Antara Memaafkan dan Keikhlasan

” Mbak, gimana ya hukumnya tidak bermaafan dan tidak bertegur sapa dengan seseorang padahal aku tahu seorang muslim itu ibarat satu tubuh dan jika permusuhan terjadi, berarti dia seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.” Cuplikan percakapan di atas adalah pembuka percakapan yang aku ingat dari temanku.

 

Melupakan kesalahan orang lain memang sulit bagi sebagian orang.

” Aku malah pernah nggak bertegur sapa sampai 7 tahun. Aku merasa hidup tidak tenang dan nyaman. Aku merasa dihantui rasa bersalah. Aku merasa harus menyelesaikan permasalahan ini, tapi aku belum bisa,” dia melanjutkan kembali.

” Sampai segitunya, Mbak ?” Tanyaku.

” Mungkin sudah terlalu sakit hati kepada dia sehingga jika melihatnya aku akan melenggos,” tambahnya. Aku diam.

“Tapi aku tidak mau seperti itu lagi. Cukuplah hatiku tidak tenang pada saat itu. Aku tidak mau hidupku menjadi kacau dan jiwaku tidak tentram seperti itu lagi.”

 

“Padahal dia telah mengulurkan tangannya sambil meminta maaf, tapi karena hatiku masih sakit, aku palingkan wajahku dari hadapannya.”

” Sebenarnya, sulit sekali untuk memaafkan kesalahan orang lain. Aku tipenya orang yang sulit memaafkan kesalahan orang lain yang sangat menyakiti hatiku,” katanya kembali.

 

Dalam pergaulan sehari-hari selalu saja ada kesalahan. Terkadang kesalahan itu berasal dari diri kita sendiri, kadang juga dari orang lain. Tanpa kita sadari, kita telah menyakiti hati orang lain sehingga kita baru sadar jika orang yang berinteraksi dengan kita itu memberi tahu kesalahannya kepada kita. Tak jarang kita sudah tahu kesalahan kita, tapi kita enggan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan. Ego di dalam diri kita menghalangi kita untuk menyatakan, ” Aku minta maaf ya” padahal super ego kita mengatakan, ” Hanya punya 3 hari untuk menegur kembali saudaraku ! Bergegaslah !”

 

Bukan hal yang mudah membangun hubungan seperti semula jika hati seseorang telah retak oleh perbuatan orang lain. Banyak orang berusaha menghindari orang yang pernah bersinggungan (negatif) dengan hatinya sehingga setiap tindak lanjut dengan orang tersebut tidak sama seperti yang dulu.

 

Beberapa tipe orang bisa dilihat dalam hal maaf-memaafkan ini ;

1. Tipe yang mudah memaafkan. Tipe ini adalah tipe yang ‘Sudahlah, aku sudah memaafkan semuanya koq. Serius deh!’ Untuk tipe seperti ini, jangan terlalu ambil pusing jika melakukan kesalahan karena super egonya akan mengalahkan keegoannya. Orangnya terkesan nyantai dan gidupnya terlihat, ‘enjoy aja ‘. Keikhlasan memaafkan kesalahan orang atau ketidaksukaan orang padanya dinomorsatukan. Emosi diri untuk menghujam balik kata-kata/perbuatan orang lain padanya tertepiskan karena dia yakin, ‘Cinta dan memaafkan akan berbuah kebaikan yang dasyat nanti.’

2. Tipe yang memaafkan, namun wajahnya menyiratkan ‘Ah, aku memaafkanmu, tapi hatiku masih sakit !’ Orang seperti ini terkesan mudah mengumbar kata maaf, tapi wajahnya menyiratkan kata sebaliknya, ” Sebenarnya, aku belum bisa memaafkanmu sepenuh hati.” Orang seperti ini dibiarkan terlebih dahulu, tegur walau ala kadarnya, dan Insya Allah lambat laun ekspresi wajahnya akan kembali seperti sebelum ada permasalahan antara dirimu dengan dirinya.

3. Tipe yang tidak mau memaafkan sehingga terlontarlah kata-kata, “Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkannya !” Orang seperti ini ada saatnya memaafkan semua kesalahan yang dia rasa menyakiti hatinya untuk memulai kembali hubungan membutuhkan waktu yang lama. Bukankah batu yang besar saja akan terbentuk lubang jika terus ditetesi air ? Beranilah meminta maaf padanya meskipun orang tersebut akan menolaknya dengan kata-kata yang sangat kasar dan menyinggung perasaan. “Ingatlah bahwa Nabi Muhammad tidak pernah marah jika tubuhnya dilempari kotoran unta. Beliau hanya akan marah jika martabat Islam dilecehkan oleh orang-orang kafir !”

Mendengar cerita temanku itu, rasanya aku sangat takut. Aku berlohon kepada Allah untuk dihindarkan dari kejahatan amarah jika sedang marah.

Dimanakah dirimu ?

 

Kembali ke permasalahan di atas…

Untuk temanku itu aku memberikan beberapa saran, mungkin sarannya sangat sederhana, tapi aku yakin sebagian saranku itu bermanfaat untuknya ;

1. Kalau tidak berani meminta maaf secara langsung, carilah mediator yang bisa menengahi. Kirim pesan singkat jika berbicara langsung takut menyakiti perasaan orang lain.

2. Beranikan diri untuk menyapanya walaupun secara lisan tidak terucap kata maaf, toh dia sudah meminta maaf dan di dalam hati temanku itu telah ada seberkas kata, ‘Iya, aku memaafkanmu meskipun sulit melupakannya.’ Cukup bekal itu saja yang harus dimiliki karena lambat laun kamu melupakan kejadian itu, insya Allah.

3. Yakinlah, hati ini secara fitrahya tidak akan menerima jika dikotori dengan hal-hal seperti itu (permusuhan). Jagalah hati ini, karena dialah harta yang paling berharga yang kita miliki. Sayang sekali jika seseorang berotakkan ‘hebat’, tapi hatinya ‘kerdil’.

4. Belajarlah dari teladan nabi dan para sahabat. PELAJARI JALAN HIDUP MEREKA ! Banyak ilmu yang di dapat dari kisah nabi. Kisah nabi Muhammad s.a.w. yang dicerca kaumnya sehingga dia dengan rela memaafkan kesalahan orang yang menyiksanya dengan menjenguk orang itu ketika sakit. Semakin mudah memaafkan, ternyata membuat orang semakin hormat kepadanya.

5. Berlatihlah memaafkan walaupun mengucapkan kata maaf itu sulit karena hidup tidak akan tenang jika tidak ada kesalahan, kita belum bisa meminta maaf.

 

Memaafkan, ikhlaskah itu ?

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Antara Memaafkan dan Keikhlasan

  1. Aku adalah aku berkata:

    So…kita tipe yang ke berapa ne…

    Sabar….. iklhlas….adalah hal yang mudah diucapkan tapi suangaat sulit untuk dilakasanakan….
    Mudah-mudahan kita selalu bisa menjaga hati kita agar selalu memaafkan…sabar…ikhlas…. dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini…hiks..hiks….

    Meliana merespon :
    Coba baca point 1-3, insya Allah tipe Anda ada di antara ketiganya. Sabar ya, ingat balasan Allah akan sebanding dengan kesabaran yang telah kita lakukan, oke ! Selamat bersabar ria, Saudariku !

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s