Ubanmu Kini Telah Panjang dan Banyak

Suatu malam, saat nonton salah satu acara TV, aku dan emakku tidur-tiduran di depan TV. Emakku tertidur tidak lama setelah menonton TV, biasa, itu salah satu kelebihan emakku…kalau nonton, matanya selalu terpejam….

 

Ah, Emak….

Tak pernah lagi aku memperhatikan rambutmu. Ubanmu yang dulu biasa aku cabuti setiap minggu kini terlihat bertambah panjang. Kadang aku kangen dengan keadaan seperti itu. Gurat wajah yang kelelahan setelah bekerja (ngajar), masak di rumah, dan semuanya. Emak seperti big hero yang siap dengan semua masalah. Kulihat lagi wajah Emakku. Dengan tertahan aku menangis. Emak tetap tidur didepan TV sambil sesekali aku melihat di sekeliling tubuhnya adakah nyamuk yang mencoba mendekatinya. Dulu aku yang dijaganya dari gigtan nyamuk….Aku jadi sedih deh….

 

Aku ingat dulu aku masih banyak bercerita dengan Emak. Emak adalah wadah/tempat aku bercerita semuanya, bahkan masalah pribadiku. Aku merasa kehilangan jika Emak pergi walaupun hanya satu hari. Saat aku mencabuti ubannya, dia sangat senang sekali. Saat-saat seperti itulah yang aku rindukan. Saat-saat itu juga aku bercerita tentang semuanya, keluh kesahku juga kegembiraanku kadang juga kami tertawa bersama.

 

Tak terasa usia Emak sudah lanjut. Wajahnya mulai terlihat keriput, ya Emakku….Betapa aku merindukan saat-saat seperti dulu.

 

Emak…

Banyak puisi yang bercerita tentangmu

Tentang jasamu

Tentang tangis dan deritamu

Kini, izinkan aku menyampaikan satu kalimat sedrhana, ” Aku sayang padamu.”

 

NB :

Cintailah dia karena dari dirinyalah awal kita mengenal cinta

Sayangilah dia karena limpahan sayangnya belum bisa kita balas sampai mati

Ingatlah saat-saat bahagia dengannya sehingga hati kita tenang dan terus merindukannya

Berceritalah kepadanya apa saja karena suatu saat nanti kita tidak akan menemukan sosok seperti dia, yang sanggup mendengarkan kita dengan tulus dan hati yang bersih

Tidurlah di dekatnya karena suatu hari nanti kita tidak bisa lagi bersama jiika telah berumah tangga

Perhatikan wajah mereka dengan seksama karena suatu saat kita tidak bisa lagi melihatnya tersenyum atau cemberut

Doakan dia karena doa yang kita berikan tak sebanding dengan doa-doa yang beliau haturkan kepada Allah untuk kita di setiap sholat beliau.

Rasakan amarah dan ocehan yang diberikan kepada kita sebagai suatu pelajaran yang berharga karena suatu saat nanti kita tidak akan pernah mendengar suara beliau.

 

” Cintalah Ibumu, sayangi Ia karena beliau memang pantas untuk dicinta dan disayang! “

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Isi Hatiku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ubanmu Kini Telah Panjang dan Banyak

  1. fandalarasati berkata:

    terimakasih…jadi ingat sama ibuku…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s