Duka itu Belum Hilang (1)

Memori sedih di 2008

Tahun yang menyisakan kenangan tersendiri. Kenangan yang menyenangkan juga kenangan yang menyedihkan. Jelaslah sudah, tak ada yang Maha Berkehendak, kecuali Allah. Tak ada yang bisa menolak atau menyangkal bila Dia berkehendak.

Tiada disangka dan tiada diduga….

“Assalamu’alaikum, Bunda ada nggak anak kelas Bunda yang bernama M. Irfan Jamil. Tadi Mama Jombang nelpon saya kalau si anak sekarang dalam keadaan kritis di RS. Pusri….” Bunyi sms dari Ustadz Yudi. Dadaku terasa berdegup sangat kencang, air mata seakan hendak keluar, tapi aku tahan.

Aku balas sms si Ustadz dengan menelpon beliau….

“Ustad, macem-macem be Ustadz ni. Penipuan kali. Setahu saya nggak ada siswa saya yang sakit, mungkin ini penipuan aja !” Suaraku agak terdengar meninggi.

Sahutan dari HP beliau…

“Kalau Bunda nggak percaya coba telpon aja Mama Jombang,” Ustad itu mengakhiri dengan perasaanku yang was-was. Tak lama kemadian…

“Bunda, benar ada anak Bunda yang sedang kritis di RS. Pusri, namanya M. Irfan Jamil.”

Selang berapa menit kemudian…

” Bun, M. Ervan sekarang sedang di RS. Pusri dalam keadaan kritis, sakit DBD dan typus. Mohon doanya.” Sms itu berasal dari patnerku, Bunda Yeni.

Air mata tak terbendung lagi. Aku ingat semua cerita tentangnya, tapi aku segera singkirkan. Aku ambil HP, aku sms siapa pun yang ada di SDIT Al Furqon untuk mendoakan Ervan.

Sedih sekali mengingatnya. Setiap kali meng-sms orang, air mataku keluar. Aku menangis. Aku teringat waktu terkahir aku melihatnya. Aku teringat dia melihatku dengan penuh tanda tanya ketika rombongan Fazal duduk bercerita di meja kerjaku.

” Kenapa, Van, koq ngeliatin Bunda seperti itu. Ervan sakit ya ?” Tanyaku ketika dia duduk di mejanya, di depan mejaku. Tak seperti biasa dia melihatku seperti itu. Aku hampiri dia dan kupegang keningnya, tak terasa panas. Dia tepiskan tanganku dan aku pun kembali ke mejaku.

Ketika istirahat, dia bermain bola lalu karena haus dia masuk ke kelas hanya untuk minum.

” Oh, gitu ya. Ke kelas hanya untuk minum aja ?” Gurauku.

” Iya, Bunda, enak, tapi panas bener,” celotehnya tanpa melihat ke arahku (Biasanya dia melihat jika dipanggil atau dikomentari). Saat itulah terakhir aku melihatnya.

” Inalillahi wa’ina ilahi roji’un. Bunda Meli, Ervan udah nggak ada lagi,” kata Mama Ilham meneleponku padahal baru berapa menit yang lalu meliau menanyaiku di mana Erva dirawat dan dia ingin kesana uuntuk membesuk.

Sambil memberi tahu orang tua dan para guru, aku menangis. Aku teringat kenangan bersamanya. Aku teringat komentar-komentarnya terhadap perubahan dirinya saat kami makan siang bersama. Aku teringat dengan antusiasnya dia menjawab pertanyaan. Kadang sesekali dia ingin menjawab pertanyaan yang diberikan, tapi…” Nggak jadi, nggak jadi…”.

Aku ingat dia duduk di kursi di depanku.

Membayangkan dia, membayangkan orang tuanya. Dia lahir semata wayang dan betapa besar harapan yang diberikan orang tua untuknya.

Pemakamannya, subhanallah….

Pemakaman paling banyak, yang pernah aku lihat. Anak-anak dan orang tua banyak yang mengantarkan kepergiannya. Mereka ikut bersedih begitu juga dengan seluruh guru yang pernah mengenalnya.

Selamat jalan anakku, semoga amal kebaikanmu membuat orang tuamu bertahan menjalani hidup di dunia dan menjadi bekal mereka di akhirat kelak. Aamiin ya Allah.

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Duka itu Belum Hilang (1)

  1. Fikri berkata:

    M. Ervan Jamil, u’re never forgotten in my memory…

    Bun saya nyesel gak bisa dateng ke pemakaman ervan. Ervan yang saya kenal..
    ervan yang lincah..
    ervan yang selalu ngebuat saya ketawa.
    ervan yang selalu ngebuat saya jengkel.
    tapi sekarang…………..
    Bun, saya gak kan bisa ketemu sosok anak ku satu ini…

    Meliana merespon :
    Ya,kenangan manis ya….kenanglah terus,oke !

    Suka

  2. muhammad irfan berkata:

    Ini irfan sahabat alm ervan waktu sd ,irfan stlh membaca artikel ini keinget waktu dimakamkanny alm ervan ,rasa itu ingin membuat irfan bersedih terus menurus disaat mengingat cerita ini .selamat disurga sahabat ku yg paling aku ingat

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s