketika pertandingan berlangsung, supporter siswaku dan kelas lain (sampai kelas VI pun ikut mendukung kelas kami) semua memberi dukungan. Aku salut dengan kekompakkan yang diberikan dari siswa kelasku untuk temannya yang sedang bertanding. Pelan-pelan Dinda menuju ke mejaku. Aku masih dengan kebingungan. Dinda mendekati telingaku dan berbisik, namun dia besarkan karena seluruh kelas sudah tahu kecuali Billy dan Syahid, tentu saja aku. “ Bunda, sebenarnya tadi itu ada insiden sedikit. Begini ceritanya, waktu istirahat tadi kami kan latihan untuk bertanding dengan kelas Thoriq. Kami nggak dapat lapangan jadi kami main di dekat rumahnya Kak Fira, yang kelas V itu. Bola yang kami mainkan itu nyangkut di antara atap itu, nggak tahu apa namanya. Nah, waktu Irfan mau ngambil bola itu, Irfan berpegangan disana dan akibatnya patahlah kayunya. Kami mau ikut menggantinya, Bunda.” Kata Dinda dan disambut siswa-siswiku yang lain. Belum selesai Dinda menjelaskan panjang lebar permasalahan kelas, mereka mengulurkan uang seribu, ada yang lima ribu, lima ratus, dan pecahan lainnya. “ Bun, aku nggak bawa uang. Besok aja ya, “ kata salah satu siswa. Aku melihat Irfan sudah berurai air mata. “ Bunda, besok aja kita sumbangannya, “ kata Monda. “ Fan, kami ikhlas membantu,” kata Nur Fadillah. “ Nggak pa pa sedikit, yang penting ikhlas,” sambung Satria Nabila. Aku terharu. “ Hari ini kita belajar pelajar yang penting. Pelajaran yang tidak kita dapatkan di sekolah atau hanya dengan membaca buku. Bunda rasanya ingin menangis. Hari ini kita belajar berempati terhadap sesama, peduli terhadap nasib teman yang sedang mengalami masalah meskipun tidak bisa membantu dengan materi/uang, dengan bertanya dan memegang bahu teman tersebut saja itu sudah lebih dari cukup. Bunda melihat anak-anak yang hebat di masa depan meskipun ada beberapa anak yang seolah tak peduli dengan nasib temannya. Bunda salut dengan kekompakan kelas ini. Di antara dua kelas lain, kelas ini lebih solid.” Dalam hatiku bergemuruh. Ingin rasanya aku menangis namun aku tidak sanggup karena aku ingin mencoba menenangkan mereka. Pelajaran dilanjutkan kembali. “ Nanti, waktu istirahat Bunda pengen ngelihat yang mana yang dipatahkan Irfan karena Bunda nggak terbayang apa yang kalian ceritakan. Setelah bel istirahat kedua berbunyi, mereka mengapit tanganku dan aku diajak ke rumah yang jadi objek tangis Irfan. Pada saat yang bersamaan, temanku ingin minta ditemani ke Grapari Telkomsel. Aku katakan sebentar karena aku tidak ingin anak-anak kecewa dan permasalahan ini harus diselesaikan. Aku meminta anak memanggil Bunda Yeni. Kami pun kesana, aku, B’Yeni, dan Irfan. Kami mendatangi rumah tersebut. Alhamdulillah, Mama Fira memaklumi perbuatan anak dan mengakui memang kayu yang patah itu sudah lama/lapuk. Beliau meminta kejadian itu tidak terulang kembali dan kami meminta maaf atas semua kejadian yang dilakukan oleh anak. Setelah pulang dari rumah tersebut, aku menunjukan wajah lega dan anak-anak langsung mengerumbungi kami. Ada anak yang meminta kembali uangnya. “Bun, boleh nggak ngambil uangnya kembali.Soalnya aku lagi haus dan lapar, “ kata siswaku dan aku jawab boleh. Sisa uang yang tidak dikembalikan itu akhirnya disumbangkan ke kotak infaq yang diedarkan setiap hari Jum’at oleh DPU-DT. Lega dan tenang, itu yang kurasakan.Permasalahan telah usai.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Jum’at Haru

  1. rakyatindonesia berkata:

    artikelnya bagus & seru …jadi ikut terharu nich…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s