Seorang lelaki tua duduk di tangga kayu belakang rumahnya. Matanya menatap jauh langit. Matanya nanar menerawang masa depan anak-anaknya. Laki-laki tua itu tersenyum sesekali lalu menangis dengan pilu. Lelaki tua itu menghapus air mata yang mengalir di bawah matanya. Dia menopang dagunya. Usianya kini sudah senja. Anak-anak lelaki itu telah pergi meninggalkannya. Bukan karena mereka tidak menyayangi lelaki tua itu, tetapi mereka ingin mencoba membentuk rumah tangga mereka sendiri. Lelaki tua itu ingat ketika dia masih berkumpul dengan anak-anaknya. Lelaki tua itu sering memarahi anaknya. Lelaki tua itu sering mengusir anaknya ketika dia sedang kesal dengan tingkah laku anak-anaknya. Lelaki tua itu sadar sekarang, dia tidak seperti dulu. Lelaki tua itu sudah renta, dia tidak punya tenaga untuk memarahi anaknya lagi. Dia tidak bias mengusir mereka lagi. Lelaki tua merasa dialah penyebab kepergian kebahagian ketika anak-anaknya masih balita. Lelaki tua itu menangis. Tak dihiraukannya matanya bengkak. Orang yang melihat lelaki tua itu sedih, namun tak ada yang bisa dilakukan. Mereka yang melihat lelaku tua itu prihatin, tapi apa daya anak-anak lelaku tua itu telah pergi jauh meninggalkannya.

***

“ Sudah, kalau tidak  mau mengikuti omongan Bapak, silahkan angkat kaki dari rumah ini !” Usir lelaki tua terhadap anak laki-lakinya yang tidak sudi dimasukkan menjadi pegawai di temapt lelaki tua itu bekerja.

“ Pak, aku nggak mau aku dapat kerja karena usaha Bapak. Aku ingin kerja dengan usahaku sendiri. Aku ingin jika aku bekerja aku tidak dikatakan orang, ‘Yah, dia kan anaknya Bapak itu’,” kata anak lelakinya.

“Cari kerja sekarang itu sulit. Lah, kerja udah ada di depan mata koq ditolak !” Lelaki tua itu mendengus.

“ Bapak nggak mau tahu lagi. Sekarang terserah kamu !” Lelaki tua itu masuk ke kamar meniggalkan anak lelakinya itu. Anak lelakinya akhirnya bertekad di dalam hati untuk berusaha mencari kerja sendiri tanpa bantuan orang tuanya karena dia yakin jika bersungguh-sungguh akan ada jalan dari Allah untuknya. Anak lelaki itu pergi meninggalkan orang tuanya yang telah mengusirnya. Anak lelaki itu pergi mengembara mengikuti hati nuraninya. Tekadnya sudah bulat.

***

Dua tahun sudah lelaki tua itu tidak bertemu dengan anak laki-lakinya. Dia ringu sekali untuk berjumpa karena dia anak laki-laki satu-satunya yang dia miliki. Sampai suatu saat, sebuah ketukan terdengar dari balik pintunya. Lelaki tua yang sedang duduk mencabuti uban di kepalanya oleh anak perempuannya bangkit membuka  pintu. Lelaki tua itu terperanggah. Yang dia lihat sangat dia rindukan, tapi egonya menyatakan hal yang berbeda dengan hatinya.

“Mengapa kamu pulang. Ini bukan rumahmu lagi !” Teriak lelaki tua itu agak serak.

Anak laki-lakinya langsung sujud di kaki lelaki tua itu.

“Pak, maaf kan aku. Aku…….,” suara anak laki-laki tua itu terhenti.

“Sudahlah, aku sudah bosan. Tak lagi mau mendengar kata-katamu !” Laki-laki tua itu acuh dan meninggalkan anak laki-lakinya yang masih dalam keadaan bersujud.

Anak laki-laki itu akhirnya pergi. Lelaki tua itu menatapa kepergian anak laki-lakinya dengan hati yang sakit dan perasaan yang hancur. Anak laki-laki itu tidak pernah lagi datang ke rumah itu.

***

Setahun sejak perjumpaan anak laki-laki itu dengan orang tuanya, dia kembali ke rumah itu. Sehari sebelum dia ke rumah lelaki tua itu, anak laki-laki itu bermimpi ibunya meninggal. Dia ingin melihat keadaan ibunya sekaligus meminta maaf kembali dengan lelaki tua itu. Dia berharap dengan kedatangannya itu, lelaki tua mau memaafkan kesalahannya. Dia membawa oleh-oleh yang special untuk bapaknya, yaitu seorang istri dan bayi yang baru berusia 3 bulan. Dia berharap dengan adanya cucu, lelaki tua itu menerimanya kembali. Keluarga laki-laki ini akan menempuh perjalanan sekitar 3 sampai 4 jam, itu pun jika tidak terjadi sesuatu di jalan. Dia membawa mobil yang dia dapat dari hasil kerjanya sendiri. Sekarang dia telah memiliki rumah RSS dengan fasilitas seadanya, 

***

Rumah lelaki tua itu sepi. Tak terdengar oleh anak lelaki tua itu seorang yang ada di sana. Dia berharap segera melihat ibunya yang biasanya sedang menyapu di bawah tangga rumahnya. Anak lelaki tua itu pergi ke belakang rumah, dia tidak melihat ibunya menyapu disana. Dia hanya melihat Ayahnya yang sedang melamu di atas tangga. Dia mengamati lelaki tua, ayahnya itu. Raut wajahnya sudah jauh berbeda dari setahun yang lalu. Raut kesedihan dan kesepian yang dia rasakan di dalam hati bapaknya itu.  Lelaki tua tidak menyadari kehadiran anak laki-laki itu. Lamunannya jauh. Matanya kosong, nanar.

Anak laki-laki itu mendekati lelaki tua itu. Dia ingin memeluk dan mencium lelaki tua yang dulunya perkasa dan kini telah renta. Dia peluk dari belakang lelaki tua itu karena dia takut pelukannya tidak akan diterima lelaki tua itu jika dia tahu anak laki-laki yang diusirnya dulu yang memeluknya. Lelaki tua itu menoleh dan terjadilah suasana haru disana.

“ Nak, maafkan Bapak. Bapak salah karena dulu telah mengusirmu. Kamu benar. Sekarang perusahaan tempat Bapat bekerja telah bangkrut. Jika dulu kamu jadi bekerja di tempat Bapak, mungkin kamu juga akan bernasib seperti pegawai-pegawai disana.”  Kata Bapak sambil menangis. Sesaat kemudian muncullah istri dan bayi laki-laki itu. Lelaki tua itu tersenyum dan langsung mengambil bayi itu dan menciumnya dalam gendong annya..

“Nak, Ibumu sudah meninggal. Adik-adikmu tidak lagi disini. Mereka mengikuti suami mereka masing-masing. Bapak sendiri disini. Kalian tinggal disini saja ya,” ajak lelaki tua itu.

Tanpa berpikir panjang. “Iya, Pak. Insya Allah aku akan mengurus semuanya. Kami akan tinggal bersama Bapak,”

Anak laki-laki itu tidak akan meninggakan lelaki tua itu sendiri dalam senja yang sunyi dan sepi.

 

Palembang, 8 Maret ‘09

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s