NSC Sekarang VS NSC Dulu

Sense of Belongingnya Mana ?

Pembaca mungkin pernah mendengar cerita NSC-ku dulu bersama teman dan siswaku. NSC yang penuh dengan canda, tertawa bersama teman dan anak-anak. Aku merasa merindukan NSC seperti dulu. Kenyataannya, NSC seperti dulu tidak akan kudapati lagi karena aku tidak merasakan sense of belonging pada NSC sekarang.

 

Bukan untuk membanding-bandingkan sih, tapi pada kenyataanya pada keduanya terdapat perbedaan yang menco;ok. Aku juga ingin ada sesuatu yang lebih dari NSC Sabtu kemarin, yang aku ikuti. Kenyataannya tak ada yang membuatku merasa, “Oh, aku menyukai kebersamaan ini dan aku ingin terus berada di dalam kelompok ini.”

 

Pada NSC  kali ini, aku bertugas menggantikan Ustadz Yudi karena besoknya beliau walimah. Dengan berat hati akhirnya aku menghadiri NSC, ya itunh-itung ajang kangen dengan siswaku. Aku datang setelah sholat Maghrib dan anak-anak masih di masjid. Ada beberapa Bunda yang sudah datang pada saat itu dan duduk disana (di kelas I Ali bin Abi Thalib). Mereka sedang memegang kotak makan malam dan berkata, ” Kita makan, yok !” ajak salah satu Bunda. Aku pun berkomentar, ” Nggak makan bareng sama anak-anak, Bun ?” Tanyaku dan dibalas Bunda itu, ” Udah laper nih, makan aja Yuk !” Aku mendengarnya merasa, ” Ih, koq gitu sih (ada lho judul sinetronnya). Dalam hati aku berkata, ” Sense of belongingnya mana ?” Aku menunggu sampai anak-anak masuk ke kelas dan mengambil kotak makanan. Seperti dulu, aku berusaha nimbrung di antara mereka. Bunda-Bunda yang lain pada ngumpul di satu meja. Aku sih asyik aja ngobrol bersama anak, toh aku sudah jarang bisa cerita panjang lebar dengan mereka.

 

Setelah anak akhwat belajar, pukul 21.00 WIB, mereka makan snack. Snack yang tersedia tidak memuaskan. Snacknya hanya gorengan ( bakwan, tempe, tahu, pisang, dan kumbu) plus susu kental manis coklat. Aku yang melihat snack seperti itu tak tahan mau berkomentar, ” Bun, snacknya ini aja ya ?” Salah satu Bunda disana, yang sedang mengerumbungi snack itu berkata, ” Anak-anak juga bawa snack sendiri koq, ” katanya agak ketus dan tidak melihat ke arahku. ” Aku nggak tahan mendengarnya, akhirnya aku menambahkan, ” Tapi, Bun, snack mereka, itu snack mereka. Snack sekolah itu beda. Sepertinya ini untuk Ustad-Bundanya aja ya,” Sekali lagi aku katakan, ” SEnse of belongingnya mana ?”

 

Hari sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, siswa-siswiku belum tidur, tapi ada satu Bunda yang sudah berbaring dan memejamkan mata. Bunda itu tak peduli dengan anak-anak yang masih ribut, pokoknya dia tidur titik. Tak pernah aku mendengar dia menasihati anak untuk tidak ribut/jerit-jerit. Aku berkata, “Sense of belongingnya mana ?”

 

Terharu aku mendengar seorang anak menegurku ketika mataku mengitari seluruh ruang perpustakaan untuk melihat kondisi terakhir anak sebelum mereka tiidur.

“Bun, Bunda tidur dimana ?”

Tanya Thalita (Tami).

“”Disini,” jawabku singkat.

“Nggak pake bantal, Bun ?” Tanyanya kembali sambil menyodorkan boneka kelinci berwarna pink berbulu halus. Mereka berbisik-bisik. Akhirnya…

” Oi, kasihan tuh Bunda nggak ada bantal,” kata Icha kepada Tami dan Nabila.

“Bun, nggak ada bantal ya ?”Tanya Nabila lalu dia memberikan bantalnya kepadaku. Akhirnya dalam hati aku berkata, ” Inilah sense of belonging anak-anak kepadaku.”

Aku memakai boneka Thami dan bantal Nabila aku beri ke Bunda Nila. Bunda-Bunda yang lain berbantalkan tas masing-masing.

 

Mereka tetap seperti dulu, manja dan selalu mau didengar omongannya. Aku pun menjadi pendengar yang baik. NSC sekarang tidak ada sholat Lail-nya. Dulu, kalau sudah pukul 03.30 WIB seluruh anak harus sudah berkumpul untuk sholat Lail.

 

Anak-anak ikhwan lebih tertib padaku jika dibandingkan Buunda yang mengajar di kelas. Aku juga merasa heran, ” Mungkin mereka kangen dengan ku,” Aku jadi GR sendiri. Setelah pelajaran selesai, Emir membuat onar. Emir membuat Fadil menangis. Masalahnya sepele, kelompoknya menang, begitu pun kelompok Fadil. Emir tidak begitu suka dengan kemenangnan 2 kelompok, dia melempari Fadil dengan kertas yang sudah diremas-remas. Untuk lemparan yang ketiga, aku tarik bajunya. Aku sadar karena aku berjanji untuk tidak dengan dengan menyenggol tubuh anak kelas 6, karena terpaksa aku lakukan juga dengan Emir. Aku dekatkan Emir dengan Fadil yang pada saat itu sedang menangis. Aku ceramahi Emir, ” Tahu nggak Emir, Bunda masih memantau anak kelas VI. Emir koq nggak berubah. Selalu saja ada korban, padahal tadi saat belajar Emir bagus koq. Sekarang Fadil sudah besar, dia merasa harga dirinya rendah–dilempari dengan kertas di hadapan orang lain–, Emir juga ngga mau kan seperti itu ? ” Tanyaku sambil kulempar spidol dan tipe-X ke tubuhnya dengan pelan, ” Enak nggak ? ” Tanyaku retoris.

” Mau, Papa Emir jantungan  lalu meninggal mendadak ? Koq Emir tega membuat air mata Mama Emir nggak ngalir lagi karena kebingungan ngadapi sikap Emir. Mau di penjara gara-gara Fadil ngadu ke polisi lalu Emir dimasukan ke penjaran anak. Makan nggak enak, tidur tak nyenyak. Nak…Nak…” Akumasih melanjutkan ceramahku. Saat itu air mataku sudah mengalir. Ketika aku nasihati Emir, disana hanya ada Fadil, Emir, dan aku.

“Tahu nggak, Bunda nggak malu nangis di depan Emir dan Fadil kalau itu membuat Emir berubah. Bunda nggak pinta perubahan yang besar, jangan membuat Mama Emir nangis karena mikirin Emir aja itu udah cukup buat Bunda. Bunda tahu Emir nggak suka sama Bunda, ta nggak pa pa. Bagi Bunda, selagi Bunda bisa menasihati, maka Bunda akan lakukan karena itu kewajiban Bunda. ”

 

Mendengar isak tangisku, Emir berkata, ” Iyolah, Bun, Emir akan berubaha.” Aku ingin dia mengikrarkan dalam kata-kata.

“Emir kan anak laki-laki satu-atunya dan teladan adik-adik. Cobalah menjadi panutan, Nak.” Akhirnya dia berjanji dan aku akhiri ceramahku itu (mungkin sudah setengah jam aku menasihatiny). Ake belum bisa meredakan tangisku. Aku lihat di kaca, mataku merah. Aku berdiri di koridor kelas Ustman lalu turun ke bawah menuju lapangan. Inilah salah satu sense of belongingku kepada siswa-siswiku.

 

Aku mengambil raket dan aku main dengan Bunda Rahmah.Tak puas main raket, aku main kasti.Aku memukul sekali dan menjadi pelempar bola.Olahraga itulah yang sering aku mainkan waktu NSC dulu. Aku menikmatinya.

 

Lagi-lagi aku dikejutkan oleh sikap Buunda-Buunda disana.Mereka tidak melihat sama sekali atau sekedar memberi support bagi kelompok anak yang bermain kasti. Mereka asyik sarapan. Dalam hati aku menggeleng. Setelah selesai olehraga, anak-anak makandan aku ikut makan bersama mereka. Bunda Ina dan Bunda Rahmah akhirnya ikut bersama dengan anak-anak. Inilah salah satu senseof belonging!

 

NSC dulu, pulang dengan tubuh yang capek, tapi menyenangkan. Semua gelas rapi saatkami pulang. Perpustakaan berantakan adalah hasil NSC sekarang ! Sense of belongingnya mana ????

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke NSC Sekarang VS NSC Dulu

  1. Fikri berkata:

    Assalamu’alaikum…

    Membaca tulisan2 bunda di blog ini, i’am really NO COMMENT…

    U’re the best teacher i’ve known in Alfurqon..

    SALUT Banget…🙂

    Meliana merespon :

    Pokoknya dikomentarin doung…Jangan nggak ya….

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s